08 April 2013

Piknik Penang, Malaysia (28 Maret - 1 April 2013) - Hari Keempat

Di hari keempat dan terakhir di Penang, kami berencana mencari beberapa mural yang belum sempat kami temukan di hari-hari sebelumnya. Setelah sarapan, kami memulai berjalan ke arah Lebuh Muntri, dan segera menemukan salah satu mural karya Ernest Zacharevic, yang digambar di dinding hostel Moon Tree (permainan kata dari nama jalan Muntri) dan di samping kuil Penang Ta Kam Hong. Gambar kali ini adalah seorang gadis yang dijuluki "Kung Fu Girl". Teman saya bilang, jika diamati beberapa saat, si gadis tampak menyeramkan.

Mural di Samping Penang Ta Kam Hong

Di Lebuh Muntri ini banyak terdapat bangunan bersejarah warisan masa kolonialisme Inggris. Yang menarik, bangunan tua ini masih digunakan oleh penduduk, baik untuk tempat hunian maupun tempat usaha. Hal ini bisa dijadikan contoh dalam usaha pelestarian bangunan bersejarah di Indonesia.

Kuil Hainan

Di Lebuh Muntri ini terdapat beberapa kuil. Selain Kuil Penang Ta Kam Hong yang saya sebut di atas, ada pula Kuil Hainan. Kuil ini didirikan pada tahun 1866 sebagai penghormatan atas Dewi Mar Chor, dewi pelindung bagi pelaut. Bangunan yang sekarang didirikan tahun 1895 dan direstorasi pada 1995.

Ornamen di Kuil Hainan

Tempat-tempat peribadatan di Penang juga boleh dimasuki oleh turis, baik lokal maupun asing, tanpa biaya. Kuil Hainan misalnya, ketika kami sedang mengambil foto bagian depan, penjaga kuil dengan ramah mengajak kami untuk masuk dan melihat ke dalam kuil tanpa biaya.

Ditelisik dari sejarahnya, Lebuh Muntri juga tempat lahir pembuat sepatu wanita ternama, Jimmy Choo, sebelum pindah ke Inggris untuk meneruskan karirnya. 

Di Lebuh Chulia, kami kembali sarapan di salah satu restoran di sana. Kali ini adalah nasi rames, kami bebas memilih lauk dan sayuran untuk dihitung. Teman-teman saya bilang ini adalah masakan yang paling mirip rasanya dengan makanan Indonesia. Saya memilih nasi dengan ayam goreng dan sayur kacang panjang dan tahu. 


Setelah sarapan, kami kembali ke hostel untuk berkemas dan check-out. Penerbangan kami ke Kuala Lumpur baru tengah malam nanti, sehingga kami menitipkan tas di common room hostel untuk kami ambil sore nanti.



Rute Jalan Kaki Sekitar Love Lane 

Tujuan kami hari ini adalah berbelanja oleh-oleh untuk teman dan kolega di Indonesia. Sesuai referensi dari teman-teman, jika ingin berbelanja kebutuhan, pergilah ke Pasar Chowrasta. Namun setelah kami tiba di sana, tempat tersebut tidak sesuai harapan. Tidak ada, misalnya, kios yang menjual kaos atau kerajinan khas Penang, dan lebih merupakan pasar dalam arti harfiah seperti Pasar Lama Tangerang. 

Suasana di Pasar Chowrasta

Belajar dari pengalaman dari trip sebelumnya, untuk membeli kopi Penang, kami berbelanja di supermarket di KOMTAR. Setelah puas berbelanja oleh-oleh, kami mencari mural lainnya, yaitu anak kecil dengan peliharaan dinosaurusnya dan anak kecil duduk di atas motor di Jalan Ah Quee. Kami berhasil menemukannya setelah semalam kembali riset untuk mencari letaknya. Mural anak dengan peliharaan dinosaurus tampak pudar terpapar cuaca.

Anak Kecil dan Dinosaurus

 Anak Duduk di Atas Motor

Setelah puas berfoto di kedua gambar di atas, kami makan siang Nasi Kandar, sejenis nasi padang, di depan Masjid Kapitan Keling. Setelah kenyang kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Padang Kota Lama, tempat Kapten Francis Light pertama kali mendarat di Penang. Ketika kami sedang menunggu bus, kami didekati oleh seorang perempuan yang mengaku TKW asal Jakarta yang ditipu oleh agen dan tidak punya uang sama sekali sehingga harus tinggal secara ilegal di Penang. Tidak ingin ada masalah, kami secara sopan menghindarinya.

Di kawasan Padang Kota Lama ini berdiri beberapa bangunan bersejarah, antara lain City Hall yang dibangun pada tahun 1903, Town Hall yang merupakan tempat berkumpulnya petinggi dan kaum bangsawan Penang yang dapat ditelusuri hingga tahun 1880-an, Fort Cornwallis yaitu benteng yang digunakan sebagai basis pertahanan semenanjung Penang dari ancaman musuh, Queen Victoria Memorial Clock Tower yaitu menara jam raksasa yang dibangun oleh Cheah Chen Eok, saudagar kaya Penang pada tahun 1897 untuk memperingati ulang tahun bertahtanya Ratu Victoria dari Inggris. Di seberang menara jam terdapat pelabuhan kapal pesiar dan feri tujuan Langkawi.

 Town Hall
City Hall

Pintu Masuk Fort Cornwallis

Queen Victoria Memorial Clock Tower



Rute Jalan Kami di Penang Hari Keempat

Hari telah makin sore ketika Richard ingin ke satu tujuan akhir sebelum pulang, yaitu Wat Chayamangkalaram, sebuah kuil Buddha Thailand dan Dharmikarama Burmese Temple, sebuah kuil Buddha Burma. Keduanya terletak berseberangan di daerah Pulau Tikus. Untungnya kami tidak perlu lama menunggu bus ke tempat tujuan, dan sekitar pukul 17.00 kami tiba di tempat tersebut.

Wat Chayamangkalaram sudah tutup ketika kami tiba, ternyata ada jam buka kuil, yaitu pukul 08.00 hingga 17.00 waktu setempat. Kami sempat mengambil foto di depan kuil, namun tidak bisa masuk ke dalam lingkungan kuil tempat patung Buddha tidur karena pintu sudah dikunci petugas kuil. Wat Chayamangkalaram dibangun pada tahun 1845.

Pintu Masuk Wat Chayamangkalaram

Patung Buddha Tidur

Patung Buddha tidur di dalam Wat Chayamangkalaram merupakang salah satu patung Buddha tidur terbesar di dunia, dengan panjang 33 meter dan jubanya dibalur dengan cat emas.

Kami lalu beranjak ke Dharmikarama Burmese Temple persis di depan Wat Chayamangkalaram. Di tempat ini, tidak ada jam kunjungan oleh turis, sehingga kami boleh berkunjung walaupun sudah sore. Saya ingat ketika kami berkunjung, isu Rohingya di Myanmar sedang mulai menghangat. Untungnya hal tersebut tidak merembet ke komunitas Myanmar di negara lain. Teman saya yang mengenakan jilbab dapat bebas masuk ke area kuil hingga ke belakang tanpa gangguan, tempat asrama biksu berada. Kami cukup lama berada di kuil yang rindang dengan pohon Bodhi ini, beberapa biksu tampak mengerjakan tugas sehari-hari, ada yang menyapu halaman, beberapa sedang meditasi sore, sementara biksu lainnya bercengkerama di asrama dan sempat melongok keluar jendela ketika kami berusaha memasukkan koin ke dalam cawan keberuntungan.

Dharmikarama Burmese Temple didirikan pada 1 Agustus 1803 merupakan salah satu kuil Buddha tertua serta satu-satunya kuil Buddha Burma di Malaysia. Kuil ini menjadi pusat perayaan festival air Songkran atau perayaan tahun baru Thailand di Penang, yang pada tahun ini digelar pada 14 April, sayangnya setelah kami kembali ke Indonesia.

Bangunan Utama Kuil

Patung Buddha Emas di Dharmikarama Burmese Temple

Memasukkan Koin ke Cawan Keberuntungan Menjadi Sulit Karena Terus Berputar

Sekitar pukul 18.00, kami kembali ke hostel untuk berkemas pulang. Kami sempat menumpang mandi dulu dan makan malam di tempat kami makan semalam. Pukul 20.00 kami menunggu hampir satu setengah jam di halte Lebuh Chulia sebelum bus Rapid Penang 401 tujuan bandara Penang tiba. Salah satu masalah di negara berkembang adalah transportasi umum yang tidak bisa diandalkan. Perjalanan ke bandara memakan waktu sekitar 1 jam, dan setelah itu kami segera masuk ke ruang tunggu karena sudah melakukan web check-in sebelumnya.

Penerbangan ke Kuala Lumpur menggunakan maskapai Air Asia, yang secara tidak sengaja kami dapatkan tiket promonya, memakan waktu kurang lebih 1 jam. Pendaratan agak keras di KLIA berhasil membangunkan kami sepenuhnya. Kami lalu menghabiskan malam di area food court LCCT karena penerbangan ke Indonesia baru keesokan paginya. Ini bukan pertama kalinya bagi saya menginap di bandara, sebelumnya saya pernah melakukannya di Bandara Internasional Changi, Singapura. Tentu karena konsep budget terminal fasilitas menginap di LCCT tidak bisa dibandingkan dengan terminal di bandara sekelas Changi. Tapi cukup bagi kami karena ada tempat untuk menunggu keberangkatan kami pagi harinya.

Pagi harinya, kami berpisah karena Diga ke Surabaya jam 08.00, Richard ke Jogjakarta pukul 09.30, dan saya dan Irma ke Jakarta pukul 09.55. Berakhirlah perjalanan kami ke Penang.

Selesai.

No comments: