18 Juni 2014

Virtual Private Network di Mesin Linux

Beberapa waktu lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika, memutuskan untuk blokir beberapa situs populer, misalnya Vimeo dan FanFiction dengan alasan bertentangan dengan prinsip "Internet Sehat" yang dijalankan Pemerintah. Selain itu untuk alasan keamanan dalam berkirim hasil terjemahan ke repository KDE atau XFCE, saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan Virtual Private Network ("VPN").


Sederhananya, VPN digunakan sebagai terowongan antara PC saya dengan PC perantara di suatu tempat, di mana saya akan mulai berselancar di Internet. Pada PC Windows atau Mac, hal ini mudah karena mereka memakai Graphical User Interface sebagai cara untuk pengaturannya. Masalah timbul ketika saya akan mencoba VPN melalui mesin ArchLinux saya di rumah. Saya akan jelaskan bagaimana masalah tersebut timbul dan cara pemecahannya.

Hal pertama yang saya lakukan adalah menginstal paket NetworkManager.


Setelah itu, atur VPN yang digunakan. Bisa menggunakan Point-to-Point Tunneling Protocol ("PPTP") atau OpenVPN. Sebagai informasi, saya menggunakan VPN berbayar.


Setelah dibuat, sambungkan ke VPN tersebut. Setelah tersambung tes ping ke Internet, dalam hal ini saya mencoba Google.


Dapat dilihat pada gambar di atas, bahwa seluruh ping yang dikirim hilang. Artinya, PC saya tersambung ke VPN, tapi tidak bisa berselancar di Internet. Hal ini terjadi karena PC tidak menggunakan alamat VPN tersebut untuk tersambung, melainkan tetap menggunakan alamat default dari Internet Service Provider saya.


Cara pemecahan masalahnya adalah dengan menambahkan alamat VPN ke dalam berkas /etc/resolv.conf, sebagai berikut:


Simpan berkas tersebut lalu coba kembali ping.


Jika telah berhasil, silakan coba akses Vimeo atau FanFiction atau berselancar normal namun dengan privasi. Selamat mencoba.

Vimeo

FanFiction

01 Juni 2014

Piknik Pearl River Delta - Shenzhen (Bagian 2)

Hari terakhir di Shenzhen kami kembali mengunjungi sebuah theme park, yaitu Splendid China & Chinese Folk Culture Village (深圳锦绣, 中华中国民俗文化村). Setelah check-out dan sarapan di food court di Dongmen Street, kami kembali naik Shenzhen Metro ke stasiun OCT (Overseas Chinese Town). 

Hal yang membedakan Splendid China & Chinese Folk Culture Village dengan Window of the World adalah di theme park ini yang menjadi atraksi utama adalah kebudayaan Cina yang berumur 5.000 tahun dalam bentuk karya arsitektur, kondisi alam dan bangunan yang dibuat masyarakat China. Tiket masuk ke theme park ini adalah ¥180.

Walaupun harganya sedikit lebih mahal daripada Window of the World, theme park ini lebih luas. Kami tidak mengelilingi seluruhnya karena terlalu melelahkan jika harus ditempuh dengan berjalan kaki. 

Miniatur Gua Longmen di Luoyang, Provinsi Henan

Miniatur Gua Yungang di Datong, Provinsi Shanxi 

Kuil Konfusius di Qufu, Provinsi Shandong

Miniatur Kota Terlarang, Beijing, Cina

Miniatur Istana Potala di Tibet

Miniatur Tembok Besar Cina

Setelah selesai dari Spendid China & Chinese Folk Culture Village kami pun berpisah di stasiun OCT. Saya kembali ke Hong Kong melalui Luo Hu karena besok pagi akan pulang ke Indonesia. Sedangkan Richard dan Ferry masih melanjutkan ke Macau dan Hong Kong menggunakan kapal feri dari Pelabuhan Shekou.

Sebelum ke Hong Kong saya kembali ke ZTL Hotel untuk mengambil tas koper yang tadi pagi saya titipkan. Alasan saya ke Hong Kong menggunakan jalur darat adalah karena ingin membeli cinderamata di Ladies Market, Mongkok.

Dari Mongkok, saya sempat menghabiskan waktu di Avenue of Stars untuk melihat pertunjukan A Symphony of Lights. 

Pulau Hong Kong di Malam Hari

Dari sini, saya naik bus A21 ke Bandar Udara Internasional Hong Kong untuk bermalam di sana. Banyak tempat untuk beristirahat di sini dan tidak ada petugas yang menanyakan identitas seperti di bandara-bandara Jepang. Tapi tempat yang paling nyaman menurut saya adalah di dekat tempat pembelian Octopus Card di sebelah utara terminal 1 lantai dasar. Hanya saja jangan kaget jika orang yang tidur di kursi samping adalah tunawisma. Saya amati, banyak tunawisma yang memanfaatkan bandara ini sebagai tempat tinggal.

(selesai)

Piknik Pearl River Delta - Shenzhen (Bagian 1)

Hari ini saya dan Reza berpisah. Saya melanjutkan perjalanan ke Shenzhen dengan Richard dan Ferry yang tiba kemarin pagi dari Surabaya sedangkan Reza pulang ke Tangerang dengan penerbangan Garuda Indonesia sore nanti. 

Saya bertemu dengan Richard dan Ferry di depan Chungking Mansion, Tsim Sha Tsui karena kami menginap di hotel yang berbeda. Saya sempat menukar Dollar Hong Kong ke Yuan Cina di City Foreign Exchange di Chungking Mansion yang mempunyai nilai tukar bagus dan termasuk Quality Tourism Services yang direkomendasikan oleh Hong Kong Tourism Board. Lain kali pun, saya tidak ragu jika hanya membawa mata uang Rupiah atau Dollar AS dan menukarnya di sini. 

Setelah berpamitan dengan Reza, saya, Richard dan Ferry naik MTR ke perbatasan Luo Hu dari East Tsim Sha Tsui. Stasiun East Tsim Sha Tsui dan Tsim Sha Tsui masih satu lokasi, hanya berbeda peron untuk naik kereta saja. Perjalanan ke Luo Hu memakan waktu sekitar 45 menit. Ini adalah jalur MTR yang pertama dibangun oleh Pemerintah Hong Kong dan seluruhnya berada di atas tanah. Jalur MTR lain yang dibangun setelahnya, berada di bawah tanah. 

Sesampainya di perbatasan Luo Hu, kami segera bergegas ke imigrasi. Sayangnya untuk pemegang paspor asing hanya disediakan satu jalur imigrasi dan petugas yang berjaga sangat pelan dalam melayani pelintas batas. Petugas lain akhirnya menyilakan sebagian kami untuk mengantre di jalur khusus warga manula di atas 65 tahun untuk mengurangi antrean karena kereta berikutnya sudah datang. Total kami menghabiskan waktu lebih dari 30 menit hanya untuk melewati antrean imigrasi ini. 

Untuk masuk ke Shenzhen, kami harus mengurus visa on arrival terlebih dahulu. Biayanya ¥168. Letak loket sendiri ada di lantai dua, tangga untuk naik ada di seberang imigrasi untuk orang asing ke Daratan Utama Cina. Pada siang itu, sebagian besar yang mengurus visa on arrival adalah pekerja Indonesia di Hong Kong dan akan liburan. 

Tahapan mengurus visa on arrival adalah mengambil nomor antrean, lalu menyerahkan paspor, membayar visa lalu mengambil paspor yang sudah ditempeli visa. Sekedar tips ketika mengurus visa on arrival dan melewati imigrasi di Cina, copot sampul paspor untuk sementara sebelum dicopot paksa oleh petugas imigrasi. 

Setelah melewati imigrasi dan bea cukai, kami segera mencari stasiun Shenzhen Metro. Papan penunjuk kurang jelas dan setelah naik turun tangga, akhirnya kami menemukan lokasi stasiun di bawah tanah. Saya sempat heran karena untuk masuk ke sebuah stasiun Metro tas harus diperiksa layaknya di bandara. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mesin pembeli tiket hanya menerima recehan pecahan ¥1 dan ¥0,5. Untungnya, kami dapat menukar uang di loket Customer Service Center.

Tempat Penukaran Receh

Mesin Pembelian Tiket Shenzhen Metro

Karena ponsel saya hilang dan tidak membaca berita sama sekali, saya baru tahu kalau dua hari lalu ada penyerangan teroris ke sebuah pasar di Urumqi, Xinjiang. Oleh karena itu, Pemerintah Cina mengetatkan pengamanan stasiun MRT di kota-kota besar di Cina lainnya, termasuk Shenzhen. 

Pedestrian Dongmen

ZTL Hotel
Di Shenzhen kami menginap di ZTL Hotel di kawasan Dongmen, Shenzhen. Untuk sampai ke sini, kami naik Shenzhen Metro dan turun di stasiun Laojie lalu keluar di exit B. Setelah check-in dan beristirahat sebentar kami lalu keluar untuk makan siang di sebuah restoran fast food Cina 72. Setelah kenyang kami menuju ke Window of the World Shenzhen, yaitu sebuah theme park yang menampilkan situs-situs keajaiban dunia. 

Fast Food 72

Untuk menuju ke sana, kami kembali naik Shenzhen Metro dan turun di stasiun Window of the World. Kami sempat salah keluar stasiun dan menuju ke Alps Ice and Snow World, sebuah wahana bermain ice skating yang menjadi bagian dari Window of the World. Setelah kembali ke arah stasiun kami bisa menemukan tempat masuk yang sebenarnya. Tiket untuk masuk ke Window of the World adalah ¥160. 

Pintu Masuk Window of the World

Salah Satu Sudut Window of the World

Cuaca hari ini terik, walaupun kami sampai di sana sudah sore namun masih panas. Hampir semua tempat kami singgahi di sini. Sekitar pukul 18.00 kami putuskan untuk kembali ke hotel, tapi sebelumnya kami sempat makan malam di food court dekat hotel.

Dongmen di Malam Hari

(bersambung)

Piknik Pearl River Delta - Hong Kong (Bagian 2)

Di hari ketiga, cuaca berubah dari mendung menjadi cerah seperti yang saya harapkan. Hari ini kami akan fokus berkeliling di daerah Tsim Sha Tsui dan Pulau Hong Kong. Pagi hari, kami pergi ke Avenue of the Stars dengan pemandangan ke arah pusat bisnis Hong Kong. Avenue of the Stars dibuat mirip dengan Hollywood Hall of Fame dimana banyak terdapat plakat sineas Hong Kong ditanam di trotoar jalan.

Pemandangan Pulau Hong Kong dari Avenue of Stars
Avenue of Stars

Puas mengambil foto, kami lalu beranjak ke Tsim Sha Tsui Clock Tower, jam kolonial mirip dengan yang pernah saya lihat di Georgetown, Penang. Dari sini, kami menyempatkan diri untuk sarapan di McD. Kami lalu kembali ke hotel untuk berpindah hotel ke Urban Pack Hostel, karena Golden House Guesthouse penuh diisi hari Sabtu ini. 

Tsim Sha Tsui Clock Tower

Heritage 1881

Walaupun kami tiba di Urban Pack Hostel pukul 12.00, kami belum dapat check-in dan menaruh barang di kamar. Kami hanya menitipkan tas di lobby lalu menyempatkan sholat di Masjid Kowloon sebelum menyeberang ke Central menggunakan Star Ferry yang ikonik.

Star Ferry

Di Central, kami mengunjungi kantor pusat HSBC, Bank of China Tower, Mahkamah Agung Hong Kong yang sedang dalam renovasi, bekas kantor diplomatik Perancis di Hong Kong, Katedral St. John, Gereja St. Joseph, Taman Botani Hong Kong. Sekembalinya dari Taman Botani Hong Kong, kami melihat antrean menuju Tram Peak mengular panjang, kami memilih untuk naik bus tingkat saja ke sana.

Kantor Pusat HSBC

Gedung Mahkamah Agung Hong Kong Sedang Direnovasi

Bekas Kantor Diplomatik Perancis

Katedral St. John

Gereja St. Joseph

Taman Botani Hong Kong

Kami lalu ke terminal bus Central untuk naik bus nomor 15. Dalam perjalanan ke terminal bus, kami menyempatkan untuk makan siang di Yoshinoya. Setelah menunggu sekitar 20 menit, bus tiba. Perjalanan ke Victoria Peak memakan waktu sekitar 1 jam. Ketika kami tiba di atas, sore sudah tiba. Untungnya, cuaca cerah ideal untuk kami mengambil foto gedung pencakar langit di Central pada sore dan malam hari.

Reservoir Pok Fu Lam

Di Victoria Peak ada dua gedung tempat pengunjung bisa menyaksikan pemandangan Hong Kong dari atas bukit, yaitu The Peak Tower dan Peak Galleria. The Peak Tower mewajibkan pengunjung membayar untuk naik ke platform pandang sedangkan Peak Galleria gratis. Memang The Peak Tower lebih tinggi ketimbang Peak Galleria, tapi pemandangan terbaik ke arah Central masih bisa terlihat dengan baik dari Peak Galleria.

Saya berhasil memaksa Reza untuk menunggu malam tiba dan kami bisa mengambil foto malam hari ke arah Central. Puas dengan foto yang didapat, kami putuskan untuk ke Ladies Market di Mongkok lalu kembali ke hostel untuk proses check-in dan istirahat karena lelah berjalan kaki seharian.

Hong Kong dilihat dari Victoria Peak

(bersambung)

Piknik Pearl River Delta - Macau

Pada hari kedua ini, seharian kami akan pergi ke Macau, sekitar 1.5 jam perjalanan dengan menggunakan kapal cepat dari pelabuhan Central. Tujuan utama kami adalah Situs Warisan Dunia UNESCO di Macau dan Venetian Casino yaitu kasino terbesar di Macau yang dilengkapi dengan pusat perbelanjaan yang didesain seperti kota Venesia lengkap dengan kanal dan perahunya. 

Ketika kami beranjak dari hotel cuaca hujan deras, menurut prakiraan cuaca di Macau juga akan turun hujan seharian. Setelah kami sampai di pelabuhan tiket yang kami beli di hotel semalam harus ditukar terlebih dahulu ke loket di pelabuhan. Agak sulit mencari loket tersebut karena ada beberapa perusahaan kapal yang berbagi pelabuhan yang sama. Setelah bertanya ke seorang petugas keamanan, kami diberitahu tempat untuk menukarnya. Kami akan naik kapal Cotai Express pukul 09.30.

Setelah melewati imigrasi kami sampai pada ruang tunggu yang penuh dengan turis Cina Daratan yang akan pergi ke Macau dari Hong Kong. Setengah jam sebelum berangkat, kami dipersilakan masuk ke ruang keberangkatan setelah sebelumnya diberikan nomor bangku oleh petugas. 

Kapal yang digunakan untuk rute Hong Kong – Macau adalah kapal cepat jenis catamaran. Kapalnya sendiri besar namun sangat nyaman, terdiri atas dua lantai. Lantai atas untuk penumpang VIP sedangkan lantai bawah adalah kelas ekonomi. Sebelum berangkat, kami diberitahu oleh kapten bahwa ombak laut cukup besar pagi ini dan akan banyak mengalami guncangan sehingga seluruh penumpang harus tetap duduk dan mengenakan sabuk pengaman selama perjalanan. 

Tapi dalam perjalanan guncangan minim sehingga kami tertidur hampir sepanjang perjalanan. 1.5 jam kemudian kapal mulai mengurangi kecepatan lalu merapat ke pelabuhan temporer Taipa di Pulau Taipa, Macau.

Berbeda dengan imigrasi di Hong Kong dimana kami harus menuliskan informasi kedatangan, imigrasi Macau tidak mewajibkan hal itu dan langsung memeriksa paspor. Saya mengapresiasi kemudahan ini. 

Setelah keluar imigrasi, banyak bus kasino yang sudah menunggu penumpang. Kami sempat bingung untuk naik, apakah harus mendaftar atau bilang ke petugas atau sopir atau bagaimana. Akhirnya setelah beberapa menit, kami beranikan naik ke salah satu bus kasino Wynn. Saya sempat takut tiba-tiba dicegah, tapi tidak terjadi apa-apa dan setelah beberapa penumpang lain naik, bus berangkat. 

Bus ini juga menyediakan Wi-Fi gratis bagi penumpang selama 20 menit. Saya sempat memastikan itinerary kami di Macau. Perjalanan dari Taipa ke kasino Wynn memakan waktu sekitar 25 menit. Dari kasino Wynn, kami lalu menuju kasino Grand Lisboa karena dari sini tinggal jalan kaki lurus saja hingga Senado Square, yang bisa dibilang sebagai titik start Situs Warisan Dunia UNESCO. 

Senado Square

Di Senado Square, kami menyempatkan diri untuk makan siang di restoran Wong Chi Kei, sebuah restoran khas Kanton yang menyediakan menu Mie Wonton dan Bubur Congee. Saya makan Mie Wonton dan fish ball, sedangkan Reza makan nasi goreng ayam. Hati-hati dengan AC di restoran ini yang diatur dengan kecepatan maksimum sehingga cukup dingin. Oh ya, restoran dan toko di Macau menerima pembayaran menggunakan HK$, jadi tidak perlu menukar uang ke Macau Pataca. Rasio yang dipakai adalah 1 HK$ = 1 MOP.

Restoran Wong Chi Kei

Mie Wonton

Setelah kenyang kami lalu bersiap untuk berkeliling, namun sebelumnya saya menyempatkan diri ke Macau Business Tourism Centre yang berlokasi di sebelah restoran Wong Chi Kei untuk mengambil brosur, buku dan peta Situs Warisan Dunia UNESCO. 

Macao Business Tourism Centre

Bangunan pertama yang kami temui adalah Gereja St. Dominic. Namun pintunya tertutup sehingga kami putuskan untuk melanjutkan berjalan kaki ke reruntuhan Katedral St. Paul.

Gereja St. Dominic

Reruntuhan Katedral St. Paul merupakan kulminasi dan ikon Situs Warisan Dunia UNESCO Macau. Pada hari yang mendung ini, saya menghitung setidaknya ada 3 pasangan yang sedang melakukan pre-wedding di sini. Bagaimanapun tempat ini memang fenomenal. Di bagian belakang, terdapat sebuah museum kecil yang berisi relik Kristiani ketika tempat ini masih menjadi Katedral yang berfungsi penuh. Untuk masuk museum ini gratis, masuk dari pintu sebelah kanan.

Reruntuhan Katedral St. Paul

Selanjutnya, kami menuju Mount Fortress di sebelah kanan Katedral St. Paul jika datang dari arah Senado Square. Bukit yang cukup tinggi ini dahulu merupakan benteng pertahanan bangsa Portugis dari lawan-lawan politiknya di Eropa yang ingin juga menjadikan Macau koloni mereka. Di dalam benteng dibangun Museum Macau. Tapi kami tidak masuk ke sana.

Museum Macau

Dari Mount Fortress, kami melanjutkan ke Gereja St. Anthony, Casa Garden dan tempat pemakaman Protestan. Setelah puas di sini, bangunan terakhir yang termasuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO adalah bekas tembok kota Macau dan Kuil Nacha yang keduanya berlokasi di sebelah kiri reruntuhan Katedral St. Paul.

Gereja St. Anthony

Casa Garden

Tempat Pemakaman Protestan

Tembok Kota Macau dan Kuil Nacha

Karena hari sudah semakin sore dan kami masih harus mengunjungi Venetian Resort, maka kami bergegas kembali ke Senado Square lalu berjalan kaki kembali ke arah Grand Lisboa dan Wynn untuk naik bus City of Dreams ke daerah Cotai. Lokasi halte bus shuttle City of Dreams adalah di depan Hotel Sintra. Kami sempat nyasar dengan berjalan kaki hingga depan Grand Lisboa, padahal seharusnya sebelum sampai Grand Lisboa, kami belok ke kanan.

Bus shuttle City of Dream juga gratis, dan perjalanan dari Hotel Sintra ke City of Dreams Hotel memakan waktu sekitar 20 menit. City of Dreams ini satu kompleks dengan Hard Rock Hotel Macau, namun untuk ke Venetian kami harus berjalan kaki sekitar 5 menit karena letaknya di seberang Cotai Strip. Cotai Strip adalah kawasan hotel, kasino, dan pusat perbelanjaan yang terintegrasi.


Skala ekonomi dari legalisasi perjudian di kota ini lebih besar 7 kali lipat dari pusat perjudian dunia lainnya, Las Vegas di Amerika Serikat. Akibatnya, warga Macau pendapatan per kapitanya termasuk salah satu yang tertinggi di dunia.

Venetian memang sangat memukau dan megah. Atapnya digambar lukisan Rennaisance dan ornamen emas. Kami lalu naik ke lantai dua tempat pusat perbelanjaan dan kanal buatan berada. Toko-toko terletak di tepi kanal buatan. Atapnya diterangi sehingga tampak seperti langit cerah. Pengunjung dapat naik gondola a la Venesia, Italia dengan membayar HK$100 untuk satu kali putaran. 

Resort Venetian di Cotai Strip
Venetian

Pusat Perbelanjaan di Venetian

Di sini saya sempat berbelanja oleh-oleh di salah satu retail pakaian, Uniqlo, di sini. Hal yang menarik pakaian bisa ditukarkan hingga 40 hari sejak pembelian. Di negara asalnya pun kebijakan penukaran pakaian tidak selama itu. dan mencoba Pie Egg Tart di Lord Stow Bakery yang terkenal. Harganya cukup mahal yaitu HK$9 per potong, tapi rasanya memang lezat. Renyah di luar, lembut di luar dan rasa karamelnya 

Selesai makan, kami putuskan untuk kembali ke Hong Kong. Tapi sebelumnya, kami harus mencari bus shuttle dari Venetian ke Pelabuhan Temporer Taipa. Kami sempat salah keluar di lobi timur. Untungnya, seorang porter membantu kami dengan ramah menunjukkan letak shuttle bus Venetian, di lobi sebelah barat. Walaupun kami tidak menginap atau berjudi di Venetian, pelayanan terhadap pengunjung biasa seperti kami tetap prima. Saya salut kepada pengelola Venetian. 

Lobi Barat Venetian

Antrean Bus Shuttle Venetian

Dari terminal bus shuttle, kami mengambil bus tujuan Pelabuhan Temporer Taipa. Dari sini, kami naik Cotai Express setelah sebelumnya menukarkan tiket di loket dan melalui imigrasi serta bea cukai. Kami sampai Hong Kong 1.5 jam kemudian. Kami sempatkan makan malam di restoran Yoshinoya dekat hotel lalu kembali hotel untuk beristirahat.

(bersambung)