01 Juni 2013

Piknik Jepang 23 Mei 2013 - Tokyo (Bagian 1)

Kami berencana tinggal di Tokyo selama dua hari. Karena banyak tempat wisata di sini dan mustahil untuk dikunjungi semua dalam dua hari, kami hanya memilih beberapa tempat yang disepakati. Di hari pertama, karena kelelahan fisik selama 5 hari terakhir berpetualang, kami sepakat baru mulai menjelajah Tokyo di siang hari. Paginya, saya manfaatkan waktu untuk laundry di hostel menggunakan laundry koin yang tersedia dan beristirahat di kamar.

Pukul 12.30 siang, Adi menghampiri saya dan Reza di hostel dan kami mulai berkeliling setelah makan siang di restoran gyudon dekat hostel. Kami mengambil rute jalan kaki di area Asakusa tempat kami menginap hingga Tokyo Skytree. Kami mengawali perjalanan dari 雷門 (Gerbang Kaminarimon), yang berupa lentera raksasa yang terbuat dari kayu dan melambangkan Dewa Petir dan Angin, sebagai pintu masuk 浅草寺 (Kuil Sensoji). Kuil Sensoji atau yang lebih dikenal sebagai Kuil Asakusa Kannon terdiri atas beberapa bangunan, dan bangunan utama kuil dipersembahkan bagi Dewi Kannon atau Dewi Welas Asih. Kuil ini dipercaya didirikan pada awal abad ke-7 masehi oleh tiga orang nelayan setempat setelah mereka menemukan sebuah patung kecil Kannon (hanya berukuran 5 cm) di jaring mereka.

Pagoda Kuil Sensoji

Kami tidak lama di Kuil Sensoji, karena kami berencana untuk kembali lagi esok pagi untuk mencari oleh-oleh di Nakamise-dori Arcade, yaitu jalan yang menghubungkan Kuil Sensoji dengan Gerbang Kaminarimon, yang ramai oleh toko cinderamata yang terkenal murah. Kami lalu berjalan ke bagian belakang Kuil Sensoji dan sayup-sayup saya mendengar jeritan riang anak-anak. Ternyata saya melewati 浅草花やしき (Hanayashiki), sebuah wahana permainan anak-anak yang jika dilihat dari tampilannya sudah berusia cukup tua. Tiket masuk Hanayashiki adalah ¥900 untuk dewasa.

Hanayashiki

Setelah sampai jalan besar, bangunan Tokyo Skytree terlihat menjulang. Kami lalu berbelok ke arah kanan mengikuti jalan raya tersebut ke arah Tokyo Skytree. Saya merasa cukup aneh, karena walaupun berstatus kota terpadat di dunia, tapi jalan raya siang itu cukup lengang dengan kendaraan bermotor dan orang di pedestriannya. Saya hanya bisa bergumam, mungkin ini disebabkan bahan bakar mereka tidak disubsidi tapi malah dikenakan pajak, sehingga masyarakat berpikir ulang untuk menggunakan kendaraan pribadi mereka.

Hal lain yang membuat saya terheran-heran adalah bangunan parkir mobil bertingkat. Sebetulnya tidak hanya di Tokyo, sejak di Osaka saya sudah melihat bangunan ini beberapa kali. Sayang, saya tidak sempat mencari tahu bagaimana mekanisme jika seseorang ingin memanfaatkan bangunan ini, apakah harus bertempat tinggal di dekat bangunan tersebut? Atau bebas dimanfaatkan siapapun yang kebetulan sedang berkunjung ke area tersebut?

Parkir Tingkat

Sekitar 15 menit berjalan kaki dari Kuil Sensoji, kami tiba di Sungai Sumida, sebuah sungai besar yang membelah Kota Tokyo. Namun, jangan bayangkan sungai ini jorok, berbau atau kumuh seperti sungai-sungai di Jakarta. Sungai Sumida yang saya amati bersih, tidak tampak sampah atau lumpur yang terbawa arus sungai. Di pinggir sungai, tampak taman-taman yang terawat dan dipenuhi bunga-bunga yang bersemi. Tampak beberapa orang sedang menikmati jalan santai di taman-taman ini. Di kejauhan, tampak kereta api hilir mudik di atas jembatan yang membelah sungai ini. Sangat menyenangkan bagi saya seorang penyuka kereta api melihat pemandangan ini. Jika tidak diingatkan oleh teman saya, saya bisa seharian di 言問橋 (Jembatan Kototoibashi) ini dan tidak melakukan apa pun.


Sungai Sumida

Tidak jauh dari Jembatan Kototoibashi, ketika sedang mengambil foto 牛島神社 (Kuil Ushijima), saya tidak sengaja mempergoki sepasang suami istri yang baru melangsungkan upacara pernikahan. Pasangan berbahagia tersebut tengah dalam balutan busana tradisional Jepang dan baru saja keluar bangunan kuil. Seorang fotografer sedang bersiap-siap mengambil foto pernikahan pasangan ini di depan bangunan kuil.


Beberapa saat kemudian, kami tiba di Tokyo Skytree. Bangunan ini adalah menara telekomunikasi tertinggi di dunia dengan tinggi 634 meter persegi dan baru diresmikan tahun lalu, dan bangunan tertinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa, Dubai. Sayangnya, karena biaya untuk naik ke dek pengamatannya cukup mahal, kami hanya mengunjungi sampai stasiunnya saja. Setelah itu kami menumpang kereta lokal Tobu Skytree (¥140) kembali ke Stasiun Asakusa untuk bertolak ke Stasiun Shibuya menggunakan kereta Tokyo Metro Ginza Line dengan harga karcis ¥230.

Tokyo Skytree dilihat dari Jembatan Kototoibashi

Tokyo Skytree



Rute Jalan Kaki Asakusa - Tokyo Skytree

40 menit kemudian, kami tiba di kawasan 渋谷区 (Shibuya). Salah satu pusat kota Tokyo ini terkenal dengan penyeberangan jalan yang terkenal sangat ramai di depan Stasiun Shibuya. Di depan stasiun ini juga berdiri patung anjing Hachiko yang setia menunggu kepulangan tuannya hingga mereka berdua wafat. Patung ini melambangkan kesetiaan hewan peliharaan dan banyak dikunjungi wisatawan yang berkunjung ke Tokyo. Foto penyeberangan Shibuya yang ikonik adalah salah satu tujuan utama Reza ke Jepang. Saya membiarkan ia dan Adi mengambil foto sebanyak-banyaknya di tempat ini. Melihat banyaknya pusat perbelanjaan di sini dan mode yang digunakan orang-orang di sini, tidak salah rasanya pendapat yang mengatakan Tokyo adalah salah satu ibukota mode dunia, selain kota New York, Paris dan Milan. Kami sempat masuk ke salah satu toko yang menjual pernak pernik berbagai karakter Disney.



Penyeberangan Jalan di Shibuya

Puas mengambil foto di Shibuya, kami melanjutkan perjalanan ke Kuil Meiji. Untuk itu kami berjalan kaki ke arah utara melewati studio televisi NHK放送センター (NHK Broadcast Center Studio Park) dan NHK Hall. Kedua rekan saya berharap bisa bertemu dengan salah satu artis idola mereka, yang saya ragukan bisa terwujud, karena tempatnya tampak tertutup dan dijaga ketat di pintu masuknya. Setelah melewati studio kami berbelok ke kanan melewati pusat olahraga Yoyogi yang terletak di seberang Taman Yoyogi. Bangunan utamanya mirip piring terbang yang futuristik. Di sebelah 代々木公園 (Taman Yoyogi), berdiri 明治神宮 (Kuil Meiji). Kuil Shinto ini didirikan untuk menghormati mendiang Kaisar Meiji dan istrinya Permaisuri Shoken yang mahsyur dengan Restorasi Meiji pada akhir abad ke-19 yang berhasil membuat Jepang setara, baik dari sisi ekonomi maupun militer, dengan negara-negara adidaya dari barat.


NHK Broadcast Center Studio Park

Pusat Olahraga Yoyogi


Jalan menuju bangunan kuil melewati hutan kecil yang menyegarkan. Di jalan setapak sebelah kiri ini terdapat drum anggur yang berasal dari Provinsi Bourgogne. Drum-drum anggur ini diberikan oleh pembuat anggur di Perancis kepada Kuil Meiji sebagai hadiah dan tanda persahabatan. Sedangkan di sebelah kanan, para pembuat sake Jepang juga tidak ketinggalan mempersembahkan hasil produksi mereka kepada kuil.

Jalan ke Kuil Meiji

Pengunjung Beristirahat di Taman

Deretan Drum Anggur Provinsi Bourgogne, Perancis

Drum Anggur Sumbangan Philippe Pacalet


Drum Sake

Kuil Meiji sore itu cukup ramai oleh pengunjung, baik wisatawan asing yang berkunjung maupun warga Tokyo yang ingin bersembahyang. Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Bangunan utama kuil diapit oleh dua pohon besar yang mengingatkan saya dengan Ringin Kembar di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta. Mungkin ada kesamaan filosofi antara kedua aristokrasi ini. 

Ringin Kembar

絵馬 (Plakat Doa)

Dari Kuil Meiji, kami bergegas ke tujuan berikutnya, 竹下通り (Takeshita-dori) yang terkenal sebagai pusat mode pakaian Harajuku, karena jalan ini memang terletak di depan Stasiun JR Harajuku. Kembali, saya menemukan hal yang membuat saya terkagum-kagum dengan Jepang. Di sebelah Takeshita-dori, berdiri sebuah toko perlengkapan mendaki gunung dan kegiatan alam bebas. Lokasi toko yang berdampingan dengan salah satu pusat mode anak muda Jepang menunjukkan, kegiatan pecinta alam merupakan kegiatan yang banyak peminatnya dan tidak terpinggirkan seperti halnya di Indonesia. Banyak orang Jepang, baik pria maupun wanita, tua atau muda, yang menggandrungi kegiatan alam bebas. Sangat menarik. 

Toko Kegiatan Alam Bebas

Di Takeshita-dori, setiap orang bebas mengekspresikan dirinya dalam berpakaian. Jika orang tersebut nyaman mengenakan mode pakaian tersebut, silakan. Takeshita-dori merupakan tempat aktualisasi diri, agar tampak menonjol di antara kerumunan orang yang masing-masing berusaha ingin menonjol. Hal lain yang saya amati di sini adalah sepertinya setiap orang menenteng barang belanjaan masing-masing. Budaya konsumerisme masyarakat Tokyo sungguh luar biasa. Tentunya hal ini berpengaruh positif pada ekonomi kota.


Takeshita-dori

Dari Takeshita-dori, kami menuju Omotesando, sebuah jalan yang penuh dengan deretan toko-toko bermerek, seperti Dior, Gucci, dan masih banyak lainnya. Kami menyempatkan diri ke sebuah toko yang menjual suvenir dan mainan anak-anak, Kiddy Land. Saya membeli oleh-oleh kotak pensil bertema Disney dan norin bertema One Piece. 

Omotesando

Kiddy Land

Selesai dari sini, kami makan malam. Adi dan Reza membeli McD sedangkan saya memilih Tonkotsu Ramen di Kyusyu Jangara Ramen. Ramen ini merupakan salah satu ramen terenak di Tokyo dengan harga yang relatif murah, yaitu ¥1.000. Jika pada restoran lain saya makan dulu baru membayar, di sini kebalikannya. Saya harus membayar terlebih dahulu setelah memilih menu. Menurut saya, ini adalah salah satu mie terenak yang pernah saya makan. Kuah kaldu tidak terlalu kental, namun pas memberikan cita rasa yang lengkap. Dagingnya lembut dengan sedikit lemak, tapi tidak membuat enek. Jika ada satu hal yang kurang menurut saya, itu adalah tidak adanya kerupuk.

Tonkotsu Ramen

Kyusyu Jangara Ramen

Ketika keluar dari restoran ternyata teman-teman saya belum selesai makan. Saya hanya mengambil foto-foto dan mengamati orang lalu lalang. Ada satu antrean di toko di samping saya yang menarik perhatian. Antrean tersebut cukup panjang namun tertib dan tidak ada yang menyelak atau aksi saling serobot. Setelah diberitahu Adi, ternyata mereka sedang antre toko yang menjual jagung manis dan digemari masyarakat Tokyo.

Tertib Antre

Saya mendengar cerita lucu dari Reza ketika dia dan Adi membeli burger di McD. Reza merasa rasa burgernya kurang pedas, karena itu ia meminta saos sambal ke kasir. Ia meminta dalam bahasa Inggris, tapi sang kasir perempuan malah tersipu. Reza mengulangi permintaannya beberapa kali, tapi kasir justru makin tersipu. Baru setelah ia menjelaskan dengan tangannya, kasir mengerti. Rupanya sang kasir menafsirkan kata ‘ketchup’ yang Reza ucapkan sebagai kata yang memintanya ia mencium teman saya di depan umum. Sayang saya tidak ada di sana untuk melihat sendiri bagaimana reaksi teman saya dan kasir tersebut.

Setelah kenyang dan masing-masing menenteng beberapa barang belanjaan, kami kembali ke Asakusa. Dari Stasiun Harajuku, kami naik kereta JR Yamanote Line ke Stasiun Shibuya dengan harga karcis ¥130, kemudian dilanjutkan dengan kereta Tokyo Metro Ginza Line dengan harga karcis ¥230. 30 menit kemudian kami telah sampai di hostel dan beristirahat untuk perjalanan terakhir di Tokyo esok hari.


Rute Jalan Kaki Shibuya - Omotesando

(bersambung)…

Tidak ada komentar: