02 February 2013

Piknik Vietnam Selatan 20 Januari 2013 - Mui Ne - Ho Chi Minh City

Pagi harinya saya bangun pagi karena harus memesan tiket bus untuk kembali ke Ho Chi Minh City, Richard menemani saya. Karena sudah tahu letak agen bus Phuong Trang, kami lalu meminta teman-teman untuk berkemas sementara kami berdua mencari tiket. Dari hotel, kami naik bus yang sama dengan yang kami gunakan siang sebelumnya, namun ke arah yang berlawanan. Perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit dengan karcis ₫13.000. Karena tidak tahu berapa harga karcis, saya memberikan uang pecahan besar kepada kondektur perempuan, dan setelah menghitung kembalian, saya baru tahu berapa harga karcis.

Saya langsung bergegas ke petugas agen bus Phuong Trang, namun sayangnya saya diberitahu kalau bus pagi itu sudah penuh, dan pemesanan banyak dilakukan pada hari sebelumnya. Namun, si petugas menawarkan kami tiket bus dari perusahaan lain yang masih kosong. Karena tidak punya pilihan lain, kami setuju dengan tawarannya. Bus akan menjemput kami di hotel pukul 08.00 waktu setempat. Saya dan Richard lalu segera kembali ke hotel, dan karena takut lama menunggu bus, kami putuskan naik taksi Mai Linh yang kebetulan sedang mengetem. Kembali saya mendapatkan pelayanan yang prima dari perusahaan taksi ini dan tidak lama kemudian kami sampai di hotel.

Saya lalu memberitahu teman-teman lain di hotel untuk segera check-out karena kami akan dijemput pukul 08.00, dan untungnya mereka semua sudah siap. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal di dalam kamar dan check-out selesai, kami menunggu bus tiba di tepi jalan. Dan tepat pukul 08.00 bus yang membawa kami ke Ho Chi Minh City tiba. Bus yang membawa kami ke Ho Chi Minh City memang tidak sebagus Phuong Trang yang saya rencanakan untuk pakai, tapi tidak ada alternatif lain dan kami pun berangkat.

Bus Phuong Trang

Perjalanan dari Mui Ne ke Ho Chi Minh City memakan waktu kurang lebih 5 jam, dan sekitar pukul 13.00 kami tiba di Phạm Ngũ Lão. Setelah itu kami lalu check-in di hotel kami untuk malam ini, yaitu Phan Anh Hostel, yang ternyata tidak jauh dari Lofi Inn Saigon. Setelah menaruh barang dan beristirahat sejenak, kami putuskan untuk berkeliling Ho Chi Minh City sore itu. Kami sempat bertanya kepada resepsionis mengenai tempat belanja dan rute wisata di Ho Chi Minh City. Resepsionis memberikan saran yang bagus mengenai tempat yang bisa kami kunjungi dengan berjalan kaki dan tempat belanja yang murah serta memberikan kami peta sebagai panduan.

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Cho Bến Thành, sebuah pasar tradisional yang menjual cinderamata dan makanan khas Vietnam. Dalam perjalanan kami menemui warga Ho Chi Minh City yang sedang berolahraga di fasilitas olahraga yang disediakan pemerintah kota di taman. Di beberapa sudut kota lain, banyak fasilitas olahraga lain yang ramai digunakan oleh warga. Sesuatu hal yang patut dicontoh oleh Pemerintah Indonesia.

Fasilitas Olahraga di Taman

Di Cho Bến Thành, kami menyempatkan beli Bánh Mì untuk makan siang. Dari Cho Bến Thành, kami melanjutkan berjalan kaki ke Independence Palace, yang dahulu digunakan sebagai pusat pemerintahan Presiden Vietnam Selatan dan sekaligus menandai berakhirnya Perang Vietnam ketika tank tentara Vietnam Utara menerobos pagarnya yang sekaligus berarti telah direbutnya Vietnam Selatan.

Suasana di dalam Cho Bến Thành

Food Court Cho Bến Thành

Sayangnya kami tiba di Independence Palace pukul 16.15 dan tempat tersebut sudah tutup. Kami hanya mengambil fotonya dari gerbang luar. Puas mengambil foto, kami lalu melanjutkan ke War Remnants Museum, sebuah museum perang yang mengingatkan pengunjung akan kehidupan masa kolonialisme Perancis di Vietnam dan perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Kembali karena kami datang sudah sore, museum sudah tutup. Tapi kami diperbolehkan oleh petugas untuk mengambil beberapa foto di halaman museum.

Independence Palace

War Remnants Museum. Photo Courtesy Richard

Dari museum kami berjalan lagi hingga tiba di Saigon Notre-Dame Cathedral Basilica, sebuah katedral di Ho Chi Minh City yang selesai dibangun pada tahun 1880 pada zaman kolonialisme Perancis. Bangunan ini tampak kontras dengan ajaran komunis yang dianut negara yang cenderung menyingkirkan agama. Sepertinya Vietnam mengizinkan warganya bebas memeluk agama yang diyakininya. Ketika kami tiba, sedang ada misa sore dan jemaat tampak khusyuk mengikuti prosesi di dalam katedral.


Saigon Notre-Dame Cathedral Basilica


Misa di Saigon Notre-Dame Cathedral Basilica

Di samping katedral, terdapat Saigon Central Post Office, sebuah kantor pos besar yang sore itu cukup ramai oleh pengunjung. Bangunan ini kental dengan nuansa kolonialisme Perancis. Selain melayani jasa pos, di kantor pos ini juga terdapat wartel, money changer dan toko cinderamata di kedua sisinya. Kami sempat menghabiskan waktu beberapa lama di toko cinderamata hingga kantor pos tutup pukul 18.00.

Saigon Central Post Office

Interior Saigon Central Post Office

Berikutnya kami beranjak ke sebuah supermarket yang direkomendasikan oleh resepsionis Phan Anh Hostel. Makanan dan minuman yang dijual di sini memang cukup lengkap dengan harga yang relatif murah. Kami membeli cukup banyak oleh-oleh di sini dan keluar dengan tentengan barang belanjaan yang tidak sedikit.

Saigon Opera House

Ho Chi Minh City Hall

Supermarket
Dari supermarket, kami kembali ke Cho Bến Thành. Ketika malam, jalan raya di sekitar pasar rupanya digunakan oleh pedagang kaki lima untuk menjajakan barang yang mereka jual. Barang yang dijual kebanyakan pakaian, sama seperti di dalam pasar. Penjual di sini menguasai bahasa Inggris dasar, sehingga tidak menyulitkan ketika menawar harga. Kami kembali berkeliling di tempat ini sambil makan malam di salah satu warung tenda. Awalnya agak takut dicurangi dengan harga makanan yang mahal karena kami turis. Ternyata mereka jujur dan tidak membedakan harga untuk warga lokal dengan turis asing.

Suasana Malam Cho Bến Thành

Pasar Malam Cho Bến Thành



Sekitar pukul 22.00, kami kembali ke hostel untuk beristirahat.

(bersambung)...

No comments: