06 November 2016

Piknik Korea Selatan 26 Oktober 2016 - Seoul (Bagian 2)

Hari ini adalah hari terakhir kami di Korea Selatan. Tengah malam nanti kami akan pulang ke Indonesia via Singapura. Setelah sarapan, packing dan check out, kami menitipkan koper di salah satu loker umum di Stasiun Hongik untuk kami ambil malam harinya. Masih ada beberapa tempat di Seoul yang akan kami kunjungi hari ini.


Tujuan pertama adalah 이화여자대학교 (Ewha Womans University). Memang sedikit unik terjemahan bahasa Inggrisnya. Jika kata jamak perempuan harusnya "women", pendiri Ewha memilih bentuk jamak "womans" sebagai bentuk pemberdayaan perempuan. Selain terjemahan nama kampusnya, ada beberapa hal lain yang unik mengenai 이화여자대학교 (Ewha Womans University). Pertama karena universitas ini diperuntukkan khusus untuk perempuan, dan kedua karena arsitektur bangunan kampus yang cantik.



Arsitektur 이화여자대학교 (Ewha Womans University) memadukan bangunan kampus klasik dengan modern. Beberapa ruang kelas dan perpustakaan 이화여자대학교 (Ewha Womans University) berada di area yang menimbulkan kesan berada bawah tanah. 


Pengunjung non civitas academica diperbolehkan berkeliling area 이화여자대학교 (Ewha Womans University), namun dilarang memasuki bangunan atau ruang kelas.

Dari 이화여자대학교 (Ewha Womans University), kami melanjutkan perjalanan ke 덕수궁 (Istana Deoksugung) yang merupakan salah satu istana 대조선국 (Kerajaan Joseon) di Seoul. Namun berbeda dengan 창덕궁 (Istana Changdeokgung), arsitektur 덕수궁 (Istana Deoksugung) lebih modern dengan arsitektur barat. 





Kami mendapatkan kejutan yang menyenangkan ketika datang ke 덕수궁 (Istana Deoksugung). Ternyata hari ini adalah Hari Kebudayaan yang dirayakan setiap hari Rabu terakhir setiap bulan. Di Hari Kebudayaan ini, tiket masuk digratiskan pengelola 덕수궁 (Istana Deoksugung). Alhasil kami tidak perlu membayar tiket yang normalnya seharga ₩1.000 atau sekitar Rp12.000/orang. 

Selain melihat langsung arsitektur istana 대조선국 (Kerajaan Joseon) berikut taman-tamannya, di 덕수궁 (Istana Deoksugung) kami juga berkesempatan menyaksikan prosesi pergantian pasukan penjaga istana di Gerbang Daehan yang mulai berlangsung pukul 14:00 waktu setempat. Tentu ini hanya seremoni untuk menghibur pengunjung 덕수궁 (Istana Deoksugung). Saat ini 대조선국 (Kerajaan Joseon) sudah digantikan dengan sistem demokrasi dan Korea Selatan dipimpin oleh seorang presiden. Tidak ada keluarga kerajaan yang tinggal di 덕수궁 (Istana Deoksugung).






Dari 덕수궁 (Istana Deoksugung), kami melanjutkan berjalan kaki ke 청계천 (Sungai Cheonggyecheon). 청계천 (Sungai Cheonggyecheon) merupakan salah satu ruang terbuka publik yang sangat populer di Seoul. Dulunya di atas sungai ini dibangun jalan bebas hambatan. Di tahun 2003, walikota Seoul waktu itu Lee Myung-bak mengusulkan untuk membongkar jalan bebas hambatan dan menormalisasi 청계천 (Sungai Cheonggyecheon). Proyek ini juga bertujuan agar Seoul lebih ramah lingkungan dan akhirnya merevitalisasi perekonomian wilayah sekitar 청계천 (Sungai Cheonggyecheon).


Setelah puas menyusuri 청계천 (Sungai Cheonggyecheon), kami menyempatkan diri untuk mampir makan es krim di Sulbing, sebuah cafe makanan penutup a la Korea yang populer. Sebelum pulang kami berbelanja oleh-oleh terakhir kali di Lotte Department Store, Stasiun Seoul. 

Dari Stasiun Seoul, kami lalu menuju Stasiun Hongik untuk mengambil koper lalu melanjutkan perjalanan ke Bandar Udara Internasional Incheon. Sampai di Bandara Incheon pukul 21:15 waktu setempat. Saya lalu menuju loket LG untuk mengembalikan modem router yang kami sewa. Total biaya yang kami keluarkan untuk akses internet tanpa batas selama 7 hari di Korea Selatan adalah ₩45.100 atau sekitar Rp565.000 atau Rp81.000/hari. Cukup murah untuk bertiga.


Kritik saya atas Bandara Incheon hanya pada waktu operasional toko duty free yang singkat. Ketika kami masuk ke area ruang tunggu sekitar pukul 22:00 waktu setempat, hampir semua toko dan restoran hampir tutup. Padahal masih banyak penumpang datang yang akan terbang dini hari, dan sayang jika pasar ini tidak dimanfaatkan pengelola bandara. Kondisi ini berbeda dengan Bandar Udara Internasional Haneda, Tokyo misalnya yang restoran dan toko duty free-nya masih buka penuh menjelang tengah malam.

Walaupun begitu, Ibu saya sempat membeli parfum di salah satu toko duty free di Bandara Incheon. Ketika keluar toko, dia sampai menundukkan kepala karena rolling door sudah diturunkan setengah. Dari Seoul, kami menggunakan pesawat Singapore Airlines SQ-603 dengan pesawat A330-300 yang berangkat pukul 23:29 waktu setempat dan tiba di Singapura pukul 04:31 waktu setempat.



(bersambung)

Tidak ada komentar: