07 April 2013

Piknik Penang, Malaysia (28 Maret - 1 April 2013) - Hari Kedua

Karena malam harinya tidur larut, saya bangun agak siang, jam 07.00 pagi. Dan setelah mandi dan sarapan baru selesai jam 08.30. Loic sudah menunggu di teras hostel sejak pukul 08.00, sebelum pintu hostel dibuka. Kata Richard, ini kemajuan besar karena di Singapura dua tahun lalu, dia tidak bisa bangun pagi. Saya merasa bersalah sudah bangun siang, dan baru siap berangkat pukul 08.30. Sambil sarapan saya berkenalan dengan Diga, dulunya teman kantor Richard yang sekarang tinggal di Malang.

Kami lalu menuju Lebuh Chulia untuk menunggu bus Rapid Penang 204 tujuan Penang Hill. Malam sebelumnya saya sudah cek di Internet, bus tersebut lewat Lebuh Chulia. Sembari menunggu kami sempat membeli buah potong lokal di salah satu penjual pinggir jalan. Namun setelah menunggu hingga hampir 1 jam, tidak ada bus 204 yang lewat, saya salah. Salah seorang warga di sana mengoreksi bahwa bus Rapid Penang 204 tidak lewat sini, tapi lewat Lebuh Light, kami ditunjukkan arah menuju halte di Lebuh Light. Ada salah satu turis perempuan asal Inggris yang juga ingin ke Penang Hill, akhirnya kami bersama-sama pergi ke sana.


Halte Bus Lebuh Chulia


Penjual Buah Lokal

Namun karena tidak jelasnya arahan dari warga, kami tidak menemukan lokasi halte dimaksud. Dan mulai berjalan ke arah yang berlawanan dengan yang ditunjukkan. Akhirnya kami berjalan ke arah KOMTAR (Kompleks Tun Abdul Razak), karena di sana merupakan terminal bus sentral selain Jetty. Menjelang halte di Jalan Penang, kami melihat ada bus 204 di belakang kami. Kami segera berlari ke halte untuk mengejar bus tersebut. Untunglah karena banyak yang hendak ke Penang Hill, bus berhenti cukup lama. Sehingga kami semua dapat naik bus tersebut. Di KOMTAR, lebih banyak penumpang yang naik bus tersebut sehingga penuh, untunglah kami masih menemukan tempat duduk kosong karena perjalanan ke Penang Hill cukup jauh.


Di dalam Bus Rapid Penang 204

Hampir satu jam kemudian kami tiba Bukit Bendera Stesen, di kaki Penang Hill. Rencana awalnya, jika kami pergi hanya berempat adalah saya hiking naik ke Penang Hill via Penang Botanical Gardens, ketemu dengan yang lain di puncak bukit, dan turun menggunakan funicular train. Tapi karena pergi dengan Loic ke dua tempat hari itu, dan sebelum jam 5 sore kami sudah harus kembali ke hostel maka saya batalkan rencana tersebut.


Pintu Masuk Penang Hill

Karena hari sudah siang, jam 11.00. Antrean pengunjung yang ingin naik ke atas bukit sudah panjang. Untungnya untuk membeli tiket tidak perlu semua penumpang, cukup diwakilkan satu orang saja. Saya pun mengantre sementara yang lain menunggu di deretan kursi yang disediakan pengelola. Tiket dibedakan menurut kewarganegaraan, Warga Negara Malaysia cukup membayar RM8 pp, sementara warga negara asing RM30 pp. Perlu waktu 30 menit sebelum saya mendapat tiket. Setelahnya saya segera memberitahu teman-teman untuk masuk ke platform kereta.


Antrean di Loket Kereta Penang Hill


Papan Tiket

Setelah menunggu sebentar, kami pun naik ke kereta. Perjalanan ke atas sangat cepat, sekitar 15 menit. Kereta berjalan di lereng dengan kemiringan hingga 45 derajat. Jalur kereta ini pertama kali dibangun oleh Pemerintah Inggris di Malaysia pada tahun 1923, dan kereta yang digunakan sudah mengalami beberapa kali penggantian. Kereta yang kami naiki merupakan seri terakhir yang pertama kali digunakan pada tahun 2010.


Penang Funicular Train

Kami pun segera berkeliling di Penang Hill. Kami sempat mencoba teropong koin di sana untuk melihat objek di Georgetown. Di tempat ini ada Sri Aruroli Thirumurugan Temple, Penang Butterfly Farm, Penang Hill Mosque, taman bermain anak, dll. Pengunjung juga dapat menyewa mobil buggy untuk berkeliling Penang Hill. Tarifnya RM60 untuk perjalanan 45 menit dan RM30 untuk perjalanan 30 menit.


Sri Aruroli Thirumurugan Temple


Patung Dewa di Sri Aruroli Thirumurugan Temple


Masjid Penang Hill


Mobil Buggy

Diga dan Irma sempat membuat lukisan tangan di sini. Sementara kami menunggu mereka, Loic dihampiri oleh dua orang remaja setempat yang mewancarainya terkait bagaimana dengan wisata di Penang. Saya sempat mengira ia sedang di-scam, tapi syukurlah ternyata bukan. Mungkin mereka adalah siswa sekolah yang perlu bahan untuk menulis mading sekolah.


Puas berkeliling di Penang Hill, kami putuskan untuk turun dan menuju ke destinasi berikutnya, Kek Lok Si Temple. Kedua tempat ini sebetulnya tidak jauh, tapi tetap harus menggunakan bus karena kalau jalan cukup jauh. Kami sempat kesulitan dengan pintu masuk ke kuil, tapi ternyata untuk masuk dan keluar menggunakan jalan yang sama, yaitu di samping kiri food court, melewati sebuah jembatan di atas sungai kecil lalu naik ke tempat banyak orang berjualan cinderamata.


Komplek Kek Lok Si Temple

Kek Lok Si Temple terletak di atas bukit. Perjalanan naik ke atas cukup menguras tenaga, membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Ditambah dengan cuaca Penang yang panas membuat kami dehidrasi. Di tengah perjalanan kami membeli minuman botol. Tidak lama kemudian kami sampai di pintu masuk ke dalam kuil. Di sepanjang jalan menuju ke dalam kuil, kami menemukan beberapa pengemis yang berharap belas kasihan pengunjung. Kebal dengan taktik pengemis di Indonesia, saya tidak memberi uang kepada mereka. Kami menghabiskan beberapa waktu untuk berfoto di tempat ini untuk selanjutnya naik menuju pelataran tempat patung Dewi Kwan Im (Guanyin) tertinggi di dunia. Mengapa kuil Buddha mempunyai seorang dewi? Patung tersebut adalah personifikasi dari Sang Buddha itu sendiri berwujud perempuan, dalam budaya masyarakat Asia Timur.


Untuk tiba di atas, kami kembali naik funicular elevator, namun tidak setinggi di Penang Hill tadi. Kami harus membayar RM2 untuk perjalanan pulang pergi. Penjualan tiket di sebuah loket di ujung toko cinderamata. Setelah menunggu sebentar, elevator tiba dan kami segera naik. Waktu tempuh ke atas cukup singkat, kurang dari dua menit. Kembali keluar toko, dan terlihat patung raksasa tersebut. Kami menghabiskan waktu untuk berfoto di sini.


Kek Lok Si Temple Funicular Train

Setelah puas, dan jam menunjukkan pukul 15.30, kami segera turun dan kembali ke hostel. Loic harus mengejar bus ke Terminal Bus Sungai Nibong. Perjalanan pulang menggunakan bus Rapid Penang 201 lewat Lebuh Chulia. Di pasar Sungai Ayer Hitam, Richard membeli cendol yang cukup enak. Hampir satu jam kemudian kami tiba kembali di Jalan Love Lane. Kami pun menunggu Loic untuk mengambil barang-barangnya. Richard dan saya memutuskan untuk mengantar Loic ke KOMTAR karena bus 102 ke Terminal Bus Sungai Nibong tidak lewat Lebuh Chulia.

Saran saya untuk Loic adalah naik bus ke Terminal Bus Puduraya di Kuala Lumpur, lalu dari sana naik bus Star Shuttle ke LCCT. Namun bus ke Puduraya berhenti di Terminal Bus Sungai Nibong. Ini adalah kesalahan saya karena ternyata ada cara lain yang lebih mudah dan digunakan banyak orang yang bepergian ke Penang. Saya akan jelaskan hal itu di tulisan saya berikutnya. Berdasarkan cerita Richard, Loic telat tiba di Puduraya, dan sudah tidak ada bus ke LCCT. Dia akhirnya menggunakan taksi dan harus membayar RM130! Kesalahan informasi yang sangat menguras kantong.

Saya dan Richard kembali ke Old Penang Hostel dengan berjalan kaki. Kami bercerita mengenai pengalaman masing-masing saat tiba di Penang hari sebelumnya. Di Lebuh Chulia, Richard menyempatkan beli Char Kway Teow untuk dimakan di hostel sedangkan saya membeli Ice Lemon. Sampai di hostel, kami segera mandi. Karena harus bergantian menggunakan kamar mandi, kami makan Char Kway Teow sambil berbincang.

Rencana malam itu adalah kami akan ke Gurney Drive (Persiaran Gurney) di utara Penang. Gurney Drive adalah pusat jajanan (hawker center) yang terkenal di Penang. Sekitar jam 19.00, kami pun berangkat ke sana dan menunggu bus di halte Lebuh Chulia. Bus yang kami tumpangi malam ini adalah bus nomor 101. Tidak lama, bus tiba dan kami pun naik. Perjalanan tidak lama, sekitar 20 menit. Kami turun di depan Kantor Polisi Diraja Malaysia Pulau Tikus. Harus saya akui, saya salah kaprah. Karena tidak tahu letak persis Gurney Drive, saya mengandalkan Google Maps. Dan menurut gps, saya harus turun di tempat tersebut, dan menyusuri Jalan Bangkok ke utara hingga pinggir pantai. Namun sesampainya pinggir pantai yang kami temukan adalah Gurney Palace. Tidak yakin tempat tersebut adalah tujuan kami, kami putuskan untuk berjalan kaki ke arah barat, menuju sebuah tempat yang kami lihat ada pertunjukan kembang api dan memancarkan cahaya terang. Kontras dengan lingkungan Gurney Palace yang sepi dan cenderung gelap.

Kami melintasi deretan gedung dan sebuah mall, Plaza Gurney. Richard bersikeras bahwa mall tersebut adalah mall yang ia jumpai ketika naik bus dari bandara. Tapi ia salah, karena yang ia lihat adalah Queensbay Mall, tepat di seberang Pulau Jerejak. Sekitar 10 menit kami berjalan akhirnya kami sampai Gurney Drive. Di tempat ini, masing-masing dari kami memesan panganan khas Penang. Saya sendiri memesan Asam Laksa seharga RM4.50, dan Rojak ukuran sedang RM2.70.


Menurut saya, rasa Asam Laksa cukup enak, terutama bakso ikannya yang kenyal. Sedangkan Rojak, yang membedakan dengan rujak di Indonesia adalah bumbu taburan kacang dan gorengan sebagai taburan di atasnya. Ketika beli, kita bisa pilih jenis kepedasan, saya pilih sedang. Pertama saya coba, rasanya tidak langsung terasa, tapi setelah hampir habis, rasa pedas baru timbul. Menarik.


Asam Laksa


Rojak

Setelah puas makan, kami putuskan untuk pulang. Kurangnya panduan bagi turis di tempat ini menyebabkan saya kembali melakukan kesalahan yang sama. Karena tidak tahu jalur bus, kami menunggu di halte yang salah. Untung salah satu penduduk lokal yang pulang ke flat memberitahu letak halte sebenarnya, yaitu sebuah tempat tanpa tanda apapun yang menunjukkan tempat tersebut adalah halte bus. Kami berterima kasih kepada penduduk tersebut.

Untungnya, kami tidak menunggu lama dan bus 101 datang. Ternyata pengemudinya adalah orang yang sama dengan yang mengantar kami ke Gurney Drive. Perjalanan pulang lebih sepi dan kami semua dapat tempat duduk. 20 menit kemudian kami tiba di Jalan Love Lane. Kami putuskan untuk beristirahat setelah hari yang panas dan cukup melelahkan.

(bersambung)...

No comments: