23 Maret 2013

Piknik Makassar & Tana Toraja (16-18 Maret 2013) - Hari Ketiga

Pemberhentian Bus Metro Permai di Makassar ada dua, yaitu di depan Makassar Town Square, dan pool bus di Riburane. Karena setibanya di Makassar kami langsung menuju ke Pulau Samalona, maka kami tidak tahu harus turun di mana tepatnya. Akhirnya karena sebagian besar penumpang turun di Makassar Town Square dan kondektur mengatakan semua penumpang tujuan Makassar turun di sini, kami ikut turun. Hanya beberapa orang, salah satunya duduk di samping saya dan sekelompok orang di bangku paling belakang, yang tetap teguh turun di pool bus.

Makassar Town Square di pagi hari bukan tempat yang ideal untuk tempat pemberhentian bus. Semua pertokoan yang belum buka. Tidak ada minimarket di sekitarnya, karena di dalam sudah ada Giants. Yang banyak berkumpul hanya tukang ojek dan penjemput penumpang yang sudah membuat janji. Apapun, kami segera menuju halte untuk membuat rencana selanjutnya.

Rencana awal adalah untuk menuju McD yang plang iklannya terpampang di sebelah halte. Karena tidak tahu lokasi persis kami memutuskan untuk berjalan kaki ke arah yang ditunjukkan plang tersebut. Setelah berjalan kaki sekitar 300 meter hingga perempatan, kami menemukan sebuah masjid. Kami putuskan untuk ke sana dan melihat apakah kami bisa menggunakan kamar mandi. Sayangnya, kamar mandi di masjid tersebut dikunci. Kecewa, kami putuskan untuk segera menuju Pulau Samalona, karena tidak ada tanda-tanda McD di dekat perempatan tersebut.

Kami kembali naik pete-pete huruf I yang kami naiki hari Sabtu sebelumnya. Perjalanan memakan waktu 30 menit hingga Lapangan Karebosi. Dari sana, kami melanjutkan pete-pete huruf B tujuan Benteng Somba Opu dan turun di Pantai Losari. Sebagai informasi, sebetulnya untuk rute Lapangan Karebosi - Benteng Somba Opu tidak melewati Pantai Losari, tapi karena kebaikan sopir, kami diturunkan di sana tanpa harus membayar biaya ekstra. Siangnya kami mengalami kejadian serupa, namun akan saya ceritakan nanti.

Sampai di Pantai Losari, teman saya menuju masjid apung di sana untuk membersihkan diri. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 WITA. Setelah itu kami segera menuju Dermaga Teluk Pannyua untuk menyeberang ke Pulau Samalona. Sebetulnya, di dekat Pantai Losari ada dua dermaga penyeberangan antar pulau, lainnya dalah Dermaga Kayu Bangkoa, namun kami memilih Dermaga Telu Pannyua karena letaknya persis di depan Fort Rotterdam. Tempat yang menjadi tujuan kami setelah kembali dari Pulau Samalona.
 

Papan Penunjuk Dermaga Penyeberangan ke Pulau Samalona

Ketika kami tiba di dermaga, seorang operator perahu langsung menghampiri kami. Dia menawarkan jasa penyeberangan ke pulau di sekitar Makassar. Kami pun langsung negosiasi mengenai berapa biayanya. Dari hasil riset yang saya dapat, biaya penyeberangan umumnya berkisar dari Rp250.000 hingga Rp500.000 tergantung kepiawaian menawar si turis. Operator tersebut membuka harga Rp450.000, namun saya teguh hanya mau membayar Rp300.000 untuk perjalanan pergi - pulang ke Pulau Samalona. Setelah beberapa saat, operator perahu setuju dengan harga yang saya ajukan. Kami pun segera bergegas untuk naik ke perahu.
 

Saya Menunggu Untuk Masuk Perahu. Photo courtesy @tiwiatmodikoro

Perjalanan ke Pulau Samalona memakan waktu 20 - 30 menit, kami sejenak mampir di Pulau Lae-lae karena operator perahu perlu membeli bahan bakar. Tidak lama, hanya 2 menit dan kami melanjutkan perjalanan. Pulau Samalona adalah pulau kedua dari Makassar di Selat Makassar menuju ke Pulau Kalimantan. Selama perjalanan kami melewati jalur kapal yang akan bersandar di pelabuhan Makassar. Sebuah pengalaman yang seru.
 

Pulau Lae-lae

Tidak lama kemudian, kami tiba di Pulau Samalona. Pulau ini tidak besar, dan dihuni oleh beberapa keluarga. Nampak dermaga kapal sudah rusak, sehingga kami mendarat di pantai. Cuaca cerah, suasana sunyi sehingga ideal untuk rekreasi. Di pulau ini ada beberapa penginapan yang bisa digunakan pengunjung. Setelah berkeliling pulau, tidak sampai 15 menit, kami menuju kantin yang terletak di tengah pulau. Kami memesan sarapan untuk hari itu, dan saya menumpang mandi di sana.
 

Dermaga Pulau Samalona

Sekeping Pemandangan Pulau Samalona

Puas menikmati pulau, kami putuskan untuk kembali ke Makassar. Seorang ibu dan anaknya meminta izin untuk menumpang kapal kami ke Makassar, si adik ingin membeli buah katanya. Permintaan ini tentu saja kami iyakan. Tidak ada masalah selama penyeberangan pulang dan 30 menit kemudian kami pun tiba kembali di Dermaga Teluk Pannyua. Setelah membayar operator perahu, kami bergegas ke tepi jalan raya untuk melanjutkan perjalanan wisata kuliner.
 

Perjalanan Pulang dari Pulau Samalona. Photo courtesy @tiwiatmodikoro

Tujuan makan siang kami adalah Palubasa Samalona dan Es Pisang Ijo Nyuk Nyang di Jl. Irian. Kedua tempat ini kami putuskan karena berlokasi di jalan yang sama. Kami kembali menggunakan pete-pete huruf B ke arah Lapangan Karebosi untuk menuju ke sana. Karena kami tidak tahu lokasi persis kedua tempat makan ini, yang terjadi adalah kami menemukan Restoran Nyuk Nyang dahulu. Restoran ini menjual bakso (non halal), sehingga kami sempat dilarang masuk oleh pemiliknya, namun setelah kami jelaskan ingin menikmati es pisang ijo, ia pun mempersilakan kami.
 

Es Pisang Ijo Restoran Nyuk Nyang

Berbeda dengan es pisang ijo di Jakarta, porsi yang disajikan sangat melimpah menurut ukuran saya, karena pisang utuh besar yang dibalut dengan kulit. Harganya cukup mahal untuk standar minuman, Rp16.000 per porsi. Terus terang hanya dengan makan itu sudah mengenyangkan buat saya. Setelah selesai, kami melanjutkan untuk mencari Palubasa Samalona yang letaknya ternyata bersebelahan dengan Restoran Nyuk Nyang. Palubasa Samalona sebetulnya adalah opsi kedua setelah Palubasa Serigala di Jl. Serigala. Tapi karena saya tidak tahu lokasinya dan naik apa ke sana, kami putuskan untuk mencoba di Palubasa Samalona. Letak persisnya di perempatan Jl. Irian (sekarang Jl. Wahidin Sudiro Husodo) dan Jl. Sumba.

Setelah makan, kami melanjutkan ke Fort Rotterdam. Di sini kami merasakan keramahan sopir pete-pete. Kami menumpang pete-pete nomor B tujuan Benteng Somba Opu dari Jl. Irian. Sama dengan kejadian tadi pagi, sopir sengaja melanggar rute trayek untuk mengantarkan kami ke Fort Rotterdam. Dan tidak ada penumpang di belakang yang protes. Walaupun hal ini melanggar hukum, terima kasih saya untuk mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang dan cuaca terik ketika kami sampai. Di sana kami bersama dengan rombongan pelajar dari salah satu SMA di Makassar. Kami mengisi buku tamu di pos penjagaan, tidak ada biaya masuk, hanya sumbangan sukarela menurut penjaganya. Keliling benteng tidak memakan waktu lama, hanya sejam. Kami tidak berkeliling secara detail karena cuaca terik dan kami kelelahan karena padatnya acara selama tiga hari terakhir.
 

Fort Rotterdam

Puas berkeliling Fort Rotterdam kami menujur Jalan Somba Opu tempat membeli buah tangan dan kerajinan khas Makassar. Banyak toko suvenir dan oleh-oleh di sini, selain Toko Emas. Harga barang di toko-toko di sini relatif murah dan mereka menerima pembayaran melalui kartu. Kami masuk ke beberapa toko di sana, dan setelah dirasa cukup kami bersiap untuk pulang.

Kami berburu penganan khas Makassar untuk terakhir kali sebelum pulang, yaitu Coto Makassar. Dan lokasinya tidak jauh dari Jl. Somba Opu, yaitu di Jl. Nusantara (depan pelabuhan Makassar). Tidak jauh dari bundaran, kami menemukan Coto Nusantara. Rasa makanan ini menurut saya enak. Namun karena dehidrasi saya agak kesulitan makan makanan santan.

Kenyang makan, kami memutuskan untuk menuju bandara. Halte Bus Damri ke Bandara Sultan Hasanuddin terletak di Jl. Riburane, sekitar 100 meter dari Coto Nusantara. Kami berjalan kaki ke halte tersebut. Kami menunggu sekitar 30 menit sebelum bus tiba. Waktu antar bus memang cukup lama, sehingga jika terburu-buru lebih baik naik taksi ke bandara. Untungnya, karena penerbangan kami masih 4 jam lagi, kami tidak tergesa-gesa. Setelah membayar Rp20.000, bus mulai berjalan ke arah bandara. Jalan yang dilewati berbeda ketika kami tiba karena kali ini bus lewat tol menuju Kabupaten Baros. Dan ini mempercepat waktu tempuh karena jika lewat jalan biasa, jam pulang kantor tentu akan menghambat kami. Bus tiba di bandara 30 menit.

Setibanya di bandara, kami segera check in, lalu masuk ke ruang tunggu. Penerbangan pulang tepat waktu dan tidak ada insiden, dan saya tiba di rumah pukul 23.00 WIB. Saya bersyukur atas perjalanan yang menyenangkan ini.

Selesai.

Piknik Makassar & Tana Toraja (16-18 Maret 2013) - Hari Kedua

Kami sampai di Rantepao pukul 06.00 WITA, dan perwakilan Bus Litha & Co. ternyata tepat di ruko Pasar Rantepao. Dari hasil riset, rental motor baru buka jam 7.30 WITA. Kami mencari tempat sarapan sebelum mulai mengunjungi tempat wisata di Tana Toraja. Setelah berkeliling sekitar pusat kota Rantepao, kami menemukan sebuah rumah makan yang menyajikan makanan halal. Di rumah makan ini, kami juga menumpang mandi. Pemilik rumah makan sangat ramah dalam menyambut kami.

Selesai makan, saya mencari rental motor, dan berhasil menemukan satu yang sudah buka. Namun sayangnya mereka hanya sedia satu. Saya kembali ke rumah makan dan mengajak teman untuk mencari motor lainnya. Tapi setelah berkeliling kami juga tidak bisa menemukan rental lainnya, pemilik rumah makan meminta anaknya untuk mengantar kami untuk mencari tempat rental. Syukurlah, teman saya kembali dengan motor sewaan. Sayangnya, kondisi motor yang disewa oleh teman saya tidak dalam kondisi bagus. Footstep kendur sehingga menyulitkan pergantian gigi. Tapi karena tidak punya pilihan lain kami menggunakan motor tersebut.

Sekitar pukul 09.00 WITA, kami mulai mengunjungi tempat wisata. Kami mengambil rute ke arah Makale. Karena tidak punya peta Tana Toraja, saya mengandalkan Global Positioning System (GPS) via Google Maps. Tujuan pertama adalah Buntu Pune. Jaraknya tidak jauh, sekitar 15 menit berkendara kami sudah tiba di situs ini. Kami disambut oleh pengelola yang sangat ramah di situs ini, Bu Maria. Selain diizinkan untuk mengambil foto, beliau menerangkan banyak hal yang menarik di Buntu Pune yang mungkin tidak diketahui hanya dengan melihat foto. Seperti tempat pemakaman, benteng di atas bukit, tongkonan di Buntu Pune, dan upacara kematian orang Toraja.


Tongkonan di Buntu Pune


Pemandangan dari Atas Bukit


Kompleks Buntu Pune

Selepas dari Buntu Pune, kami melanjutkan ke Kete Kesu. Masih satu arah masuk ke dalam dari jalan raya Rantepao - Makale. Karena motor yang disewakan banyak keterbatasan, seperti bensin yang hampir habis, kami mengisi penuh bensin di perjalanan ke Kete Kesu. 15 menit kemudian, kami sampai di Kete Kesu. Menurut Bu Maria, komplek Kete Kesu merupakan situs tertua orang Tana Toraja. Leluhur mereka dipercaya menetap pertama kali di sini, dan dimakamkan di tempat tersebut. Keturunannya kemudian menyebar ke seluruh Tana Toraja, hingga sekarang.


Kompleks Kete Kesu


Tongkonan dan Lumbung Padi di Kete Kesu

Di Kete Kesu kami menemukan beberapa bentuk makam orang Toraja, seperti yang ditaruh di pinggir jalan, di atas tebing, di dalam peti, dan yang diletakkan di dalam goa. Di sini saya juga beli oleh-oleh mini Tongkonan untuk Ibu. Jika ingin mencari oleh-oleh khas Tana Toraja, baik berupa kerajinan tangan atau sekedar cinderamata lain, saya sarankan untuk membelinya di sini. Total kami menghabiskan waktu hampir 2 jam di sini.

Setelah puas, kami melanjutkan ke destinasi berikutnya, Londa. Kami kembali ke arah jalan raya dan berbelok ke kiri ke arah Londa. Perjalanan dari Kete Kesu ke Londa memakan waktu 30 menit. Ciri khas dari wisata di Tana Toraja adalah mereka terletak di dalam perkampungan, cukup jauh dari tepi jalan raya. Namun, banyak petunjuk jalan untuk menuju tempat wisata ini berikut dengan jarak tempuhnya.

Di Londa, kami ditawari lampu stormking (petromaks) jika ingin menjelajah goa pemakaman. Tapi karena teman membawa senter, kami menolak tawaran tersebut. Ketika kami tiba, suasana sepi, tidak tampak pengunjung lainnya. Salah satu teman tidak ikut kami untuk ke area pemakaman. Suasana memang sangat sepi, dan sedikit menyeramkan. Ketika coba untuk masuk goa, saya kaget karena menemukan banyak peti yang diletakkan sangat dekat dengan jalan masuk. Alhasil saya dan teman urung meneruskan masuk ke dalam goa. Selanjutnya kami hanya mengambil foto di muka goa.


Pemakaman Dalam Goa di Londa

Setelah istirahat sebentar, sholat Zuhur dan Ashar, sekitar pukul dua siang, kami melanjutkan ke destinasi berikutnya, yaitu Tilanga. Tilanga adalah sebuah mata air yang berada di kaki bukit. Namun karena hari sudah semakin sore dan cuaca yang mulai mendung, kami hanya sampai di depan pintu masuk dan melanjutkan ke destinasi berikutnya, yaitu Lemo. Lemo merupakan tempat pemakaman yang pertama kali mengenalkan konsep menaruh jenazah di tebing. Tapi ketika kami sampai Lemo, sekitar jam 3 sore, cuaca mulai turun gerimis. Kami putuskan untuk segera kembali ke Rantepao karena selain hari sudah sore, cuaca yang mulai turun hujan, salah satu motor sewanya hanya hingga pukul 5 sore. Tapi belum sampai jalan raya, hujan berubah deras. Kami menepi di salah satu rumah penduduk.


Alam Tana Toraja

30 menit kemudian, cuaca berganti menjadi gerimis, kami putuskan untuk kembali ke Rantepao. Namun malang, di jalan dekat Londa, ban motor saya bocor. Karena hari Minggu merupakan hari libur bagi kebanyakan orang Toraja, banyak tukang tambal ban yang tutup. Saya terpaksa mendorong motor hingga dekat Kete Kesu (sekitar 5 km) sebelum menemukan salah satu tukang tambal ban yang buka. Ban dalam motor sewaan saya ternyata perlu diganti karena tidak mungkin untuk ditambal, dan sialnya mereka juga tidak menyediakan stok ban dalam untuk Honda Beat. Saya menggunakan motor sewaan teman saya untuk mencari ban dalam ke Rantepao. Beruntung di kota ada toko yang cukup lengkap. Setelah selesai urusan mengganti ban ini, kami kembali ke rumah makan untuk berkemas, dan mengembalikan kedua motor sewaan.


Insiden Ban Motor Rusak. Photo courtesy @tiwiatmodikoro

Bus kami ke Makassar baru berangkat pukul 21.00 WITA. Setelah kami selesai berkemas pukul 19.00, kami menuju agen bus Metro Permai untuk melunasi uang tiket dan menunggu bus. Di luar dugaan, Bus Meto Permai High Class yang kami naiki super mewah. Ini adalah bus terbaik yang pernah saya naiki. Mungkin setara dengan pesawat kelas first class. Jarak antara kursi sangat lapang, kursi Adilla yang empuk, dan kursi dapat direntangkan penuh tanpa mengganggu penumpang di belakang.



Interior Bus Metro Permai High Class. Photo courtesy @tiwiatmodikoro

Tidak lama setelah bus berangkat, saya pun tertidur karena kelelahan.

(bersambung...)

22 Maret 2013

Piknik Makassar & Tana Toraja (16-18 Maret 2013) - Hari Pertama

Perjalanan ke kota Makassar dan Tana Toraja adalah perjalanan kedua saya di bulan Maret 2013, setelah seminggu sebelumnya ke Bandung dan akhir bulan Maret ke Penang, Malaysia. Sedianya, perjalanan ini dilakukan pada 23-25 Februari 2013, tapi karena maskapai Batavia Air dinyatakan Pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, maka tanggal keberangkatan diubah. Kami sempat was-was dengan kabar ini, dan bersiap untuk kemungkinan terburuk yaitu tidak jadi berangkat dan melakukan proses pengembalian tiket. Namun beruntung, maskapai Citilink bersedia mengangkut eks-penumpang Batavia Air untuk tujuan CGK-UPG tanpa biaya, selain retribusi untuk Angkasa Pura II sebesar Rp5.000,00 per penumpang.

Karena salah seorang teman tidak bisa pada tanggal awal, disepakati tanggal perjalanan kami ubah menjadi tanggal 16-18 Maret 2013. Perjalanan kami mulai dari Bandar Udara Internasional Soekarno - Hatta terminal 1C, tempat Citilink beroperasi. Proses check-in berjalan lancar, dan kami segera menuju ke ruang tunggu di gerbang C2. Tidak lama setelah kami masuk ruang tunggu, petugas mengumumkan penumpang untuk segera naik ke pesawat melalui garbarata di C6.

Pesawat Siap di Apron
Pesawat yang kami tumpangi

Setelah penumpang selesai embarkasi, pesawat mendapat lampu hijau dari Air Traffic Controller untuk terbang. Setelah penerbangan nyaman selama 2 jam 10 menit, akhirnya kami tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pukul 10 WITA. Kesan pertama saya ketika disembarkasi adalah bandara ini modern dengan desain yang sekilas mengingatkan pada Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno - Hatta.


Halte Bus Damri di Bandara Sultan Hasanuddin


Interior Bus Damri

Kami segera keluar dari terminal untuk naik Bus Damri menuju Kota Makassar. Tiket per orang jauh dekat dipatok Rp20.000,00. Penumpang dapat turun di manapun sepanjang rute, karena bus mengambil jalan umum (tidak lewat Jalan Tol Seksi Empat) dari bandara ke Halte Riburane. Bus cukup nyaman dengan pendingin udara dan tempat menaruh tas. Kami turun di kantor perwakilan Bus Litha & Co. di Jalan Urip Sumohardjo untuk membayar tiket bus malam ke Tana Toraja malam itu.



Kantor Perwakilan Perusahaan Otobus Litha & Co.


Loket Penjualan Tiket di Kantor Perwakilan Litha & Co.

Setelah membayar dan mendapatkan tiket bus Litha & Co., kami segera ke arah Lapangan Karebosi dengan naik pete-pete huruf I. Sampai Lapangan Karebosi sudah tengah hari, sehingga kami putuskan untuk makan Konro Bakar di Sop Konro Karebosi di Jl. Gunung Lompobattang No. 41, Makassar. Walaupun menyandang nama Karebosi, letak rumah makan ini agak tersembunyi. Jika kesulitan mencari, silakan bertanya di pos polisi lalu lintas di dekat persimpangan Karebosi Link.



Sop Konro Karebosi

Karena hari sudah siang, rencana untuk menyeberang ke Pulau Samalona kami tunda menjadi hari ketiga, dan sore itu kami habiskan di Benteng Somba Opu yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Gowa di abad 16. Dari Lapangan Karebosi, sebetulnya ada pete-pete langsung ke Jembatan Jeneberang, pintu masuk ke Benteng Somba Opu. Namun karena informasi yang disampaikan polisi yang kami tanyakan tidak jelas, kami harus mengambil dua kali pete-pete. Pertama adalah pete-pete huruf C yang melewati Jalan Cenderawasih dan disambung dengan huruf B ke Jembatan Jeneberang.

Kami sampai di Jembatan Jeneberang pukul 14.30, dan segera berjalan ke arah benteng. Namun tidak ada rambu yang menunjukkan arah benteng. Setelah bertanya pada penduduk lokal, diketahui bahwa benteng berada di sebelah Gowa Discovery Park, wahana wisata air, dan tempat konservasi burung. Kawasan Benteng Somba Opu berisi bangunan rumah adat dari masing-masing Kabupaten di Sulawesi Selatan. Mirip dengan konsep Taman Mini Indonesia Indah. Bangunan asli benteng sudah terbenam cukup dalam di tanah, dan hanya sedikit yang tersisa.

Setelah puas berkeliling, kami beranjak menuju Pantai Losari. Selain menunggu keberangkatan bus, kami juga ingin mencari tahu lokasi Fort Rotterdam dan tempat penyeberangan kapal ke Pulau Samalona. Kami kembali naik pete-pete huruf B dan turun di depan kawasan pantai yang ikonik tersebut. Tenda-tenda yang berjualan pisang epe mulai dibuka, kami sendiri hanya memesan Es Teler untuk menghilangkan dahaga akibat panasnya cuaca sore itu.

Setelah foto-foto dan mengecek lokasi Fort Rotterdam dan Dermaga Benteng Pannyua, kami makan di Mie Titi Datumuseng di Jl. Datumuseng No. 23 Makassar. Lokasi rumah makan mudah ditemukan karena berlokasi di Kawasan Kuliner Makassar, dan billboard terlihat jelas dari Pantai Losari. Mie yang dijual di sini mirip I Fu Mie dengan kuah kaldu kental yang nikmat. Rumah makan ini juga menyediakan menu nasi goreng sebagai alternatif.


Mie Titi Datumuseng

Selesai makan, kami menuju masjid untuk ibadah dan bersih-bersih. Setelah itu kembali ke kantor perwakilan bus Litha & Co. di Jl. Urip Sumohardjo, dengan mengambil rute pete-pete Pantai Losari - Lapangan Karebosi dan dilanjutkan dengan pete-pete tujuan Terminal Daya. Sampai kantor perwakilan jam 20.00 WITA. Bus sendiri baru berangkat pukul 21.30 WITA.

Bus yang kami naiki adalah bus AC dengan karoseri Adiputro Jetbus Masterpiece, dengan tarif Rp130.000,00/per orang. Bus ini sangat nyaman dengan suspensi udara, jarak antar kursi yang lebar dan kursi Adilla yang empuk. Lebarnya jarak antar kursi menyebabkan kapasitas total bus hanya 28 penumpang. Jauh berbeda dengan bus di Pulau Jawa yang berkapasitas lebih besar, namun dengan jarak antar kursi yang kecil.


Bus Litha & Co. LT-110 Makassar - Toraja

Makassar ke Tana Toraja berjarak 330 km, namun memakan waktu 9 jam. Hal ini disebabkan jalan trans Sulawesi yang ditempuh sempit dan hampir sebagian besar jalur pegunungan sehingga bus tidak bisa berjalan dengan cepat. Sebelum berangkat, masing-masing penumpang ditanyai tujuan akhir oleh kondektur di dalam manifes perjalanan. Kondektur selanjutnya akan menyampaikan kepada sopir dimana ia harus menghentikan bus untuk menurunkan penumpang. Cara ini menurut saya efisien, karena penumpang tidak perlu terjaga sepanjang perjalanan akibat khawatir tujuannya terlewat jika ia terlelap.

(bersambung...)