06 April 2013

Piknik Penang, Malaysia (28 Maret - 1 April 2013) - Hari Pertama

Rencana ke Penang sudah diputuskan sejak lama, saya membeli tiket AirAsia pada bulan Juni tahun sebelumnya sebelum saya punya paspor dan ada pengalaman ke luar negeri. Setelah diyakinkan teman dan ia mau membelikan tiket terlebih dahulu, saya pun luluh. Awalnya saya keberatan, karena bulan September dan Oktober tahun 2012 saya sudah ke Malaysia, tapi sudahlah, mungkin benar ucapan teman saya, tidak ada kota yang serupa di satu negara. Alhasil, Penang merupakan tempat piknik ketiga saya di bulan Maret, setelah Bandung dan Makassar - Toraja. Ini bulan terberat, terutama untuk kondisi keuangan karena harus membiayai 3 perjalanan. Saya tidak merekomendaskan ini kecuali memang pekerja bebas.

Pada tanggal 28 saya izin pulang cepat dari kantor, jam 3. Namun ada masalah bodoh yang saya alami. Begini ceritanya, di kantor ada mesin ATM, BCA dan Mandiri. Rekening utama saya adalah Mandiri, tempat honorarium saya ditempatkan. Namun sudah sejak lama ATM Mandiri tersebut rusak. Kemudian saya pergi ke ATM BCA untuk menarik uang. Karena pin BCA dan Mandiri saya mirip, 6 dan 4 digit, saya memasukkan pin ATM BCA saya. Saya lupa bahwa yang kartu debit yang saya masukkan adalah Mandiri, bukan BCA. Saya coba hal ini hingga 4 kali tapi selalu gagal. Muncul pesan error yang saya tidak mengerti. Saya biarkan sembari berpikir mungkin masalah di konektivitas antara BCA dan Mandiri.

Saya lalu berpikir untuk mengambil uang di ATM Mandiri. Jam 3 sore saya berangkat ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan tujuan agar tidak terkena imbas kemacetan akibat liburan panjang. Kebetulan atasan saya berencana untuk memasukkan SPT tahunan ke drop box pajak di Tangerang City, saya berencana untuk mengambil uang di ATM Mandiri yang ada di sana. Kami menggunakan taksi yang sama. Masalah muncul setelah saya menurunkan beliau dan pergi ke ATM. Di menu ATM seperti kembali mencoba untuk menarik uang, tapi saya terperanjat karena kembali muncul notifikasi transaksi tidak dapat dilakukan dan perintah untuk menghubungi Mandiri Call yang tertera di belakang kartu debit.

Dari petugas Mandiri Call yang saya hubungi tersebut saya tahu bahwa saya salah memasukkan pin sebanyak 3 kali siang tadi. Dan saya langsung ingat saya memasukkan pin BCA untuk penarikan via Mandiri. Waktu sudah hampir jam 16.00, sedangkan pesawat saya berangkat pukul 17.45 WIB. Bank sudah tutup jika saya ingin mengurus masalah pin, ditambah saya tidak membawa buku tabungan ke kantor. Saya segera mengontak atasan saya tadi untuk mentransfer uang ke rekening BCA saya, dan nanti saya kembalikan via rekening Mandiri. Atasan saya menyanggupi. Namun, karena token untuk Mandiri Internet saya tinggal di kantor, saya harus balik lagi ke kantor. Maka, saya kembali mengantarkan beliau kembali ke kantor.

Di kantor, masalah segera selesai. Setelah saya mengambil token Mandiri. Atasan saya segera mentransfer uang, kemudian uang tersebut saya ambil di ATM BCA kantor, dan segera berlari kembali ke taksi. Jam menunjukkan pukul 16.10. Masalah menjadi-jadi karena di pintu M1, antrean kendaraan yang masuk ke bandara sudah panjang. Hingga jam 17.05, saya belum tiba di Terminal 3, tempat AirAsia ditempatkan. Untungnya sebagian besar kendaraan bergerak ke Terminal 1 dan 2, sehingga ini memudahkan saya.

Akhirnya saya tiba di Terminal 3 pukul 17.15, dan setelah membayar taksi, dengan tips tergolong besar, saya segera berlari ke imigrasi. Pengalaman saya di penerbangan-penerbangan sebelumnya, taktiknya adalah segera menyelesaikan imigrasi karena makin sore antrean akan semakin mengular. Untungnya saya berhasil menyalip beberapa orang 10 meter sebelum antrean imigrasi, hal ini cukup menghemat waktu hingga beberapa menit.

Selesai imigrasi, masih ada antrean pengecekan dokumen oleh staf AirAsia. Sebelumnya saya tidak pernah melihat antrean di sini, dalam hati saya bersyukur telah melewati imigrasi. Setelah membayar airport tax dan pengecekan bea cukai terakhir saya pun masuk ke ruang tunggu keberangkatan internasional. Di sana saya bertemu Irma, salah satu teman perjalanan saya ke Penang. Ini merupakan pertama kali kami bertemu, setelah sebelumnya dikenalkan via Twitter oleh teman saya, Richard.

Setelah berkenalan dan saya menceritakan kebodohan saya tadi siang, panggilan untuk kami segera masuk pesawat diumumkan. Kami lalu mengantri untuk pemeriksaan boarding pass dan kemudian mengantri bus yang akan mengantar kami ke tempat pesawat diparkir. Proses boarding berlangsung lancar dan setelah awak kabin mendemonstrasikan cara penggunaan alat keselamatan, pesawat siap untuk berangkat. Namun, karena padatnya jadwal kedatangan dan keberangkatan pesawat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta sore itu, pesawat kami harus mengantre hingga 30 menit.

Setelah lepas landas, penerbangan menuju Penang International Airport berjalan lancar, dan kami tiba pukul 21.00 waktu setempat atau WITA. Disembarkasi berjalan lancar dan kami segera keluar pesawat untuk selanjutnya ke imigrasi. Namun sebelum itu, saya menukarkan Rupiah ke salah satu bank di sana. Proses imigrasi tidak ada masalah, kesan saya petugas kastam di Penang terlihat ramah jika dibandingkan dengan Johor Bahru atau LCCT misalnya.

Selesai imigrasi kami keluar dan segera mencari halte bus Rapid Penang. Ini adalah moda transportasi utama di Pulau Penang, selain taksi dan kendaraan pribadi tentunya. Kami menunggu Bus 401E tujuan Jetty, Georgetown. 15 menit kami menunggu, bus tiba. Kami lalu naik via pintu depan dan membayar kepada sopir. Mirip di Indonesia, tapi yang membedakan adalah bayar dulu sebelum naik dan sopir tidak memberikan uang kembalian. Jadi usahakan bayar dengan uang pas. Biayanya adalah RM2.80 untuk jarak >16 km. Karena kami tidak mempunyai uang pas, jadi saya bayar RM6 untuk dua orang.

Perjalanan ke hostel kami di Jalan Love Lane cukup lama, 1 jam 30 menit. Ini karena letak bandara di Bayan Lepas di bagian selatan pulau sedangkan tujuan kami terletak di utara pulau. Irma sempat tanya apakah saya tahu tempat kami turun, maka saya jawab tidak. Panduan saya hanyalah kami harus turun di Lebuh Carnarvon, lalu jalan hingga menemukan 7-Eleven dan tidak jauh dari sana hostel bisa ditemukan. Hanya saja masalahnya saya tidak tahu letak Lebuh Carnarvon di sebelah mana. Ketika sebagian besar penumpang turun di suatu tempat perbelanjaan (kemudian saya tahu itu KOMTAR), saya masih percaya diri untuk tidak turun, karena belum menemukan letak Lebuh Carnarvon.

Bus kembali berjalan, dan tidak lama saya menemukan nama Lebuh Carnarvon. Duh, sayangnya tidak ada halte di dekat situ, maka saya memencet tombol untuk meminta kami turun. Fungsi tombol adalah meminta sopir untuk berhenti, pada halte atau tempat bukan halte yang memungkinkan bus untuk menurunkan penumpang. Sopir masih acuh dan terus melanjutkan jalan. Setelah berbelok di Lebuh Pantai, bus berhenti dan kami segera turun lewat pintu tengah. Yang ada di pikiran saya adalah kami harus kembali ke jalan tadi. Dan kami masuk gang dekat tempat kami turun. Walaupun kurang yakin, tidak ada pilihan karena tidak ada orang yang dapat kami tanyakan, waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WITA.

Akhirnya kenekatan saya tidak sia-sia, setelah beberapa menit berjalan kami tiba di Lebuh Carnarvon, dan segera menyusuri jalan tersebut hingga menemukan Lebuh Chulia. Di situ kami menemukan penjual jajanan seperti cimol. Irma ingin beli, tapi setelah kami ke hostel. Di seberang penjual seperti cimol saya melihat 7-Eleven di pintu masuk Jalan Love Lane, dan kami segera menuju ke sana. 25 meter setelahnya kami menemukan hostel kami untuk malam itu Red Inn. Di teras, Richard ternyata sudah menunggu. Ia lalu mengenalkan pada temannya asal Perancis, Loic.

Setelah perkenalan singkat, kami segera check-in. Richard menawari kami untuk makan sup torpedo di salah satu warung di dekat hostel. Saya dan Irma menyanggupi ajakan ini dan setelah kami menaruh barang di masing-masing kamar, kami segera menuju warung tersebut. Sebelum ke warung tersebut, kami mencoba jajanan "cimol" yang diinginkan Irma. Rasanya cukup enak dan murah, namun menu yang dijual tidak halal semua. Dari sana kami menuju ke warung penjual sop torpedo. Yang dimaksud dengan sop torpedo pada dasarnya adalah penganan, maaf, penis sapi. Richard dan Loic memesan satu porsi untuk berdua. Ini adalah bentuk ekstrem kuliner di Penang. Saya memesan sup ayam untuk saya dan Irma. Yang membedakan dengan di Indonesia, menu sop disajikan dengan roti tawar, bukan nasi. Minumnya, saya pesan es teh tarik (pertama dari sekian banyak setelahnya)

Sambil makan kami membicarakan rencana untuk besok. Loic akan ke Laos esok lusa, dan di Penang tinggal dua tempat yang belum dikunjungi, yaitu Penang Hill dan Kek Lok Si temple. Kami setuju dengan rencana ini dan merencakan besok pagi pukul 08.00 WITA untuk mulai perjalanan. Selesai makan, kami kembali ke hostel. Dalam perjalanan pulang, kami menemukan mural pertama yaitu penarik becak khas Penang di dinding sebuah bangunan. Kami lalu mengambil foto tersebut sebelum melanjutkan pulang. Setelahnya kami istirahat untuk perjalanan besok.

(bersambung)...

Tidak ada komentar: