17 November 2014

Piknik Beijing 7 November 2014

Ini merupakan hari terakhir kami di Beijing, tengah malam nanti kami akan pulang ke Indonesia via Kuala Lumpur. Pada hari terakhir ini kami rencananya akan pergi ke Zhoukoudian, tempat dimana ditemukannya manusia purba, Manusia Peking atau Sinanthropus Pekinensis yang berusia antara 700.000 - 200.000 tahun sebelum masehi. Zhoukoudian terletak 42 km barat daya Beijing. Zhoukoudian ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1987.

Untuk menuju ke tempat ini, kami menggunakan Bus 917 dari terminal bus Tianqiao. Namun kembali karena tidak bisa membaca tulisan Mandarin dan tidak tahu area, maka kami kebablasan hingga keluar kota Beijing dan ke provinsi tetangga. Hal ini kami ketahui dari pos pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas pada setiap warga dan kendaraan yang akan masuk ke Beijing.

Merasa kami sudah pergi terlalu jauh, maka kami putuskan untuk turun dan mengambil bus yang sama untuk kembali ke Beijing. Namun kami dihentikan di pos polisi karena bukan merupakan warga Cina dan tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah, kami hanya memiliki paspor. Untungnya salah satu petugas polisi bisa berbahasa Inggris dan kami jelaskan bahwa tujuan kami adalah Zhoukoudian, namun kami tidak turun di halte yang seharusnya.

Dari informasi yang kami dapatkan dari petugas polisi tersebut, ketika berangkat memang bus tidak melewati halte menuju Zhoukoudian. Kami diharuskan berganti bus untuk menuju halte tersebut. Setelah sekitar hampir 1 jam menunggu di pos polisi tersebut kami diperbolehkan kembali ke Beijing dan diberikan secarik kertas untuk diserahkan kepada kondektur bus berikutnya yang menuju Zhoukoudian.

Kami pun mengikuti arahan polisi tersebut dan sekitar pukul 16.00 tiba di Zhoukoudian. Namun tempat tersebut sudah tutup dan beberapa pengunjung terakhir keluar untuk pulang. Kami akhirnya hanya mengambil foto-foto di depan Zhoukoudian sebelum kembali ke hotel di Beijing untuk mengambil koper dan pulang ke Indonesia.

Perbukitan di Sekitar Zhoukoudian

Zhoukoudian

Pintu Gerbang Menuju Museum
(selesai)


Piknik Beijing 6 November 2014

Hari keempat di Beijing kami habiskan di pusat kota Beijing, yaitu mengunjungi Kota Terlarang. Di kompleks istana Kota Terlarang terdapat 980 bangunan dan hampir 10.000 kamar yang dilengkapi dengan taman kekaisaran yang kemudian menjadi inspirasi taman Jepang. Kota Terlarang di Beijing merupakan pusat pemerintahan Dinasti Ming dan Qing (1416 - 1911) yang dibangun oleh Kaisar Zhu Di (Yongle) pada tahun 1406 - 1420 setelah sebelumnya istana kekaisaran berada di kota Nanjing. Kota Terlarang dan Kompleks Istana Kekaisaran di Shenyang (Mukden) ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1987.

Kota Terlarang

Istana kekaisaran Beijing sangat luas sehingga acapkali disebut kota. Kompleks istana terlarang bagi siapapun untuk masuk dan keluar kecuali atas izin Kaisar. Ketika kami berkunjung, suasana tidak terlalu ramai oleh pengunjung sehingga kami bisa berkeliling dengan leluasa.

Taman di Depan Kota Terlarang




Taman Klasik di Kota Terlarang

Ornamen di Salah Satu Paviliun Taman


Setelah dari Kota Terlarang, kami lalu berjalan ke Bukit Jingshan yang terletak di sebelah utara. Bukit Jingshan merupakan bukit buatan setinggi 45,7 meter yang dibangun bersamaan dengan Kota Terlarang oleh Kaisar Yongle. Di kaki bukit terdapat sebuah pohon dimana kaisar terakhir Dinasti Ming, Chongzhen, gantung diri pada tahun 1644 bersama dengan salah seorang kasim setianya setelah mengetahui Beijing jatuh ke pemberontakan petani dan bangsa Manchu menyerbu Beijing dari arah timur laut Shanhaiguan.

Bukit Jingshan

Pohon Tempat Kaisar Chongzhen Mengakhiri Hidupnya

Taman Beihai dilihat dari Bukit Jingshan
KM 0 Beijing

Dari puncak Bukit Jingshan kami dapat melihat ukuran Kota Terlarang yang sangat besar. Puncak Bukit Jingshan juga menjadi titik pusat kota Beijing.

Dari Bukit Jingshan kami berjalan kaki ke arah barat laut menuju Taman Beihai. Taman ini merupakan taman Cina yang terbesar di Cina dan ujung paling utara dari Grand Canal, yaitu saluran air raksasa yang menghubungkan Beijing di utara dengan Zhejiang di selatan sejauh lebih dari 2.000 km. Grand Canal dibangun secara bertahap dimulai sejak tahun kelima sebelum masehi dan menghubungkan 5 daerah aliran sungai, termasuk Sungai Yangtze dan Sungai Kuning. Grand Canal ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2014.

Taman Beihai
 
 


 


Setelah puas berkeliling, kami lalu menuju restoran DaDong untuk makan Bebek Peking yang terkenal. Konon bebek yang dimasak di DaDong lebih langsing dibanding bebek di restoran lain. Ketika kami datang sekitar jam 5 sore, restoran masih tampak sepi dan kami pun dipersilakan masuk. Namun karena belum booking, maka kami harus menunggu 1 jam hingga bebek siap dihidangkan. Tapi penantian kami terbayarkan karena bebek yang disajikan memang enak. 

Restoran Bebek DaDong




Bebek Dipotong Sebelum Disajikan

Bebek Peking Disajikan Tanpa Nasi

Buah Plum Sebagai Pencuci Mulut

Sepulangnya dari Restoran DaDong, kami menuju Wangfujing di dekat Kota Terlarang. Daerah ini merupakan salah satu pusat oleh-oleh di Beijing, baik barang bermerek maupun cinderamata biasa. Kami berbelanja cukup banyak di sini.

Wangfujing



(bersambung)

16 November 2014

Piknik Beijing 5 November 2014

Hari keempat di Beijing, kami memilih rute yang berbeda. Karena sudah 2 kali mencoba ke Badaling tapi selalu gagal, maka kami hari ini memutuskan pertama-tama untuk ke Makam Kaisar Ming dan Qing di pinggiran Beijing. Untuk menuju ke sana, kami menggunakan Bus 872, melalui terminal bus Deshengmen. 

Bus 872 ke Dingling dan Changling

Tujuan pertama kami adalah Makam Kaisar Dingling, yaitu tempat peristirahatan terakhir Kaisar Ming ke-13, Zhu Yijun (1563 - 1620) dan dua permaisurinya, yaitu Permaisuri Xiaoduan dan Permaisuri Xiaojing. Makam Kaisar Dingling adalah makam kaisar pertama yang digali secara ilmiah dengan persetujuan Pemerintah Cina. Makam Kaisar Dingling merupakan bagian dari kompleks Makam Kaisar Dinasti Ming dan Qing yang dibangun mulai tahun 1368 hingga 1915 dan tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO tahun 2000 (Makam Kaisar Dinasti Qing) dan 2003 (Makam Kaisar Dinasti Ming).

Pintu Masuk ke Makam Kaisar Dingling


Pembangunan Makam Kaisar Dingling dimulai pada tahun 1584 dan selesai pada tahun 1590. Makam dibangun dengan bahan material terpilih dan dengan megah. Walaupun sudah lebih dari 400 tahun sejak selesai dibangun, Menara Arwah (Soul Tower), Baocheng dan Gerbang Makam masih utuh berdiri. Lebih dari 3.000 artefak ditemukan di dalam makam, termasuk mahkota emas dan tiara phoenix, menggambarkan keragaman budaya yang menjadi bahan studi politik, ekonomi dan budaya Dinasti Ming.


Ruang Bawah Tanah Makam Dingling

Tahta Kaisar Makam Dingling
Peti Jenazah Kaisar dan Permaisuri
Ornamen di Langit-langit Makam Kaisar Dingling

Menara Arwah (Soul Tower)

Pegunungan di Daerah Dingling


Artefak Yang Ditemukan di Dalam Makam Kaisar Dingling

Setelah puas berkeliling di Makam Kaisar Dingling, kami menggunakan Bus 872 untuk ke makam kaisar berikutnya, yaitu Makam Kaisar Changling. Ini adalah makam Kaisar ketiga Dinasti Ming, Zhu Di (Kaisar Yongle 1368 - 1424) dan Permaisuri Xu. Pada masa pemerintahan Kaisar Yongle, Dinasti Ming mencapai puncak kejayaannya. Kaisar Yongle juga menjadi kaisar pertama Dinasti Ming yang membangun makam kekaisaran.

Pintu Masuk Makam Kaisar Changling




Altar Makam Kaisar Changling

Menara Arwah (Soul Tower) Makam Kaisar Changling

Menara Arwah (Soul Tower) Makam Kaisar Changling



Dari Makam Kaisar Changling, kami menggunakan Bus 314 untuk menuju ke Tembok Besar Cina di Badaling. Perjalanan dari Changling ke Badaling memakan waktu 1 jam. Tembok Besar Cina di Badaling merupakan salah satu bagian dari Tembok Besar Cina yang paling populer. Tembok Besar Cina adalah tembok pertahanan yang dibangun pertama kali oleh Qin Shi Huang pada tahun 220 sebelum masehi. Pembangunan tembok berlangsung secara bertahap hingga pada masa Dinasti Ming Tembok Besar Cina menjadi bangunan militer terbesar di dunia. Tembok Besar Cina membentang sejauh 20.000 km yang dimulai di Shanhaiguan di Provinsi Hebei di Laut Cina Timur dan berakhir di Jiayuguan di Provinsi Gansu di barat Cina. Bagian Tembok Besar Cina terdiri atas tembok pertahanan, jalur kuda, menara pengawas yang dibangun melewati puncak gunung dan ngarai. Tembok Besar Cina ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1987.


Tembok Besar Cina di Badaling yang kami kunjungi dibangun pada tahun 1504 oleh Dinasti Ming dengan panjang 80 km untuk melindungi Puncak Juyongguan di sebelah Selatan yang menjadi titik masuk menuju Beijing. Titik tertinggi Badaling adalah  北八樓 (Beibalou) yaitu 1.015 mdpl.






Setelah kami puas mengunjungi Badaling, kami lalu pulang ke Beijing dengan menggunakan kereta S2. Sebetulnya kami tidak sengaja menggunakan kereta api untuk menuju Beijing, karena hari sudah malam (sekitar jam 6),  kami tidak menemukan moda transportasi lain untuk pulang ke Beijing. Kami mengikuti pengunjung lain dan ternyata mereka menuju stasiun kereta. Sesampainya di stasiun, petugas stasiun meminta saya untuk segera membeli tiket karena kereta ke Beijing sebentar lagi tiba di stasiun Badaling. Saya pun bergegas beli tiket dan untungnya masih bisa naik kereta tersebut. Perjalanan ke Beijing memakan waktu sekitar 1 jam hingga ke Stasiun Kereta Beijing Utara, lalu kami melanjutkan perjalanan dengan subway ke hotel.

(bersambung)