15 November 2014

Piknik Beijing 2 November 2014

Perjalanan ke Beijing merupakan kunjungan ke Cina kedua kalinya pada tahun 2014 ini, setelah sebelumnya saya dan teman-teman berkunjung ke Pearl River Delta, yaitu Hong Kong, Macau dan Shenzhen di provinsi Guangzhou pada bulan Mei 2014. Namun berbeda dengan sebelumnya, perjalanan ke ibukota Cina ini saya lakukan bersama dengan ibu dan adik saya.

Saya mendapatkan tiket promosi Malaysia Airlines Jakarta – Kuala Lumpur – Beijing $427 pulang pergi, atau sekitar Rp5.000.000/orang untuk perjalanan seminggu di akhir musim gugur. Kami berangkat dari bandara internasional Soekarno-Hatta pada 2 November 2014 pukul 12.25 WIB. Pesawat berangkat tepat waktu kali ini dan kami tiba di bandara internasional Kuala Lumpur untuk transit pukul 14.30. 

Ini adalah pertama kali menjejakkan kaki di terminal utama KLIA sehingga kami berkeliling cukup lama. Biasanya selalu di terminal LCCT yang sekarang sudah ditutup dan operasional terminal dialihkan ke terminal KLIA2. Perjalanan ke Beijing berangkat pukul 18.00 waktu setempat sehingga kami sempat makan sore Laksa Nyonya dan Teh Tarik di Malaysian Recipe Cafe setelah berkeliling untuk menghabiskan waktu. 

Laksa Nyonya dan Teh Tarik

Kesan pertama saya terhadap terminal KLIA baik karena suasananya yang tenang, banyak petunjuk jelas dan fasilitasnya yang memanjakan pengunjung. Fasilitas tersebut diantaranya adalah akses internet menggunakan iPad yang disediakan oleh salah satu operator telekomunikasi Maxis, bangku reclining yang bisa digunakan untuk tidur sejenak dan deretan pertokoan bebas pajak (duty free) yang cukup lengkap. Bahkan di terminal juga ada hutan mini yang sayangnya hari itu ditutup untuk pengunjung.

Booth Internet iPad Maxis

Pesawat MH360 Kuala Lumpur - Beijing

Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing menggunakan pesawat A333 dan memakan waktu 6.30 jam. Pukul 17.00, pintu untuk masuk ke ruang tunggu dibuka dan kami pun masuk ke dalam. Transit menggunakan Malaysia Airlines juga mudah dan nyaman, hanya memperlihatkan paspor dan menyerahkan boarding pass yang sudah kami peroleh ketika check-in dari Jakarta.

Menu Makan Malam Malaysia Airlines Rute Menengah

Penerbangan lanjutan ini pun berjalan dengan baik, saya memilih nasi ikan untuk makan malam, plus bir Heineken agar bisa beristirahat setelah makan. Walaupun 6 bulan sebelumnya terdapat musibah yang menimpa maskapai dengan rute yang serupa, kami tidak takut karena percaya dengan langkah perbaikan yang dilakukan oleh maskapai untuk memperoleh kembali kepercayaan penumpang.

Hal yang menarik justru terjadi ketika kami mendarat di bandara internasional Beijing Capital. Bandara ini merupakan bandara kedua tersibuk di dunia setelah bandara internasional Atlanta Jackson-Hartsfield di Amerika Serikat. Bandara Beijing Capital melayani 84 juta penumpang dalam setahun, jauh lebih padat dari bandara Soekarno-Hatta yang tahun lalu “hanya” melayani 54 juta penumpang.

Kesibukan bandara ini terlihat karena butuh waktu hampir 20 menit sebelum kami mendarat. Setelah itu, pesawat sempat berhenti di landasan karena menunggu beberapa pesawat mendarat di landas pacu yang akan kami lewati sebelum menuju apron pesawat. Saya pun tidak pernah melihat pesawat sebanyak itu yang parkir di bandara, padahal waktu menunjukkan pukul 12.20 waktu setempat. Beberapa pesawat tampak lampunya masih menyala, pertanda telah selesai menaikkan penumpang dan siap untuk terbang pada dini hari itu.

Akhirnya pesawat bisa parkir dan penumpang secara teratur turun dari pesawat. Begitu keluar menuju garbarata, cuaca dingin langsung menyergap. Malam itu, suhu Beijing 8ยบ C. Cukup dingin bagi kami yang berasal dari negara tropis. Kesan pertama saya terhadap bandara Beijing Capital adalah ukurannya yang masif. Memang di belahan bumi sini, masyarakatnya sering membuat bangunan dengan ukuran yang besar. Tapi mungkin hal ini perlu dilakukan mengingat populasi negaranya yang mencapai 1,4 miliar jiwa.

Setelah turun kami langsung menuju area imigrasi. Saya memang sempat baca bahwa imigrasi di sini kurang efektif, dan hal tersebut terbukti. Perlu sekitar 1 jam sebelum kami secara resmi berkunjung ke Cina, atau sekitar pukul 02.00, karena lamanya petugas dalam melayani imigran yang masuk via Beijing. Setelah area imigrasi, kami perlu naik kereta bandara untuk menuju area pengambilan bagasi dan keluar bandara.

Karena dini hari, satu-satunya moda transportasi yang bisa kami gunakan untuk ke hotel adalah taksi. Kami pun mengantre untuk mendapatkan taksi tapi antrean sempat diserobot oleh warga setempat. Saya tidak tersinggung karena di Indonesia pun beberapa warganya seperti itu. 

Tidak seperti di Jakarta yang bandaranya diberlakukan monopoli taksi, di Beijing seluruh taksi boleh masuk area bandara. Namun karena jumlah penumpang yang banyak, tidak tampak antrean taksi yang ingin mengangkut penumpang. Akibatnya kami harus menunggu beberapa saat sebelum taksi berikutnya tiba.

Setelah masuk taksi saya menyerahkan alamat hotel kepada sopir. Sayangnya saya baru menyadari bahwa alamat tersebut dibuat dalam bahasa Indonesia sehingga sopir yang hanya bisa berbahasa Mandarin perlu waktu untuk mencerna alamat. Setelah yakin kami pun bergerak ke arah Dongsi tempat saya dan keluarga menginap.

Ketika sudah berada di dekat area hotel, sopir berhenti di pinggir jalan dan meminta saya menelepon hotel untuk mencari tahu alamat lengkapnya. Waduh, dalam hati saya. Kami tidak sempat membeli kartu sim lokal, dan saya coba beberapa kali untuk menghidupkan roaming tapi tidak berhasil. Putus asa, sang sopir menggunakan ponselnya sendiri untuk menghubungi hotel dan kami pun melanjutkan perjalanan. Akhirnya hotel tersebut ditemukan dan saya memberi tips lebih sebagai bentuk apresiasi saya terhadap sopir.

Kami baru check-in pukul 03.00 dan langsung terlelap setelah diantarkan ke kamar oleh staf hotel.

(bersambung)

Tidak ada komentar: