07 October 2017

Piknik Australia - Sydney 21 September 2017

Pada tahun ini, Istri dan saya memutuskan berlibur ke Selandia Baru dengan transit di Sydney, Australia. Alternatif tujuan liburan tahun ini adalah Eropa, namun setelah berdiskusi cukup panjang dengan Istri akhirnya kami putuskan untuk ke Selandia Baru.

Ada beberapa alasan mengapa kami memilih Selandia Baru. Alasan pertama karena negaranya indah dan relatif sepi. Alasan kedua adalah kemudahan dalam pengurusan visa bagi keluarga. Biaya visa hanya dikenakan pada 1 orang yaitu pemohon utama. Pasangan dan anak (jika ada) tidak perlu membayar biaya visa lagi. Biaya visanya sendiri relatif lebih murah dibandingkan dengan visa Schengen. Alasan ketiga, jika kami transit di Australia setelah mendapatkan visa Selandia Baru, kami berhak mengajukan fasilitas visa transit ke pemerintah Australia. Biaya visa transit ini gratis (kecuali untuk biaya keagenan) dan berlaku untuk kunjungan maksimum 72 jam.

Kami memilih maskapai Qantas untuk ke Selandia Baru dengan transit di Sydney, Australia. Harga tiketnya relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan maskapai lain, misalnya Malaysia Airlines atau Thai Airways. Namun Qantas memiliki kelebihan pada waktu transit di Sydney yang panjang sehingga kami bisa keliling Sydney dan pilihan kota tujuan di Selandia Baru yang lebih banyak.

Perjalanan kami dimulai dari Jakarta ke Sydney, Australia menggunakan maskapai Qantas QF-42 dengan pesawat Airbus A330-200 nomor registrasi VH-EBM. Kami bertolak dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pukul 20:33 Waktu Indonesia Barat dan mendarat di Bandar Udara Internasional Sydney Kingsford Smith pukul 06:03 waktu setempat. Waktu di Sydney 3 jam lebih awal (GMT+10) dibandingkan Waktu Indonesia Barat (GMT+7). 

Tujuan pertama kami di Sydney yaitu sarapan di Celsius Coffee Co. di Kirribilli Wharf. Dari Bandara Sydney kami menggunakan kereta AirportLink ke Central Station, kemudian berpindah peron melanjutkan perjalanan dengan kereta T1 ke Milsons Point Station. Tiket kereta seharga AU$19/sekali jalan atau sekitar Rp208.000/orang. Dari Milsons Point Station, kami berjalan kaki ke Kirribilli Wharf.


Sydney AirportLink


Interior Kereta di Sydney

Dari Celsius Coffee Co. kami lalu berjalan kaki ke Sydney Opera House dan Royal Botanic Gardens melewati Sydney Harbor Bridge. Pemandangan Sydney Harbor sangat indah jika dilihat dari atas jembatan.

Celsius Coffee Co. di Kirribilli Wharf

Puas berkeliling di sekitar Sydney Opera House, kami melanjutkan perjalanan ke Sydney Paddy's Market untuk membeli oleh-oleh dari Sydney. Kami menggunakan kereta AirportLink dari Circular Quay Station ke Central Station, dilanjutkan dengan berjalan kaki ke Sydney Paddy's Market.


Sydney Harbor Bridge

Sydney Opera House



Barang yang dijual di Sydney Paddy's Market cukup murah untuk standar Australia dan banyak dikunjungi turis untuk membeli oleh-oleh. Setelah selesai berbelanja, kami kembali ke Central Station untuk naik kereta AirportLink ke Bandara Sydney.

Central Station



Di Bandara Sydney, kami sempat mandi di shower room yang letaknya dekat counter check-in A T1. Setelah segar, kami menyempatkan sholat di prayer room di Level 3 T1. Selesai sholat, kami kembali masuk ke ruang tunggu keberangkatan setelah melalui proses imigrasi. Pihak imigrasi Australia cukup ramah pada pendatang. Hanya saja sebagai catatan, mereka tidak memberi cap kedatangan atau keberangkatan pada paspor.

Ketika sedang duduk di ruang tunggu, saya sempat diwawancara oleh salah satu petugas bandara. Dia ingin mengetahui profil wisatawan yang datang ke Sydney melalui Bandara Sydney. Wawancara dilakukan sekitar 15 menit, dan setelah selesai saya diberi pembatas buku sebagai suvenir terima kasih.

Dari Bandara Sydney, kami menuju ke Bandar Udara Internasional Christchurch di South Island, Selandia Baru. Penerbangan menggunakan maskapai Qantas QF-139 dengan pesawat Boeing 737-800 nomor registrasi ZK-ZQB. Kami bertolak dari Bandara Sydney pukul 18:05 waktu setempat dan mendarat di Bandara Christchurch pukul 22:49 waktu setempat. Waktu di Selandia Baru 5 jam lebih awal (GMT+12) dibandingkan Waktu Indonesia Barat (GMT+7).



Pemeriksaan makanan dan minuman pada penumpang yang baru tiba di Bandara Christchurch sangat ketat, lebih ketat dibandingkan dengan imigrasi. Penumpang yang datang dilarang membawa makanan dan minuman karena ditakutkan akan mengkontaminasi tanah Selandia Baru yang pada akhirnya akan mengganggu ekosistem di sini. Saya sempat membuang beberapa makanan yang masih tertinggal di tas dari perjalanan sebelumnya di tempat sampah khusus yang disediakan pengelola bandara.

Setelah keluar dari area bandara, kami berjalan kaki ke Jucy Snooze Hotel yang berjarak sekitar 1 km dari Bandara Christchurch. Kami bermalam di sini dengan harga kamar NZ$ 89.50 atau Rp898.000. Setelah check-in, kami langsung istirahat.

(bersambung)

No comments: