01 June 2013

Piknik Jepang 20 Mei 2013 - Nara dan Kyoto

Keesokan paginya, kami bangun pukul 08.00, segera berkemas dan check-out dari hotel untuk pergi ke kota berikutnya, Nara. Sebelumnya kami sarapan di Sukiya dekat hotel. Hari Senin ternyata tidak terlihat ramai seperti hari kerja di Jabodetabek, hanya tampak beberapa orang mampir untuk sarapan dalam perjalanan ke kantor mereka. Hal itu saya ketahui dari pakaian yang mereka kenakan. Suasana hiruk pikuk semalam sudah tidak tampak karena bar dan restoran di kawasan ini masih tutup. Hanya tampak beberapa orang lalu lalang ke tujuan mereka masing-masing.

Sambil makan, saya menerangkan ke teman-teman mengenai rencana perjalanan kami pada hari ini. Kota Nara yang terletak 42 km sebelah selatan Kyoto adalah ibukota Jepang pada masa lalu (tahun 710-784 Masehi) dan merupakan pusat harta karun kesenian, kerajinan dan literatur Jepang. Agama Buddha berkembang pesat di kota ini karena dukungan yang besar dari Kaisar. Nara adalah kota dengan situs Warisan Dunia UNESCO terbanyak dibandingkan prefektur lainnya di Jepang. Suasana kota yang tenang dan damai menjadikan Nara tempat yang sempurna untuk kontemplasi. Hampir sebagian besar tempat bersejarah tersebut bisa dikunjungi dengan berjalan kaki, kurang lebih selama 5 jam.

Setelah kenyang sarapan, kami beranjak ke Stasiun Osaka untuk naik kereta ke Nara. Pertama kami harus naik kereta Osaka Loop Line yang dioperasikan JR West hingga Stasiun Tsuruhashi dengan harga karcis ¥170, kemudian dilanjutkan dengan kereta Kintetsu Nara Line Rapid Express yang dioperasikan perusahaan kereta api Kintetsu hingga Stasiun Kintetsunara dengan harga tiket ¥480. Total waktu perjalanan adalah 50 menit. Ini adalah opsi termurah dan tercepat untuk sampai kota Nara.

Pintu Masuk Stasiun Kintetsunara

Opsi lain adalah menggunakan kereta JR Rapid Yamatoji tujuan Stasiun Nara dengan harga tiket ¥780 dan memakan waktu 51 menit. Hanya saja Stasiun Nara yang dioperasikan JR West tidak benar-benar terletak di pusat kota, tapi 1 km lebih jauh dari kuil pertama yang ingin kami kunjungi jika dibandingkan dengan Stasiun Kintetsunara.

Kami mengalami masalah teknis ketika transfer kereta di Stasiun Tsuruhashi. Seperti saya terangkan di atas, Osaka Loop Line dioperasikan oleh JR West sehingga kami harus transfer ke Kintetsu Nara Line Rapid Express yang dioperasikan oleh perusahaan kereta api Kintetsu. Masing-masing perusahaan mempunyai jaringan rel kereta api yang terpisah. Setelah turun dari Osaka Loop Line kami membeli tiket ke Nara di mesin penjual tiket terdekat. Namun ketika karcis dimasukkan ke dalam mesin tiket, karcis tersebut ditolak. Saya juga sempat bingung bagaimana dengan tiket Osaka Loop Line yang kami beli sebelumnya. Saya coba berkali-kali tidak berhasil, dan ini memancing perhatian petugas di Stasiun Tsuruhashi Kintetsu.

Petugas lalu menjelaskan bahwa cara transfer adalah dengan memasukkan kedua tiket tadi ke mesin, nanti karcis untuk tujuan Kintetsunara akan keluar di ujung mesin pintu elektronik untuk saya simpan dan serahkan di Stasiun Kintetsunara sedangkan karcis Osaka Loop Line akan disimpan oleh mesin. Cara ini bisa diterapkan di Jakarta untuk mengatasi masalah penumpang transfer MRT dan monorel yang rencananya akan beroperasi tahun 2016.

Kami sampai di Stasiun Kintetsunara pukul 11.00. Di stasiun, kami menitipkan tas di loker koin yang banyak tersedia. Agar hemat, kami menitipkan seluruh tas dalam satu loker dengan biaya ¥500. Selanjutnya kami menuju kuil pertama yaitu 興福寺 (Kofukuji). Kuil yang dibangun pertama kali tahun 710 masehi ini termasuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Pada masa keemasannya, kuil ini memiliki 175 bangunan, tapi sebagian besar sudah hancur selama 1.300 tahun perjalanannya. Bangunan utama yang masih tersisa adalah pagoda 5 lantai yang berasal dari tahun 1426, Tokondo Hall yang dibangun tahun 1415 dan pagoda 3 lantai dari awal abad 13.

Tokondo Hall

Pagoda 5 Tingkat

Di kuil ini kami hanya berkeliling di halaman kuil. Tapi saya menemukan sekelompok pelajar yang sedang berfoto kamehameha a la Dragon Ball Z. Saat ini pose foto ini sedang tren di kalangan pelajar sekolah menengah di Jepang.

Berfoto a la Dragon Ball Z

Puas di Kofukuji, kami pergi ke tujuan berikutnya yaitu taman 吉城園 (Yoshikien). Tadinya kami juga ingin ke taman 依水園 (Isuien), tapi kami diwajibkan membayar ¥500 untuk menikmati taman gaya Jepang ini. Akhirnya kami berkunjung ke Yoshikien yang terletak di samping taman Isuien, turis asing gratis menikmati taman yang dirawat dengan baik ini. Taman Yoshikien memang sangat terawat dan suasananya hening. Suara air mengalir dari sungai kecil di samping taman sungguh menenteramkan hati.

Kediaman Resmi Gubernur Nara Berada di Lingkungan Asri

Halaman Taman Isuien

Taman Yoshikien

Taman Lumut Yoshikien

Taman Lumut Yoshikien

Rumah Untuk Menikmati Taman

Tujuan berikutnya adalah Museum Nasional Nara. Sayang ketika kami di sana, museum tutup. Kami hanya berkeliling taman yang luas yang dipenuhi rusa yang berkeliling bebas. Tempat-tempat yang kami kunjungi hari ini sebagian besar terletak di Taman Nara, sebuah kawasan cagar alam yang dihuni kurang lebih 1.200 ekor populasi rusa.



Museum Nasional Nara

Setelah itu kami pergi ke 東大寺 (Kuil Todaiji) yang berada tidak jauh dari museum. Kuil ini terkenal dengan 大仏 (Daibutsu), patung Buddha raksasa setinggi 16.2 meter yang terbuat dari perunggu. Bangunan yang menaungi Daibutsu merupakan struktur bangunan kayu terbesar di dunia. Todaiji juga dianugerahi gelar Situs Warisan Dunia UNESCO. Karena kembali harus membayar ¥500, teman saya menolak untuk masuk.

Pintu Masuk Todaiji

Todaiji

Pagar Samping Todaiji

Kami lalu meneruskan ke destinasi berikutnya, yaitu 二月堂 (Nigatsudo) Hall. Nigatsudo Hall masih merupakan bagian dari Todaiji, namun letaknya di kaki 若草山 (Bukit Wakakusa) membuatnya terlihat seperti terpisah dari kompleks Todaiji. Menurut sejarahnya, kuil ini dibangun oleh pendeta Buddha yang bernama Jitchu pada tahun 752 sebagai kuil Sanetada. Untung bagi kami untuk masuk ke bagian Nigatsudo Hall ini tidak dipungut biaya. Kami bisa menyaksikan Kota Nara dari ketinggian di tempat ini.



Nigatsudo Hall


Setelah dari Nigatsudo Hall, kami kembali berjalan kaki dan menemukan Bukit Wakakusa yang terletak pada ketinggian 342 meter di atas permukaan laut. Vegetasi di bukit ini terlihat sangat terawat. Rupanya rumput dijaga pertumbuhannya dengan dibakar setiap tahun pada hari Sabtu keempat bulan Januari, perayaannya sendiri dinamakan 山焼き (yamayaki), atau terjemahan harfiahnya membakar rumput mati di lereng gunung. Untuk naik ke atas bukit, pengunjung harus membayar ¥150. Tentu kami melewatkan ini karena sudah puas memandangi dari balik pagar.


Bukit Wakakusa

Selanjutnya kami kembali berjalan ke 春日大社 (Kasuga Taisha), yang merupakan salah satu kuil Shinto yang keberadaannya termasuk paling penting di Jepang. Kuil ini dibangun tahun 768 Masehi di tengah hutan yang luas dengan dominan warna merah yang menjadikannya kontras dengan pepohonan di sekitarnya. Kasuga Taisha masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO. Walau demikian karena harus membayar ¥500, kami tidak masuk ke dalamnya.

Puluhan Lentera di Kasuga Taisha

Kuil terakhir yang kami kunjungi di Nara adalah 新薬師寺 (Shin Yakushiji), yaitu sebuah kuil yang dibangun pada tahun 747. Bangunan utamanya yang berasal pada tahun yang sama dan beberapa patung Buddha juga ditempatkan di sini, dikukuhkan sebagai Warisan Budaya oleh Pemerintah Jepang. Harga tiket masuknya termahal jika dibandingkan kuil lain, yaitu ¥600. Oleh karena itu kami memilih pergi ke kota tua Nara saja, yang disebut Naramachi.




Suasana Kawasan Perumahan Nara

Naramachi dulunya merupakan kawasan pemukiman pedagang yang sejarahnya dapat ditelusuri hingga beberapa abad silam. Arsitektur hunian di kawasan ini tidak berubah sejak beberapa abad lampau sebagai upaya pelestarian budaya. Di kawasan ini terdapat deretan butik, kafe, restoran dan museum budaya. Kami hanya berkeliling hingga akhirnya sampai di 猿沢池 (Kolam Sarusawa-ike). Kolam ini terletak di belakang Kofukuji. Cerminan pagoda 5 lantai Kofukuji dapat terlihat pada air di kolam ini pada hari cerah. Kami beristirahat sejenak karena sejak tadi pagi berjalan tanpa jeda.



Naramachi

Ketika saya beristirahat, ada sekelompok perempuan yang juga baru sampai di kolam ini. Hal yang menarik perhatian saya adalah sebagian besar dari mereka menggunakan hak tinggi namun sama sekali tidak terlihat lelah, mereka bahkan beristirahat sambil berdiri. Cara jalan mereka juga normal, atau cepat untuk ukuran orang Indonesia. Saya hanya bisa tertegun.





Pukul 16.30, kami sudah tiba kembali di Stasiun Kintetsunara. Setelah mengambil tas dan membeli tiket kami segera turun ke peron. Namun, kereta tujuan Kyoto, kota tujuan kami berikutnya baru tiba pukul 17.17. Kami naik Kintetsu Kyoto Line Express dengan harga karcis ¥610. Jarak yang ditempuh 39 km dengan waktu tempuh 46 menit.

Tepat pukul 18.02, kami tiba di Stasiun Kyoto. Kami langsung ke check in di penginapan kami malam itu, Kyoto Hana Hostel. Hostel ini merupakan akomodasi termurah kami selama di Jepang, per orang dikenakan biaya ¥2.500.

Setelah makan malam, saya mengusulkan kepada teman-teman untuk berkunjung ke salah satu kuil di Kyoto, yaitu 伏見稲荷大社 (Fushimi Inari Taisha), yang kebetulan jaraknya hanya 1 stasiun dari Stasiun Kyoto. Kami naik ketera api lokal tujuan Nara dengan karcis ¥140. Kami lalu turun di sebuah stasiun kecil bernama Stasiun Inari. Begitu keluar dari pintu stasiun, nampak pintu gerbang Fushimi Inari Taisha berdiri megah. Kuil ini merupakan kuil utama Inari, yang didirikan di kaki bukit yang juga dinamakan Inari. Simbol kuil ini adalah rubah. Hal yang menarik dari kuil ini adalah pengunjung dapat merasakan hiking ke puncak bukit sepanjang 4 kilometer. Di sepanjang jalan terdapat ribuan 鳥居 (Torii) yang menaungi pengunjung.

Fushimi Inari Taisha

Karena hari telah malam dan kami terlalu lelah setelah berjalan kaki selama 5 jam di Nara siang tadi, kami hanya mendaki sampai deretan Torii terdekat. Teman-teman saya meminta foto dan setelah itu kami kembali ke hostel untuk beristirahat.

Deretan Torii di Fushimi Inari Taisha

(Bersambung)...

1 comment:

senisa said...

boleh tanya ga? bulan Mei ini rencana mo ke jepang, cuacanya dingin banget ga? soalnya aku ada alergi dingin, perlu bawa jaket tebal atau tidak ya?