23 November 2013

Piknik Bangkok - 19 November 2013 - Ayutthaya

Hari terakhir di Thailand rencananya akan saya habiskan dengan day trip ke kota Ayutthaya, sekitar 80 km di sebelah utara Bangkok. Ayutthaya adalah sebuah kota bersejarah yang menjadi ibukota kerajaan Siam kedua setelah Sukhothai. Kota ini didirikan pada tahun 1350 masehi, dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 hingga 18 masehi. Pada masa keemasannya, Ayutthaya menjadi kota kosmopolitan terbesar di dunia dan menjadi pusat diplomasi dan perdagangan global. 

Lokasi Ayutthaya sengaja dipilih karena letaknya yang strategis di atas sebuah pulau yang dikelilingi tiga sungai yang menghubungkan kota dengan laut. Selain itu, lokasi ini dipilih karena terletak di atas titik tertinggi air pasang Teluk Siam pada masa itu, dengan demikian dapat mencegah kota diserang oleh kapal perang bangsa lain yang menggunakan rute laut. Lokasi ini juga dapat membantu melindungi kota dari banjir musiman.

Sayangnya pada tahun 1767, kota ini diserang oleh kerajaan Burma yang kemudian membakar dan menghancurkan bangunan-bangunan Ayutthaya hingga menjadi puing dan memaksa penduduk meninggalkan kota. Kerajaan Siam tidak pernah lagi membangun kembali kota ini dan saat ini Ayutthaya menjadi situs arkeologi yang luas.

Secara administratif, saat ini Ayutthaya terletak di distrik Phra Nakhon Si Ayutthaya, provinsi Phra Nakhon Si Ayutthaya. Pada tahun 1991 kota Ayutthaya dinobatkan menjadi salah satu situs Warisan Dunia UNESCO. Kriteria Kota Bersejarah Ayutthaya merupakan saksi penting masa perkembangan seni dan budaya nasional Thailand. Total area Warisan Dunia adalah 289 hektar.

Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO, Ayutthaya, Thailand

Pagi hari, ketika bangun, saya mendapatkan pesan dari Richard dan Mbak Tina bahwa semalam mereka hampir telat naik pesawat karena mepetnya waktu tiba di Bandar Udara Internasional Suvarnabhumi. Untungnya, mereka dibantu petugas bandara yang memprioritaskan mereka untuk imigrasi, bea cukai, hingga mengantarkan mereka ke gerbang untuk naik pesawat. Mereka juga memberitahu kalau ponsel Winis hilang, terakhir Winis bilang dia memakai ponsel ketika beristirahat di cafe setelah dari Madame Tussauds atau ketika makan siang. Karena kedua tempat tersebut baru buka sekitar pukul 10.00, maka setelah mandi saya kembali tidur menunggu kedua tempat buka.

Rencana awal saya ke Ayutthaya adalah menggunakan kereta api dari stasiun Hua Lamphong pagi ini, dengan lama perjalanan satu jam. Namun karena adanya perkembangan ini, saya harus kompromi. Ketika bangun kembali, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 10.30, saya langsung berkemas dan check-out. Tujuan pertama saya adalah restoran Oasis di MBK Mall. Setelah saya tanya kasir, ia kemudian bertanya ke rekannya dan ke dapur, tidak ada barang tertinggal kemarin. Saya putuskan untuk makan siang di restoran ini.

Karena tidak tertinggal di tempat pertama, maka saya segera ke Coffeol di Siam Discovery. Saya langsung menuju ke ke pramusaji untuk menanyakan apakah ada ponsel tertinggal di cafe ini, sang pramusaji tersenyum dan menyilakan saya bertemu dengan manajer cafe. Syukurlah, ponsel tersebut memang tertinggal di cafe ini. Setelah pengecekan identitas singkat (sang manajer cafe sempat chat dengan pacar Winis), ponsel tersebut dikembalikan. Saya pun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Karena penerbangan ke Jakarta pukul 21.00 WIB, tadinya saya memberi tenggat waktu hingga pukul 13.00. Jika pencarian ponsel memakan waktu lewat dari itu, maka saya batal ke Ayutthaya. Untungnya, ponsel diketemukan pukul 12.00, saya masih punya waktu untuk half-day trip. Karena tidak mungkin lagi ke Ayutthaya menggunakan kereta api, saya berkompromi dengan pergi ke sana memakai minivan. Terminal minivan ini terletak di sekitar Victory Monument. Saya ke sana memakai BTS Skytrain dari stasiun Siam. Agak sulit mencari letak minivan ke Ayutthaya banyak minivan yang menawarkan ke tujuan lain, dan hampir semua menggunakan papan petunjuk dengan tulisan Thai. Untungnya, saya mendengar sopir yang berteriak Ayutthaya dan saya pun segera naik. Sebelum berangkat, sopir memungut ongkos minivan, yaitu 60 Baht. 

Perjalanan ke Ayutthaya berjalan lancar dan memakan waktu satu jam. Saya perhatikan jalan di Thailand lebar sehingga kendaraan bisa melaju hingga 100 km/jam walaupun bukan di tol. Saya lalu turun di Soi 2 Naresuan Road. Tidak jauh dari situ banyak toko yang menyewakan sepeda. Saya memilih sepeda yang kondisinya terlihat paling bagus lalu membayar sewa 40 Baht. Pemilik toko ini adalah ayah dan anak, keduanya orang Barat yang tinggal di Thailand. Saya menitipkan tas, dan hanya membawa kamera, botol minum serta peta untuk berkeliling Ayutthaya.

Sesuai peta perjalanan saya, tujuan pertama yang saya lewati adalah Wat Rachaburana, yang dibangun pada tahun 1424 oleh Raja Borommaracha II setelah dua saudaranya tewas dalam pertempuran gajah untuk memperebutkan tahta. Kedua saudara raja dikremasi dan abunya ditempatkan di dua chedi, dan Wat Rachaburana dibangun sebagai memorial.

Wat Rachaburana

Saya melanjutkan ke tujuan berikutnya, yaitu Wat Chum Saeng. Ini adalah chedi tempat sembahyang dengan fitur utama menara dengan bentuk seperti bel. Menara ini sudah tererosi, namun bagian puncak menara masih utuh. Gaya arsitektural Wat Chum Saeng mengindikasikan biara ini dibangun pada masa pertengahan Ayutthaya.

Wat Chum Saeng

Di seberang Wat Chum Saeng terletak Wat Langkha Khao yang berbentuk chedi tunggal berbentuk bel dengan dasar segi delapan, dan berundak-undak hingga ke ruang sembahyang. Nama Wat Langkha Khao merupakan warna ubin (putih) yang dahulu menutupi atapnya. 

Wat Langkha Khao

Setelah satu menit bersepeda ke arah barat, saya sampai di Wat Thammikarat. Wat Thammikarat dapat diketahui dari chedi berbentuk bel yang dikelilingi dengan patung singa (singh) dan naga berkepala banyak di tangganya. Wat Thammikarat diduga dibangun sebelum Ayutthaya dipilih menjadi ibukota kerajaan. Sejarah menceritakan Phraya Thammikarat, putera Raja Sai Nam Phung, membangun biara ini. Dua abad kemudian, Pangeran Si Sin, adik Raja Yot Fa (yang dieksekusi tahun 1548), pernah dipenjara di atau dekat Wat Thammikarat oleh Raja Chakkraphat. Pangeran Si Sin lalu menyerang tiba-tiba Istana Kerajaan melalui Gerbang Sao Thong Chai (di samping Wat Thammikarat). Raja Chakkraphat terpaksa lari dari istana, namun Pangeran Si Sin tewas karena tertembak dalam pertempuran. Seluruh keluarga dan istri sang pangeran dieksekusi dan disula sebagai peringatan bagi rencana pemberontakan di masa yang akan datang. Pada tahun 1758, seorang biksu dari biara ini berhasil mencegah terjadinya perang saudara dengan membujuk Raja Uthumphon untuk mengundurkan diri.

Wat Thammikarat
Patung Singa di Wat Thammikarat

Tempat berikutnya yang saya kunjungi adalah Wat Sri Sanphet yang merupakan Istana Raja awal. Biksu tidak tinggal di sini karena dianggap sebagai kuil kerajaan. Dua chedi berbentuk bel dibangun pada tahun 1492 oleh Raja Ramabodhi II. Chedi paling timur berisi abu ayahnya, Raja Borommatrailokanat (Trailok), chedi tengah berisi abu kakaknya, Raja Borommaracha III, sedangkan chedi sebelah barat berisi abunya sendiri. 

Wat Sri Sanphet

Istana Raja didirikan oleh Raja U-Thong setelah mendirikan kerajaan pada tahun 1351. Istana Raja sebagian besar telah dihancurkan oleh invasi Burma pada tahun 1767. Tapi beberapa bangunan masih berdiri, di antaranya adalah Pavilion Rabbit Garden, Bangunan Suriyat-Amarindra, Bangunan Vihara Somdet, Bangunan Sanphet-Prasat, Bangunan Chakravat-Phaichayon, Bangunan Traimuk, dan Bangunan Banyong-Ratanat.

Reruntuhan Istana Raja Ayutthaya

Wat Rakang juga dikenal sebagai Wat Worapho, adalah daerah reruntuhan yang luas dengan beberapa bagian bangunan masih berdiri. Stupa utamanya adalah prang bergaya Khmer. Wat Rakang pertama kali dikenal dengan Raja Sokham, yang pernah mengabdi sebagai biksu tinggi di biara ini, dan berhasil mendapatkan banyak pengikut. Ia kemudian meninggalkan kehidupan biarawan dan menjadi raja setelah menggulingkan Raja Si Saowaphak.

Wat Rakang

Wat Worachetharam adalah reruntuhan dengan banyak bangunan arsitektur. Bangunan yang menonjol adalah chedi berbentuk bel yang dibangun pada masa pertengahan Ayutthaya. Sebuah patung Buddha dalam posisi Taming Mara berada di depan altar untuk sembahyang.

Wat Worachetharam

Wat Lokaya Sutharam merupakan reruntuhan kuil besar yang dibangun pada masa akhir Ayutthaya, sekitar akhir abad ke-16. Yang terkenal dari kuil ini adalah patung Buddha tidur (panjang 42 meter dan tinggi 8 meter) yang diberi nama Phra Buddha Sai Yat. Seluruh jari kaki Buddha memiliki panjang yang sama. Tangan yang menopang kepala dibuat vertikal, dan bukan terlipat seperti patung pada masa awal Ayutthaya dan U-Thong. 

Phra Buddha Sai Yat di Wat Lokaya Sutharam

Wat Ket terletak di dekat penjara kuno dan merupakan salah satu tempat untuk eksekusi. Biara ini digunakan oleh terdakwa untuk berdoa terakhir kalinya, sementara tahanan lain menggunakan biara ini untuk memohon ampunan. Ada 21 cara untuk menghukum mati sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pidana Ayutthaya, di antaranya dengan cara dipenggal, disula, organ dalam dikeluarkan, diinjak oleh gajah, dipukuli dengan rotan dan sebagainya. 

Wat Ket

Wat Phra Ram didirikan pada tahun 1369. Raja Ramesuan memerintahkan pembangunan biara ini sebagai tempat pemakaman ayahnya, Raja U-Thong, yang merupakan pendiri Kerajaan Ayutthaya. Tapi kelihatannya Wat Phra Ram baru selesai pada masa pemerintahan Raja Borommaracha I (1370 - 1388). 

Patung Raja U-Thong, Pendiri Kerajaan Ayutthaya

Wat Phra Ram

Ayutthaya Maha Prasat adalah kuil Buddha untuk Raja U-Thong di tengah Bung Phra Ram yang dibangun oleh dinasti Chakri. Ciri khas dari bangunan ini adalah tiga tiang yang merefleksikan simbol provinsi Ayutthaya.

Ayutthaya Maha Prasat

Wat Jan adalah sebuah patung Buddha di puncak, dan seekor gajah berlutut sedangkan seekor kera memberikan persembahan. Makna dari patung-patung ini tidak jelas karena sejarah yang hilang.

Wat Jan

Wat Sangkha Pat adalah bangunan tunggal di area tersebut, dengan gaya kerajaan Haripunchai atau Lanna, yaitu pondasi berbentuk segi delapan, dan bangunan makin mengecil ke atas. Sangat sedikit sejarah yang bisa diketahui dari Wat Sangkha Pat. Biara ini terletak di kanal kuno yang mengalirkan air ke Bung Phra Ram dari Khlong Muang (sungai Lopburi lama).

Wat Sangkha Pat

Wat Langkha Dam terdiri atas tiga bangunan utama. Di depan adalah aula sembahyang, di belakangnya adalah chedi berbentuk bel dari masa pertengahan Ayutthaya. Bangunan ini mempunyai pondasi berbentuk segi delapan dengan beberapa tingkatan menuju ke bagian dalam. Bangunan ini mempunyai pengaruh Khmer. Wat Langkha Dam dinamakan demikian karena atapnya yang berwarna hitam. Karena kesamaan namanya, biara ini kemungkinan mempunyai hubungan dengan Wat Langkha Khao.

Wat Langkha Dam

Wat Maha That tadinya merupakan pemukiman Dvaravati pada abad ke-12 sebelum kedatangan Raja U-Thong pada tahun 1350. Tapi menurut catatan sejarah, pembangunan biara ini baru dimulai pada tahun 1374 dan selesai pada tahun 1388. Raja Borommaracha I membangun biara ini sebagai pusat spiritual Ayutthaya, dan merupakan kediaman resmi Sangharaja ajaran Buddha. Wat Maha That terkenal dengan sebuah kepala Buddha yang muncul dari balik akar pohon. Masyarakat setempat percaya bahwa pohon mengangkat kepala Buddha dari tanah karena benda tersebut sangat sakral.

Wat Maha That





Tujuan terakhir saya adalah Wat Muang yang dibangun pada masa akhir Ayutthaya.

Wat Muang

Akhirnya saya berhasil menyelesaikan seluruh rute pada pukul 18.00. Tidak ingin membuang waktu, saya lalu mengembalikan sepeda, mengambil tas lalu menuju ke tempat saya turun dari minivan tadi siang. Untungnya tidak perlu waktu lama, karena ada satu minivan yang akan berangkat ke Bangkok. Saya terangkan kepada sopir saya ingin turun di Bandar Udara Internasional Don Mueang.
Perjalanan dari Ayutthaya ke bandara memakan waktu sekitar 45 menit, untungnya jalanan tidak macet, karena dari informasi yang pernah saya baca, lalu lintas menuju Bangkok pada sore hari sangat parah. Setelah turun, tidak lupa membayar minivan 60 Baht, saya langsung ke counter check-in, imigrasi dan bea cukai lalu masuk ke area keberangkatan. Karena masih cukup waktu, saya lalu berkeliling ke toko duty free untuk mencari oleh-oleh. Pada intinya, saya hanya berusaha menghabiskan uang Baht agar tidak perlu menukarkannya kembali di Jakarta. Setelah dapat beberapa kudapan dan sebuah suvenir gajah, saya lalu naik ke pesawat dan kembali ke Tangerang.

(Selesai)

Piknik Bangkok - 18 November 2013 - Bangkok (Bagian 2)

Pada hari ketiga di Bangkok, kami juga bangun agak siang. Tujuan hari ini adalah beberapa objek wisata milik Kerajaan Thailand, yaitu Ananta Samakhom Throne Hall dan Vimanmek Mansion di daerah Dusit lalu ke Madame Tussauds Bangkok di Siam Discovery, sekalian berbelanja untuk oleh-oleh di kawasan perbelanjaan Siam. Setelah membereskan barang-barang kami, kami lalu sarapan di restoran hotel, dan setelah itu check-out.

Ketika check-out, kami bertemu sekelompok ibu-ibu dari Indonesia. Mereka menanyakan moda transportasi menuju ke Grand Palace, Wat Phra Kaew, Wat Pho, dan Wat Arun yang kami kunjungi kemarin. Kami memberitahu mereka opsi termudah adalah menggunakan taksi dari hotel, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki karena lokasinya objek wisata yang berdekataan.

Selesai check-out, kami lalu naik taksi ke Dusit. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit, namun memakai rute agak memutar karena banyaknya jalan yang ditutup akibat aksi unjuk rasa menentang Pemerintah. Beberapa kantor kementerian terletak di sini sehingga banyak terlihat penjagaan polisi. 

Kami diturunkan oleh sopir taksi di sebuah jalan di kawasan Dusit, bukan di pintu gerbang Vimanmek Mansion, karena jalan tersebut ditutup oleh polisi. Kami lalu melanjutkan dengan berjalan kaki ke sana dan melewati blokade polisi menuju Vimanmek Mansion. Saya sempat cemas jika kami akan dilarang masuk ke area tersebut, tapi ternyata kami bebas masuk ke sana.

Hal yang saya kagumi dari masyarakat dan Pemerintah Thailand, terutama Tourism Authority of Thailand, adalah mereka tetap menyambut baik turis asing walaupun sedang ada krisis politik.

Turis bebas keluar masuk daerah yang dijaga ketat oleh polisi. Mereka tetap ramah kepada kami walaupun pada hari ini akan ada demo besar-besaran menentang Pemerintah. Saya mendapat kesan, selain menjaga bangunan-bangunan strategis Pemerintah, mereka juga melindungi turis dari kemungkinan aksi anarkis pengunjuk rasa.

Kami lalu mencari pintu masuk ke Vimanmek Mansion, tapi hanya menemukan pintu gerbang yang terkunci. Setelah bertanya, betul itu adalah pintu masuk ke Vimanmek Mansion, tapi setiap hari Senin memang tutup. Begitu pula dengan Ananta Samakhom Throne Hall. Kami agak kecewa, namun apa boleh buat, kami melanjutkan ke tujuan berikutnya.

Vimanmek Mansion adalah bangunan terbesar di dunia yang seluruhnya terbuat dari kayu jati, dibangun pada tahun 1901 oleh Raja Chulalongkorn (Rama V) sebagai kediaman raja. Bangunan 3 lantai ini berisi 81 kamar dan ruangan. Ratu Sirikit kemudian memugarnya untuk menyimpan memorabilia kerajaan Thailand yang berasal dari periode akhir abad 19 masehi dan awal abad 20.

Ananta Samakhom Throne Hall juga dibangun pada masa pemerintahan Raja Rama V. Bangunan ini dibuat dari marmer dengan desain Italia pada abad pertengahan. Lukisan atap kubah menceritakan kehidupan dan peran raja pada masa pemerintahan Raja Rama I hingga Rama VI.

Di kawasan yang sama dengan Vimanmek Mansion dan Ananta Samakhom Throne Hall terdapat pula kebun binatang Dusit. Tapi karena waktu sudah siang dan tidak tahu apakah kebun binatang tersebut juga tutup pada hari Senin, kami putuskan untuk menyudahi kunjungan ke daerah ini lalu mencari taksi ke Siam.

Sebelumnya saya sudah membeli tiket Madame Tussauds Bangkok secara online, namun tiket hanya dapat digunakan jika saya bisa sampai di resepsionis sebelum jam 12.00. Untungnya saya tiba pukul 11.50, masih ada waktu. Kami berpencar, Richard dan Mbak Tina yang sudah pernah ke sini akan keliling mall, sementara saya dan Winis berkeliling ke Madame Tussauds Bangkok. Meeting time disepakati pukul 14.00 di lobi mall Siam Discovery.

Patung Bung Karno di Madame Tussauds Bangkok
Pada waktu yang disepakati kami bertemu dengan Richard, lalu kami menemui Mbak Tina yang sedang minum kopi di salah satu cafe. Di sinilah kemudian, keesokan harinya, saya baru tahu kalau ponsel Winis tertinggal setelah ia gagal mencoba koneksi dengan Wi-Fi setempat.

Kami lalu mencari makan siang di salah satu foodcourt, namun baru berhasil menemukan yang cocok setelah berkeliling hampir 1 jam, yaitu di Restoran Oasis, lantai LG Mall MBK. Setelah selesai dan berusaha mencari oleh-oleh namun tidak mendapatkan yang dicari, kami memutuskan berpisah. Richard, Mbak Tina dan Winis kembali ke Surabaya sore ini, sedangkan saya masih akan ke Ayutthaya esok pagi. 

Khao Niew Mamuang (Ketan Manis dengan Mangga)
Saya lalu check-in ke Lub d Siam Square Hostel yang berlokasi cukup dekat. Karena lelah, saya lalu putuskan untuk tidur dan menunggu malam hari untuk mencari oleh-oleh dan makam malam.

Kamar Tidur Saya di Lub D Siam Square
Pukul 19.00, saya bangun, mandi dan berkeliling mall untuk mencari oleh-oleh. Namun karena tidak ada yang sesuai dengan harapan, saya hanya makan malam pad thai di salah satu restoran di Mall Siam Center yang tempatnya dibuat dengan baik, namun dengan harga yang relatif murah.

Piknik Bangkok - 17 November 2013 - Bangkok (Bagian 1)

Kami bangun agak siang hari ini, dan setelah bersiap-siap kami lalu sarapan di restoran hotel di lantai 12. Menu makanan yang disajikan pihak hotel cukup beragam, baik sajian makanan Asia maupun barat. Kami sampai lebih dari sekali mengambil makanan karena kami butuh banyak tenaga untuk perjalanan hari ini. 

Karena Loy Krathong baru dirayakan malam nanti, maka kami putuskan untuk berkeliling ke destinasi wisata yang terkenal di Bangkok. Tujuan pertama kami adalah วัดสระเกศราชวรมหาวิหาร (Wat Saket atau Golden Mount) yang tidak jauh jaraknya dari Hotel Centra Central. Dari hotel kami naik taksi dengan alasan selain tidak jelasnya akses transportasi publik ke daerah itu, juga ditunjang dengan murahnya tarif taksi di kota ini. Apalagi, kami berempat sehingga ongkos taksi tersebut menjadi lebih murah lagi.

Wat Saket
Taksi di Bangkok tidak seperti taksi di Indonesia atau Vietnam yang mempunyai beberapa perusahaan taksi yang terpercaya. Di Bangkok, tampaknya semua taksi di sini menggunakan meter pada siang hari. Namun ketika malam, mereka menolak menggunakan meter dan menetapkan harga sesuai pertimbangan sendiri. Mungkin karena tarif taksi yang tergolong murah jika dibandingkan negara lain, sehingga mereka suka-suka sendiri apakah ingin memakai meter atau tidak.

Cukup 10 menit kami naik taksi dan kemudian kami tiba di gang masuk ke Wat Saket. Ongkos taksi 45 Baht, cukup murah. Harga karcis masuk Wat Saket adalah 20 Baht per orang. Kuil Wat Saket adalah stupa setinggi 58 meter dengan mahkota emas di atasnya. Kami menaiki 318 anak tangga untuk menujuk ke mahkota kuil. Sebelum ke bagian atas kuil, kami memasuki sebuah ruangan di bawah mahkota di mana banyak pemeluk agama Buddha yang bersembahyang di depan altar yang dilengkapi dengan patung Buddha. Dua orang Biksu kuil melapalkan doa dalam bahasa Thai yang menambah kekhusyukan dalam beribadah. 

Kami lalu berkeliling di ruangan ini sebelum naik ke mahkota. Ada beberapa penjual di sini yang mayoritas menjual perlengkapan umat dalam beribadah. Kami lalu bergegas ke puncak stupa tempat mahkota emas berada. Ketika kami mengunjungi tempat ini, mahkota sedang dibungkus dengan tirai merah. Saya tidak mengerti maknanya, mungkin sedang dalam pemeliharaan.

Mahkota Wat Saket
Di bagian puncak stupa Wat Saket, kami dapat melihat berbagai penjuru kota Bangkok, seperti kawasan Rattanakosin tempat Grand Palace dan tempat-tempat bersejarah lainnya berada. Setelah menghabiskan beberapa waktu di sini, kami lalu beranjak ke lokasi beikutnya, yaitu kawasan Rattanakosin. 

Kami sempat bertanya kepada seorang juru parkir di sini mengenai arah ke kawasan Rattanakosin, namun ia menyarankan kami naik tuk-tuk hingga dermaga perahu terdekat lalu menggunakan perahu sewaan untuk mengunjungi kawasan Rattanakosin dengan harga 3.000 Baht atau sekitar Rp1.000.000 untuk perjalanan selama 30 menit. Alasannya adalah selain cukup jauh jika berjalan kaki, kami akan melewati kawasan aksi unjuk rasa anti Pemerintah di Victory Monument. Kami hanya mengiyakan dan mengikuti petunjuk arahnya untuk keluar dari Wat Saket. 

Berbekal peta brosur yang dimiliki Richard dan Mbak Tina, kami lalu berjalan kaki ke arah Rattanakosin. Pedestrian di kota ini cukup baik dengan trotoar yang lebar dan kota yang rindang. Hal ini juga ditunjang dengan infrastruktur jalan raya yang cukup lebar jika dibandingkan dengan jalan di Jakarta. 

Benar saja seperti yang dikatakan oleh juru parkir di Wat Saket, kami memang melewati Victory Monument yang menjadi pusat aksi unjuk rasa anti Pemerintah. Banyak pedagang kaki lima yang menjajakan aksesoris anti Pemerintah yang saat ini dipegang oleh PM Yinluck Shinawatra, adik dari mantan PM Thaksin Shinawatra yang digulingkan militer Thailand pada tahun 2006 lalu. Para pengunjuk rasa juga mendirikan tenda dan panggung orasi di tengah jalan sehingga kawasan tersebut praktis tidak bisa dilewati kendaraan bermotor. 

Tidak jauh dari Victory Monument, kami akhirnya tiba di Giant Swing, yaitu sebuah ayunan raksasa yang telah berumur lebih dari 200 tahun dan terletak di depan Wat Suthat. Ayunan ini dahulu digunakan dalam prosesi memuja Dewa Siwa. Giant Swing juga digunakan dalam kontes untuk mencari pria paling pemberani dalam bermain ayunan. Pria yang paling menjadi pemenang adalah orang yang berhasil mengambil kantong uang dari ujung tombak setinggi 25 meter di udara. Kontes ini akhirnya dilarang karena angka kecelakaan dan kematian menjadi terlalu sering.

Giant Swing
Kami tidak mengunjungi Wat Suthat karena waktunya tidak cukup, namun kami sempat membeli minuman dingin yang menyegarkan di depan kuil ini. Setelah berjalan beberapa saat ke arah barat, kami tiba di วัดพระแก้ว (Wat Phra Kaew) dan kawasan Grand Palace, tempat keluarga monarki Thailand berdomisili. 

Kementerian Luar Negeri Kerajaan Thailand
Kementerian Pertahanan Kerajaan Thailand
Dari pengamatan saya, ada beberapa turis asing yang menjadi korban scam yang mengatakan bahwa Grand Palace sedang tutup karena ada acara kenegaraan, dan mereka menawarkan temannya supir tuk-tuk untuk membawa turis yang 'sial' tersebut untuk berkeliling ke kuil lainnya yang tidak kalah indah. Pelaku menunggu korban di salah satu dari banyak pintu masuk yang dijaga tentara. Sayang sekali di jantung pariwisata Bangkok ini pihak berwenang tidak berbuat banyak untuk menghentikan aksi yang merugikan ini.

Kami berempat lalu masuk ke pintu masuk bagi turis yang terletak di sisi utara. Tiket masuk ke kawasan Grand Palace adalah 500 Baht atau sekitar Rp175.000. Cukup mahal, namun selain Grand Palace, tiket dapat digunakan untuk mengunjungi aset milik keluarga kerajaan seperti Wat Phra Kaew, Amanda Samakhom Throne Hall dan Vimanmek Mansion di kawasan Dusit dalam jangka waktu 7 hari setelah pembelian tiket.

Wat Phra Kaew
Wat Phra Kaew


Grand Palace

Di dalam, kami langsung berkeliling di Wat Phra Kaew dan Grand Palace. Sebagian besar waktu kami habiskan untuk mengambil foto di sini. Wat Phra Kaew merupakan tempat diletakkannya Buddha Zamrud, yaitu patung Buddha yang paling disucikan di seluruh Thailand. Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung diwajibkan berpakaian pantas, yaitu memakai rok atau celana panjang di bawah lutut. Pengelola menyewakan kain untuk dipakai wisatawan yang kebetulan tidak menaati peraturan ini.

Setelah puas mengabadikan berbagai sudut Wat Phra Kaew dan Grand Palace, tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah วัดโพธิ์ (Wat Pho - Kuil Buddha Tidur) yang terletak di sisi Selatan kompleks Grand Palace dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Wat Pho termasuk kuil terbesar di Bangkok yang didirikan pada tahun 1832. Di dalamnya terdapat sebuah patung Buddha tidur raksasa dengan panjang 46 meter dan tinggi 15 meter yang dilapisi dengan emas. Diyakini ini adalah posisi Buddha ketika ia meninggalkan dunia dan akan memasuki Nirwana. Tiket masuk Wat Pho adalah 100 Baht atau sekitar Rp35.000. 

Wat Pho




Hari telah beranjak sore ketika kami ke destinasi berikutnya, yaitu วัดอรุณ (Wat Arun - Kuil Fajar) yang terletak di seberang แม่น้ำเจ้าพระยา (sungai Chao Phraya) pada sisi Thon Buri. Kami menggunakan perahu penyeberangan seharga 10 Baht atau sekitar Rp3.500. Kuil ini dibangun pada zaman Ayutthaya yang kemudian diperbesar oleh Raja Rama II dan Raja Rama III. Renovasi akhirnya selesai pada masa pemerintahan Raja Rama IV. Buddha Zamrud pernah ditempatkan di kuil ini sebelum Raja Rama I membangun Grand Palace dan Wat Phra Kaew di sisi Bangkok. 

Wat Arun


Fitur paling menonjol dari Wat Arun adalah pagoda utama setinggi 79 meter, Phra Prang, yang dikelilingi oleh empat pagoda yang lebih kecil di sekelilingnya. Ornamen pada pagoda utama dipenuhi dengan porselen yang akan bersinar terkena pantulan cahaya matahari. Walaupun nama harfiahnya Kuil Fajar, namun kuil ini sangat indah dilihat ketika senja tiba dengan matahari terbenam dan langit kemerahan menjadi latarnya.

Hari telah senja ketika kami kembali ke sisi Bangkok untuk naik perahu Chao Phraya Express menuju Asiatique Riverfront Mall, salah satu tempat perayaan Loy Krathong di Bangkok. Ketika kami menunggu kapan di dermaga, tampak beberapa warga sudah mulai melarung bunga ke sungai Chao Phraya. Akhirnya setelah menunggu sekitar 15 menit kami mendapat perahu yang sangat penuh menuju dermaga Sathorn.

Ketika kami tiba di dermaga ini, dermaga sudah sangat penuh dengan orang yang akan merayakan Loy Krathong. Karena tidak yakin apakah perahu ini akan melanjutkan ke Asiatique Riverfront Mall atau tidak, kami ikut turun karena sepertinya semua penumpang turun. Kami bingung bagaimana cara ke tempat tersebut, karena jalan raya pun macet total dan kami tidak bisa menggunakan taksi ke sana. 

Kami pun memutar arah dan kembali ke dermaga, namun di sebuah taman di stasiun BTS Sathorn kami melihat lampion yang diterbangkan oleh seseorang. Tidak lama, beberapa lampion lain juga beterbangan. Kami putuskan untuk menikmati Loy Krathong di sini saja dan membeli sebuah lampion kecil untuk diterbangkan. Sebelum menerbangkan lampion, kami berdoa terlebih dahulu.

Lampion ini dilengkapi dengan lilin di tengah yang akan menghangatkan udara di dalam lampion yang menciptakan daya angkat lampion agar bisa terbang. Kami berhasil menerbangkan lampion yang dibeli tersebut dan kemudian melihat orang lain melakukan usahanya. Ada beberapa juga yang gagal, menyangkut di pohon atau jatuh kembali ke tanah dan membakar lampion itu sendiri.  


Lampion Loy Krathong
Karena menyenangkan, kami membeli dua buah lampion lagi. Dan kesemuanya bisa terbang. Namun tidak lama kemudian, aparat keamanan Bangkok datang dan melarang orang-orang untuk menyalakan lampion di taman ini karena daerah sekelilingnya merupakan pemukiman penduduk dan sangat dekat dengan tiang dan kabel listrik. Tidak jarang ada lampion yang jatuh di atap rumah penduduk. 

Beberapa orang yang terlanjut beli lampion dan nekad menyalakan lampion didatangi polisi lalu lampion tersebut dipadamkan paksa. Sebagian lainnya, berpindah tempat ke sisi taman yang dekat dengan dermaga Sathorn dan berusaha menerbangkan lampion dari sana. Karena hari sudah malam dan kami belum makan malam, akhirnya kami putuskan untuk ke daerah Silom dengan menggunakan BTS. Kami sempat melihat aksi kucing-kucingan antara polisi dan warga serta turis. 

Stasiun Sathorn sangat penuh malam ini, dan dengan penuh perjuangan kami berhasil membeli karcis dan akhirnya naik kereta ke stasiun Silom, di mana kami duga suasana tidak seramai Sathorn dan kami bisa membeli makan malam. Namun karena sudah lewat pukul 21.30, banyak tempat makan yang tutup. Akhirnya kami pilih makan di KFC.

Setelah kenyang saya, Mbak Tina dan Winis putuskan untuk kembali ke hotel terlebih dahulu, sedangkan Richard ingin berkeliling daerah Silom terlebih dahulu. Agak sulit mencari taksi yang mau berhenti, dan ketika berhenti tidak mau memakai meter. Saya berhasil membujuk supir taksi untuk memakai meter, dan ketika sampai di hotel saya memberikan tips lebih dari biaya yang tertera di meter taksi.

Richard kembali ke hotel sekitar pukul 23.30. Dan malam ini kami kembali berbincang hingga dini hari sebelum akhirnya terlelap

Piknik Bangkok - 16 November 2013 - Jakarta - Bangkok

Perjalanan ke Bangkok adalah perjalanan keluar negeri ke-4 saya di tahun 2013. Tadinya saya berencana untuk ke Thailand saat perayaan Songkran, pertengahan April tahun 2014. Tapi setelah Lebaran ada promo tiket AirAsia untuk penerbangan bulan Oktober - Desember 2013, dan saya mendapatkan tiket pesawat Rp1.130.000 pp. Kebetulan pada pertengahan November 2013 ada even besar lainnya, yaitu Loy Krathong yang diselenggarakan saat bulan purnama bulan ke-12 kalender Thailand. Tahun ini, bertepatan dengan tanggal 17 November 2013.

Awalnya saya berencana untuk pergi solo, tapi akhirnya saya pergi bersama teman-teman dari Surabaya, yaitu Winis, Richard dan Mbak Tina karena tertarik ikut merayakan Loy Krathong. Winis pergi dahulu pada tangal 14 November, sedangkan saya, Richard dan Mbak Tina baru tiba pada 16 November 2013 malam. Bagi saya dan Winis ini adalah pertama kalinya kami ke Thailand, sedangkan Richard rutin tiap tahun ke sana. Mbak Tina sudah ke Thailand pada bulan Agustus 2013 lalu.

Saya menumpang pesawat AirAsia QZ8320 ke Bangkok, berangkat dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pukul 16.45, namun baru take-off pukul 17.05 WIB akibat padatnya runway 07L. 3 jam kemudian, atau sekitar pukul 20.14 saya mendarat di Don Mueang International Airport yang berlokasi di utara kota Bangkok. Tidak ada perbedaan waktu antara Tangerang dengan Bangkok.

Sesuai jadwal, seharusnya saya dan Mbak Tina dan Richard tiba pada saat yang sama, yaitu pukul 20.00. Namun, pesawat dari Surabaya telat mendarat hingga pukul 21.00. Saya menunggu mereka datang di ruang tunggu kedatangan dan bersama-sama melalui proses imigrasi. Alasan lain saya menunggu mereka adalah karena saya harus mengisi formulir kedatangan, namun karena tidak membawa pulpen, formulir tersebut belum saya isi.

Richard dan Mbak Tina ternyata tiba bersama dengan rombongan anggota Backpacker Dunia dari Surabaya yang merencanakan liburan ke Thailand, Kamboja dan Vietnam Selatan. Saya, Richard dan Mbak Tina menginap di Centra Central Station, Bangkok, yang terletak di depan stasiun Hua Lamphong. Sebetulnya kami bisa menggunakan kereta api dari stasiun Don Mueang yang terletak di depan bandara. Namun karena kereta berikutnya baru tiba pukul 22.00 dan perjalanan menggunakan kereta lebih lama, akhirnya kami memilih moda transportasi lain, yaitu bus kota. Dari Don Mueang hingga stasiun Hua Lamphong bisa menggunakan bus nomor 29.

Teman-teman Backpacker Dunia juga ikut bersama kami hingga halte Mo Chit, karena mereka ingin mengunjungi Chatuchak Weekend Market dahulu. Kami hanya menunggu sebentar di halte sebelum bus kota nomor 29 tiba. Awalnya kami sempat ragu karena bus tidak AC dan tampak tua, namun takut menunggu lama bus berikutnya, kami naik bus tersebut.

Ketika kami masuk, bus agak penuh dengan penumpang, beberapa dari kami berdiri. Di dalam, bus memang tampak tua dan bobrok, hal ini dibuktikan dengan kursi yang sederhana dan lantai yang seluruhnya terbuat dari kayu! Jendela dibuka seluruhnya sebagai sirkulasi udara dan saya pastikan jika hujan akan tampias ke dalam. Tapi selain kekurangan tadi, banyak kejutan lain yang saya temukan.

Penerangan di dalam bus sangat baik, hampir seluruh sudut bus diterangi oleh lampu, bersih dan tidak tampak satu pun sampah di dalam bus. Pintu bus untuk naik-turun penumpang hanya satu, yaitu di tengah. Walaupun tampak reot, tapi pintu digerakkan secara elektronik oleh sopir! Kemudian hal menarik lainnya adalah kondektur seorang wanita, dan sopir pria. Kejutan terbesar adalah bus berjalan sangat cepat, dan tidak mengetem seperti bus di Jabodetabek. Kemudian jika penumpang ingin turun, cukup menekan tombol yang ada di hampir di seluruh baris kursi. Tombol ini nanti akan terlihat oleh sopir yang akan memberhentikan bus di halte berikutnya. Karcis bus juga tergolong murah, hanya 6,5 Baht per orang atau sekitar Rp2.500.

Bus Kota Nomor 29
Kurang lebih 20 menit kami berkendara, lalu lintas juga lancar, tidak tampak kemacetan Bangkok seperti yang banyak diberitakan di media massa. Bus dapat berjalan dengan kecepatan 60 - 80 km/jam. Akhirnya bus berhenti di halte Mo Chit dan semua penumpang turun, hanya tinggal saya, Mbak Tina dan Richard. Kemudian kondektur bertanya, kami mau kemana. Ketika kami utarakan hendak ke stasiun Hua Lamphong, kondektur bilang bahwa Mo Chit adalah pemberhentian terakhir dan seluruh penumpang harus turun. Kebingungan dan tidak ada pilihan lain, kami pun turun di halte ini.

Untungnya, halte Mo Chit terletak di depan pintu masuk Mass Rapid Transit Bangkok (stasiun Chatuchak Park). Kami lalu berpamitan dengan teman-teman Backpacker Dunia dan kami melanjutkan perjalanan ke stasiun Hua Lamphong memakai MRT. Ada pilihan lain, yaitu pakai BTS Skytrain, namun menyambung beberapa kali dan tetap memakai MRT juga pada akhirnya. Perjalanan dari stasiun Chatuchak Park hingga stasiun Hua Lamphong melewati 15 stasiun yang seluruhnya berada di bawah tanah dengan harga 40 Baht atau sekitar Rp15.000. Untuk naik, penumpang bisa membeli tiket di loket (sekalian tukar pecahan uang besar) atau via mesin penjual tiket. Jika membeli tiket untuk satu kali perjalanan, penumpang akan mendapatkan sebuah koin plastik. Untuk masuk ke peron, sentuhkan koin tersebut di mesin tiket dan gerbang akan terbuka. Ketika turun dan akan keluar dari peron, masukkan koin tersebut ke mesin tiket untuk membuka gerbang.

Pintu Masuk Stasiun Chatuchak Park Mass Rapid Transit Bangkok
Interior Mass Rapit Transit
MRT relatif lebih sepi penumpang jika dibandingkan dengan BTS Skytrain. Dan malam itu tidak tampak penumpang yang berdiri. Perjalanannya sendiri menurut saya nyaman dan keretanya bersih. 30 menit kemudian kami tiba di stasiun Hua Lamphong. Ketika kami keluar stasiun dan hendak menyeberang ke hotel, kami dicegah oleh polisi. Sempat heran ada apa ini, apakah ada jam malam sehingga kami dilarang berada di jalan selepas jam tertentu? Polisi hanya berbicara dalam bahasa Thailand, mungkin wajah kami mirip dengan warga lokal sehingga mereka tidak berbicara dalam bahasa Inggris. Akhirnya kami mengalah dan kembali ke stasiun. Ketika akan mengambil jalan lain ada juga warga Bangkok yang dilarang menyeberang. Kami pilih untuk menunggu dan berusaha mencari informasi ada apa sebenarnya.

Tidak lama kemudian ada iring-iringan perjalanan VIP. Namun yang membedakan dengan perjalanan VIP di Indonesia adalah tidak adanya sirine yang meraung-raung. Di Bangkok perjalanan tersebut senyap dan rombongan melintas cepat. Setelah berlalu, kami diperbolehkan untuk menyeberang jalan.

Kami pun tiba di hotel dan melapor ke resepsionis, Winis sudah check-in siang hari tadi. Kami cukup beruntung bisa menginap di Centra Central Station, karena mendapatkan penawaran yang menarik, yaitu 5,500 Baht untuk tiga hari dua malam + sarapan untuk empat orang. Kami akhirnya ke kamar yang terletak di lantai 11 dan bercengkerama dengan Winis hingga jauh dini hari sebelum akhirnya terlelap.

(bersambung)...