01 June 2013

Piknik Jepang 18 Mei 2013 - Jakarta - Osaka

Piknik ke Jepang adalah perjalanan saya yang sudah lama direncanakan dengan persiapan yang matang karena durasinya yang cukup panjang, yaitu 7 hari. Tentu durasi ini menurut ukuran saya, karena biasanya saya hanya pergi selama 2-4 hari dan itupun dilakukan pada akhir pekan. Saya berangkat ke Jepang bersama dengan dua orang teman saya, Reza dan Adi. Reza merupakan sahabat saya sejak sekolah menengah, sedangkan Adi merupakan teman dari teman saya. Ini merupakan perjalanan pertamanya ke luar negeri, dan kerennya Jepang adalah negara yang paling ingin dikunjungi.

Kami janji berkumpul di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 05.30 WIB karena pesawat kami tujuan Kuala Lumpur berangkat pukul 06.40. Untungnya karena penerbangan di akhir pekan, tidak tampak antrean kendaraan ke arah bandara dan kami tiba di terminal tepat waktu. Saya dan Reza berkenalan dengan Adi pada pagi itu, dan tidak lama menunggu kami dipersilakan untuk naik ke pesawat. 

Suasana di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di pagi hari. Photo courtesy of @orionsza

Kami menggunakan maskapai AirAsia Indonesia untuk rute Jakarta - Kuala Lumpur dan AirAsia X untuk rute Kuala Lumpur - Osaka. Kami mendapatkan harga tiket pesawat yang cukup murah untuk ukuran kantong kami, sekitar Rp3.500.000,00 pp. Perjalanan ke Kuala Lumpur menggunakan pesawat Airbus A320 ditempuh selama dua jam, dan kami tiba di terminal LCCT Kuala Lumpur International Airport pukul 09.40 waktu setempat. Waktu di Kuala Lumpur lebih awal 1 jam dibanding Waktu Indonesia bagian Barat.

Sesampainya di LCCT kami putuskan untuk menghabiskan waktu di food court LCCT tempat saya menginap bulan sebelumnya. Penerbangan kami ke Osaka baru jam 15.00, sehingga cukup waktu untuk keluar imigrasi untuk makan siang dan bersantai sejenak sebelum penerbangan panjang ke Jepang. Sekitar pukul 13.00, kami masuk ke ruang tunggu setelah sebelumnya melakukan proses check-in, imigrasi, dan bea cukai.

Yang unik, untuk penerbangan dengan AirAsia X dilakukan pengecekan dokumen sekali lagi walaupun penumpang sudah melalui proses tadi, baik dari luar bandara maupun melalui proses Fly-Thru bagi penumpang transit. Rupanya ini disebabkan oleh penumpang AirAsia X yang menempati ruang tunggu khusus sehingga penumpang yang akan masuk ke sini harus melalui serangkaian prosedur pemeriksaan dokumen sekali lagi.

Menurut saya pribadi, hal ini redundant dan bersifat birokratis karena hanya mengulangi proses yang sebelumnya sudah dilalui penumpang. Bedanya kali ini petugas dapat menginterogasi penumpang lebih bebas. Saya sempat ditanyai panjang lebar oleh salah seorang petugas imigrasi ketika akan masuk ke ruang tunggu ini. Tentu ini adalah hak petugas Jabatan Imigresen Malaysia, dan saya yakin dilakukan untuk meminimalisir risiko keselamatan penerbangan. Saya pribadi tidak keberatan dengan perlakuan ini, walaupun pemeriksaan penumpang asal Jepang tidak seketat seperti pemeriksaan terhadap saya. Mungkin selain stereotip negara asal saya juga karena kendala bahasa. Jika proses ini dapat dipangkas dan digantikan dengan metode lain, saya pribadi menilai pengalaman terbang akan lebih baik lagi.

Ruang tunggu penerbangan ke Osaka ternyata bersebelahan dengan ruang tunggu penerbangan ke Haneda - Tokyo, tapi penerbangan ke Tokyo 20 menit lebih awal dari penerbangan ke Osaka atau pukul 14.40. Setelah semua penumpang pesawat tujuan Tokyo sudah selesai boarding, sekarang giliran penumpang pesawat tujuan Osaka yang naik ke pesawat. Tentu kami harus jalan ke tempat pesawat diparkir yang ternyata cukup jauh. Pihak otoritas Kuala Lumpur International Airport melarang setiap orang untuk mengambil foto pesawat, sehingga tidak ada pilihan lain bagi kami selain buru-buru masuk ke pesawat.

Yang mengejutkan, karena ini adalah penerbangan pertama saya menggunakan pesawat berbadan lebar Airbus A330-300, adalah waktu yang dibutuhkan penumpang untuk boarding terhitung cepat, tidak sampai 20 menit seluruh penumpang sudah masuk pesawat dan pesawat siap lepas landas.

Penerbangan ke Osaka memakan waktu 6 jam 25 menit. Penerbangan berjalan mulus dan satu hal yang mengagetkan saya adalah ketika pilot memperkenalkan diri dan ternyata namanya Capt. Taufik Hidayat, seorang pilot berkebangsaan Indonesia. Sungguh mengharukan dan ada rasa bangga pada diri saya karena dia menjadi pemimpin penerbangan rute internasional bukan dari Indonesia yang seluruh awak kabinnya berasal negara lain.

Pukul 22.15 kami mendarat di Kansai International Airport, lebih cepat 10 menit dari jadwal. Sebetulnya Kota Osaka dilayani oleh dua bandar udara, Osaka International Airport (Itami) dan Kansai International Airport. Osaka International Airport sebetulnya terletak di wilayah Itami yang termasuk dalam Prefektur Hyogo di daratan utama Jepang. Bandara ini sudah jenuh dengan lalu lintas pesawat sehingga sekarang difungsikan untuk melayani penerbangan domestik dan regional, sedangkan untuk lalu lintas penerbangan internasional ke dan dari Osaka dilayani oleh Kansai International Airport.

Kansai International Airport dibangun di atas lahan reklamasi laut, sekitar 50 km dari pusat kota Osaka. Alasan dibangunnya bandara di atas laut disebabkan selain padatnya kota Osaka dan sekitarnya, juga karena Pemerintah Jepang belajar dari pembangunan Narita International Airport tahun 1975 yang mendapat protes dan tentangan keras dari penduduk yang tinggal di sana. Setelah bandara Narita beroperasi, penduduk Narita masih melakukan unjuk rasa dan masih marak perusak fasilitas bandara oleh penduduk yang marah.

Pembangunan Kansai International Airport dengan cara reklamasi bukannya tanpa kesulitan. Sejak pertama kali diresmikan pada tahun 1994 hingga baru-baru ini, bandara ini mengalami masalah turunnya permukaan tanah. Tapi akhirnya masalah tersebut berhenti dan tanah bandara sudah stabil. Bandara ini merupakan bandara internasional terpenting kedua di Jepang setelah Narita Internasional Airport di Tokyo dan sesuai namanya ditujukan untuk melayani wilayah Kansai yang meliputi Kota Osaka, Kobe, Kyoto, Nara, dan sekitarnya.

Setelah turun dari pesawat kami segera menaiki people mover otomatis untuk ke menuju imigrasi. Karena baru-baru ini marak kasus flu burung H7N9, maka sebelum ke imigrasi, kami harus melewati bagian karantina. Kami cuma harus jalan melewati kamera dan dua petugas akan memonitor suhu tubuh kami. Karena kami tidak datang dari China atau negara di benua Afrika, mereka tampaknya tidak terlalu khawatir.

Ketika kami mengantri imigrasi, ada satu orang petugas yang mengatur antrean, ia mengarahkan penumpang untuk mengantre di petugas imigrasi yang lebih sedikit. Cara ini efektif dan bisa ditiru oleh petugas imigrasi Indonesia. Terus terang karena ini adalah pertama kalinya saya masuk ke negara yang mensyaratkan visa, saya sempat cemas jika saya ditolak masuk, karena kewenangan untuk menerima atau menolak seseorang ke wilayah negara tersebut ada pada petugas imigrasi. Untuk mengatasi kecemasan itu, saya pilih mengantre di petugas imigrasi yang terlihat ramah, dan rupanya taktik tersebut berhasil. Petugas tersebut murah senyum sehingga menimbulkan kesan pertama yang baik terhadap Jepang.

Ternyata pesawat kami merupakan penerbangan terakhir pada hari itu, dan setelah semua penumpang sudah masuk ke yurisdiksi Jepang, lampu kedatangan internasional dimatikan dan petugas imigrasi pun bergegas pulang.

Setelah keluar menuju bangunan utama Terminal 1 sudah pukul 23.15, kami segera mencari kursi tempat bermalam di lantai 2. Kami memang berniat untuk menginap di bandara karena selain menghemat biaya penginapan, juga karena kereta terakhir ke Osaka pukul 23.00, dan baru ada lagi esok pagi. Pilihan transportasi umum yang masih tersedia malam itu adalah taksi yang tentu harganya selangit!

Suasana Tengah Malam Kansai International Airport

Lantai 1 Terminal 2 Kansai International Airport

Hal yang mengasyikkan, walaupun kegiatan bandara sudah berakhir menjelang tengah malam tapi ada mini market Lawson dan restoran cepat saji McDonald's dan Sukiya yang beroperasi 24 jam. Selain itu ada loker yang dapat digunakan untuk menyimpan tas atau koper dan lounge berbayar jika ingin beristirahat. Hal lainnya, Kansai International Airport juga dilengkapi oleh akses internet WiFi gratis tanpa batasan durasi waktu seperti di Changi International Airport atau LCCT Kuala Lumpur International Airport.

Loker Koin Harian Yang Dilengkapi Dengan Mesin Penukar Receh

Minimarket Lawson dan McDonald's

Sukiya

Tampak banyak juga penumpang yang tertinggal kereta ke Osaka dan memilih tidur di bandara menunggu esok pagi. Sekedar informasi, Kansai International Airport termasuk salah satu bandara terbaik untuk menginap. Saat malam, seorang polisi akan menghampiri untuk menanyakan dan mencatat identitas kita dan bertnaya mengapa masih ada di bandara. Tapi setelah itu ia akan mempersilakan kita beristirahat dan beranjak ke tempat lain.

Deretan Kursi Yang Nyaman Untuk Beristirahat

No comments: