07 Oktober 2017

Piknik Selandia Baru - Queenstown, Milford Sound 24 September 2017

Setelah bermalam di Queenstown, pagi harinya kami sempat merasakan perubahan aturan Daylight Saving Time. Waktu di New Zealand dimajukan 1 jam karena sudah memasuki musim semi dan musim panas. Di ponsel, waktunya pun otomatis berubah menyesuaikan aturan ini. 

Pagi ini kami mengunjungi Skyline Luge & Gondola. Tempat masuknya hanya beberapa ratus meter dari Queenstown Lakeview Holiday Park. Setelah memarkirkan motorhome kami, pagi ini masih lengang dan banyak tersisa tempat parkir, kami langsung membeli tiket dan naik gondola. Perjalanan ke atas bukit memakan waktu sekitar 5 menit. 
Queenstown dan Lake Wakatipu
Dari gondola, kami melanjutkan naik gondola kecil menuju tempat bermain luge, yaitu wahana mobil semacam gokart yang memanfaatkan gravitasi untuk berakselerasi. Kami mengambil paket 2x putaran permainan luge. Pertama kami diajarkan cara mengoperasikan luge, akselerasi, rem, dan sebagainya. Setelah cukup paham kami dilepas. Ada dua jalur yang disediakan sepanjang kurang lebih 800 meter, yaitu jalur pemula dengan tikungan dan kemiringan yang landai serta jalur mahir dengan tikungan tajam dan kemiringan yang cukup curam. Di putaran pertama kami mengambil jalur pemula, dan di putaran kedua kami mencoba jalur mahir. Kami puas bermain di sini.
Lintasan Luge
Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju Milford Sound. Jaraknya cukup jauh Queenstown, 287 km, dan melewati Southern Scenic Route. Tapi perjalanan ke sana menyenangkan karena kami disuguhi pemandangan yang indah. 
Hanami di New Zealand
Di Milford Sound kami menginap di Milford Sound Lodge. Di kawasan Milford Sound, cuaca cukup buruk, hujan deras dan angin bertiup kencang. Kami sempat mendapat email bahwa jalan menuju Milford Sound akan ditutup malam ini. Beruntung kami sudah tiba di Milford Sound Lodge sore hari.

(bersambung)

Piknik Selandia Baru - Lake Matheson - Queenstown 23 September 2017

Pagi ini tujuan pertama kami adalah Lake Matheson, sekitar 2 km dari Fox Glacier Caravan Park. Dari tempat ini, kami dapat melihat Fox Glacier dan Southern Alps. Ada beberapa gardu pandang (view point) yang bisa dikunjungi. Kami mengunjungi yang paling dekat dengan tempat parkir.
Lake Matheson Viewpoint

Setelah puas mengambil foto, kami melanjutkan perjalanan menuju Queenstown sejauh 327 km. Beberapa kali kami sempat berhenti untuk beristirahat, di antaranya Ship Creek, dan Lake Wanaka Lookout.
Ship Creek
Lake Wanaka Lookout

Pukul 16, kami tiba di Queenstown Lakeview Holiday Park, tempat kami bermalam hari ini. Lokasinya di pusat kota, sehingga mudah ditemukan.

(bersambung)

Piknik Selandia Baru - Christchurch, Castle Hill, dan Fox Glacier 22 September 2017

Kami bangun pukul 07:00 waktu setempat karena lelah seharian berjalan kaki di Sydney dan baru check-in menjelang tengah malam. Setelah mandi dan packing, kami lalu check-out dari hotel dan menunggu di lobi untuk dijemput oleh Wilderness Motorhomes pukul 09:00 waktu setempat. 

Perwakilan Wilderness Motorhomes menjemput kami tepat waktu. Mereka sangat ramah dan membantu mengangkat koper ke mobil jemputan. Sepanjang perjalanan menuju kantor mereka, hanya berjarak sekitar 5 menit menggunakan mobil, kami diajak berbincang untuk mencairkan suasana. 

Proses pengambilan kendaraan dilakukan dengan cepat dan efisien. Saya di-briefing sekitar 30 menit oleh petugas Wilderness Motorhomes mengenai Motorhome Outback 4 yang kami sewa. Mulai dari hal yang sederhana seperti cara memutar dan memundurkan kursi depan, memperhatikan indikator air dan listrik, menghidupkan dan mematikan pemanas / pendingin udara, cara menggunakan gas sebagai sumber energi, menghubungkan mobil ke stop kontak, memutar DVD, cara menggunakan rantai roda (jika diperlukan, dll. Setelah briefing, kami diberi waktu sekitar 10 menit tambahan untuk beradaptasi dengan kendaraan. 

Selesai dengan briefing dan administrasi penyewaan kendaraan, kami pun berangkat. Tujuan pertama kami adalah berbelanja bahan makanan di Supermarket Countdown, dekat Bandar Udara Internasional Christchurch. Kami berbelanja cukup banyak untuk 6 hari ke depan.
Perbekalan Selama di Te Waipounamu (South Island)
Pukul 11:30, kami berangkat menuju ke Fox Glacier. Jaraknya cukup jauh dari Christchurch, sekitar 397 km. Di KM 91, kami menyempatkan mampir ke Castle Hill untuk makan siang. Tempat ini dinamakan Castle Hill karena bebatuan di sini dari kejauhan mirip dengan pondasi kastil kuno. Biasa digunakan sebagai tempat latihan climbing/bouldering oleh masyarakat di sekitar sini. Castle Hill merupakan tanah privat yang bebas dikunjungi oleh umum. Sekitar 7 km dari tempat ini adalah Flock Hill yang menjadi latar First Battle of Beruna antara pasukan Narnia dengan White Witch di film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe. Di Castle Hill kami menyempatkan juga untuk memasak makan siang.

Jalan Setapak dari Parkiran ke Castle Hill
Castle Hill
Cuaca di Selandia Baru cepat berubah dalam hitungan menit. Cuaca yang tadinya curah, beberapa saat kemudian menjadi turun gerimis, dan tidak lama setelahnya kembali cerah.

Setelah makan siang, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Fox Glacier. Perjalanan memang masih jauh, 306 km lagi. Tapi pemandangan Te Waipounamu (South Island) yang indah dan sepi membuat perjalanan kami tidak membosankan.



Kami tiba di Fox Glacier Caravan Park, lokasi kami menginap malam ini pukul 19:45 waktu setempat. Saat check-in, kami ditawari untuk ikut walk tour gratis cacing bercahaya (glow worm) yang akan dimulai pukul 20:00 waktu setempat. Tapi karena lelah, kami putuskan tidak ikut dan beristirahat.

(bersambung)

Catatan Pinggir - Menyewa Kendaraan di Selandia Baru

Aotearoa atau Selandia Baru adalah negara kepulauan yang dengan dua pulau utama yaitu Te Ika-a-Māui (North Island) dan Te Waipounamu (South Island). Populasi penduduk Selandia Baru sekitar 4,8 juta orang dan sebanyak 3,6 juta orang diantaranya bermukim di Te Ika-a-Māui (North Island). Sisanya bermukim di Te Waipounamu (South Island) dan sejumlah kepulauan kecil lainnya.

Awalnya saya berencana untuk ke Te Ika-a-Māui (North Island) lalu ke Te Waipounamu (South Island). Tapi dari rekomendasi yang saya dapatkan dari buku panduan wisata ke Selandia Baru, akhirnya kami putuskan untuk menukar rute perjalannya menjadi ke Te Waipounamu (South Island) dahulu baru ke Te Ika-a-Māui (North Island).

Jika dibandingkan dengan Indonesia, masing-masing pulau ini luasnya hampir sama dengan luas Pulau Jawa. Karena penduduknya sedikit dan wilayahnya cukup luas, transportasi umum jarang dan terkonsentrasi di kota-kota besarnya saja. Penduduk Selandia Baru dan wisatawan menggunakan kendaraan bermotor pribadi sebagai sarana transportasi utama.

Sebelum memutuskan untuk ke Selandia Baru, saya sempat riset mengenai apakah turis asing diperbolehkan menyewa mobil di sana dan apakah SIM internasional dari Indonesia berlaku? Saya tidak ingin kejadian mengecewakan ketika saya berniat sewa mobil di Pulau Jeju, Korea Selatan, tapi ditolak perusahaan penyewaan mobil di sana karena mereka tidak mengakui SIM internasional dari Indonesia.

Dari hasil riset, turis asing diperbolehkan menyewa mobil selama mempunyai SIM internasional yang masih berlaku. Masih kurang yakin, saya mengirim email ke 2 perusahaan penyewaan mobil (dengan melampirkan soft copy SIM internasional dan SIM A saya) untuk menanyakan secara langsung apakah saya boleh menyewa kendaraan dari mereka. 

Jawabannya positif, Selandia Baru mengakui SIM internasional yang diterbitkan pemerintah Indonesia dan saya boleh menyewa kendaraan dengan syarat saya membawa SIM internasional Indonesia dan SIM nasional yang masih berlaku saya ketika akan mengambil kendaraan.

Di Te Waipounamu (South Island), saya menyewa Motorhome seri Outback 4 dari Wilderness Motorhomes. Motorhome adalah kendaraan roda 4 yang dilengkapi dengan ruang keluarga, tempat tidur, toilet, dan kamar mandi. Dengan motorhome kami layaknya membawa rumah keliling Te Waipounamu (South Island).

Wilderness Outback 4

Interior Motorhome di Siang Hari

Saya merekomendasikan Wilderness Motorhomes sebagai salah satu perusahaan penyewaan motorhome terbaik di Selandia Baru. Ada beberapa alasan yaitu kendaraannya baru dengan angka odometer rendah (8.000-an kilometer saat kami ambil), bersih, terawat, dengan peralatan rumah yang lengkap dan berfungsi dengan baik selama kami di perjalanan. Motorhome Outback 4 bermesin diesel dengan transmisi otomatis. Walaupun kendaraan cukup besar, namun lincah ketika diajak bermanuver di jalanan Selandia Baru yang berkelok-kelok. Pelayanan Wilderness Motorhomess sangat ramah, baik saat saya bertanya mengenai boleh tidaknya menyewa kendaraan, saat kami mengambil motorhome, saat pengembalian motorhome, dan bahkan mereka menawarkan untuk mengirimkan barang saya yang tertinggal di motorhome via pos.

Meja Makan dan Dapur
Area Santai
Kasur dan Kamar Mandi
Toilet
Kami menambahkan fasilitas asuransi kendaraan selama menyewa, yang walaupun menjadi cukup mahal, tapi memberikan kami ketenangan selama di perjalanan. Selain itu kami menyewa modem router internet Wi-Fi dan GPS. Akses internet Wi-Fi dari Wilderness Motorhomes mempunyai jaringan yang sangat luas, stabil dan cepat, bahkan di area yang menurut saya terpencil. Akses internet hanya hilang saat kami di daerah Milford Sound. Lodge kami di Milford Sound pun ternyata menggunakan akses internet satelit karena sulitnya medan untuk menyambung internet ke kota terdekat. Total biaya sewa motorhome selama 6 hari adalah NZ$1.344 atau Rp13.909.056, belum termasuk biaya bensin.

Sedangkan selama di Te Ika-a-Māui (North Island), saya menyewa mobil sedan Nissan Sunny dari Jucy. Di situs web Jucy, seri mobil ini disebut sebagai Jucy Travella. Ini mobil sedan impor eks Jepang. Saya mengetahuinya setelah membaca stiker di beberapa bagian mobil yang bertuliskan aksara kana dan kanji. Walaupun terlihat sudah tua, odometernya pun sudah mencapai angka 200.000 kilometer lebih, namun kondisi mobil masih sangat terawat bersih, dan wangi. Mobil Nissan Sunny yang kami sewa bermesin bensin (petrol/gasoline engine) dengan transmisi otomatis. Total biaya sewa Nissan Sunny selama 2 hari adalah NZ$180 atau Rp1.862.820 yang sudah termasuk biaya asuransi kecelakaan dan sewa tablet Samsung yang berfungsi ganda sebagai router modem dan GPS. Total biaya sewa belum termasuk biaya bensin.

Jucy Travella - Nissan Sunny

Aturan umum saat menyewa kendaraan di Selandia Baru cukup sederhana. Saat pengambilan, kondisi kendaraan, bensin dan peralatan lain (misalnya isi tabung gas dan air bersih penuh, septic tank kosong, plastik tempat sampah, peralatan makan dan masak pada motorhome) dalam keadaan siap digunakan. Penyewa diwajibkan untuk mengembalikan kendaraan seperti keadaan saat pengambilan. Ini artinya penyewa harus mengisi penuh bensin, mengisi atau menukar tabung gas yang kosong, mengisi air bersih sampai level penuh, mengosongkan septic tank, dan menyapu interior motorhome saat mengembalikan kendaraan. Jika lalai, penyewa akan dikenakan denda.

Peraturan lalu lintas di Selandia Baru sedikit berbeda dengan peraturan lalu lintas di Indonesia. Sebelum berangkat, saya mempelajari Undang-Undang Lalu Lintas Selandia Baru dan mengikuti tes pengetahuan lalu lintas di Selandia Baru sebelum berangkat.

(bersambung)

Piknik Australia - Sydney 21 September 2017

Pada tahun ini, Istri dan saya memutuskan berlibur ke Selandia Baru dengan transit di Sydney, Australia. Alternatif tujuan liburan tahun ini adalah Eropa, namun setelah berdiskusi cukup panjang dengan Istri akhirnya kami putuskan untuk ke Selandia Baru.

Ada beberapa alasan mengapa kami memilih Selandia Baru. Alasan pertama karena negaranya indah dan relatif sepi. Alasan kedua adalah kemudahan dalam pengurusan visa bagi keluarga. Biaya visa hanya dikenakan pada 1 orang yaitu pemohon utama. Pasangan dan anak (jika ada) tidak perlu membayar biaya visa lagi. Biaya visanya sendiri relatif lebih murah dibandingkan dengan visa Schengen. Alasan ketiga, jika kami transit di Australia setelah mendapatkan visa Selandia Baru, kami berhak mengajukan fasilitas visa transit ke pemerintah Australia. Biaya visa transit ini gratis (kecuali untuk biaya keagenan) dan berlaku untuk kunjungan maksimum 72 jam.

Kami memilih maskapai Qantas untuk ke Selandia Baru dengan transit di Sydney, Australia. Harga tiketnya relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan maskapai lain, misalnya Malaysia Airlines atau Thai Airways. Namun Qantas memiliki kelebihan pada waktu transit di Sydney yang panjang sehingga kami bisa keliling Sydney dan pilihan kota tujuan di Selandia Baru yang lebih banyak.

Perjalanan kami dimulai dari Jakarta ke Sydney, Australia menggunakan maskapai Qantas QF-42 dengan pesawat Airbus A330-200 nomor registrasi VH-EBM. Kami bertolak dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pukul 20:33 Waktu Indonesia Barat dan mendarat di Bandar Udara Internasional Sydney Kingsford Smith pukul 06:03 waktu setempat. Waktu di Sydney 3 jam lebih awal (GMT+10) dibandingkan Waktu Indonesia Barat (GMT+7). 

Tujuan pertama kami di Sydney yaitu sarapan di Celsius Coffee Co. di Kirribilli Wharf. Dari Bandara Sydney kami menggunakan kereta AirportLink ke Central Station, kemudian berpindah peron melanjutkan perjalanan dengan kereta T1 ke Milsons Point Station. Tiket kereta seharga AU$19/sekali jalan atau sekitar Rp208.000/orang. Dari Milsons Point Station, kami berjalan kaki ke Kirribilli Wharf.


Sydney AirportLink

Interior Kereta di Sydney

Dari Celsius Coffee Co. kami lalu berjalan kaki ke Sydney Opera House dan Royal Botanic Gardens melewati Sydney Harbor Bridge. Pemandangan Sydney Harbor sangat indah jika dilihat dari atas jembatan.

Celsius Coffee Co. di Kirribilli Wharf

Puas berkeliling di sekitar Sydney Opera House, kami melanjutkan perjalanan ke Sydney Paddy's Market untuk membeli oleh-oleh dari Sydney. Kami menggunakan kereta AirportLink dari Circular Quay Station ke Central Station, dilanjutkan dengan berjalan kaki ke Sydney Paddy's Market.

Sydney Harbor Bridge
Sydney Opera House

Barang yang dijual di Sydney Paddy's Market cukup murah untuk standar Australia dan banyak dikunjungi turis untuk membeli oleh-oleh. Setelah selesai berbelanja, kami kembali ke Central Station untuk naik kereta AirportLink ke Bandara Sydney.

Central Station

Di Bandara Sydney, kami sempat mandi di shower room yang letaknya dekat counter check-in A T1. Setelah segar, kami menyempatkan sholat di prayer room di Level 3 T1. Selesai sholat, kami kembali masuk ke ruang tunggu keberangkatan setelah melalui proses imigrasi. Pihak imigrasi Australia cukup ramah pada pendatang. Hanya saja sebagai catatan, mereka tidak memberi cap kedatangan atau keberangkatan pada paspor.

Ketika sedang duduk di ruang tunggu, saya sempat diwawancara oleh salah satu petugas bandara. Dia ingin mengetahui profil wisatawan yang datang ke Sydney melalui Bandara Sydney. Wawancara dilakukan sekitar 15 menit, dan setelah selesai saya diberi pembatas buku sebagai suvenir terima kasih.

Dari Bandara Sydney, kami menuju ke Bandar Udara Internasional Christchurch di South Island, Selandia Baru. Penerbangan menggunakan maskapai Qantas QF-139 dengan pesawat Boeing 737-800 nomor registrasi ZK-ZQB. Kami bertolak dari Bandara Sydney pukul 18:05 waktu setempat dan mendarat di Bandara Christchurch pukul 22:49 waktu setempat. Waktu di Selandia Baru 5 jam lebih awal (GMT+12) dibandingkan Waktu Indonesia Barat (GMT+7).


Pemeriksaan makanan dan minuman pada penumpang yang baru tiba di Bandara Christchurch sangat ketat, lebih ketat dibandingkan dengan imigrasi. Penumpang yang datang dilarang membawa makanan dan minuman karena ditakutkan akan mengkontaminasi tanah Selandia Baru yang pada akhirnya akan mengganggu ekosistem di sini. Saya sempat membuang beberapa makanan yang masih tertinggal di tas dari perjalanan sebelumnya di tempat sampah khusus yang disediakan pengelola bandara.

Setelah keluar dari area bandara, kami berjalan kaki ke Jucy Snooze Hotel yang berjarak sekitar 1 km dari Bandara Christchurch. Kami bermalam di sini dengan harga kamar NZ$ 89.50 atau Rp898.000. Setelah check-in, kami langsung istirahat.

(bersambung)