08 April 2013

Piknik Penang, Malaysia (28 Maret - 1 April 2013) - Hari Keempat

Di hari keempat dan terakhir di Penang, kami berencana mencari beberapa mural yang belum sempat kami temukan di hari-hari sebelumnya. Setelah sarapan, kami memulai berjalan ke arah Lebuh Muntri, dan segera menemukan salah satu mural karya Ernest Zacharevic, yang digambar di dinding hostel Moon Tree (permainan kata dari nama jalan Muntri) dan di samping kuil Penang Ta Kam Hong. Gambar kali ini adalah seorang gadis yang dijuluki "Kung Fu Girl". Teman saya bilang, jika diamati beberapa saat, si gadis tampak menyeramkan.

Mural di Samping Penang Ta Kam Hong

Di Lebuh Muntri ini banyak terdapat bangunan bersejarah warisan masa kolonialisme Inggris. Yang menarik, bangunan tua ini masih digunakan oleh penduduk, baik untuk tempat hunian maupun tempat usaha. Hal ini bisa dijadikan contoh dalam usaha pelestarian bangunan bersejarah di Indonesia.

Kuil Hainan

Di Lebuh Muntri ini terdapat beberapa kuil. Selain Kuil Penang Ta Kam Hong yang saya sebut di atas, ada pula Kuil Hainan. Kuil ini didirikan pada tahun 1866 sebagai penghormatan atas Dewi Mar Chor, dewi pelindung bagi pelaut. Bangunan yang sekarang didirikan tahun 1895 dan direstorasi pada 1995.

Ornamen di Kuil Hainan

Tempat-tempat peribadatan di Penang juga boleh dimasuki oleh turis, baik lokal maupun asing, tanpa biaya. Kuil Hainan misalnya, ketika kami sedang mengambil foto bagian depan, penjaga kuil dengan ramah mengajak kami untuk masuk dan melihat ke dalam kuil tanpa biaya.

Ditelisik dari sejarahnya, Lebuh Muntri juga tempat lahir pembuat sepatu wanita ternama, Jimmy Choo, sebelum pindah ke Inggris untuk meneruskan karirnya. 

Di Lebuh Chulia, kami kembali sarapan di salah satu restoran di sana. Kali ini adalah nasi rames, kami bebas memilih lauk dan sayuran untuk dihitung. Teman-teman saya bilang ini adalah masakan yang paling mirip rasanya dengan makanan Indonesia. Saya memilih nasi dengan ayam goreng dan sayur kacang panjang dan tahu. 


Setelah sarapan, kami kembali ke hostel untuk berkemas dan check-out. Penerbangan kami ke Kuala Lumpur baru tengah malam nanti, sehingga kami menitipkan tas di common room hostel untuk kami ambil sore nanti.



Rute Jalan Kaki Sekitar Love Lane 

Tujuan kami hari ini adalah berbelanja oleh-oleh untuk teman dan kolega di Indonesia. Sesuai referensi dari teman-teman, jika ingin berbelanja kebutuhan, pergilah ke Pasar Chowrasta. Namun setelah kami tiba di sana, tempat tersebut tidak sesuai harapan. Tidak ada, misalnya, kios yang menjual kaos atau kerajinan khas Penang, dan lebih merupakan pasar dalam arti harfiah seperti Pasar Lama Tangerang. 

Suasana di Pasar Chowrasta

Belajar dari pengalaman dari trip sebelumnya, untuk membeli kopi Penang, kami berbelanja di supermarket di KOMTAR. Setelah puas berbelanja oleh-oleh, kami mencari mural lainnya, yaitu anak kecil dengan peliharaan dinosaurusnya dan anak kecil duduk di atas motor di Jalan Ah Quee. Kami berhasil menemukannya setelah semalam kembali riset untuk mencari letaknya. Mural anak dengan peliharaan dinosaurus tampak pudar terpapar cuaca.

Anak Kecil dan Dinosaurus

 Anak Duduk di Atas Motor

Setelah puas berfoto di kedua gambar di atas, kami makan siang Nasi Kandar, sejenis nasi padang, di depan Masjid Kapitan Keling. Setelah kenyang kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Padang Kota Lama, tempat Kapten Francis Light pertama kali mendarat di Penang. Ketika kami sedang menunggu bus, kami didekati oleh seorang perempuan yang mengaku TKW asal Jakarta yang ditipu oleh agen dan tidak punya uang sama sekali sehingga harus tinggal secara ilegal di Penang. Tidak ingin ada masalah, kami secara sopan menghindarinya.

Di kawasan Padang Kota Lama ini berdiri beberapa bangunan bersejarah, antara lain City Hall yang dibangun pada tahun 1903, Town Hall yang merupakan tempat berkumpulnya petinggi dan kaum bangsawan Penang yang dapat ditelusuri hingga tahun 1880-an, Fort Cornwallis yaitu benteng yang digunakan sebagai basis pertahanan semenanjung Penang dari ancaman musuh, Queen Victoria Memorial Clock Tower yaitu menara jam raksasa yang dibangun oleh Cheah Chen Eok, saudagar kaya Penang pada tahun 1897 untuk memperingati ulang tahun bertahtanya Ratu Victoria dari Inggris. Di seberang menara jam terdapat pelabuhan kapal pesiar dan feri tujuan Langkawi.

 Town Hall
City Hall

Pintu Masuk Fort Cornwallis

Queen Victoria Memorial Clock Tower



Rute Jalan Kami di Penang Hari Keempat

Hari telah makin sore ketika Richard ingin ke satu tujuan akhir sebelum pulang, yaitu Wat Chayamangkalaram, sebuah kuil Buddha Thailand dan Dharmikarama Burmese Temple, sebuah kuil Buddha Burma. Keduanya terletak berseberangan di daerah Pulau Tikus. Untungnya kami tidak perlu lama menunggu bus ke tempat tujuan, dan sekitar pukul 17.00 kami tiba di tempat tersebut.

Wat Chayamangkalaram sudah tutup ketika kami tiba, ternyata ada jam buka kuil, yaitu pukul 08.00 hingga 17.00 waktu setempat. Kami sempat mengambil foto di depan kuil, namun tidak bisa masuk ke dalam lingkungan kuil tempat patung Buddha tidur karena pintu sudah dikunci petugas kuil. Wat Chayamangkalaram dibangun pada tahun 1845.

Pintu Masuk Wat Chayamangkalaram

Patung Buddha Tidur

Patung Buddha tidur di dalam Wat Chayamangkalaram merupakang salah satu patung Buddha tidur terbesar di dunia, dengan panjang 33 meter dan jubanya dibalur dengan cat emas.

Kami lalu beranjak ke Dharmikarama Burmese Temple persis di depan Wat Chayamangkalaram. Di tempat ini, tidak ada jam kunjungan oleh turis, sehingga kami boleh berkunjung walaupun sudah sore. Saya ingat ketika kami berkunjung, isu Rohingya di Myanmar sedang mulai menghangat. Untungnya hal tersebut tidak merembet ke komunitas Myanmar di negara lain. Teman saya yang mengenakan jilbab dapat bebas masuk ke area kuil hingga ke belakang tanpa gangguan, tempat asrama biksu berada. Kami cukup lama berada di kuil yang rindang dengan pohon Bodhi ini, beberapa biksu tampak mengerjakan tugas sehari-hari, ada yang menyapu halaman, beberapa sedang meditasi sore, sementara biksu lainnya bercengkerama di asrama dan sempat melongok keluar jendela ketika kami berusaha memasukkan koin ke dalam cawan keberuntungan.

Dharmikarama Burmese Temple didirikan pada 1 Agustus 1803 merupakan salah satu kuil Buddha tertua serta satu-satunya kuil Buddha Burma di Malaysia. Kuil ini menjadi pusat perayaan festival air Songkran atau perayaan tahun baru Thailand di Penang, yang pada tahun ini digelar pada 14 April, sayangnya setelah kami kembali ke Indonesia.

Bangunan Utama Kuil

Patung Buddha Emas di Dharmikarama Burmese Temple

Memasukkan Koin ke Cawan Keberuntungan Menjadi Sulit Karena Terus Berputar

Sekitar pukul 18.00, kami kembali ke hostel untuk berkemas pulang. Kami sempat menumpang mandi dulu dan makan malam di tempat kami makan semalam. Pukul 20.00 kami menunggu hampir satu setengah jam di halte Lebuh Chulia sebelum bus Rapid Penang 401 tujuan bandara Penang tiba. Salah satu masalah di negara berkembang adalah transportasi umum yang tidak bisa diandalkan. Perjalanan ke bandara memakan waktu sekitar 1 jam, dan setelah itu kami segera masuk ke ruang tunggu karena sudah melakukan web check-in sebelumnya.

Penerbangan ke Kuala Lumpur menggunakan maskapai Air Asia, yang secara tidak sengaja kami dapatkan tiket promonya, memakan waktu kurang lebih 1 jam. Pendaratan agak keras di KLIA berhasil membangunkan kami sepenuhnya. Kami lalu menghabiskan malam di area food court LCCT karena penerbangan ke Indonesia baru keesokan paginya. Ini bukan pertama kalinya bagi saya menginap di bandara, sebelumnya saya pernah melakukannya di Bandara Internasional Changi, Singapura. Tentu karena konsep budget terminal fasilitas menginap di LCCT tidak bisa dibandingkan dengan terminal di bandara sekelas Changi. Tapi cukup bagi kami karena ada tempat untuk menunggu keberangkatan kami pagi harinya.

Pagi harinya, kami berpisah karena Diga ke Surabaya jam 08.00, Richard ke Jogjakarta pukul 09.30, dan saya dan Irma ke Jakarta pukul 09.55. Berakhirlah perjalanan kami ke Penang.

Selesai.

07 April 2013

Piknik Penang, Malaysia (28 Maret - 1 April 2013) - Hari Ketiga

Di hari ketiga ini, kami berencana untuk keliling George Town, sebuah wilayah di Penang yang pada tanggal 7 Juli 2008 bersama dengan Malaka tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Selain bangunan bergaya Victoria yang berakulturasi dengan gaya Cina Peranakan, tahun 2012 lalu Pemerintah Penang menghiasi penjuru George Town dengan beragam seni jalanan, salah satunya Ernest Zacharevic. Dia adalah seniman asal Lithuania yang sekolah seni di London, Inggris. Satu lagi yang terkenal dari George Town adalah makanannya yang hampir mirip dengan makanan di Indonesia, namun ada unsur budaya India, Tamil, dan Peranakan.

Bermodalkan peta dari flyer yang didapat Richard di Bandara Internasional Penang, kami memulai perjalanan dengan berjalan menuju Cathedral of the Assumption, sebuah gereja Katolik yang dahulu merupakan tempat kedudukan Kardinal Penang, namun sejak tahun 2003 pindah ke Cathedral of the Holy Spirit di Jalan Green Lane. Katedral yang dibangun tahun 1786 oleh Kapten Francis Light ini merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Cathedral of the Assumption di sore hari

Kemudian kami berjalan lagi ke gedung sebelah, yaitu Muzium Negeri Pulau Pinang. Karena bayar untuk masuk ke museum, kami hanya berfoto-foto di halaman. Di halaman ada beberapa koleksi museum seperti kereta funicular pertama di Penang Hill, mobil milik Gubernur Jenderal Penang yang terbunuh dalam penyergapan oleh penduduk Penang, dsb.

Penang Hill Funicular Train Generasi Awal 

Namun tempat yang menarik perhatian saya adalah High Court Building tepat di seberang jalan Muzium Negeri Pulau Pinang. Bangunan pengadilan ini dibangun tahun 1903 di atas tanah bekas gedung pengadilan sebelumnya yang dibangun tahun 1809. Pada tahun 2005, gedung ini ditetapkan Pemerintah Malaysia sebagai Situs Warisan Nasional. Dan kembali pada tahun 2007 dilakukan pemugaran besar-besaran dan menambahkan gedung baru di sebelahnya. Namun karena itu hari Sabtu, tidak tampak ada kegiatan di dalam.

Bangunan Penang High Court

Di samping Muzium Negeri Pulau Pinang berdiri bangunan St. George Church, gereja Anglikan tertua di Asia Tenggara dan terbesar di dunia di luar Britania Raya. Konon, biaya pembangunan gereja ini pada tahun 1818 lebih tinggi daripada nilai jual pulau Singapura pada waktu itu. Namun saya ragu dengan pernyataan itu. Turis, walaupun memeluk Anglikan, dilarang masuk gereja pada pagi itu. Mungkin karena di dalam sedang ada pekerjaan persiapan untuk menyambut paskah.

St. George Church

Dari sana kami berjalan menelusuri Jalan Masjid Kapitan Keling, dan menemukan Goddess of Mercy Temple. Kuil tampak ramai pagi itu yang terlihat dengan banyaknya orang yang bersembahyang dan asap dupa pekat di pelataran kuil yang menghalangi pandangan kami ke arah kuil. Kami putuskan untuk tidak mendekat dan melanjutkan perjalanan ke Little India.

Temple of Goddess Mercy

Kami sempat mampir ke Teochew Temple, bangunan dengan arsitektur khas Teochew, sebuah suku di Chaosan, Guangdong, Cina. Kuil ini dibangun tahun 1855 dan dipindahkan ke lokasi saat ini tahun 1870. Pada tahun 2006, kuil ini mendapat penghargaan atas pelestarian budaya dari UNESCO Asia Pasifik (Award of the Merit UNESCO Asia-Pacific for Culture Heritage Conservation).

 

Teochew Temple

Dari Teochew Temple, kami berbelok masuk ke kawasan Little India. Di sini kami menemukan Mahamariamman Temple, kuil Hindu yang dibangun tahun 1883 dan awalnya merupakan kuil sederhana yang dipersembahkan bagi Sri Muthu Mariamman. Di Little India, Diga dan Irma sempat membeli gelang sebagai buah tangan.

Mahamariamman Temple

Little India

Dari sana kami lalu berjalan hingga Tanjong City Marina, dan di sampingnya ada Church Street Pier. Lokasinya bersebelahan dengan tempat penyberangan feri dan terminal bus Jetty. Tadinya saya pikir ini merupakan gereja, tapi ternyata sebuah tempat hiburan malam. Dari tempat ini kami bisa melihat tempat penyeberangan feri dan pelabuhan tempat kapal pesiar sandar.

Bangunan U.A.B

Tanjong City Marina

Church Street Pier

Sudah pukul satu siang waktu setempat, kami putuskan untuk makan siang. Tempat tujuan kami adalah Sri Ananda Bahwan, sebuah restoran vegetarian khas India. Richard membeli South Indian Banana Leaf Set, sedangkan saya mencoba Tandoori Chicken. Saya kurang yakin apakah itu benar daging ayam, karena ini adalah restoran vegetarian, dan rasanya tidak terlalu mirip ayam yang sering saya makan. Rasanya cukup enak menurut saya. Untuk penutup, kami memesan jajanan pasar.

Halaman Depan Penang Peranakan Mansion

Restoran Sri Ananda Bahwan

Tandoori Chicken

Makanan Penutup (Wajik, Ketan, dan Lumpia Manisan)

Dari Sri Ananda Bahwan, kami menyempatkan diri ke Masjid Kapitan Keling, karena Diga ingin menunaikan sholat dzuhur. Di samping masjid ini ada penjual Nasi Biryani yang ramai oleh pengunjung saat siang. Namun kami tidak mencobanya karena sudah makan siang tadi. Kami merencanakan untuk makan di sini besok siang.

Masjid Kapitan Keling

Setelah itu, kami putuskan untuk mencari mural anak kecil yang digambar oleh Ernest Zacharevic, yang berlokasi di Lebuh Armenian. Lokasi mural tersebut terletak di sebuah pemukiman padat. Menurut saya, Lebuh Armenian adalah tempat yang paling banyak seni jalanan di George Town. Selain mural dua anak kecil bersepeda, saya menemukan mural pesulap lucu yang digambar di pintu sebuah toko. Ini adalah mural terlucu yang saya temukan. Ada juga mural Soo Hong Lane, gang tersempit di George Town, dan sebuah jam yang ditempatkan di tengah sepeda di sebuah bengkel sepeda.

Mural Favorit Saya 

Saya sependapat dengan peribahasa yang mengatakan jika ingin melihat apakah suatu kota kreatif atau tidak, lihatlah apakah kota tersebut mengizinkan seni tumbuh di jalanan kota tersebut. Penang adalah salah satu kota kreatif, banyak sekali instalasi seni yang dapat ditemukan. Memang, seni ini tidak seperti instalasi di Eropa yang memang sudah membudaya. Penang baru mulai melangkah, tapi langkah ke arah yang benar.

Dari Lebuh Armenian, kami mencoba mencari seni lainnya yang dibuat Ernest, yaitu mural "Anak Kecil dan Peliharaan Dinosaurusnya" yang saya pikir ada di jalan yang sama. Namun, hingga ujung Lebuh Armenian kami tidak menemukannya. Kami lalu berbelok ke arah Lebuh Aceh. Kejutan yang menyenangkan, kami menemukan salah satu karya Ernest lain, yaitu mural anak kecil yang ingin meraih sebuah minuman di belakang rumah orang.

Puas berfoto, kami kembali mencari mural anak kecil dengan dinosaurus, tapi tidak kunjung menemukannya. Alih-alih kami tiba di Clan Jetties, perkampungan etnis Cina di George Town yang dibangun di atas laut. Saat ini kondisinya jauh lebih baik dan ramah terhadap turis. Di sini kami bertemu dengan sekelompok backpacker dari Filipina, tidak bersapa, tapi saya merasa mereka ekstrem karena ke sini dengan membawa tas mereka, mungkin karena akan melanjutkan ke destinasi berikutnya.

Clan Jetties


Tujuan utama kami di Clan Jetties adalah melihat salah satu karya Ernest lainnya, yaitu sepasang kakak adik yang naik perahu. Sayangnya lukisan tersebut telah luntur. Kami hanya berfoto-foto di dermaga dan teman-teman saya belanja kaos di sini. 

Lukisan Ernest yang Sudah Pudar

Keluar dari Clan Jetties, waktu sudah sore. Kami putuskan untuk menyeberang ke Benua Asia dan wilayah Penang di daratan utama, yaitu Seberang Prai. Rencananya kami menyeberang lalu pulang kembali ke George Town dengan naik bus Rapid Penang via Jembatan Penang. Menyeberang ke Seberang Prai gratis jika dari George Town, sedangkan dari Seberang Prai ke George Town dikenakan biaya RM1.20.

Interior Feri Penang 

Penyeberangan memakan waktu sekitar 15 menit. Kami tiba di Penang Sentral. Dan di sinilah saya menyadari kekeliruan saya ketika memberi saran kepada Loic. Ternyata Penang Sentral dirancang mirip dengan KL Sentral, hanya memang sampai kami ke sana progres ke arah situ belum tampak. Di sana ada terminal bus antar kota, ke KL ada! Stasiun Kereta Butterworth jika ingin melanjutkan perjalanan ke Thailand atau KL (banyak yang menggunakan moda ini untuk ke KL). Jika saya menyarankan Loic untuk ke Penang Sentral, bisa jadi dia tidak harus membayar banyak untuk taksi ke LCCT.

Kesalahan kedua yang saya sadari di sini adalah ketika tidak menemukan Best A, B, atau C untuk kembali ke George Town. Ketika saya melihat kembali flyer baru saya menyadari kesalahan saya. Ternyata Rapid Penang Best A, B, atau C hanya beroperasi di hari Senin - Jumat. Sedangkan ini hari Sabtu. Duh. Saya lalu mengonfirmasi hal ini kepada petugas Rapid Penang, dan ternyata benar. Tidak ada Rapid Penang Best A, B, atau C yang beroperasi hari ini.

Saya berencana untuk pulang ke George Town menggunakan feri kembali. Tapi teman-teman mempunyai rencana lain. Karena sudah terlanjur, maka mereka menanyakan ada tempat wisata apa di Seberang Prai. Setelah berkonsultasi dengan peta di flyer, ada Penang Mega Mall yang bisa kami kunjungi. Dan kesanalah kami menggunakan bus 701. Perjalanan cukup lama, sekitar 25 menit sebelum kami tiba di mall tersebut. Halte bus tempat kami turun lebih mirip tempat untuk menaikturunkan barang ke mall ketimbang sebuah halte, tempatnya gelap dan terkesan kumuh. Sangat disayangkan. Namun jika dilihat, memang jarang ada turis yang ke tempat sini.

Tidak ada papan petunjuk yang menjelaskan di mana letak Penang Mega Mall. Kami berjalan mengikuti orang-orang lain yang turun di tempat itu ke arah bangunan di depan dan melewati deretan ruko yang kosong. Seorang warga setempat yang berjalan bersama kami menanyakan di mana Penang Mega Mall, kami pun menjawab tidak tahu. Tidak lama, kami sampai di pintu masuk ke mall tersebut, yang baru kami sadari setelah masuk merupakan pintu samping. Kami merasa lega karena embusan AC yang mendinginkan suhu tubuh kami yang dijemur matahari panas di George Town.

Mata Penang Mega Mall 

Tidak ada yang istimewa di Penang Mega Mall, padanan yang sesuai dengan mall serupa di Jakarta mungkin seperti ITC. Tidak ada eskalator ke lantai di atasnya, dan tidak ada anchor besar di dalamnya. Kami hanya melihat-lihat sebentar sebelum memutuskan untuk pulang ke Old Penang Guesthouse. Masalah kembali timbul ketika kami akan pulang. Saya pikir halte untuk kembali ke Penang Sentral letaknya ada di depan Penang Mega Mall, tapi saya lihat sekeliling tidak ada halte, saya putuskan untuk kembali ke tempat kami turun dan keputusan ini tepat, karena memang untuk rute ke Bukit Mertajam atau Penang Sentral, semuanya turun di halte yang sama. Kami kembali naik bus 701 ke Penang Sentral.

Karena kali ini harus membayar untuk naik feri, dan pintu masuk hanya bisa menggunakan koin, kami harus menukar di loket penukaran koin sebelum masuk. Menurut saya ini tidak efektif karena sering petugas loket mengembalikan koin dalam jumlah besar, padahal mesin hanya menerima pecahan yang kecil.

Senja di George Town

Sesampainya di Jetty, kami putuskan untuk naik bus Rapid Penang CAT, karena terlalu jauh jika harus berjalan kaki ke hostel kami. CAT merupakan bus turis gratis yang melewati tempat-tempat bersejarah di George Town hingga KOMTAR lalu kembali lagi. Perjalanan pulang lebih cepat dan kami turun di halte depan St. George Church, dari sana kami berjalan kaki ke hostel. Namun sebelumnya kami makan malam terlebih dahulu di sebuah warung pinggir jalan. Kali ini saya makan Bihun Singapura seharga RM3.50, hanya bihun dan ayam yang dipotong kecil-kecil, namun rasanya lumayan.

Bus Rapid Penang CAT

Tadinya kami berencana ke Batu Ferringhi, namun karena ini adalah malam paskah, dan Richard ingin mengikuti misa di Cathedral of the Assumption, kami batalkan rencana tersebut. Alasan lainnya adalah kata Loic yang sudah berkeliling pulau kemarin, kawasan Batu Ferringhi biasa saja, pantainya tidak istimewa.

Bihun Singapura


Rute Jalan Penang Hari Kedua 

(bersambung)...

Piknik Penang, Malaysia (28 Maret - 1 April 2013) - Hari Kedua

Karena malam harinya tidur larut, saya bangun agak siang, jam 07.00 pagi. Dan setelah mandi dan sarapan baru selesai jam 08.30. Loic sudah menunggu di teras hostel sejak pukul 08.00, sebelum pintu hostel dibuka. Kata Richard, ini kemajuan besar karena di Singapura dua tahun lalu, dia tidak bisa bangun pagi. Saya merasa bersalah sudah bangun siang, dan baru siap berangkat pukul 08.30. Sambil sarapan saya berkenalan dengan Diga, dulunya teman kantor Richard yang sekarang tinggal di Malang.

Kami lalu menuju Lebuh Chulia untuk menunggu bus Rapid Penang 204 tujuan Penang Hill. Malam sebelumnya saya sudah cek di Internet, bus tersebut lewat Lebuh Chulia. Sembari menunggu kami sempat membeli buah potong lokal di salah satu penjual pinggir jalan. Namun setelah menunggu hingga hampir 1 jam, tidak ada bus 204 yang lewat, saya salah. Salah seorang warga di sana mengoreksi bahwa bus Rapid Penang 204 tidak lewat sini, tapi lewat Lebuh Light, kami ditunjukkan arah menuju halte di Lebuh Light. Ada salah satu turis perempuan asal Inggris yang juga ingin ke Penang Hill, akhirnya kami bersama-sama pergi ke sana.


Halte Bus Lebuh Chulia


Penjual Buah Lokal

Namun karena tidak jelasnya arahan dari warga, kami tidak menemukan lokasi halte dimaksud. Dan mulai berjalan ke arah yang berlawanan dengan yang ditunjukkan. Akhirnya kami berjalan ke arah KOMTAR (Kompleks Tun Abdul Razak), karena di sana merupakan terminal bus sentral selain Jetty. Menjelang halte di Jalan Penang, kami melihat ada bus 204 di belakang kami. Kami segera berlari ke halte untuk mengejar bus tersebut. Untunglah karena banyak yang hendak ke Penang Hill, bus berhenti cukup lama. Sehingga kami semua dapat naik bus tersebut. Di KOMTAR, lebih banyak penumpang yang naik bus tersebut sehingga penuh, untunglah kami masih menemukan tempat duduk kosong karena perjalanan ke Penang Hill cukup jauh.


Di dalam Bus Rapid Penang 204

Hampir satu jam kemudian kami tiba Bukit Bendera Stesen, di kaki Penang Hill. Rencana awalnya, jika kami pergi hanya berempat adalah saya hiking naik ke Penang Hill via Penang Botanical Gardens, ketemu dengan yang lain di puncak bukit, dan turun menggunakan funicular train. Tapi karena pergi dengan Loic ke dua tempat hari itu, dan sebelum jam 5 sore kami sudah harus kembali ke hostel maka saya batalkan rencana tersebut.


Pintu Masuk Penang Hill

Karena hari sudah siang, jam 11.00. Antrean pengunjung yang ingin naik ke atas bukit sudah panjang. Untungnya untuk membeli tiket tidak perlu semua penumpang, cukup diwakilkan satu orang saja. Saya pun mengantre sementara yang lain menunggu di deretan kursi yang disediakan pengelola. Tiket dibedakan menurut kewarganegaraan, Warga Negara Malaysia cukup membayar RM8 pp, sementara warga negara asing RM30 pp. Perlu waktu 30 menit sebelum saya mendapat tiket. Setelahnya saya segera memberitahu teman-teman untuk masuk ke platform kereta.


Antrean di Loket Kereta Penang Hill


Papan Tiket

Setelah menunggu sebentar, kami pun naik ke kereta. Perjalanan ke atas sangat cepat, sekitar 15 menit. Kereta berjalan di lereng dengan kemiringan hingga 45 derajat. Jalur kereta ini pertama kali dibangun oleh Pemerintah Inggris di Malaysia pada tahun 1923, dan kereta yang digunakan sudah mengalami beberapa kali penggantian. Kereta yang kami naiki merupakan seri terakhir yang pertama kali digunakan pada tahun 2010.


Penang Funicular Train

Kami pun segera berkeliling di Penang Hill. Kami sempat mencoba teropong koin di sana untuk melihat objek di Georgetown. Di tempat ini ada Sri Aruroli Thirumurugan Temple, Penang Butterfly Farm, Penang Hill Mosque, taman bermain anak, dll. Pengunjung juga dapat menyewa mobil buggy untuk berkeliling Penang Hill. Tarifnya RM60 untuk perjalanan 45 menit dan RM30 untuk perjalanan 30 menit.


Sri Aruroli Thirumurugan Temple


Patung Dewa di Sri Aruroli Thirumurugan Temple


Masjid Penang Hill


Mobil Buggy

Diga dan Irma sempat membuat lukisan tangan di sini. Sementara kami menunggu mereka, Loic dihampiri oleh dua orang remaja setempat yang mewancarainya terkait bagaimana dengan wisata di Penang. Saya sempat mengira ia sedang di-scam, tapi syukurlah ternyata bukan. Mungkin mereka adalah siswa sekolah yang perlu bahan untuk menulis mading sekolah.


Puas berkeliling di Penang Hill, kami putuskan untuk turun dan menuju ke destinasi berikutnya, Kek Lok Si Temple. Kedua tempat ini sebetulnya tidak jauh, tapi tetap harus menggunakan bus karena kalau jalan cukup jauh. Kami sempat kesulitan dengan pintu masuk ke kuil, tapi ternyata untuk masuk dan keluar menggunakan jalan yang sama, yaitu di samping kiri food court, melewati sebuah jembatan di atas sungai kecil lalu naik ke tempat banyak orang berjualan cinderamata.


Komplek Kek Lok Si Temple

Kek Lok Si Temple terletak di atas bukit. Perjalanan naik ke atas cukup menguras tenaga, membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Ditambah dengan cuaca Penang yang panas membuat kami dehidrasi. Di tengah perjalanan kami membeli minuman botol. Tidak lama kemudian kami sampai di pintu masuk ke dalam kuil. Di sepanjang jalan menuju ke dalam kuil, kami menemukan beberapa pengemis yang berharap belas kasihan pengunjung. Kebal dengan taktik pengemis di Indonesia, saya tidak memberi uang kepada mereka. Kami menghabiskan beberapa waktu untuk berfoto di tempat ini untuk selanjutnya naik menuju pelataran tempat patung Dewi Kwan Im (Guanyin) tertinggi di dunia. Mengapa kuil Buddha mempunyai seorang dewi? Patung tersebut adalah personifikasi dari Sang Buddha itu sendiri berwujud perempuan, dalam budaya masyarakat Asia Timur.


Untuk tiba di atas, kami kembali naik funicular elevator, namun tidak setinggi di Penang Hill tadi. Kami harus membayar RM2 untuk perjalanan pulang pergi. Penjualan tiket di sebuah loket di ujung toko cinderamata. Setelah menunggu sebentar, elevator tiba dan kami segera naik. Waktu tempuh ke atas cukup singkat, kurang dari dua menit. Kembali keluar toko, dan terlihat patung raksasa tersebut. Kami menghabiskan waktu untuk berfoto di sini.


Kek Lok Si Temple Funicular Train

Setelah puas, dan jam menunjukkan pukul 15.30, kami segera turun dan kembali ke hostel. Loic harus mengejar bus ke Terminal Bus Sungai Nibong. Perjalanan pulang menggunakan bus Rapid Penang 201 lewat Lebuh Chulia. Di pasar Sungai Ayer Hitam, Richard membeli cendol yang cukup enak. Hampir satu jam kemudian kami tiba kembali di Jalan Love Lane. Kami pun menunggu Loic untuk mengambil barang-barangnya. Richard dan saya memutuskan untuk mengantar Loic ke KOMTAR karena bus 102 ke Terminal Bus Sungai Nibong tidak lewat Lebuh Chulia.

Saran saya untuk Loic adalah naik bus ke Terminal Bus Puduraya di Kuala Lumpur, lalu dari sana naik bus Star Shuttle ke LCCT. Namun bus ke Puduraya berhenti di Terminal Bus Sungai Nibong. Ini adalah kesalahan saya karena ternyata ada cara lain yang lebih mudah dan digunakan banyak orang yang bepergian ke Penang. Saya akan jelaskan hal itu di tulisan saya berikutnya. Berdasarkan cerita Richard, Loic telat tiba di Puduraya, dan sudah tidak ada bus ke LCCT. Dia akhirnya menggunakan taksi dan harus membayar RM130! Kesalahan informasi yang sangat menguras kantong.

Saya dan Richard kembali ke Old Penang Hostel dengan berjalan kaki. Kami bercerita mengenai pengalaman masing-masing saat tiba di Penang hari sebelumnya. Di Lebuh Chulia, Richard menyempatkan beli Char Kway Teow untuk dimakan di hostel sedangkan saya membeli Ice Lemon. Sampai di hostel, kami segera mandi. Karena harus bergantian menggunakan kamar mandi, kami makan Char Kway Teow sambil berbincang.

Rencana malam itu adalah kami akan ke Gurney Drive (Persiaran Gurney) di utara Penang. Gurney Drive adalah pusat jajanan (hawker center) yang terkenal di Penang. Sekitar jam 19.00, kami pun berangkat ke sana dan menunggu bus di halte Lebuh Chulia. Bus yang kami tumpangi malam ini adalah bus nomor 101. Tidak lama, bus tiba dan kami pun naik. Perjalanan tidak lama, sekitar 20 menit. Kami turun di depan Kantor Polisi Diraja Malaysia Pulau Tikus. Harus saya akui, saya salah kaprah. Karena tidak tahu letak persis Gurney Drive, saya mengandalkan Google Maps. Dan menurut gps, saya harus turun di tempat tersebut, dan menyusuri Jalan Bangkok ke utara hingga pinggir pantai. Namun sesampainya pinggir pantai yang kami temukan adalah Gurney Palace. Tidak yakin tempat tersebut adalah tujuan kami, kami putuskan untuk berjalan kaki ke arah barat, menuju sebuah tempat yang kami lihat ada pertunjukan kembang api dan memancarkan cahaya terang. Kontras dengan lingkungan Gurney Palace yang sepi dan cenderung gelap.

Kami melintasi deretan gedung dan sebuah mall, Plaza Gurney. Richard bersikeras bahwa mall tersebut adalah mall yang ia jumpai ketika naik bus dari bandara. Tapi ia salah, karena yang ia lihat adalah Queensbay Mall, tepat di seberang Pulau Jerejak. Sekitar 10 menit kami berjalan akhirnya kami sampai Gurney Drive. Di tempat ini, masing-masing dari kami memesan panganan khas Penang. Saya sendiri memesan Asam Laksa seharga RM4.50, dan Rojak ukuran sedang RM2.70.


Menurut saya, rasa Asam Laksa cukup enak, terutama bakso ikannya yang kenyal. Sedangkan Rojak, yang membedakan dengan rujak di Indonesia adalah bumbu taburan kacang dan gorengan sebagai taburan di atasnya. Ketika beli, kita bisa pilih jenis kepedasan, saya pilih sedang. Pertama saya coba, rasanya tidak langsung terasa, tapi setelah hampir habis, rasa pedas baru timbul. Menarik.


Asam Laksa


Rojak

Setelah puas makan, kami putuskan untuk pulang. Kurangnya panduan bagi turis di tempat ini menyebabkan saya kembali melakukan kesalahan yang sama. Karena tidak tahu jalur bus, kami menunggu di halte yang salah. Untung salah satu penduduk lokal yang pulang ke flat memberitahu letak halte sebenarnya, yaitu sebuah tempat tanpa tanda apapun yang menunjukkan tempat tersebut adalah halte bus. Kami berterima kasih kepada penduduk tersebut.

Untungnya, kami tidak menunggu lama dan bus 101 datang. Ternyata pengemudinya adalah orang yang sama dengan yang mengantar kami ke Gurney Drive. Perjalanan pulang lebih sepi dan kami semua dapat tempat duduk. 20 menit kemudian kami tiba di Jalan Love Lane. Kami putuskan untuk beristirahat setelah hari yang panas dan cukup melelahkan.

(bersambung)...