01 Juni 2013

Piknik Jepang 24 Mei 2013 - Tokyo (Bagian 2)

Pada hari terakhir di Tokyo ini kami kembali bangun agak siang. Kami masih merasakan lelah walaupun sudah bisa tidur nyenyak selama dua hari terakhir. Kami langsung membereskan barang-barang karena kami harus check-out hostel pukul 10.00 pagi. Barang yang harus dimasukkan ke dalam koper cukup banyak. Tidak lupa malam sebelumnya saya sudah membeli bagasi penerbangan AirAsia hingga Jakarta untuk beban 25 kg seharga ¥6.000. Saya cukup percaya diri dengan pembelian bagasi dengan beban 20 kg untuk barang saya dan Reza, namun saya menambahkan 5 kg untuk jaga-jaga jika muatan berlebih. 

Setelah mandi dan pengemasan selesai, Adi akhirnya tiba di hostel kami sekitar pukul 9.30. Kami pun segera check-out dan menitipkan barang bawaan kami di samping meja resepsionis untuk kami ambil sore nanti karena penerbangan kami baru tengah malam.

Kami menghabiskan hari ini sebagian besar untuk mencari oleh-oleh. Tidak seperti perjalanan-perjalanan saya lainnya, kali ini memang banyak teman yang menitipkan oleh-oleh. Padahal saya tidak mengumumkan kepergian saya sebelumnya. Bagaimanapun, saya tetap memenuhi permintaan teman-teman saya tersebut. Salah satu teman titip 浴衣‎ (yukata), yang untungnya mudah didapatkan di Nakamise-dori Arcade yang berlokasi di sebelah hostel. Harganya cukup murah, yaitu ¥2.835 untuk satu set yukata berikut 帯 (obi -sabuk) di salah satu toko di sini. Yang melegakan adalah toko ini menerima pembelian dengan kartu kredit dari Indonesia. Saya juga membeli camilan khas Jepang untuk teman-teman kantor di toko lainnya.

Keramaian Nakamise-dori Arcade

Puas berbelanja di sini, kami melanjutkan berbelanja kembali di Asakusa Rox, sebuah pusat perbelanjaan tidak jauh dari Kuil Sensoji, di mana terdapat toko Uniqlo, Daiso, dan ABC-Mart. Kami berbelanja cukup lama di sini, karena Adi harus ke hostel untuk meminta temannya yang menitipkan oleh-oleh untuk transfer uang ke rekeningnya, lalu ke ATM di 7-Eleven di samping Asakusa Culture Tourist Information Center untuk menarik sejumlah uang. Betul, kami bisa mengambil uang Yen di ATM di Jepang dengan menggunakan kartu debit Indonesia. Tentu dengan sejumlah biaya, yaitu administrasi dan kurs mata uang. Tapi tidak ada yang keberatan membayar biaya untuk membeli barang di sini karena kualitasnya yang bagus.

Saya dan Reza membeli beberapa setel pakaian di Uniqlo dan suvenir di Daiso, yaitu toko semua barang dengan harga ¥100. Adi membeli sepasang sepatu Puma di ABC-Mart, sebuah toko sepatu yang terkenal di Jepang. Ia bilang model sepatu tersebut belum ada di Indonesia dan harganya lebih murah jika dibandingkan dengan model serupa di Indonesia.

Setelah puas mencari oleh-oleh, kami bergegas ke tujuan kami hari ini, Istana Kekaisaran Tokyo dan Akihabara. Memang kami batasi hanya di dua tempat tersebut karena takut waktu tidak cukup lagi jika harus bepergian ke banyak tempat. Ditambah uang bekal kami sudah menipis dan digantikan dengan isi koper yang makin penuh dan tagihan yang perlu dibayar sepulangnya nanti.

Tujuan pertama adalah Istana Kekaisaran Tokyo yang terletak di distrik Chiyoda. Kami naik kereta Tokyo Metro Ginza Line hingga Stasiun Kanda dengan karcis ¥160, dilanjutkan dengan kereta JR Chuo Line Rapid Service hingga Stasiun Tokyo. Kami sampai di Stasiun Tokyo pukul 15.00 dan langsung menuju Istana Kekaisaran Tokyo. Daerah sekitar istana merupakan pusat perkantoran yang sore itu pedestrian tampak lengang, sebagian besar pegawai sedang bekerja di gedung-gedung tersebut.

Sebelum kami tiba di istana, kami melewati sebuah taman yang indah. Jika boleh saya analogikan, seperti Pojok Benteng di Yogyakarta. Yang membuat saya kagum adalah kebersihan tempat ini dan beberapa warga yang bersantai di sini. Saya belum pernah menemukan taman umum yang berdekatan dengan pusat bisnis.


Taman Asri di Kawasan Bisnis

Sayangnya kami tidak bisa masuk ke Istana Kekaisaran Tokyo. Saya sebelumnya tidak riset apakah kami bisa masuk ke dalam. Hanya saja saat itu memang banyak polisi yang berjaga-jaga ketat di setiap pintu masuk. Sebuah van polisi juga berjaga di salah satu sudut. Petugas wanita di dalam van mengumumkan sesuatu dalam bahasa Jepang kepada pengguna jalan. Akhirnya kami putuskan kembali ke Stasiun Tokyo untuk menuju ke Akihabara.

Salah Satu Sudut Istana Kekaisaran Tokyo

Namun tidak jauh dari istana, ketika saya sedang mengambil foto taman, tiba-tiba pasukan berkuda muncul dari arah istana. Mereka mengawal dua buah kereta kencana dengan beberapa orang di dalamnya. Orang di dalam kereta tersebut adalah tamu kehormatan Kaisar yang sedang diajak berkeliling istana. Sedangkan vann polisi tadi ternyata menginformasikan adanya penutupan sementara lalu lintas karena tamu kenegaraan yang akan melintas.

Pasukan Berkuda

Kereta Kencana

Setelah melihat pemandangan langka ini, kami kembali ke Stasiun Tokyo untuk menuju ke Akihabara. Saat berjalan ke arah Stasiun Tokyo baru terlihat arsitektur stasiun yang kontras dengan gedung pencakar langit yang menjadi latarnya. Dari Stasiun Tokyo menuju Akihabara kami menggunakan kereta JR Yamanote Line dengan karcis ¥130. 

Stasiun Tokyo di Tengah Gedung Pencakar Langit

Fasad Luar Stasiun Tokyo

Kubah Utara Stasiun Tokyo

Keluar dari pintu Stasiun Akihabara, yang nampak pertama kali adalah demografi muda yang mengunjungi kawasan ini. Akihabara terkenal dengan subkultur おたく (otaku), yaitu orang yang tergila-gila dengan kebudayaan pop Jepang termasuk barang elektronik atau video game. Di depan stasiun, tampak AKB48 Cafe & Shop, yaitu kafe tempat fans bisa makan sambil mendengarkan musik atau menonton video klip AKB48, sebuah girl band populer di Jepang. Di depan kafe, terdapat papan yang berisikan nama anggota yang siap dipilih penggemar untuk menjadi penyanyi utama dalam single grup berikutnya. Saya tidak mengikuti perkembangan grup ini, kecuali tahu mereka turut menyumbang sebuah lagu yang berjudul Sugar Rush dalam film Wreck-it Ralph.

AKB48 Cafe & Shop

Foto Personel AKB48 di Depan Kafe

Di Akihabara kami sempat menemukan maid cafe, sebuah kafe dimana pramuniaganya semua berpakaian a la pelayan. Namun kami lebih tertarik untuk masuk ke salah satu toko bebas pajak (duty free) untuk membeli oleh-oleh yang belum didapatkan. Saya membeli KitKat Matcha yang sangat populer. Saya kehabisan uang dan kartu kredit ditolak karena melebihi batas pinjaman bank. Saya meminjam uang dari Reza untuk mensiasati ini.

Salah Satu Sudut Kawasan Akihabara

Maid Cafe

Setelah selesai kami makan di salah satu restoran di sini. Walaupun canggih untuk pemesanan makanannya, yaitu menggunakan PC layar sentuh, namun cukup mahal. Saya tidak teliti dalam melakukan riset dan hal ini membuat kami harus membayar sekitar ¥2.000 untuk tiga orang.

Kami akhirnya meninggalkan Akihabara untuk menuju Asakusa menggunakan kereta Tokyo Metro Hibiya Line disambung dengan Toei Subway Asakusa Line dengan karcis ¥260. Walaupun nama kereta berbeda, tapi kami tidak perlu berganti kereta untuk sampai ke Asakusa. 

Setelah berkemas memasukkan seluruh barang belanjaan kami hari ini ke dalam koper dan tas masing-masing, kami lalu berpamitan dengan resepsionis. Adi memberikan makanan perbekalan kepada resepsionis karena tasnya menjadi berat dan penuh jika harus membawa makan tersebut kembali ke Indonesia. Kami beranjak ke Bandar Udara Internasional Haneda pukul 20.00 dengan menggunakan kereta Toei Subway Asakusa Line disambung dengan Keikyu Airport Express dengan harga karcis ¥600. Kami kembali tidak perlu turun untuk berganti kereta karena hanya berganti nama saja.

41 menit kemudian, kami tiba di Bandar Udara Internasional Haneda. Karena counter check-in baru buka pukul 22.00, saya bolak balik ke Lawson untuk menghabiskan uang receh yang tersisa dalam kantong. Uniknya, tidak seperti di Bandar Udara Internasional Soekarno - Hatta dimana harga barang di minimarket lebih mahal dibanding di minimarket di luar bandara, di sini harganya sama saja. 

Pukul 22.15, saya mengantre check-in untuk memasukkan bagasi. Namun ternyata, walaupun kami sudah melakukan web check-in sebelumnya dan sudah memegang boarding pass dari AirAsia X, kami diwajibkan untuk melakukan check-in ulang di salah satu konter ANA yang melayani penumpang AirAsia X. Hal ini mirip dengan kewajiban untuk check-in ulang di Bandar Udara International Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, Vietnam.

Ketika Adi dan Reza menunggu saya memasukkan koper ke dalam bagasi, tadinya saya pikir tidak perlu check-in ulang bagi pemegang boarding pass, mereka berdua didatangi oleh dua petugas kepolisian yang berjaga di bandara. Mereka ditanyai akan ke mana dan diminta untuk menunjukkan paspor dan dicatat identitasnya. Mungkin tindak tanduk mereka sedikit mencurigakan. Tapi karena dokumen lengkap, kedua polisi tadi mengucapkan terima kasih dan selamat jalan.

Petugas Jepang tegas dalam penegakan peraturan penerbangan, setiap penumpang hanya diperbolehkan membawa 1 tas ke dalam kabin dengan berat maksimum 7 kg dan ukuran yang telah ditentukan. Untung beban koper saya 22 kg, lebih ringan dari pembelian 25 kg saya. Namun, tas punggung yang saya bawa juga ditimbang dan beratnya 8 kg, lebih berat 1 kg dari ketentuan. Hal ini rupanya dibolehkan karena saya masih ada kelebihan 3 kg dari pembelian bagasi. 

Malang bagi Adi, karena ia membawa dua buah tas, ia harus membayar ekstra bagasi. Sebagai perbandingan ketatnya peraturan di Bandar Udara Internasional Haneda, ketika berangkat dari Jakarta dan Kuala Lumpur seminggu sebelumnya, ia diperbolehkan membawa kedua tas ke dalam kabin. Tapi untungnya ia sudah menyisihkan uang yang tadi siang diambil dari ATM untuk berjaga-jaga, sehingga hal ini tidak menjadi masalah. 

Pukul 23.00, kami masuk untuk menuju waiting room di gerbang 134. Karena letaknya cukup jauh, kami melewati sejumlah toko bebas pajak (duty free) seperti di Asakusa. Yang menarik, barang-barang ikonik Jepang, seperti KitKat Matcha juga dijual di sini dengan harga yang sama ketika siang tadi saya beli! Banyak barang lain yang dijual seperti yukata, yang ketika saya teliti buatan Indonesia seharga ¥2.500. Lalu norin yang mirip dengan yang saya temui di Kobo-san, Kyoto tempo hari tapi di sini harganya jauh lebih murah, dll.

Pukul 23.30, seluruh penumpang mulai memasuki pesawat. Tidak ada garbarata seperti di Jakarta atau Kuala Lumpur, dan penumpang diantar ke tempat pesawat parkir dengan bus milik maskapai ANA agak jauh dari lokasi gerbang terminal. 

Pukul 23.45, penumpang sudah masuk seluruhnya di pesawat dan pilot menyambut penumpang serta mengumumkan rencana penerbangan malam itu. Kami bertolak pukul 23.50, sedikit lebih cepat dari jadwal menuju Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur. Di pesawat, saya menghabiskan waktu dengan tidur. Pukul 06.35 waktu setempat kami tiba di Kuala Lumpur, dan melanjutkan penerbangan ke Jakarta pukul 09.50. Karena fly-thru, kami tidak keluar imigrasi kali ini dan langsung melanjutkan masuk ke ruang keberangkatan. Tepat pukul 09.50, pesawat bertolak ke Jakarta dan tiba pukul 10.50 WIB. Perlu waktu sekitar 45 menit untuk proses imigrasi, menunggu koper lalu proses bea dan cukai. Koper saya sempat dicurigai oleh petugas bea dan cukai, dan diminta untuk dibuka. Setelah diinterogasi membawa apa di dalam koper dan mengapa dari Malaysia, saya jelaskan sejujurnya. Puas dengan jawaban tersebut, saya diperbolehkan keluar wilayah bea dan cukai. Saya dan Reza lalu naik taksi sementara Adi naik bus Damri pulang ke rumah masing-masing

(Selesai)

Piknik Jepang 23 Mei 2013 - Tokyo (Bagian 1)

Kami berencana tinggal di Tokyo selama dua hari. Karena banyak tempat wisata di sini dan mustahil untuk dikunjungi semua dalam dua hari, kami hanya memilih beberapa tempat yang disepakati. Di hari pertama, karena kelelahan fisik selama 5 hari terakhir berpetualang, kami sepakat baru mulai menjelajah Tokyo di siang hari. Paginya, saya manfaatkan waktu untuk laundry di hostel menggunakan laundry koin yang tersedia dan beristirahat di kamar.

Pukul 12.30 siang, Adi menghampiri saya dan Reza di hostel dan kami mulai berkeliling setelah makan siang di restoran gyudon dekat hostel. Kami mengambil rute jalan kaki di area Asakusa tempat kami menginap hingga Tokyo Skytree. Kami mengawali perjalanan dari 雷門 (Gerbang Kaminarimon), yang berupa lentera raksasa yang terbuat dari kayu dan melambangkan Dewa Petir dan Angin, sebagai pintu masuk 浅草寺 (Kuil Sensoji). Kuil Sensoji atau yang lebih dikenal sebagai Kuil Asakusa Kannon terdiri atas beberapa bangunan, dan bangunan utama kuil dipersembahkan bagi Dewi Kannon atau Dewi Welas Asih. Kuil ini dipercaya didirikan pada awal abad ke-7 masehi oleh tiga orang nelayan setempat setelah mereka menemukan sebuah patung kecil Kannon (hanya berukuran 5 cm) di jaring mereka.

Pagoda Kuil Sensoji

Kami tidak lama di Kuil Sensoji, karena kami berencana untuk kembali lagi esok pagi untuk mencari oleh-oleh di Nakamise-dori Arcade, yaitu jalan yang menghubungkan Kuil Sensoji dengan Gerbang Kaminarimon, yang ramai oleh toko cinderamata yang terkenal murah. Kami lalu berjalan ke bagian belakang Kuil Sensoji dan sayup-sayup saya mendengar jeritan riang anak-anak. Ternyata saya melewati 浅草花やしき (Hanayashiki), sebuah wahana permainan anak-anak yang jika dilihat dari tampilannya sudah berusia cukup tua. Tiket masuk Hanayashiki adalah ¥900 untuk dewasa.

Hanayashiki

Setelah sampai jalan besar, bangunan Tokyo Skytree terlihat menjulang. Kami lalu berbelok ke arah kanan mengikuti jalan raya tersebut ke arah Tokyo Skytree. Saya merasa cukup aneh, karena walaupun berstatus kota terpadat di dunia, tapi jalan raya siang itu cukup lengang dengan kendaraan bermotor dan orang di pedestriannya. Saya hanya bisa bergumam, mungkin ini disebabkan bahan bakar mereka tidak disubsidi tapi malah dikenakan pajak, sehingga masyarakat berpikir ulang untuk menggunakan kendaraan pribadi mereka.

Hal lain yang membuat saya terheran-heran adalah bangunan parkir mobil bertingkat. Sebetulnya tidak hanya di Tokyo, sejak di Osaka saya sudah melihat bangunan ini beberapa kali. Sayang, saya tidak sempat mencari tahu bagaimana mekanisme jika seseorang ingin memanfaatkan bangunan ini, apakah harus bertempat tinggal di dekat bangunan tersebut? Atau bebas dimanfaatkan siapapun yang kebetulan sedang berkunjung ke area tersebut?

Parkir Tingkat

Sekitar 15 menit berjalan kaki dari Kuil Sensoji, kami tiba di Sungai Sumida, sebuah sungai besar yang membelah Kota Tokyo. Namun, jangan bayangkan sungai ini jorok, berbau atau kumuh seperti sungai-sungai di Jakarta. Sungai Sumida yang saya amati bersih, tidak tampak sampah atau lumpur yang terbawa arus sungai. Di pinggir sungai, tampak taman-taman yang terawat dan dipenuhi bunga-bunga yang bersemi. Tampak beberapa orang sedang menikmati jalan santai di taman-taman ini. Di kejauhan, tampak kereta api hilir mudik di atas jembatan yang membelah sungai ini. Sangat menyenangkan bagi saya seorang penyuka kereta api melihat pemandangan ini. Jika tidak diingatkan oleh teman saya, saya bisa seharian di 言問橋 (Jembatan Kototoibashi) ini dan tidak melakukan apa pun.


Sungai Sumida

Tidak jauh dari Jembatan Kototoibashi, ketika sedang mengambil foto 牛島神社 (Kuil Ushijima), saya tidak sengaja mempergoki sepasang suami istri yang baru melangsungkan upacara pernikahan. Pasangan berbahagia tersebut tengah dalam balutan busana tradisional Jepang dan baru saja keluar bangunan kuil. Seorang fotografer sedang bersiap-siap mengambil foto pernikahan pasangan ini di depan bangunan kuil.


Beberapa saat kemudian, kami tiba di Tokyo Skytree. Bangunan ini adalah menara telekomunikasi tertinggi di dunia dengan tinggi 634 meter persegi dan baru diresmikan tahun lalu, dan bangunan tertinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa, Dubai. Sayangnya, karena biaya untuk naik ke dek pengamatannya cukup mahal, kami hanya mengunjungi sampai stasiunnya saja. Setelah itu kami menumpang kereta lokal Tobu Skytree (¥140) kembali ke Stasiun Asakusa untuk bertolak ke Stasiun Shibuya menggunakan kereta Tokyo Metro Ginza Line dengan harga karcis ¥230.

Tokyo Skytree dilihat dari Jembatan Kototoibashi

Tokyo Skytree



Rute Jalan Kaki Asakusa - Tokyo Skytree

40 menit kemudian, kami tiba di kawasan 渋谷区 (Shibuya). Salah satu pusat kota Tokyo ini terkenal dengan penyeberangan jalan yang terkenal sangat ramai di depan Stasiun Shibuya. Di depan stasiun ini juga berdiri patung anjing Hachiko yang setia menunggu kepulangan tuannya hingga mereka berdua wafat. Patung ini melambangkan kesetiaan hewan peliharaan dan banyak dikunjungi wisatawan yang berkunjung ke Tokyo. Foto penyeberangan Shibuya yang ikonik adalah salah satu tujuan utama Reza ke Jepang. Saya membiarkan ia dan Adi mengambil foto sebanyak-banyaknya di tempat ini. Melihat banyaknya pusat perbelanjaan di sini dan mode yang digunakan orang-orang di sini, tidak salah rasanya pendapat yang mengatakan Tokyo adalah salah satu ibukota mode dunia, selain kota New York, Paris dan Milan. Kami sempat masuk ke salah satu toko yang menjual pernak pernik berbagai karakter Disney.



Penyeberangan Jalan di Shibuya

Puas mengambil foto di Shibuya, kami melanjutkan perjalanan ke Kuil Meiji. Untuk itu kami berjalan kaki ke arah utara melewati studio televisi NHK放送センター (NHK Broadcast Center Studio Park) dan NHK Hall. Kedua rekan saya berharap bisa bertemu dengan salah satu artis idola mereka, yang saya ragukan bisa terwujud, karena tempatnya tampak tertutup dan dijaga ketat di pintu masuknya. Setelah melewati studio kami berbelok ke kanan melewati pusat olahraga Yoyogi yang terletak di seberang Taman Yoyogi. Bangunan utamanya mirip piring terbang yang futuristik. Di sebelah 代々木公園 (Taman Yoyogi), berdiri 明治神宮 (Kuil Meiji). Kuil Shinto ini didirikan untuk menghormati mendiang Kaisar Meiji dan istrinya Permaisuri Shoken yang mahsyur dengan Restorasi Meiji pada akhir abad ke-19 yang berhasil membuat Jepang setara, baik dari sisi ekonomi maupun militer, dengan negara-negara adidaya dari barat.


NHK Broadcast Center Studio Park

Pusat Olahraga Yoyogi


Jalan menuju bangunan kuil melewati hutan kecil yang menyegarkan. Di jalan setapak sebelah kiri ini terdapat drum anggur yang berasal dari Provinsi Bourgogne. Drum-drum anggur ini diberikan oleh pembuat anggur di Perancis kepada Kuil Meiji sebagai hadiah dan tanda persahabatan. Sedangkan di sebelah kanan, para pembuat sake Jepang juga tidak ketinggalan mempersembahkan hasil produksi mereka kepada kuil.

Jalan ke Kuil Meiji

Pengunjung Beristirahat di Taman

Deretan Drum Anggur Provinsi Bourgogne, Perancis

Drum Anggur Sumbangan Philippe Pacalet


Drum Sake

Kuil Meiji sore itu cukup ramai oleh pengunjung, baik wisatawan asing yang berkunjung maupun warga Tokyo yang ingin bersembahyang. Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Bangunan utama kuil diapit oleh dua pohon besar yang mengingatkan saya dengan Ringin Kembar di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta. Mungkin ada kesamaan filosofi antara kedua aristokrasi ini. 

Ringin Kembar

絵馬 (Plakat Doa)

Dari Kuil Meiji, kami bergegas ke tujuan berikutnya, 竹下通り (Takeshita-dori) yang terkenal sebagai pusat mode pakaian Harajuku, karena jalan ini memang terletak di depan Stasiun JR Harajuku. Kembali, saya menemukan hal yang membuat saya terkagum-kagum dengan Jepang. Di sebelah Takeshita-dori, berdiri sebuah toko perlengkapan mendaki gunung dan kegiatan alam bebas. Lokasi toko yang berdampingan dengan salah satu pusat mode anak muda Jepang menunjukkan, kegiatan pecinta alam merupakan kegiatan yang banyak peminatnya dan tidak terpinggirkan seperti halnya di Indonesia. Banyak orang Jepang, baik pria maupun wanita, tua atau muda, yang menggandrungi kegiatan alam bebas. Sangat menarik. 

Toko Kegiatan Alam Bebas

Di Takeshita-dori, setiap orang bebas mengekspresikan dirinya dalam berpakaian. Jika orang tersebut nyaman mengenakan mode pakaian tersebut, silakan. Takeshita-dori merupakan tempat aktualisasi diri, agar tampak menonjol di antara kerumunan orang yang masing-masing berusaha ingin menonjol. Hal lain yang saya amati di sini adalah sepertinya setiap orang menenteng barang belanjaan masing-masing. Budaya konsumerisme masyarakat Tokyo sungguh luar biasa. Tentunya hal ini berpengaruh positif pada ekonomi kota.


Takeshita-dori

Dari Takeshita-dori, kami menuju Omotesando, sebuah jalan yang penuh dengan deretan toko-toko bermerek, seperti Dior, Gucci, dan masih banyak lainnya. Kami menyempatkan diri ke sebuah toko yang menjual suvenir dan mainan anak-anak, Kiddy Land. Saya membeli oleh-oleh kotak pensil bertema Disney dan norin bertema One Piece. 

Omotesando

Kiddy Land

Selesai dari sini, kami makan malam. Adi dan Reza membeli McD sedangkan saya memilih Tonkotsu Ramen di Kyusyu Jangara Ramen. Ramen ini merupakan salah satu ramen terenak di Tokyo dengan harga yang relatif murah, yaitu ¥1.000. Jika pada restoran lain saya makan dulu baru membayar, di sini kebalikannya. Saya harus membayar terlebih dahulu setelah memilih menu. Menurut saya, ini adalah salah satu mie terenak yang pernah saya makan. Kuah kaldu tidak terlalu kental, namun pas memberikan cita rasa yang lengkap. Dagingnya lembut dengan sedikit lemak, tapi tidak membuat enek. Jika ada satu hal yang kurang menurut saya, itu adalah tidak adanya kerupuk.

Tonkotsu Ramen

Kyusyu Jangara Ramen

Ketika keluar dari restoran ternyata teman-teman saya belum selesai makan. Saya hanya mengambil foto-foto dan mengamati orang lalu lalang. Ada satu antrean di toko di samping saya yang menarik perhatian. Antrean tersebut cukup panjang namun tertib dan tidak ada yang menyelak atau aksi saling serobot. Setelah diberitahu Adi, ternyata mereka sedang antre toko yang menjual jagung manis dan digemari masyarakat Tokyo.

Tertib Antre

Saya mendengar cerita lucu dari Reza ketika dia dan Adi membeli burger di McD. Reza merasa rasa burgernya kurang pedas, karena itu ia meminta saos sambal ke kasir. Ia meminta dalam bahasa Inggris, tapi sang kasir perempuan malah tersipu. Reza mengulangi permintaannya beberapa kali, tapi kasir justru makin tersipu. Baru setelah ia menjelaskan dengan tangannya, kasir mengerti. Rupanya sang kasir menafsirkan kata ‘ketchup’ yang Reza ucapkan sebagai kata yang memintanya ia mencium teman saya di depan umum. Sayang saya tidak ada di sana untuk melihat sendiri bagaimana reaksi teman saya dan kasir tersebut.

Setelah kenyang dan masing-masing menenteng beberapa barang belanjaan, kami kembali ke Asakusa. Dari Stasiun Harajuku, kami naik kereta JR Yamanote Line ke Stasiun Shibuya dengan harga karcis ¥130, kemudian dilanjutkan dengan kereta Tokyo Metro Ginza Line dengan harga karcis ¥230. 30 menit kemudian kami telah sampai di hostel dan beristirahat untuk perjalanan terakhir di Tokyo esok hari.


Rute Jalan Kaki Shibuya - Omotesando

(bersambung)…

Piknik Jepang 22 Mei 2013 - Hakone

Kami tiba di depan Stasiun JR Hachioji, sebuah wilayah di pinggiran kota Tokyo pukul 07.00 setelah menempuh jarak 461 km. Satu jam sebelumnya, saya sudah terbangun berjaga-jaga jika bus tiba lebih awal dari jadwal seharusnya. Memang sejak pukul 05.30, bus beberapa kali berhenti untuk menurunkan penumpang. Ternyata bus tiba tepat pukul 07.00 sesuai jadwal. Ada hal menarik yang sempat saya perhatikan. Dalam perjalanan saya sempat mengintip dari balik tirai bus ketika memasuki jalan tol. Di gerbang tol, pengelola jalan tol ternyata membuat satu gerbang tol khusus untuk pengguna mobil yang memakai setir di sebelah kiri. Ide yang bagus dan menurut saya memberikan kebebasan kepada warganya untuk membeli mobil dalam negeri atau mobil impor yang menggunakan setir di kiri.


Rute Bus Willer Express Kyoto - Tokyo 

Walaupun kami telah tiba di Tokyo, kami baru akan check-in malam nanti dan menjelajah kota keesokan harinya. Hari ini kami akan menghabiskan waktu di 箱根 (Hakone), salah satu kota resort terpopuler di Jepang. Hakone terletak di Prefektur Kanagawa yang berdekatan dengan Metropolitan Tokyo, dan bisa dicapai dengan kereta api dari Stasiun Shinjuku, Tokyo dengan waktu tempuh 1.5 jam perjalanan. Hakone diapit oleh Gunung Fuji di sebelah barat dan Semenanjung Izu dan Samudera Pasifik di sebelah timur. Pada zaman feodal dahulu, Hakone merupakan pos pemeriksaan yang sangat penting untuk memeriksa pendatang yang akan memasuki Kota Edo (Tokyo) tempat Shogun berdomisili.

Jika saya dapat menarik kesimpulan, Hakone mirip dengan Puncak, di daerah Bogor - Cianjur, Jawa Barat. Hanya saja yang membedakan, perjalanan ke dan selama di Hakone dapat dilakukan sepenuhnya dengan transportasi umum dan lingkungan di sini sebagian besar masih asri dan rindang oleh pepohonan, tidak seperti Puncak yang penuh dengan villa dan pedagang di pinggir jalan.

Dari Stasiun Hachioji kami naik kereta lokal JR Yokohama Line menuju Stasiun Machida (¥290) untuk selanjutnya berganti kereta ekspres Odakyu Odawara hingga Stasiun Odawara (¥570). Di sini saya merasakan bagaimana kehidupan komuter di Jepang. Sejak di Stasiun Machida, kereta memang cukup penuh. Saya lalu mengambil posisi berdiri di pojok dekat pintu terjauh. Namun, di beberapa stasiun berikutnya jumlah penumpang justru bertambah. Padahal sudah agak siang, sekitar jam 08.10. Mungkin karena jam kerja di sini yang baru dimulai pukul 09.00 yang menjadikan waktu tersebut sebagai waktu tersibuk. Untungnya, di Stasiun Isehara, sebagian besar penumpang turun, dan saya dan teman-teman dapat bernafas lega. Kami saling tersenyum karena sudah disambut dengan kesibukan Tokyo yang dikenal sebagai kota metropolitan terpadat di dunia.

Sekitar pukul 08.33, kami tiba di Stasiun Odawara. Stasiun ini merupakan pintu gerbang menuju Kawasan Hakone. Kami menitipkan koper dan tas di salah satu loker koin, dan hanya membawa tas kecil. Kami juga membeli Hakone Free Pass. Dengan pass ini kami dapat naik gratis seluruh transportasi umum di Hakone. Jika membeli pass di Stasiun Odawara, harganya ¥3.900 untuk dua hari. Kami diberitahu cara membeli Hakone Free Pass oleh seorang pramuniaga yang berjaga di depan Odakyu Sightseeing Service Center, jika menggunakan uang tunai kami dapat membelinya di mesin penjual tiket yang banyak jumlahnya. Memang rasanya cukup mahal karena kami hanya berkunjung seharian di sini. Tapi belakangan saya merasa bersyukur telah mengunjungi Hakone.

Kereta Hakone Tozan Railway Menuju Hakone-Yumoto

Hakone Free Pass Dan Rencana Perjalanan Kami di Hakone

Tujuan pertama kali adalah Hakone-Yumoto, sebuah kota kecil yang menjadi pintu masuk ke Hakone. Dari Stasiun Odawara kami naik kereta Hakone Tozan Railway. Perjalanan sejauh 6,1 km memakan waktu 15 menit. Di Hakone-Yumoto, kami mencoba pemandian air panas, onsen, di salah satu penginapan di sana, Kappa Tengoku. Biayanya ¥750 per orang. Air panas di onsen ini didapatkan dengan mengebor bebatuan ratusan hingga ribuan kilometer ke bawah tanah. Ini merupakan pertama kalinya saya mandi di onsen. Caranya sedikit berbeda dengan cara mandi biasa, yaitu pertama kali membersihkan badan di salah satu bilik kecil, dan setelah dibilas bersih baru diperkenankan berendam di kolam air panas. Suhu kolam menurut saya optimum, hingga mencapai 38º Celcius. Rasa lelah setelah beberapa hari berjalan menelusuri kota-kota di Jepang seakan ikut menguap.




Onsen Kappa Tengoku

Selesai mandi dan merasa segar, kami kembali ke Stasiun Hakone-Yumoto untuk naik kereta Hakone Tozan Railway hingga Gora. Perjalanan menempuh jarak 8,9 km dengan memakan waktu 39 menit. Lamanya waktu disebabkan karena lintasan rute cukup curam, dan kereta harus bergantian menggunakan rel tunggal dengan kereta yang turun dari Stasiun Gora menuju Stasiun Hakone-Yumoto. Namun perjalanan tidak terasa karena kondektur menerangkan tempat-tempat yang menarik selama perjalanan sembari bercanda gurau dengan penumpang. Salah satu tujuan utama wisata di Hakone yang dilalui rute kereta ini adalah 箱根 彫刻の森美術館 (Hakone Open-Air Museum), turun di Stasiun Chokoku-no-Mori, yang berisi koleksi kesenian akhir abad 19 dan abad 20. Terdapat pula Museum Picasso yang berisi koleksi maestro Pablo Picasso. Biaya masuknya adalah ¥1.600. Pukul 12.04, kami tiba di Stasiun Gora.

Karena sudah waktunya makan siang, saya makan di salah satu restoran keluarga yang cukup terkenal di daerah Gora, yaitu とんかつ 里久 (Tonkatsu Rikyu), yang dijalankan oleh sepasang suami istri. Saya memesan rosu katsu atau sirloin seharga ¥2.400. Sambil menunggu daging digoreng, acar timun, dan tahu dingin dihidangkan sebagai makanan pembuka. Sekitar 10 menit kemudian, makanan utama telah siap. Saya cukup terkejut karena dagingnya lembut dan walaupun digoreng namun tidak banyak minyak. Porsinya juga sangat mengenyangkan dengan irisan kubis yang melimpah. Selain itu kuah gurih yang berisi kerang menjadi kejutan manis. Jika masih lapar, pembeli dapat menambah nasi dengan gratis.

Restoran Tonkatsu Rikyu

Pemilik Restoran

Makanan Pendamping

Rosu Katsu

Wayang Raden Nakula Tergantung di Dinding Restoran Tonkatsu Rikyu

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Sounzan menggunakan kereta Hakone Tozan Cable Car. Walaupun namanya kereta gantung (cable car), namun wujud fisiknya adalah funicular train seperti yang pernah saya naiki di Penang, Malaysia. Perjalanan sejauh 1,2 km ditempuh dalam waktu 9 menit. Di stasiun Koen-Kami pada rute ini terdapat Museum Seni Hakone yang berisi koleksi kerajinan tangan dan porselen dari Jepang. Di halaman museum terdapat taman bambu dan lumut. Biaya masuk museum ini adalah ¥900.


Hakone Cable Car

Dari Stasiun Sounzan, kami berganti moda transportasi menjadi kereta gantung menuju 大涌谷 (Owakudani). Sama seperti ketika saya naik Kincir Raksasa Tempozan, di kereta gantung juga ada penjelasan mengenai daerah yang dilalui melalui rekaman audio. Harus saya akui, pemandangan dari atas kereta gantung sangat luar biasa. Di kejauhan terlihat pegunungan dan kawasan hutan yang hijau sementara kereta gantung melintasi hutan di bawahnya. 5 menit kemudian kami tiba di Owakudani. Owakudani merupakan kawah purba Gunung Kamiyama. Seluruh lereng di kawasan ini mengeluarkan asap sulfur dan air panas. Sebagian air panas dialirkan ke tempat lain sebagai sumber air.

Kereta Gantung Sounzan - Owakudani

Hakone Dari Atas Kereta Gantung




Owakudani

Sekilas, Owakudani mirip dengan objek wisata Tangkuban Parahu di Lembang atau Kawah Putih di Ciwidey, Jawa Barat. Di sini, banyak dijual kudapan telur rebus yang dipanaskan di air yang keluar dari kawah. Karena kandungan sulfur yang tinggi, kulit telur berubah menjadi berwarna hitam. 5 butir telur dijual seharga ¥500. Untuk menarik pengunjung, terdapat mitos yang mengatakan jika seseorang memakan sebutir telur maka umur akan bertambah hingga beberapa tahun. Pengunjung juga dapat berjalan kaki ke tempat perebusan telur yang berjarak sekitar 1 km dari Stasiun Owakudani.


Pembeli Telur Rebus Menikmati Kudapan

Telur Baru Diangkat Setelah Direbus

Telur Yang Sudah Dibungkus Siap Didistribusikan

Puas di Owakudani, sekitar pukul 14.15, kami melanjutkan naik kereta gantung ke Stasiun Togendai di pinggir Danau Ashi. Jika cuaca sedang cerah, Gunung Fuji dapat terlihat dengan jelas dari kereta gantung ini. Namun, karena Gunung Fuji sedang tertutup awan, walaupun cuaca di sekitar Hakone sedang cerah, kami tidak bisa melihat gunung sakral tersebut. Perjalanan dari Stasiun Owakudani menuju Togendai memakan waktu sekitar 15 menit, dan mendekati tujuan dari kejauhan kami dapat melihat Danau Ashi yang biru.

Kereta Gantung Owakudani - Togendai

Kapal Wisata Danau Ashi

Di Stasiun Togendai, kami setengah berlari mengejar kapal wisata yang dibuat mirip galeon, kapal layar kuno pada masa lampau. Untungnya kami tidak tertinggal. Sejujurnya, kapal wisata ini merupakan pengobat kekecewaan dan pengganti yang ideal setelah beberapa hari sebelumnya kami gagal naik Kapal Santa Maria di Pelabuhan Osaka. Kapal wisata ini mengarungi Danau Ashi yang terletak pada ketinggian 725 meter di atas permukaan laut. Danau Ashi dengan luas 21 km persegi dan mempunyai wilayah air seluas 680 hektar merupakan salah satu destinasi utama di kawasan Hakone. Danau ini banyak berisi ikan black bass dan salmon yang menjadikan kegiatan memancing menjadi salah satu kegiatan primadona di sini selain kegiatan menjelajahi danau menggunakan kapal. Jika cuaca cerah, bayangan Gunung Fuji tampak pada permukaan air danau. Sayangnya, hari itu awan menyelimuti Gunung Fuji dan kami hanya menikmati pemandangan di sekitar danau.


Kapal Wisata Danau Ashi

Danau Ashi

Suasana di Hakone-machi

Perjalanan menuju Hakone-machi menggunakan kapal wisata ini memakan waktu 30 menit. Walaupun tampak seperti kapal layar, tapi sebenarnya ini adalah kapal bermesin yang sangat diperhatikan pemeliharannya. Kapal bergerak cepat mengarungi danau yang tenang. Pukul 15.30, kami telah tiba di Hakone-machi. 

Di sini, terdapat 箱根関 (Hakone Sekisho). Pada masa Edo, jaringan jalan nasional dikembangkan besar-besaran oleh pemerintah. Bersama dengan itu, banyak sekisho (pos pemeriksaan) yang dibangun dengan tujuan pemeriksaan orang yang bepergian dan barang muatan mereka. Hakone Sekisho yang terletak di sebelah selatan Danau Ashi merupakan salah satu pos pemeriksaan terpenting. Upaya restorasi yang sesuai sejarah telah dilakukan pada tempat yang dulu berdiri Hakone Sekisho asli. Di sini berdiri museum kecil yang menampilkan artifak pada masa itu, seperti dokumen perjalanan, catatan petugas dan persenjataan samurai. Beberapa menit berjalan kaki ke arah utara, pengunjung akan menemukan Rute I, yaitu rute kuno yang tersisa yang dahulu digunakan oleh pelintas wilayah pada masa Edo. Di samping kanan kiri Rute I terdapat deretan pohon cedar yang telah berusia 350 tahun. Untuk masuk ke sini, pengunjung dikenakan biaya ¥500.

Perjalanan kami di Hakone berakhir sudah, dan kami akan menuju Tokyo. Dari Hakone-machi, kami menggunakan bus Odakyu menuju Stasiun Odawara. Perjalanan menempuh rute yang sama dengan ketika berangkat, hanya yang membedakan adalah kami kini menggunakan bus melewati jalan rayanya. Akhirnya kami tiba di Stasiun Odawara setelah menempuh waktu 1 jam.

Bus Odakyu Tujuan Stasiun Odawara

Setelah mengambil koper dan tas di loker, kami menuju daerah 浅草 (Asakusa), Tokyo tempat penginapan kami berada. Dari Stasiun Odawara, kami naik kereta Odakyu Limited Express dengan karcis ¥850. Karena takut pengalaman tadi pagi ketika penumpang berdesakan di daerah Tokyo, saya menaruh koper di tempat menaruh barang di atas. Untungnya, kereta sore itu tidak seramai pagi hari. Sekitar 1 jam 15 menit kemudian kami tiba di Stasiun Shinjuku, Tokyo. 

Kereta Odakyu Limited Express

Tadinya saya berpikiran untuk mengunjungi Tokyo Metropolitan Government Building sore itu, namun karena kelelahan akibat tidak tidur yang kurang nyenyak di bus semalam, kami langsung mencari kereta ke Asakusa. Namun, saya mengalami kesulitan karena tidak bisa memastikan kereta apa yang akan digunakan dan berapa karcis yang harus dibeli dari mesin penjual tiket karena peta jaringan ditulis dalam huruf kanji, tanpa furigana atau romaji. Untungnya, seorang gadis muda melihat kebingungan saya tersebut dan menanyakan ke mana tujuan saya menggunakan bahasa Inggris dengan dialek Amerika yang sempurna. Setelah saya jelaskan bahwa kami ingin ke Asakusa, ia lalu dengan sigap menanyakan rute kereta ke Asakusa kepada petugas stasiun yang berjaga di sana dalam bahasa Jepang dan meminta peta jaringan kereta bawah tanah yang ditulis dalam bahasa Inggris. Gadis ini kemudian menjelaskan kembali kepada saya dalam bahasa Inggris dan memberikan saya peta sebagai panduan. Setelah saya mengucapkan terima kasih banyak, ia lalu meninggalkan kami. Harus saya akui, ia sangat atraktif dan sangat membantu. Ia memberikan saya kesan pertama yang baik pada Kota Tokyo.

Dari Shinjuku, kami menumpang kereta bawah tanah Toei Shinjuku Line hingga Stasiun Bakuro-Yokoyama, dan dilanjutkan dengan transfer kereta bawah tanah Toei Asakusa Line dari Stasiun Higashi-Nihombashi. Harga karcis dari Shinjuku hingga Asakusa ¥260. Sekitar pukul 20.00, kami akhirnya tiba di Asakusa.

Setelah saya dan Reza check-in di Khaosan Tokyo Kabuki, kami mengantarkan Adi yang menginap di K's House Tokyo Oasis, sekitar 5 menit berjalan kaki dari tempat kami menginap. Setelah itu kami makan malam dan mengakhiri perjalanan hari ini.

(bersambung)...