01 June 2013

Catatan Pinggir - Tur Sekolah di Jepang

Ketika saya tiba di Nara di hari Senin, itu memang hari pertama dalam minggu tersebut. Anak sekolah masuk sekolah dan karyawan kembali masuk kantor. Saya menemukan banyak anak sekolah di Kuil Kofukuji sedang ikut tur sekolah. Namun ternyata konsep tur sekolah di Jepang ini berbeda sama sekali dengan konsep yang ada dalam pikiran saya.


Halaman Kuil Todaiji, Nara Yang Dipadati Pengunjung Siswa Sekolah

Berdasarkan pengamatan saya selama di Nara, Kyoto, dan Tokyo tur sekolah dibagi menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah tur yang melibatkan seluruh kelas atau angkatan. Tipe tur ini mirip darmawisata yang dulu saya ikuti ketika sekolah, mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah. Tapi hanya sampai disini saja kesamaannya. Hal ini karena tur seluruh kelas atau angkatan diselenggarakan oleh biro perjalanan profesional. Siswa akan mengikuti pemandu yang membawa bendera berkeliling tempat wisata dalam grup besar sambil diterangkan mengenai sejarah dari tempat wisata tersebut. Sebagai perbandingan. di Indonesia pihak sekolah hanya menyewa bus sedangkan penjelasan mengenai objek wisata akan diberikan oleh guru.

Tipe pertama biasanya digunakan oleh sekolah untuk mengunjungi tempat wisata yang jauh dari kota asal mereka, biasanya lintas prefektur yang mengakibatkan mereka datang menggunakan beberapa bus wisata. Tipe tur pertama melibatkan satu angkatan yang terdiri atas beberapa kelas.

Siswa Peserta Tipe Tur Pertama

Sedangkan tipe kedua, menurut saya jauh lebih menarik dan sebuah ide yang brilian. Tipe tur kedua melibatkan siswa yang lebih sedikit dan menumbuhkan kemandirian. Caranya guru akan menugaskan sekelompok murid untuk berkeliling ke tempat wisata satu hari penuh. Sang guru akan membentuk kelompok yang terdiri atas 3 orang siswa laki-laki dan 3 orang siswa perempuan yang dipilih secara acak. Satu orang dipilih sebagai ketua dan kelompok ini diberikan tugas untuk menyusun laporan mengenai kunjungan mereka pada hari itu. 

Kelompok Tipe Tur Kedua Baru Tiba di Kuil Kasuga Taisha

Sekelompok Siswa Berbincang Dengan Petugas di Kuil Meiji, Tokyo

Sebuah peta diberikan sebagai panduan untuk mencapai tempat-tempat tersebut. Karena dipilih secara acak, siswa dan siswi ini akan belajar untuk bekerjasama dengan orang lain di luar peer group mereka. Untuk mencegah siswa dan siswi ini berbuat curang, mereka diminta untuk mengambil foto tujuan wisata yang nantinya akan dicek metadata-nya oleh sang guru. Tentu ada prasyarat utama dari tipe kedua ini, yaitu tersedianya transportasi umum yang ramah anak, aman dan dapat diandalkan untuk berkeliling. Kota-kota di Jepang menyediakan prasyarat utama ini.

Tipe kedua biasa digunakan oleh sekolah untuk wisata di dalam kota yang sama atau ke kota lain di prefektur yang bertetangga. Misalnya siswa-siswi Osaka atau Kyoto berwisata dengan tipe kedua ini ke Nara. Mereka menggunakan transportasi umum kereta api atau bus untuk mencapai tujuan dengan waktu tempuh kurang dari satu jam.

Di antara kedua tipe ini, ada juga sekolah yang menerapkan tipe hibrida. Tipe ini melibatkan partisipasi satu kelas. Tidak terlalu besar seperti tur rombongan, namun tetap memberikan pengawasan yang cukup kepada siswa. Tipe hibrida melibatkan satu kelas yang dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil seperti tipe kedua. Guru-guru akan ditempatkan di sepanjang rute yang akan dilalui oleh siswa. Selain mengawasi dan memberikan semangat kepada siswa, guru-guru ini akan memberikan peta atau petunjuk ke tujuan berikutnya. Dengan demikian siswa diberikan target jangka pendek atau menengah, tidak seperti pada tipe kedua yang diberikan target jangka panjang.

Pelajaran Sejarah di Kuil Kinkaku-ji, Kyoto

Apapun tipe tur yang digunakan, semuanya bertujuan untuk menjadikan tempat wisata di Jepang selalu ramai setiap hari. Hal ini bisa dijadikan contoh model kerjasama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia agar museum atau tempat wisata lain di Indonesia ramai oleh pengunjung. Tentu selain aspek ekonomi tadi, cara ini juga bertujuan untuk menjadikan pelajaran sejarah lebih menarik bagi siswa dan siswi.

Tur Sekolah Dimulai Dari Usia Dini. Kawasan Arashiyama, Kyoto

No comments: