07 April 2013

Piknik Penang, Malaysia (28 Maret - 1 April 2013) - Hari Ketiga

Di hari ketiga ini, kami berencana untuk keliling George Town, sebuah wilayah di Penang yang pada tanggal 7 Juli 2008 bersama dengan Malaka tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Selain bangunan bergaya Victoria yang berakulturasi dengan gaya Cina Peranakan, tahun 2012 lalu Pemerintah Penang menghiasi penjuru George Town dengan beragam seni jalanan, salah satunya Ernest Zacharevic. Dia adalah seniman asal Lithuania yang sekolah seni di London, Inggris. Satu lagi yang terkenal dari George Town adalah makanannya yang hampir mirip dengan makanan di Indonesia, namun ada unsur budaya India, Tamil, dan Peranakan.

Bermodalkan peta dari flyer yang didapat Richard di Bandara Internasional Penang, kami memulai perjalanan dengan berjalan menuju Cathedral of the Assumption, sebuah gereja Katolik yang dahulu merupakan tempat kedudukan Kardinal Penang, namun sejak tahun 2003 pindah ke Cathedral of the Holy Spirit di Jalan Green Lane. Katedral yang dibangun tahun 1786 oleh Kapten Francis Light ini merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Cathedral of the Assumption di sore hari

Kemudian kami berjalan lagi ke gedung sebelah, yaitu Muzium Negeri Pulau Pinang. Karena bayar untuk masuk ke museum, kami hanya berfoto-foto di halaman. Di halaman ada beberapa koleksi museum seperti kereta funicular pertama di Penang Hill, mobil milik Gubernur Jenderal Penang yang terbunuh dalam penyergapan oleh penduduk Penang, dsb.

Penang Hill Funicular Train Generasi Awal 

Namun tempat yang menarik perhatian saya adalah High Court Building tepat di seberang jalan Muzium Negeri Pulau Pinang. Bangunan pengadilan ini dibangun tahun 1903 di atas tanah bekas gedung pengadilan sebelumnya yang dibangun tahun 1809. Pada tahun 2005, gedung ini ditetapkan Pemerintah Malaysia sebagai Situs Warisan Nasional. Dan kembali pada tahun 2007 dilakukan pemugaran besar-besaran dan menambahkan gedung baru di sebelahnya. Namun karena itu hari Sabtu, tidak tampak ada kegiatan di dalam.

Bangunan Penang High Court

Di samping Muzium Negeri Pulau Pinang berdiri bangunan St. George Church, gereja Anglikan tertua di Asia Tenggara dan terbesar di dunia di luar Britania Raya. Konon, biaya pembangunan gereja ini pada tahun 1818 lebih tinggi daripada nilai jual pulau Singapura pada waktu itu. Namun saya ragu dengan pernyataan itu. Turis, walaupun memeluk Anglikan, dilarang masuk gereja pada pagi itu. Mungkin karena di dalam sedang ada pekerjaan persiapan untuk menyambut paskah.

St. George Church

Dari sana kami berjalan menelusuri Jalan Masjid Kapitan Keling, dan menemukan Goddess of Mercy Temple. Kuil tampak ramai pagi itu yang terlihat dengan banyaknya orang yang bersembahyang dan asap dupa pekat di pelataran kuil yang menghalangi pandangan kami ke arah kuil. Kami putuskan untuk tidak mendekat dan melanjutkan perjalanan ke Little India.

Temple of Goddess Mercy

Kami sempat mampir ke Teochew Temple, bangunan dengan arsitektur khas Teochew, sebuah suku di Chaosan, Guangdong, Cina. Kuil ini dibangun tahun 1855 dan dipindahkan ke lokasi saat ini tahun 1870. Pada tahun 2006, kuil ini mendapat penghargaan atas pelestarian budaya dari UNESCO Asia Pasifik (Award of the Merit UNESCO Asia-Pacific for Culture Heritage Conservation).

 

Teochew Temple

Dari Teochew Temple, kami berbelok masuk ke kawasan Little India. Di sini kami menemukan Mahamariamman Temple, kuil Hindu yang dibangun tahun 1883 dan awalnya merupakan kuil sederhana yang dipersembahkan bagi Sri Muthu Mariamman. Di Little India, Diga dan Irma sempat membeli gelang sebagai buah tangan.

Mahamariamman Temple

Little India

Dari sana kami lalu berjalan hingga Tanjong City Marina, dan di sampingnya ada Church Street Pier. Lokasinya bersebelahan dengan tempat penyberangan feri dan terminal bus Jetty. Tadinya saya pikir ini merupakan gereja, tapi ternyata sebuah tempat hiburan malam. Dari tempat ini kami bisa melihat tempat penyeberangan feri dan pelabuhan tempat kapal pesiar sandar.

Bangunan U.A.B

Tanjong City Marina

Church Street Pier

Sudah pukul satu siang waktu setempat, kami putuskan untuk makan siang. Tempat tujuan kami adalah Sri Ananda Bahwan, sebuah restoran vegetarian khas India. Richard membeli South Indian Banana Leaf Set, sedangkan saya mencoba Tandoori Chicken. Saya kurang yakin apakah itu benar daging ayam, karena ini adalah restoran vegetarian, dan rasanya tidak terlalu mirip ayam yang sering saya makan. Rasanya cukup enak menurut saya. Untuk penutup, kami memesan jajanan pasar.

Halaman Depan Penang Peranakan Mansion

Restoran Sri Ananda Bahwan

Tandoori Chicken

Makanan Penutup (Wajik, Ketan, dan Lumpia Manisan)

Dari Sri Ananda Bahwan, kami menyempatkan diri ke Masjid Kapitan Keling, karena Diga ingin menunaikan sholat dzuhur. Di samping masjid ini ada penjual Nasi Biryani yang ramai oleh pengunjung saat siang. Namun kami tidak mencobanya karena sudah makan siang tadi. Kami merencanakan untuk makan di sini besok siang.

Masjid Kapitan Keling

Setelah itu, kami putuskan untuk mencari mural anak kecil yang digambar oleh Ernest Zacharevic, yang berlokasi di Lebuh Armenian. Lokasi mural tersebut terletak di sebuah pemukiman padat. Menurut saya, Lebuh Armenian adalah tempat yang paling banyak seni jalanan di George Town. Selain mural dua anak kecil bersepeda, saya menemukan mural pesulap lucu yang digambar di pintu sebuah toko. Ini adalah mural terlucu yang saya temukan. Ada juga mural Soo Hong Lane, gang tersempit di George Town, dan sebuah jam yang ditempatkan di tengah sepeda di sebuah bengkel sepeda.

Mural Favorit Saya 

Saya sependapat dengan peribahasa yang mengatakan jika ingin melihat apakah suatu kota kreatif atau tidak, lihatlah apakah kota tersebut mengizinkan seni tumbuh di jalanan kota tersebut. Penang adalah salah satu kota kreatif, banyak sekali instalasi seni yang dapat ditemukan. Memang, seni ini tidak seperti instalasi di Eropa yang memang sudah membudaya. Penang baru mulai melangkah, tapi langkah ke arah yang benar.

Dari Lebuh Armenian, kami mencoba mencari seni lainnya yang dibuat Ernest, yaitu mural "Anak Kecil dan Peliharaan Dinosaurusnya" yang saya pikir ada di jalan yang sama. Namun, hingga ujung Lebuh Armenian kami tidak menemukannya. Kami lalu berbelok ke arah Lebuh Aceh. Kejutan yang menyenangkan, kami menemukan salah satu karya Ernest lain, yaitu mural anak kecil yang ingin meraih sebuah minuman di belakang rumah orang.

Puas berfoto, kami kembali mencari mural anak kecil dengan dinosaurus, tapi tidak kunjung menemukannya. Alih-alih kami tiba di Clan Jetties, perkampungan etnis Cina di George Town yang dibangun di atas laut. Saat ini kondisinya jauh lebih baik dan ramah terhadap turis. Di sini kami bertemu dengan sekelompok backpacker dari Filipina, tidak bersapa, tapi saya merasa mereka ekstrem karena ke sini dengan membawa tas mereka, mungkin karena akan melanjutkan ke destinasi berikutnya.

Clan Jetties


Tujuan utama kami di Clan Jetties adalah melihat salah satu karya Ernest lainnya, yaitu sepasang kakak adik yang naik perahu. Sayangnya lukisan tersebut telah luntur. Kami hanya berfoto-foto di dermaga dan teman-teman saya belanja kaos di sini. 

Lukisan Ernest yang Sudah Pudar

Keluar dari Clan Jetties, waktu sudah sore. Kami putuskan untuk menyeberang ke Benua Asia dan wilayah Penang di daratan utama, yaitu Seberang Prai. Rencananya kami menyeberang lalu pulang kembali ke George Town dengan naik bus Rapid Penang via Jembatan Penang. Menyeberang ke Seberang Prai gratis jika dari George Town, sedangkan dari Seberang Prai ke George Town dikenakan biaya RM1.20.

Interior Feri Penang 

Penyeberangan memakan waktu sekitar 15 menit. Kami tiba di Penang Sentral. Dan di sinilah saya menyadari kekeliruan saya ketika memberi saran kepada Loic. Ternyata Penang Sentral dirancang mirip dengan KL Sentral, hanya memang sampai kami ke sana progres ke arah situ belum tampak. Di sana ada terminal bus antar kota, ke KL ada! Stasiun Kereta Butterworth jika ingin melanjutkan perjalanan ke Thailand atau KL (banyak yang menggunakan moda ini untuk ke KL). Jika saya menyarankan Loic untuk ke Penang Sentral, bisa jadi dia tidak harus membayar banyak untuk taksi ke LCCT.

Kesalahan kedua yang saya sadari di sini adalah ketika tidak menemukan Best A, B, atau C untuk kembali ke George Town. Ketika saya melihat kembali flyer baru saya menyadari kesalahan saya. Ternyata Rapid Penang Best A, B, atau C hanya beroperasi di hari Senin - Jumat. Sedangkan ini hari Sabtu. Duh. Saya lalu mengonfirmasi hal ini kepada petugas Rapid Penang, dan ternyata benar. Tidak ada Rapid Penang Best A, B, atau C yang beroperasi hari ini.

Saya berencana untuk pulang ke George Town menggunakan feri kembali. Tapi teman-teman mempunyai rencana lain. Karena sudah terlanjur, maka mereka menanyakan ada tempat wisata apa di Seberang Prai. Setelah berkonsultasi dengan peta di flyer, ada Penang Mega Mall yang bisa kami kunjungi. Dan kesanalah kami menggunakan bus 701. Perjalanan cukup lama, sekitar 25 menit sebelum kami tiba di mall tersebut. Halte bus tempat kami turun lebih mirip tempat untuk menaikturunkan barang ke mall ketimbang sebuah halte, tempatnya gelap dan terkesan kumuh. Sangat disayangkan. Namun jika dilihat, memang jarang ada turis yang ke tempat sini.

Tidak ada papan petunjuk yang menjelaskan di mana letak Penang Mega Mall. Kami berjalan mengikuti orang-orang lain yang turun di tempat itu ke arah bangunan di depan dan melewati deretan ruko yang kosong. Seorang warga setempat yang berjalan bersama kami menanyakan di mana Penang Mega Mall, kami pun menjawab tidak tahu. Tidak lama, kami sampai di pintu masuk ke mall tersebut, yang baru kami sadari setelah masuk merupakan pintu samping. Kami merasa lega karena embusan AC yang mendinginkan suhu tubuh kami yang dijemur matahari panas di George Town.

Mata Penang Mega Mall 

Tidak ada yang istimewa di Penang Mega Mall, padanan yang sesuai dengan mall serupa di Jakarta mungkin seperti ITC. Tidak ada eskalator ke lantai di atasnya, dan tidak ada anchor besar di dalamnya. Kami hanya melihat-lihat sebentar sebelum memutuskan untuk pulang ke Old Penang Guesthouse. Masalah kembali timbul ketika kami akan pulang. Saya pikir halte untuk kembali ke Penang Sentral letaknya ada di depan Penang Mega Mall, tapi saya lihat sekeliling tidak ada halte, saya putuskan untuk kembali ke tempat kami turun dan keputusan ini tepat, karena memang untuk rute ke Bukit Mertajam atau Penang Sentral, semuanya turun di halte yang sama. Kami kembali naik bus 701 ke Penang Sentral.

Karena kali ini harus membayar untuk naik feri, dan pintu masuk hanya bisa menggunakan koin, kami harus menukar di loket penukaran koin sebelum masuk. Menurut saya ini tidak efektif karena sering petugas loket mengembalikan koin dalam jumlah besar, padahal mesin hanya menerima pecahan yang kecil.

Senja di George Town

Sesampainya di Jetty, kami putuskan untuk naik bus Rapid Penang CAT, karena terlalu jauh jika harus berjalan kaki ke hostel kami. CAT merupakan bus turis gratis yang melewati tempat-tempat bersejarah di George Town hingga KOMTAR lalu kembali lagi. Perjalanan pulang lebih cepat dan kami turun di halte depan St. George Church, dari sana kami berjalan kaki ke hostel. Namun sebelumnya kami makan malam terlebih dahulu di sebuah warung pinggir jalan. Kali ini saya makan Bihun Singapura seharga RM3.50, hanya bihun dan ayam yang dipotong kecil-kecil, namun rasanya lumayan.

Bus Rapid Penang CAT

Tadinya kami berencana ke Batu Ferringhi, namun karena ini adalah malam paskah, dan Richard ingin mengikuti misa di Cathedral of the Assumption, kami batalkan rencana tersebut. Alasan lainnya adalah kata Loic yang sudah berkeliling pulau kemarin, kawasan Batu Ferringhi biasa saja, pantainya tidak istimewa.

Bihun Singapura


Rute Jalan Penang Hari Kedua 

(bersambung)...

Tidak ada komentar: