01 Juni 2013

Piknik Jepang 22 Mei 2013 - Hakone

Kami tiba di depan Stasiun JR Hachioji, sebuah wilayah di pinggiran kota Tokyo pukul 07.00 setelah menempuh jarak 461 km. Satu jam sebelumnya, saya sudah terbangun berjaga-jaga jika bus tiba lebih awal dari jadwal seharusnya. Memang sejak pukul 05.30, bus beberapa kali berhenti untuk menurunkan penumpang. Ternyata bus tiba tepat pukul 07.00 sesuai jadwal. Ada hal menarik yang sempat saya perhatikan. Dalam perjalanan saya sempat mengintip dari balik tirai bus ketika memasuki jalan tol. Di gerbang tol, pengelola jalan tol ternyata membuat satu gerbang tol khusus untuk pengguna mobil yang memakai setir di sebelah kiri. Ide yang bagus dan menurut saya memberikan kebebasan kepada warganya untuk membeli mobil dalam negeri atau mobil impor yang menggunakan setir di kiri.


Rute Bus Willer Express Kyoto - Tokyo 

Walaupun kami telah tiba di Tokyo, kami baru akan check-in malam nanti dan menjelajah kota keesokan harinya. Hari ini kami akan menghabiskan waktu di 箱根 (Hakone), salah satu kota resort terpopuler di Jepang. Hakone terletak di Prefektur Kanagawa yang berdekatan dengan Metropolitan Tokyo, dan bisa dicapai dengan kereta api dari Stasiun Shinjuku, Tokyo dengan waktu tempuh 1.5 jam perjalanan. Hakone diapit oleh Gunung Fuji di sebelah barat dan Semenanjung Izu dan Samudera Pasifik di sebelah timur. Pada zaman feodal dahulu, Hakone merupakan pos pemeriksaan yang sangat penting untuk memeriksa pendatang yang akan memasuki Kota Edo (Tokyo) tempat Shogun berdomisili.

Jika saya dapat menarik kesimpulan, Hakone mirip dengan Puncak, di daerah Bogor - Cianjur, Jawa Barat. Hanya saja yang membedakan, perjalanan ke dan selama di Hakone dapat dilakukan sepenuhnya dengan transportasi umum dan lingkungan di sini sebagian besar masih asri dan rindang oleh pepohonan, tidak seperti Puncak yang penuh dengan villa dan pedagang di pinggir jalan.

Dari Stasiun Hachioji kami naik kereta lokal JR Yokohama Line menuju Stasiun Machida (¥290) untuk selanjutnya berganti kereta ekspres Odakyu Odawara hingga Stasiun Odawara (¥570). Di sini saya merasakan bagaimana kehidupan komuter di Jepang. Sejak di Stasiun Machida, kereta memang cukup penuh. Saya lalu mengambil posisi berdiri di pojok dekat pintu terjauh. Namun, di beberapa stasiun berikutnya jumlah penumpang justru bertambah. Padahal sudah agak siang, sekitar jam 08.10. Mungkin karena jam kerja di sini yang baru dimulai pukul 09.00 yang menjadikan waktu tersebut sebagai waktu tersibuk. Untungnya, di Stasiun Isehara, sebagian besar penumpang turun, dan saya dan teman-teman dapat bernafas lega. Kami saling tersenyum karena sudah disambut dengan kesibukan Tokyo yang dikenal sebagai kota metropolitan terpadat di dunia.

Sekitar pukul 08.33, kami tiba di Stasiun Odawara. Stasiun ini merupakan pintu gerbang menuju Kawasan Hakone. Kami menitipkan koper dan tas di salah satu loker koin, dan hanya membawa tas kecil. Kami juga membeli Hakone Free Pass. Dengan pass ini kami dapat naik gratis seluruh transportasi umum di Hakone. Jika membeli pass di Stasiun Odawara, harganya ¥3.900 untuk dua hari. Kami diberitahu cara membeli Hakone Free Pass oleh seorang pramuniaga yang berjaga di depan Odakyu Sightseeing Service Center, jika menggunakan uang tunai kami dapat membelinya di mesin penjual tiket yang banyak jumlahnya. Memang rasanya cukup mahal karena kami hanya berkunjung seharian di sini. Tapi belakangan saya merasa bersyukur telah mengunjungi Hakone.

Kereta Hakone Tozan Railway Menuju Hakone-Yumoto

Hakone Free Pass Dan Rencana Perjalanan Kami di Hakone

Tujuan pertama kali adalah Hakone-Yumoto, sebuah kota kecil yang menjadi pintu masuk ke Hakone. Dari Stasiun Odawara kami naik kereta Hakone Tozan Railway. Perjalanan sejauh 6,1 km memakan waktu 15 menit. Di Hakone-Yumoto, kami mencoba pemandian air panas, onsen, di salah satu penginapan di sana, Kappa Tengoku. Biayanya ¥750 per orang. Air panas di onsen ini didapatkan dengan mengebor bebatuan ratusan hingga ribuan kilometer ke bawah tanah. Ini merupakan pertama kalinya saya mandi di onsen. Caranya sedikit berbeda dengan cara mandi biasa, yaitu pertama kali membersihkan badan di salah satu bilik kecil, dan setelah dibilas bersih baru diperkenankan berendam di kolam air panas. Suhu kolam menurut saya optimum, hingga mencapai 38º Celcius. Rasa lelah setelah beberapa hari berjalan menelusuri kota-kota di Jepang seakan ikut menguap.




Onsen Kappa Tengoku

Selesai mandi dan merasa segar, kami kembali ke Stasiun Hakone-Yumoto untuk naik kereta Hakone Tozan Railway hingga Gora. Perjalanan menempuh jarak 8,9 km dengan memakan waktu 39 menit. Lamanya waktu disebabkan karena lintasan rute cukup curam, dan kereta harus bergantian menggunakan rel tunggal dengan kereta yang turun dari Stasiun Gora menuju Stasiun Hakone-Yumoto. Namun perjalanan tidak terasa karena kondektur menerangkan tempat-tempat yang menarik selama perjalanan sembari bercanda gurau dengan penumpang. Salah satu tujuan utama wisata di Hakone yang dilalui rute kereta ini adalah 箱根 彫刻の森美術館 (Hakone Open-Air Museum), turun di Stasiun Chokoku-no-Mori, yang berisi koleksi kesenian akhir abad 19 dan abad 20. Terdapat pula Museum Picasso yang berisi koleksi maestro Pablo Picasso. Biaya masuknya adalah ¥1.600. Pukul 12.04, kami tiba di Stasiun Gora.

Karena sudah waktunya makan siang, saya makan di salah satu restoran keluarga yang cukup terkenal di daerah Gora, yaitu とんかつ 里久 (Tonkatsu Rikyu), yang dijalankan oleh sepasang suami istri. Saya memesan rosu katsu atau sirloin seharga ¥2.400. Sambil menunggu daging digoreng, acar timun, dan tahu dingin dihidangkan sebagai makanan pembuka. Sekitar 10 menit kemudian, makanan utama telah siap. Saya cukup terkejut karena dagingnya lembut dan walaupun digoreng namun tidak banyak minyak. Porsinya juga sangat mengenyangkan dengan irisan kubis yang melimpah. Selain itu kuah gurih yang berisi kerang menjadi kejutan manis. Jika masih lapar, pembeli dapat menambah nasi dengan gratis.

Restoran Tonkatsu Rikyu

Pemilik Restoran

Makanan Pendamping

Rosu Katsu

Wayang Raden Nakula Tergantung di Dinding Restoran Tonkatsu Rikyu

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Sounzan menggunakan kereta Hakone Tozan Cable Car. Walaupun namanya kereta gantung (cable car), namun wujud fisiknya adalah funicular train seperti yang pernah saya naiki di Penang, Malaysia. Perjalanan sejauh 1,2 km ditempuh dalam waktu 9 menit. Di stasiun Koen-Kami pada rute ini terdapat Museum Seni Hakone yang berisi koleksi kerajinan tangan dan porselen dari Jepang. Di halaman museum terdapat taman bambu dan lumut. Biaya masuk museum ini adalah ¥900.


Hakone Cable Car

Dari Stasiun Sounzan, kami berganti moda transportasi menjadi kereta gantung menuju 大涌谷 (Owakudani). Sama seperti ketika saya naik Kincir Raksasa Tempozan, di kereta gantung juga ada penjelasan mengenai daerah yang dilalui melalui rekaman audio. Harus saya akui, pemandangan dari atas kereta gantung sangat luar biasa. Di kejauhan terlihat pegunungan dan kawasan hutan yang hijau sementara kereta gantung melintasi hutan di bawahnya. 5 menit kemudian kami tiba di Owakudani. Owakudani merupakan kawah purba Gunung Kamiyama. Seluruh lereng di kawasan ini mengeluarkan asap sulfur dan air panas. Sebagian air panas dialirkan ke tempat lain sebagai sumber air.

Kereta Gantung Sounzan - Owakudani

Hakone Dari Atas Kereta Gantung




Owakudani

Sekilas, Owakudani mirip dengan objek wisata Tangkuban Parahu di Lembang atau Kawah Putih di Ciwidey, Jawa Barat. Di sini, banyak dijual kudapan telur rebus yang dipanaskan di air yang keluar dari kawah. Karena kandungan sulfur yang tinggi, kulit telur berubah menjadi berwarna hitam. 5 butir telur dijual seharga ¥500. Untuk menarik pengunjung, terdapat mitos yang mengatakan jika seseorang memakan sebutir telur maka umur akan bertambah hingga beberapa tahun. Pengunjung juga dapat berjalan kaki ke tempat perebusan telur yang berjarak sekitar 1 km dari Stasiun Owakudani.


Pembeli Telur Rebus Menikmati Kudapan

Telur Baru Diangkat Setelah Direbus

Telur Yang Sudah Dibungkus Siap Didistribusikan

Puas di Owakudani, sekitar pukul 14.15, kami melanjutkan naik kereta gantung ke Stasiun Togendai di pinggir Danau Ashi. Jika cuaca sedang cerah, Gunung Fuji dapat terlihat dengan jelas dari kereta gantung ini. Namun, karena Gunung Fuji sedang tertutup awan, walaupun cuaca di sekitar Hakone sedang cerah, kami tidak bisa melihat gunung sakral tersebut. Perjalanan dari Stasiun Owakudani menuju Togendai memakan waktu sekitar 15 menit, dan mendekati tujuan dari kejauhan kami dapat melihat Danau Ashi yang biru.

Kereta Gantung Owakudani - Togendai

Kapal Wisata Danau Ashi

Di Stasiun Togendai, kami setengah berlari mengejar kapal wisata yang dibuat mirip galeon, kapal layar kuno pada masa lampau. Untungnya kami tidak tertinggal. Sejujurnya, kapal wisata ini merupakan pengobat kekecewaan dan pengganti yang ideal setelah beberapa hari sebelumnya kami gagal naik Kapal Santa Maria di Pelabuhan Osaka. Kapal wisata ini mengarungi Danau Ashi yang terletak pada ketinggian 725 meter di atas permukaan laut. Danau Ashi dengan luas 21 km persegi dan mempunyai wilayah air seluas 680 hektar merupakan salah satu destinasi utama di kawasan Hakone. Danau ini banyak berisi ikan black bass dan salmon yang menjadikan kegiatan memancing menjadi salah satu kegiatan primadona di sini selain kegiatan menjelajahi danau menggunakan kapal. Jika cuaca cerah, bayangan Gunung Fuji tampak pada permukaan air danau. Sayangnya, hari itu awan menyelimuti Gunung Fuji dan kami hanya menikmati pemandangan di sekitar danau.


Kapal Wisata Danau Ashi

Danau Ashi

Suasana di Hakone-machi

Perjalanan menuju Hakone-machi menggunakan kapal wisata ini memakan waktu 30 menit. Walaupun tampak seperti kapal layar, tapi sebenarnya ini adalah kapal bermesin yang sangat diperhatikan pemeliharannya. Kapal bergerak cepat mengarungi danau yang tenang. Pukul 15.30, kami telah tiba di Hakone-machi. 

Di sini, terdapat 箱根関 (Hakone Sekisho). Pada masa Edo, jaringan jalan nasional dikembangkan besar-besaran oleh pemerintah. Bersama dengan itu, banyak sekisho (pos pemeriksaan) yang dibangun dengan tujuan pemeriksaan orang yang bepergian dan barang muatan mereka. Hakone Sekisho yang terletak di sebelah selatan Danau Ashi merupakan salah satu pos pemeriksaan terpenting. Upaya restorasi yang sesuai sejarah telah dilakukan pada tempat yang dulu berdiri Hakone Sekisho asli. Di sini berdiri museum kecil yang menampilkan artifak pada masa itu, seperti dokumen perjalanan, catatan petugas dan persenjataan samurai. Beberapa menit berjalan kaki ke arah utara, pengunjung akan menemukan Rute I, yaitu rute kuno yang tersisa yang dahulu digunakan oleh pelintas wilayah pada masa Edo. Di samping kanan kiri Rute I terdapat deretan pohon cedar yang telah berusia 350 tahun. Untuk masuk ke sini, pengunjung dikenakan biaya ¥500.

Perjalanan kami di Hakone berakhir sudah, dan kami akan menuju Tokyo. Dari Hakone-machi, kami menggunakan bus Odakyu menuju Stasiun Odawara. Perjalanan menempuh rute yang sama dengan ketika berangkat, hanya yang membedakan adalah kami kini menggunakan bus melewati jalan rayanya. Akhirnya kami tiba di Stasiun Odawara setelah menempuh waktu 1 jam.

Bus Odakyu Tujuan Stasiun Odawara

Setelah mengambil koper dan tas di loker, kami menuju daerah 浅草 (Asakusa), Tokyo tempat penginapan kami berada. Dari Stasiun Odawara, kami naik kereta Odakyu Limited Express dengan karcis ¥850. Karena takut pengalaman tadi pagi ketika penumpang berdesakan di daerah Tokyo, saya menaruh koper di tempat menaruh barang di atas. Untungnya, kereta sore itu tidak seramai pagi hari. Sekitar 1 jam 15 menit kemudian kami tiba di Stasiun Shinjuku, Tokyo. 

Kereta Odakyu Limited Express

Tadinya saya berpikiran untuk mengunjungi Tokyo Metropolitan Government Building sore itu, namun karena kelelahan akibat tidak tidur yang kurang nyenyak di bus semalam, kami langsung mencari kereta ke Asakusa. Namun, saya mengalami kesulitan karena tidak bisa memastikan kereta apa yang akan digunakan dan berapa karcis yang harus dibeli dari mesin penjual tiket karena peta jaringan ditulis dalam huruf kanji, tanpa furigana atau romaji. Untungnya, seorang gadis muda melihat kebingungan saya tersebut dan menanyakan ke mana tujuan saya menggunakan bahasa Inggris dengan dialek Amerika yang sempurna. Setelah saya jelaskan bahwa kami ingin ke Asakusa, ia lalu dengan sigap menanyakan rute kereta ke Asakusa kepada petugas stasiun yang berjaga di sana dalam bahasa Jepang dan meminta peta jaringan kereta bawah tanah yang ditulis dalam bahasa Inggris. Gadis ini kemudian menjelaskan kembali kepada saya dalam bahasa Inggris dan memberikan saya peta sebagai panduan. Setelah saya mengucapkan terima kasih banyak, ia lalu meninggalkan kami. Harus saya akui, ia sangat atraktif dan sangat membantu. Ia memberikan saya kesan pertama yang baik pada Kota Tokyo.

Dari Shinjuku, kami menumpang kereta bawah tanah Toei Shinjuku Line hingga Stasiun Bakuro-Yokoyama, dan dilanjutkan dengan transfer kereta bawah tanah Toei Asakusa Line dari Stasiun Higashi-Nihombashi. Harga karcis dari Shinjuku hingga Asakusa ¥260. Sekitar pukul 20.00, kami akhirnya tiba di Asakusa.

Setelah saya dan Reza check-in di Khaosan Tokyo Kabuki, kami mengantarkan Adi yang menginap di K's House Tokyo Oasis, sekitar 5 menit berjalan kaki dari tempat kami menginap. Setelah itu kami makan malam dan mengakhiri perjalanan hari ini.

(bersambung)...

Tidak ada komentar: