23 March 2013

Piknik Makassar & Tana Toraja (16-18 Maret 2013) - Hari Kedua

Kami sampai di Rantepao pukul 06.00 WITA, dan perwakilan Bus Litha & Co. ternyata tepat di ruko Pasar Rantepao. Dari hasil riset, rental motor baru buka jam 7.30 WITA. Kami mencari tempat sarapan sebelum mulai mengunjungi tempat wisata di Tana Toraja. Setelah berkeliling sekitar pusat kota Rantepao, kami menemukan sebuah rumah makan yang menyajikan makanan halal. Di rumah makan ini, kami juga menumpang mandi. Pemilik rumah makan sangat ramah dalam menyambut kami.

Selesai makan, saya mencari rental motor, dan berhasil menemukan satu yang sudah buka. Namun sayangnya mereka hanya sedia satu. Saya kembali ke rumah makan dan mengajak teman untuk mencari motor lainnya. Tapi setelah berkeliling kami juga tidak bisa menemukan rental lainnya, pemilik rumah makan meminta anaknya untuk mengantar kami untuk mencari tempat rental. Syukurlah, teman saya kembali dengan motor sewaan. Sayangnya, kondisi motor yang disewa oleh teman saya tidak dalam kondisi bagus. Footstep kendur sehingga menyulitkan pergantian gigi. Tapi karena tidak punya pilihan lain kami menggunakan motor tersebut.

Sekitar pukul 09.00 WITA, kami mulai mengunjungi tempat wisata. Kami mengambil rute ke arah Makale. Karena tidak punya peta Tana Toraja, saya mengandalkan Global Positioning System (GPS) via Google Maps. Tujuan pertama adalah Buntu Pune. Jaraknya tidak jauh, sekitar 15 menit berkendara kami sudah tiba di situs ini. Kami disambut oleh pengelola yang sangat ramah di situs ini, Bu Maria. Selain diizinkan untuk mengambil foto, beliau menerangkan banyak hal yang menarik di Buntu Pune yang mungkin tidak diketahui hanya dengan melihat foto. Seperti tempat pemakaman, benteng di atas bukit, tongkonan di Buntu Pune, dan upacara kematian orang Toraja.


Tongkonan di Buntu Pune


Pemandangan dari Atas Bukit


Kompleks Buntu Pune

Selepas dari Buntu Pune, kami melanjutkan ke Kete Kesu. Masih satu arah masuk ke dalam dari jalan raya Rantepao - Makale. Karena motor yang disewakan banyak keterbatasan, seperti bensin yang hampir habis, kami mengisi penuh bensin di perjalanan ke Kete Kesu. 15 menit kemudian, kami sampai di Kete Kesu. Menurut Bu Maria, komplek Kete Kesu merupakan situs tertua orang Tana Toraja. Leluhur mereka dipercaya menetap pertama kali di sini, dan dimakamkan di tempat tersebut. Keturunannya kemudian menyebar ke seluruh Tana Toraja, hingga sekarang.


Kompleks Kete Kesu


Tongkonan dan Lumbung Padi di Kete Kesu

Di Kete Kesu kami menemukan beberapa bentuk makam orang Toraja, seperti yang ditaruh di pinggir jalan, di atas tebing, di dalam peti, dan yang diletakkan di dalam goa. Di sini saya juga beli oleh-oleh mini Tongkonan untuk Ibu. Jika ingin mencari oleh-oleh khas Tana Toraja, baik berupa kerajinan tangan atau sekedar cinderamata lain, saya sarankan untuk membelinya di sini. Total kami menghabiskan waktu hampir 2 jam di sini.

Setelah puas, kami melanjutkan ke destinasi berikutnya, Londa. Kami kembali ke arah jalan raya dan berbelok ke kiri ke arah Londa. Perjalanan dari Kete Kesu ke Londa memakan waktu 30 menit. Ciri khas dari wisata di Tana Toraja adalah mereka terletak di dalam perkampungan, cukup jauh dari tepi jalan raya. Namun, banyak petunjuk jalan untuk menuju tempat wisata ini berikut dengan jarak tempuhnya.

Di Londa, kami ditawari lampu stormking (petromaks) jika ingin menjelajah goa pemakaman. Tapi karena teman membawa senter, kami menolak tawaran tersebut. Ketika kami tiba, suasana sepi, tidak tampak pengunjung lainnya. Salah satu teman tidak ikut kami untuk ke area pemakaman. Suasana memang sangat sepi, dan sedikit menyeramkan. Ketika coba untuk masuk goa, saya kaget karena menemukan banyak peti yang diletakkan sangat dekat dengan jalan masuk. Alhasil saya dan teman urung meneruskan masuk ke dalam goa. Selanjutnya kami hanya mengambil foto di muka goa.


Pemakaman Dalam Goa di Londa

Setelah istirahat sebentar, sholat Zuhur dan Ashar, sekitar pukul dua siang, kami melanjutkan ke destinasi berikutnya, yaitu Tilanga. Tilanga adalah sebuah mata air yang berada di kaki bukit. Namun karena hari sudah semakin sore dan cuaca yang mulai mendung, kami hanya sampai di depan pintu masuk dan melanjutkan ke destinasi berikutnya, yaitu Lemo. Lemo merupakan tempat pemakaman yang pertama kali mengenalkan konsep menaruh jenazah di tebing. Tapi ketika kami sampai Lemo, sekitar jam 3 sore, cuaca mulai turun gerimis. Kami putuskan untuk segera kembali ke Rantepao karena selain hari sudah sore, cuaca yang mulai turun hujan, salah satu motor sewanya hanya hingga pukul 5 sore. Tapi belum sampai jalan raya, hujan berubah deras. Kami menepi di salah satu rumah penduduk.


Alam Tana Toraja

30 menit kemudian, cuaca berganti menjadi gerimis, kami putuskan untuk kembali ke Rantepao. Namun malang, di jalan dekat Londa, ban motor saya bocor. Karena hari Minggu merupakan hari libur bagi kebanyakan orang Toraja, banyak tukang tambal ban yang tutup. Saya terpaksa mendorong motor hingga dekat Kete Kesu (sekitar 5 km) sebelum menemukan salah satu tukang tambal ban yang buka. Ban dalam motor sewaan saya ternyata perlu diganti karena tidak mungkin untuk ditambal, dan sialnya mereka juga tidak menyediakan stok ban dalam untuk Honda Beat. Saya menggunakan motor sewaan teman saya untuk mencari ban dalam ke Rantepao. Beruntung di kota ada toko yang cukup lengkap. Setelah selesai urusan mengganti ban ini, kami kembali ke rumah makan untuk berkemas, dan mengembalikan kedua motor sewaan.


Insiden Ban Motor Rusak. Photo courtesy @tiwiatmodikoro

Bus kami ke Makassar baru berangkat pukul 21.00 WITA. Setelah kami selesai berkemas pukul 19.00, kami menuju agen bus Metro Permai untuk melunasi uang tiket dan menunggu bus. Di luar dugaan, Bus Meto Permai High Class yang kami naiki super mewah. Ini adalah bus terbaik yang pernah saya naiki. Mungkin setara dengan pesawat kelas first class. Jarak antara kursi sangat lapang, kursi Adilla yang empuk, dan kursi dapat direntangkan penuh tanpa mengganggu penumpang di belakang.



Interior Bus Metro Permai High Class. Photo courtesy @tiwiatmodikoro

Tidak lama setelah bus berangkat, saya pun tertidur karena kelelahan.

(bersambung...)

4 comments:

Wiratur - Robert said...

Nice post..
Kalau kebetulan transit di Makassar dan butuh motor, silahkan kontak hp 085256159818 www.sewamotormakassar.blogspot.com

Wiratur - Robert said...

Good post..kalau kebetulan trasit di MKS dan butuh rental motor, silahkan kontak 085256159818 www.sewamotormakassar.blogspot.com

Jenita Ramba Alik said...

Dimana tmpat jual oleholeh toraja kalau posisi di makassar ??

Andhika Padmawan said...

@Jenita Ramba Alik: Saya kurang tahu kalau oleh-oleh khas Toraja di Makassar. Tapi kalau cari oleh-oleh khas Sulawesi Selatan, bisa ke Jl. Somba Opu.