01 Juni 2013

Piknik Jepang 24 Mei 2013 - Tokyo (Bagian 2)

Pada hari terakhir di Tokyo ini kami kembali bangun agak siang. Kami masih merasakan lelah walaupun sudah bisa tidur nyenyak selama dua hari terakhir. Kami langsung membereskan barang-barang karena kami harus check-out hostel pukul 10.00 pagi. Barang yang harus dimasukkan ke dalam koper cukup banyak. Tidak lupa malam sebelumnya saya sudah membeli bagasi penerbangan AirAsia hingga Jakarta untuk beban 25 kg seharga ¥6.000. Saya cukup percaya diri dengan pembelian bagasi dengan beban 20 kg untuk barang saya dan Reza, namun saya menambahkan 5 kg untuk jaga-jaga jika muatan berlebih. 

Setelah mandi dan pengemasan selesai, Adi akhirnya tiba di hostel kami sekitar pukul 9.30. Kami pun segera check-out dan menitipkan barang bawaan kami di samping meja resepsionis untuk kami ambil sore nanti karena penerbangan kami baru tengah malam.

Kami menghabiskan hari ini sebagian besar untuk mencari oleh-oleh. Tidak seperti perjalanan-perjalanan saya lainnya, kali ini memang banyak teman yang menitipkan oleh-oleh. Padahal saya tidak mengumumkan kepergian saya sebelumnya. Bagaimanapun, saya tetap memenuhi permintaan teman-teman saya tersebut. Salah satu teman titip 浴衣‎ (yukata), yang untungnya mudah didapatkan di Nakamise-dori Arcade yang berlokasi di sebelah hostel. Harganya cukup murah, yaitu ¥2.835 untuk satu set yukata berikut 帯 (obi -sabuk) di salah satu toko di sini. Yang melegakan adalah toko ini menerima pembelian dengan kartu kredit dari Indonesia. Saya juga membeli camilan khas Jepang untuk teman-teman kantor di toko lainnya.

Keramaian Nakamise-dori Arcade

Puas berbelanja di sini, kami melanjutkan berbelanja kembali di Asakusa Rox, sebuah pusat perbelanjaan tidak jauh dari Kuil Sensoji, di mana terdapat toko Uniqlo, Daiso, dan ABC-Mart. Kami berbelanja cukup lama di sini, karena Adi harus ke hostel untuk meminta temannya yang menitipkan oleh-oleh untuk transfer uang ke rekeningnya, lalu ke ATM di 7-Eleven di samping Asakusa Culture Tourist Information Center untuk menarik sejumlah uang. Betul, kami bisa mengambil uang Yen di ATM di Jepang dengan menggunakan kartu debit Indonesia. Tentu dengan sejumlah biaya, yaitu administrasi dan kurs mata uang. Tapi tidak ada yang keberatan membayar biaya untuk membeli barang di sini karena kualitasnya yang bagus.

Saya dan Reza membeli beberapa setel pakaian di Uniqlo dan suvenir di Daiso, yaitu toko semua barang dengan harga ¥100. Adi membeli sepasang sepatu Puma di ABC-Mart, sebuah toko sepatu yang terkenal di Jepang. Ia bilang model sepatu tersebut belum ada di Indonesia dan harganya lebih murah jika dibandingkan dengan model serupa di Indonesia.

Setelah puas mencari oleh-oleh, kami bergegas ke tujuan kami hari ini, Istana Kekaisaran Tokyo dan Akihabara. Memang kami batasi hanya di dua tempat tersebut karena takut waktu tidak cukup lagi jika harus bepergian ke banyak tempat. Ditambah uang bekal kami sudah menipis dan digantikan dengan isi koper yang makin penuh dan tagihan yang perlu dibayar sepulangnya nanti.

Tujuan pertama adalah Istana Kekaisaran Tokyo yang terletak di distrik Chiyoda. Kami naik kereta Tokyo Metro Ginza Line hingga Stasiun Kanda dengan karcis ¥160, dilanjutkan dengan kereta JR Chuo Line Rapid Service hingga Stasiun Tokyo. Kami sampai di Stasiun Tokyo pukul 15.00 dan langsung menuju Istana Kekaisaran Tokyo. Daerah sekitar istana merupakan pusat perkantoran yang sore itu pedestrian tampak lengang, sebagian besar pegawai sedang bekerja di gedung-gedung tersebut.

Sebelum kami tiba di istana, kami melewati sebuah taman yang indah. Jika boleh saya analogikan, seperti Pojok Benteng di Yogyakarta. Yang membuat saya kagum adalah kebersihan tempat ini dan beberapa warga yang bersantai di sini. Saya belum pernah menemukan taman umum yang berdekatan dengan pusat bisnis.


Taman Asri di Kawasan Bisnis

Sayangnya kami tidak bisa masuk ke Istana Kekaisaran Tokyo. Saya sebelumnya tidak riset apakah kami bisa masuk ke dalam. Hanya saja saat itu memang banyak polisi yang berjaga-jaga ketat di setiap pintu masuk. Sebuah van polisi juga berjaga di salah satu sudut. Petugas wanita di dalam van mengumumkan sesuatu dalam bahasa Jepang kepada pengguna jalan. Akhirnya kami putuskan kembali ke Stasiun Tokyo untuk menuju ke Akihabara.

Salah Satu Sudut Istana Kekaisaran Tokyo

Namun tidak jauh dari istana, ketika saya sedang mengambil foto taman, tiba-tiba pasukan berkuda muncul dari arah istana. Mereka mengawal dua buah kereta kencana dengan beberapa orang di dalamnya. Orang di dalam kereta tersebut adalah tamu kehormatan Kaisar yang sedang diajak berkeliling istana. Sedangkan vann polisi tadi ternyata menginformasikan adanya penutupan sementara lalu lintas karena tamu kenegaraan yang akan melintas.

Pasukan Berkuda

Kereta Kencana

Setelah melihat pemandangan langka ini, kami kembali ke Stasiun Tokyo untuk menuju ke Akihabara. Saat berjalan ke arah Stasiun Tokyo baru terlihat arsitektur stasiun yang kontras dengan gedung pencakar langit yang menjadi latarnya. Dari Stasiun Tokyo menuju Akihabara kami menggunakan kereta JR Yamanote Line dengan karcis ¥130. 

Stasiun Tokyo di Tengah Gedung Pencakar Langit

Fasad Luar Stasiun Tokyo

Kubah Utara Stasiun Tokyo

Keluar dari pintu Stasiun Akihabara, yang nampak pertama kali adalah demografi muda yang mengunjungi kawasan ini. Akihabara terkenal dengan subkultur おたく (otaku), yaitu orang yang tergila-gila dengan kebudayaan pop Jepang termasuk barang elektronik atau video game. Di depan stasiun, tampak AKB48 Cafe & Shop, yaitu kafe tempat fans bisa makan sambil mendengarkan musik atau menonton video klip AKB48, sebuah girl band populer di Jepang. Di depan kafe, terdapat papan yang berisikan nama anggota yang siap dipilih penggemar untuk menjadi penyanyi utama dalam single grup berikutnya. Saya tidak mengikuti perkembangan grup ini, kecuali tahu mereka turut menyumbang sebuah lagu yang berjudul Sugar Rush dalam film Wreck-it Ralph.

AKB48 Cafe & Shop

Foto Personel AKB48 di Depan Kafe

Di Akihabara kami sempat menemukan maid cafe, sebuah kafe dimana pramuniaganya semua berpakaian a la pelayan. Namun kami lebih tertarik untuk masuk ke salah satu toko bebas pajak (duty free) untuk membeli oleh-oleh yang belum didapatkan. Saya membeli KitKat Matcha yang sangat populer. Saya kehabisan uang dan kartu kredit ditolak karena melebihi batas pinjaman bank. Saya meminjam uang dari Reza untuk mensiasati ini.

Salah Satu Sudut Kawasan Akihabara

Maid Cafe

Setelah selesai kami makan di salah satu restoran di sini. Walaupun canggih untuk pemesanan makanannya, yaitu menggunakan PC layar sentuh, namun cukup mahal. Saya tidak teliti dalam melakukan riset dan hal ini membuat kami harus membayar sekitar ¥2.000 untuk tiga orang.

Kami akhirnya meninggalkan Akihabara untuk menuju Asakusa menggunakan kereta Tokyo Metro Hibiya Line disambung dengan Toei Subway Asakusa Line dengan karcis ¥260. Walaupun nama kereta berbeda, tapi kami tidak perlu berganti kereta untuk sampai ke Asakusa. 

Setelah berkemas memasukkan seluruh barang belanjaan kami hari ini ke dalam koper dan tas masing-masing, kami lalu berpamitan dengan resepsionis. Adi memberikan makanan perbekalan kepada resepsionis karena tasnya menjadi berat dan penuh jika harus membawa makan tersebut kembali ke Indonesia. Kami beranjak ke Bandar Udara Internasional Haneda pukul 20.00 dengan menggunakan kereta Toei Subway Asakusa Line disambung dengan Keikyu Airport Express dengan harga karcis ¥600. Kami kembali tidak perlu turun untuk berganti kereta karena hanya berganti nama saja.

41 menit kemudian, kami tiba di Bandar Udara Internasional Haneda. Karena counter check-in baru buka pukul 22.00, saya bolak balik ke Lawson untuk menghabiskan uang receh yang tersisa dalam kantong. Uniknya, tidak seperti di Bandar Udara Internasional Soekarno - Hatta dimana harga barang di minimarket lebih mahal dibanding di minimarket di luar bandara, di sini harganya sama saja. 

Pukul 22.15, saya mengantre check-in untuk memasukkan bagasi. Namun ternyata, walaupun kami sudah melakukan web check-in sebelumnya dan sudah memegang boarding pass dari AirAsia X, kami diwajibkan untuk melakukan check-in ulang di salah satu konter ANA yang melayani penumpang AirAsia X. Hal ini mirip dengan kewajiban untuk check-in ulang di Bandar Udara International Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, Vietnam.

Ketika Adi dan Reza menunggu saya memasukkan koper ke dalam bagasi, tadinya saya pikir tidak perlu check-in ulang bagi pemegang boarding pass, mereka berdua didatangi oleh dua petugas kepolisian yang berjaga di bandara. Mereka ditanyai akan ke mana dan diminta untuk menunjukkan paspor dan dicatat identitasnya. Mungkin tindak tanduk mereka sedikit mencurigakan. Tapi karena dokumen lengkap, kedua polisi tadi mengucapkan terima kasih dan selamat jalan.

Petugas Jepang tegas dalam penegakan peraturan penerbangan, setiap penumpang hanya diperbolehkan membawa 1 tas ke dalam kabin dengan berat maksimum 7 kg dan ukuran yang telah ditentukan. Untung beban koper saya 22 kg, lebih ringan dari pembelian 25 kg saya. Namun, tas punggung yang saya bawa juga ditimbang dan beratnya 8 kg, lebih berat 1 kg dari ketentuan. Hal ini rupanya dibolehkan karena saya masih ada kelebihan 3 kg dari pembelian bagasi. 

Malang bagi Adi, karena ia membawa dua buah tas, ia harus membayar ekstra bagasi. Sebagai perbandingan ketatnya peraturan di Bandar Udara Internasional Haneda, ketika berangkat dari Jakarta dan Kuala Lumpur seminggu sebelumnya, ia diperbolehkan membawa kedua tas ke dalam kabin. Tapi untungnya ia sudah menyisihkan uang yang tadi siang diambil dari ATM untuk berjaga-jaga, sehingga hal ini tidak menjadi masalah. 

Pukul 23.00, kami masuk untuk menuju waiting room di gerbang 134. Karena letaknya cukup jauh, kami melewati sejumlah toko bebas pajak (duty free) seperti di Asakusa. Yang menarik, barang-barang ikonik Jepang, seperti KitKat Matcha juga dijual di sini dengan harga yang sama ketika siang tadi saya beli! Banyak barang lain yang dijual seperti yukata, yang ketika saya teliti buatan Indonesia seharga ¥2.500. Lalu norin yang mirip dengan yang saya temui di Kobo-san, Kyoto tempo hari tapi di sini harganya jauh lebih murah, dll.

Pukul 23.30, seluruh penumpang mulai memasuki pesawat. Tidak ada garbarata seperti di Jakarta atau Kuala Lumpur, dan penumpang diantar ke tempat pesawat parkir dengan bus milik maskapai ANA agak jauh dari lokasi gerbang terminal. 

Pukul 23.45, penumpang sudah masuk seluruhnya di pesawat dan pilot menyambut penumpang serta mengumumkan rencana penerbangan malam itu. Kami bertolak pukul 23.50, sedikit lebih cepat dari jadwal menuju Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur. Di pesawat, saya menghabiskan waktu dengan tidur. Pukul 06.35 waktu setempat kami tiba di Kuala Lumpur, dan melanjutkan penerbangan ke Jakarta pukul 09.50. Karena fly-thru, kami tidak keluar imigrasi kali ini dan langsung melanjutkan masuk ke ruang keberangkatan. Tepat pukul 09.50, pesawat bertolak ke Jakarta dan tiba pukul 10.50 WIB. Perlu waktu sekitar 45 menit untuk proses imigrasi, menunggu koper lalu proses bea dan cukai. Koper saya sempat dicurigai oleh petugas bea dan cukai, dan diminta untuk dibuka. Setelah diinterogasi membawa apa di dalam koper dan mengapa dari Malaysia, saya jelaskan sejujurnya. Puas dengan jawaban tersebut, saya diperbolehkan keluar wilayah bea dan cukai. Saya dan Reza lalu naik taksi sementara Adi naik bus Damri pulang ke rumah masing-masing

(Selesai)

4 komentar:

Eko Radesna mengatakan...

bagus ceritanya, menjadi inspirasi dan pegangan saya untuk visit ke jepang nantinya. Best regards, Eko

Andhika Padmawan mengatakan...

Terima kasih. :)

Anonim mengatakan...

wah bener2 strict banget ya peraturannya, klo di indo kan 2 tentengan boleh masuk kabin.
*mulai panik karena cuma mesen 20 kg buat balik*

btw, klo kita tenteng kamera (tentunya sama tas kameranya) bakal kena itung juga ga sih?

Andhika Padmawan mengatakan...

Betul, cukup ketat. Tapi saya dapat keringanan dari petugas check-in. Tas bagasi saya beratnya 8 kg tetapi boleh dibawa ke dalam kabin karena saya beli bagasi 25 kg namun setelah ditimbang bobotnya hanya 22 kg.

Peraturan bagi penumpang AirAsia X, hanya diperbolehkan membawa 1 tas dengan ukuran 56 cm x 36 cm x 23 serta berat tidak boleh lebih dari 7 kg saat check-in.

Tapi kalau kemudian kita membeli barang di salah satu toko duty free setelah imigrasi, tas tambahan tadi bebas dibawa ke pesawat, hingga tujuan akhir di Indonesia. Jadi kuncinya adalah saat check-in.

Teman saya juga overweight karena bawa kamera (bobotnya >3kg). Kami mengakali dengan check-in secara bergantian. Setelah saya check-in duluan, ia menitipkan kameranya di tas saya. Setelah mendapatkan boarding pass, kamera tersebut ia masukkan kembali ke dalam tasnya. Saat melewati proses imigrasi dan bea cukai tas yang sudah diperiksa saat check-in tidak ditimbang lagi.