23 November 2013

Piknik Bangkok - 19 November 2013 - Ayutthaya

Hari terakhir di Thailand rencananya akan saya habiskan dengan day trip ke kota Ayutthaya, sekitar 80 km di sebelah utara Bangkok. Ayutthaya adalah sebuah kota bersejarah yang menjadi ibukota kerajaan Siam kedua setelah Sukhothai. Kota ini didirikan pada tahun 1350 masehi, dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 hingga 18 masehi. Pada masa keemasannya, Ayutthaya menjadi kota kosmopolitan terbesar di dunia dan menjadi pusat diplomasi dan perdagangan global. 

Lokasi Ayutthaya sengaja dipilih karena letaknya yang strategis di atas sebuah pulau yang dikelilingi tiga sungai yang menghubungkan kota dengan laut. Selain itu, lokasi ini dipilih karena terletak di atas titik tertinggi air pasang Teluk Siam pada masa itu, dengan demikian dapat mencegah kota diserang oleh kapal perang bangsa lain yang menggunakan rute laut. Lokasi ini juga dapat membantu melindungi kota dari banjir musiman.

Sayangnya pada tahun 1767, kota ini diserang oleh kerajaan Burma yang kemudian membakar dan menghancurkan bangunan-bangunan Ayutthaya hingga menjadi puing dan memaksa penduduk meninggalkan kota. Kerajaan Siam tidak pernah lagi membangun kembali kota ini dan saat ini Ayutthaya menjadi situs arkeologi yang luas.

Secara administratif, saat ini Ayutthaya terletak di distrik Phra Nakhon Si Ayutthaya, provinsi Phra Nakhon Si Ayutthaya. Pada tahun 1991 kota Ayutthaya dinobatkan menjadi salah satu situs Warisan Dunia UNESCO. Kriteria Kota Bersejarah Ayutthaya merupakan saksi penting masa perkembangan seni dan budaya nasional Thailand. Total area Warisan Dunia adalah 289 hektar.

Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO, Ayutthaya, Thailand

Pagi hari, ketika bangun, saya mendapatkan pesan dari Richard dan Mbak Tina bahwa semalam mereka hampir telat naik pesawat karena mepetnya waktu tiba di Bandar Udara Internasional Suvarnabhumi. Untungnya, mereka dibantu petugas bandara yang memprioritaskan mereka untuk imigrasi, bea cukai, hingga mengantarkan mereka ke gerbang untuk naik pesawat. Mereka juga memberitahu kalau ponsel Winis hilang, terakhir Winis bilang dia memakai ponsel ketika beristirahat di cafe setelah dari Madame Tussauds atau ketika makan siang. Karena kedua tempat tersebut baru buka sekitar pukul 10.00, maka setelah mandi saya kembali tidur menunggu kedua tempat buka.

Rencana awal saya ke Ayutthaya adalah menggunakan kereta api dari stasiun Hua Lamphong pagi ini, dengan lama perjalanan satu jam. Namun karena adanya perkembangan ini, saya harus kompromi. Ketika bangun kembali, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 10.30, saya langsung berkemas dan check-out. Tujuan pertama saya adalah restoran Oasis di MBK Mall. Setelah saya tanya kasir, ia kemudian bertanya ke rekannya dan ke dapur, tidak ada barang tertinggal kemarin. Saya putuskan untuk makan siang di restoran ini.

Karena tidak tertinggal di tempat pertama, maka saya segera ke Coffeol di Siam Discovery. Saya langsung menuju ke ke pramusaji untuk menanyakan apakah ada ponsel tertinggal di cafe ini, sang pramusaji tersenyum dan menyilakan saya bertemu dengan manajer cafe. Syukurlah, ponsel tersebut memang tertinggal di cafe ini. Setelah pengecekan identitas singkat (sang manajer cafe sempat chat dengan pacar Winis), ponsel tersebut dikembalikan. Saya pun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Karena penerbangan ke Jakarta pukul 21.00 WIB, tadinya saya memberi tenggat waktu hingga pukul 13.00. Jika pencarian ponsel memakan waktu lewat dari itu, maka saya batal ke Ayutthaya. Untungnya, ponsel diketemukan pukul 12.00, saya masih punya waktu untuk half-day trip. Karena tidak mungkin lagi ke Ayutthaya menggunakan kereta api, saya berkompromi dengan pergi ke sana memakai minivan. Terminal minivan ini terletak di sekitar Victory Monument. Saya ke sana memakai BTS Skytrain dari stasiun Siam. Agak sulit mencari letak minivan ke Ayutthaya banyak minivan yang menawarkan ke tujuan lain, dan hampir semua menggunakan papan petunjuk dengan tulisan Thai. Untungnya, saya mendengar sopir yang berteriak Ayutthaya dan saya pun segera naik. Sebelum berangkat, sopir memungut ongkos minivan, yaitu 60 Baht. 

Perjalanan ke Ayutthaya berjalan lancar dan memakan waktu satu jam. Saya perhatikan jalan di Thailand lebar sehingga kendaraan bisa melaju hingga 100 km/jam walaupun bukan di tol. Saya lalu turun di Soi 2 Naresuan Road. Tidak jauh dari situ banyak toko yang menyewakan sepeda. Saya memilih sepeda yang kondisinya terlihat paling bagus lalu membayar sewa 40 Baht. Pemilik toko ini adalah ayah dan anak, keduanya orang Barat yang tinggal di Thailand. Saya menitipkan tas, dan hanya membawa kamera, botol minum serta peta untuk berkeliling Ayutthaya.

Sesuai peta perjalanan saya, tujuan pertama yang saya lewati adalah Wat Rachaburana, yang dibangun pada tahun 1424 oleh Raja Borommaracha II setelah dua saudaranya tewas dalam pertempuran gajah untuk memperebutkan tahta. Kedua saudara raja dikremasi dan abunya ditempatkan di dua chedi, dan Wat Rachaburana dibangun sebagai memorial.

Wat Rachaburana

Saya melanjutkan ke tujuan berikutnya, yaitu Wat Chum Saeng. Ini adalah chedi tempat sembahyang dengan fitur utama menara dengan bentuk seperti bel. Menara ini sudah tererosi, namun bagian puncak menara masih utuh. Gaya arsitektural Wat Chum Saeng mengindikasikan biara ini dibangun pada masa pertengahan Ayutthaya.

Wat Chum Saeng

Di seberang Wat Chum Saeng terletak Wat Langkha Khao yang berbentuk chedi tunggal berbentuk bel dengan dasar segi delapan, dan berundak-undak hingga ke ruang sembahyang. Nama Wat Langkha Khao merupakan warna ubin (putih) yang dahulu menutupi atapnya. 

Wat Langkha Khao

Setelah satu menit bersepeda ke arah barat, saya sampai di Wat Thammikarat. Wat Thammikarat dapat diketahui dari chedi berbentuk bel yang dikelilingi dengan patung singa (singh) dan naga berkepala banyak di tangganya. Wat Thammikarat diduga dibangun sebelum Ayutthaya dipilih menjadi ibukota kerajaan. Sejarah menceritakan Phraya Thammikarat, putera Raja Sai Nam Phung, membangun biara ini. Dua abad kemudian, Pangeran Si Sin, adik Raja Yot Fa (yang dieksekusi tahun 1548), pernah dipenjara di atau dekat Wat Thammikarat oleh Raja Chakkraphat. Pangeran Si Sin lalu menyerang tiba-tiba Istana Kerajaan melalui Gerbang Sao Thong Chai (di samping Wat Thammikarat). Raja Chakkraphat terpaksa lari dari istana, namun Pangeran Si Sin tewas karena tertembak dalam pertempuran. Seluruh keluarga dan istri sang pangeran dieksekusi dan disula sebagai peringatan bagi rencana pemberontakan di masa yang akan datang. Pada tahun 1758, seorang biksu dari biara ini berhasil mencegah terjadinya perang saudara dengan membujuk Raja Uthumphon untuk mengundurkan diri.

Wat Thammikarat
Patung Singa di Wat Thammikarat

Tempat berikutnya yang saya kunjungi adalah Wat Sri Sanphet yang merupakan Istana Raja awal. Biksu tidak tinggal di sini karena dianggap sebagai kuil kerajaan. Dua chedi berbentuk bel dibangun pada tahun 1492 oleh Raja Ramabodhi II. Chedi paling timur berisi abu ayahnya, Raja Borommatrailokanat (Trailok), chedi tengah berisi abu kakaknya, Raja Borommaracha III, sedangkan chedi sebelah barat berisi abunya sendiri. 

Wat Sri Sanphet

Istana Raja didirikan oleh Raja U-Thong setelah mendirikan kerajaan pada tahun 1351. Istana Raja sebagian besar telah dihancurkan oleh invasi Burma pada tahun 1767. Tapi beberapa bangunan masih berdiri, di antaranya adalah Pavilion Rabbit Garden, Bangunan Suriyat-Amarindra, Bangunan Vihara Somdet, Bangunan Sanphet-Prasat, Bangunan Chakravat-Phaichayon, Bangunan Traimuk, dan Bangunan Banyong-Ratanat.

Reruntuhan Istana Raja Ayutthaya

Wat Rakang juga dikenal sebagai Wat Worapho, adalah daerah reruntuhan yang luas dengan beberapa bagian bangunan masih berdiri. Stupa utamanya adalah prang bergaya Khmer. Wat Rakang pertama kali dikenal dengan Raja Sokham, yang pernah mengabdi sebagai biksu tinggi di biara ini, dan berhasil mendapatkan banyak pengikut. Ia kemudian meninggalkan kehidupan biarawan dan menjadi raja setelah menggulingkan Raja Si Saowaphak.

Wat Rakang

Wat Worachetharam adalah reruntuhan dengan banyak bangunan arsitektur. Bangunan yang menonjol adalah chedi berbentuk bel yang dibangun pada masa pertengahan Ayutthaya. Sebuah patung Buddha dalam posisi Taming Mara berada di depan altar untuk sembahyang.

Wat Worachetharam

Wat Lokaya Sutharam merupakan reruntuhan kuil besar yang dibangun pada masa akhir Ayutthaya, sekitar akhir abad ke-16. Yang terkenal dari kuil ini adalah patung Buddha tidur (panjang 42 meter dan tinggi 8 meter) yang diberi nama Phra Buddha Sai Yat. Seluruh jari kaki Buddha memiliki panjang yang sama. Tangan yang menopang kepala dibuat vertikal, dan bukan terlipat seperti patung pada masa awal Ayutthaya dan U-Thong. 

Phra Buddha Sai Yat di Wat Lokaya Sutharam

Wat Ket terletak di dekat penjara kuno dan merupakan salah satu tempat untuk eksekusi. Biara ini digunakan oleh terdakwa untuk berdoa terakhir kalinya, sementara tahanan lain menggunakan biara ini untuk memohon ampunan. Ada 21 cara untuk menghukum mati sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pidana Ayutthaya, di antaranya dengan cara dipenggal, disula, organ dalam dikeluarkan, diinjak oleh gajah, dipukuli dengan rotan dan sebagainya. 

Wat Ket

Wat Phra Ram didirikan pada tahun 1369. Raja Ramesuan memerintahkan pembangunan biara ini sebagai tempat pemakaman ayahnya, Raja U-Thong, yang merupakan pendiri Kerajaan Ayutthaya. Tapi kelihatannya Wat Phra Ram baru selesai pada masa pemerintahan Raja Borommaracha I (1370 - 1388). 

Patung Raja U-Thong, Pendiri Kerajaan Ayutthaya

Wat Phra Ram

Ayutthaya Maha Prasat adalah kuil Buddha untuk Raja U-Thong di tengah Bung Phra Ram yang dibangun oleh dinasti Chakri. Ciri khas dari bangunan ini adalah tiga tiang yang merefleksikan simbol provinsi Ayutthaya.

Ayutthaya Maha Prasat

Wat Jan adalah sebuah patung Buddha di puncak, dan seekor gajah berlutut sedangkan seekor kera memberikan persembahan. Makna dari patung-patung ini tidak jelas karena sejarah yang hilang.

Wat Jan

Wat Sangkha Pat adalah bangunan tunggal di area tersebut, dengan gaya kerajaan Haripunchai atau Lanna, yaitu pondasi berbentuk segi delapan, dan bangunan makin mengecil ke atas. Sangat sedikit sejarah yang bisa diketahui dari Wat Sangkha Pat. Biara ini terletak di kanal kuno yang mengalirkan air ke Bung Phra Ram dari Khlong Muang (sungai Lopburi lama).

Wat Sangkha Pat

Wat Langkha Dam terdiri atas tiga bangunan utama. Di depan adalah aula sembahyang, di belakangnya adalah chedi berbentuk bel dari masa pertengahan Ayutthaya. Bangunan ini mempunyai pondasi berbentuk segi delapan dengan beberapa tingkatan menuju ke bagian dalam. Bangunan ini mempunyai pengaruh Khmer. Wat Langkha Dam dinamakan demikian karena atapnya yang berwarna hitam. Karena kesamaan namanya, biara ini kemungkinan mempunyai hubungan dengan Wat Langkha Khao.

Wat Langkha Dam

Wat Maha That tadinya merupakan pemukiman Dvaravati pada abad ke-12 sebelum kedatangan Raja U-Thong pada tahun 1350. Tapi menurut catatan sejarah, pembangunan biara ini baru dimulai pada tahun 1374 dan selesai pada tahun 1388. Raja Borommaracha I membangun biara ini sebagai pusat spiritual Ayutthaya, dan merupakan kediaman resmi Sangharaja ajaran Buddha. Wat Maha That terkenal dengan sebuah kepala Buddha yang muncul dari balik akar pohon. Masyarakat setempat percaya bahwa pohon mengangkat kepala Buddha dari tanah karena benda tersebut sangat sakral.

Wat Maha That





Tujuan terakhir saya adalah Wat Muang yang dibangun pada masa akhir Ayutthaya.

Wat Muang

Akhirnya saya berhasil menyelesaikan seluruh rute pada pukul 18.00. Tidak ingin membuang waktu, saya lalu mengembalikan sepeda, mengambil tas lalu menuju ke tempat saya turun dari minivan tadi siang. Untungnya tidak perlu waktu lama, karena ada satu minivan yang akan berangkat ke Bangkok. Saya terangkan kepada sopir saya ingin turun di Bandar Udara Internasional Don Mueang.
Perjalanan dari Ayutthaya ke bandara memakan waktu sekitar 45 menit, untungnya jalanan tidak macet, karena dari informasi yang pernah saya baca, lalu lintas menuju Bangkok pada sore hari sangat parah. Setelah turun, tidak lupa membayar minivan 60 Baht, saya langsung ke counter check-in, imigrasi dan bea cukai lalu masuk ke area keberangkatan. Karena masih cukup waktu, saya lalu berkeliling ke toko duty free untuk mencari oleh-oleh. Pada intinya, saya hanya berusaha menghabiskan uang Baht agar tidak perlu menukarkannya kembali di Jakarta. Setelah dapat beberapa kudapan dan sebuah suvenir gajah, saya lalu naik ke pesawat dan kembali ke Tangerang.

(Selesai)

No comments: