02 Februari 2013

Piknik Vietnam Selatan 21 Januari 2013 - Ho Chi Minh City - Jakarta

Di hari terakhir kami di Ho Chi Minh City hanya dihabiskan untuk berbelanja oleh-oleh dan cinderamata untuk kolega dan keluarga di Indonesia. Paginya kami sarapan terlebih dahulu di hostel. Ada yang menarik dengan cara sarapan di Phan Anh Hostel, yaitu setiap tamu diwajibkan untuk mengisi pilihan makanan yang diinginkan, Bánh Mì atau Phở dan buah-buahan. Seorang staf hotel akan menyiapkan pesanan tersebut, termasuk memasaknya. Memang tidak mewah, tapi sangat perhatian.

Tujuan kami berbelanja adalah Mekong Shop di Phạm Ngũ Lão dan Cho Bến Thành. Kami menghabiskan waktu seharian karena dan pada pukul 13.00, Mbak Tina pamit pulang terlebih dahulu karena pesawatnya ke Kuala Lumpur berangkat pukul 15.25. Kemudian Ferry dan Richard juga menyusul berangkat ke bandara pukul 14.30, pesawat mereka berangkat pukul 16.20. Mbak Tina, Ferry dan Richard bertemu kembali di Kuala Lumpur International Airport untuk naik pesawat ke Surabaya pukul 20.45.

Toko Suvenir Mekong Shop

Interior Toko
Sedangkan saya, Gege, Tiwi, dan Reza baru berangkat ke Tan Son Nhat International Airport pukul 17.00, dan sempat makan malam di Burger King terlebih dahulu karena pesawat kami baru akan berangkat pukul 20.35. Ketika akan melalui proses imigrasi, kami mengalami sedikit masalah. Ternyata bandara ini mewajibkan setiap penumpang untuk melakukan pengecekan dokumen di counter maskapai yang bersangkutan dan akan diberikan boarding pass baru. Karena kami pikir sudah check-in sebelumnya sehingga tidak perlu lagi melaporkan diri seperti di Bandara Internasional Soekarno-Hatta atau Kuala Lumpur International Airport.

Waktu yang tadinya cukup banyak, karena ketidaktahuan ini menjadikan kami terburu-buru untuk proses check-in dan imigrasi ulang. Untungnya, kami berhasil menyelesaikan proses tersebut pukul 20.00 dan tidak lama kami sampai di gate, pemberitahuan bagi penumpang untuk masuk ke pesawat diumumkan. Perjalanan pulang berjalan dengan lancar dan kami tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pukul 23.20. Setelah menyelesaikan proses imigrasi dan bea cukai, kami mencari taksi untuk pulang ke rumah masing-masing.

(Selesai)

Piknik Vietnam Selatan 20 Januari 2013 - Mui Ne - Ho Chi Minh City

Pagi harinya saya bangun pagi karena harus memesan tiket bus untuk kembali ke Ho Chi Minh City, Richard menemani saya. Karena sudah tahu letak agen bus Phuong Trang, kami lalu meminta teman-teman untuk berkemas sementara kami berdua mencari tiket. Dari hotel, kami naik bus yang sama dengan yang kami gunakan siang sebelumnya, namun ke arah yang berlawanan. Perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit dengan karcis ₫13.000. Karena tidak tahu berapa harga karcis, saya memberikan uang pecahan besar kepada kondektur perempuan, dan setelah menghitung kembalian, saya baru tahu berapa harga karcis.

Saya langsung bergegas ke petugas agen bus Phuong Trang, namun sayangnya saya diberitahu kalau bus pagi itu sudah penuh, dan pemesanan banyak dilakukan pada hari sebelumnya. Namun, si petugas menawarkan kami tiket bus dari perusahaan lain yang masih kosong. Karena tidak punya pilihan lain, kami setuju dengan tawarannya. Bus akan menjemput kami di hotel pukul 08.00 waktu setempat. Saya dan Richard lalu segera kembali ke hotel, dan karena takut lama menunggu bus, kami putuskan naik taksi Mai Linh yang kebetulan sedang mengetem. Kembali saya mendapatkan pelayanan yang prima dari perusahaan taksi ini dan tidak lama kemudian kami sampai di hotel.

Saya lalu memberitahu teman-teman lain di hotel untuk segera check-out karena kami akan dijemput pukul 08.00, dan untungnya mereka semua sudah siap. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal di dalam kamar dan check-out selesai, kami menunggu bus tiba di tepi jalan. Dan tepat pukul 08.00 bus yang membawa kami ke Ho Chi Minh City tiba. Bus yang membawa kami ke Ho Chi Minh City memang tidak sebagus Phuong Trang yang saya rencanakan untuk pakai, tapi tidak ada alternatif lain dan kami pun berangkat.

Bus Phuong Trang

Perjalanan dari Mui Ne ke Ho Chi Minh City memakan waktu kurang lebih 5 jam, dan sekitar pukul 13.00 kami tiba di Phạm Ngũ Lão. Setelah itu kami lalu check-in di hotel kami untuk malam ini, yaitu Phan Anh Hostel, yang ternyata tidak jauh dari Lofi Inn Saigon. Setelah menaruh barang dan beristirahat sejenak, kami putuskan untuk berkeliling Ho Chi Minh City sore itu. Kami sempat bertanya kepada resepsionis mengenai tempat belanja dan rute wisata di Ho Chi Minh City. Resepsionis memberikan saran yang bagus mengenai tempat yang bisa kami kunjungi dengan berjalan kaki dan tempat belanja yang murah serta memberikan kami peta sebagai panduan.

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Cho Bến Thành, sebuah pasar tradisional yang menjual cinderamata dan makanan khas Vietnam. Dalam perjalanan kami menemui warga Ho Chi Minh City yang sedang berolahraga di fasilitas olahraga yang disediakan pemerintah kota di taman. Di beberapa sudut kota lain, banyak fasilitas olahraga lain yang ramai digunakan oleh warga. Sesuatu hal yang patut dicontoh oleh Pemerintah Indonesia.

Fasilitas Olahraga di Taman

Di Cho Bến Thành, kami menyempatkan beli Bánh Mì untuk makan siang. Dari Cho Bến Thành, kami melanjutkan berjalan kaki ke Independence Palace, yang dahulu digunakan sebagai pusat pemerintahan Presiden Vietnam Selatan dan sekaligus menandai berakhirnya Perang Vietnam ketika tank tentara Vietnam Utara menerobos pagarnya yang sekaligus berarti telah direbutnya Vietnam Selatan.

Suasana di dalam Cho Bến Thành

Food Court Cho Bến Thành

Sayangnya kami tiba di Independence Palace pukul 16.15 dan tempat tersebut sudah tutup. Kami hanya mengambil fotonya dari gerbang luar. Puas mengambil foto, kami lalu melanjutkan ke War Remnants Museum, sebuah museum perang yang mengingatkan pengunjung akan kehidupan masa kolonialisme Perancis di Vietnam dan perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Kembali karena kami datang sudah sore, museum sudah tutup. Tapi kami diperbolehkan oleh petugas untuk mengambil beberapa foto di halaman museum.

Independence Palace

War Remnants Museum. Photo Courtesy Richard

Dari museum kami berjalan lagi hingga tiba di Saigon Notre-Dame Cathedral Basilica, sebuah katedral di Ho Chi Minh City yang selesai dibangun pada tahun 1880 pada zaman kolonialisme Perancis. Bangunan ini tampak kontras dengan ajaran komunis yang dianut negara yang cenderung menyingkirkan agama. Sepertinya Vietnam mengizinkan warganya bebas memeluk agama yang diyakininya. Ketika kami tiba, sedang ada misa sore dan jemaat tampak khusyuk mengikuti prosesi di dalam katedral.


Saigon Notre-Dame Cathedral Basilica


Misa di Saigon Notre-Dame Cathedral Basilica

Di samping katedral, terdapat Saigon Central Post Office, sebuah kantor pos besar yang sore itu cukup ramai oleh pengunjung. Bangunan ini kental dengan nuansa kolonialisme Perancis. Selain melayani jasa pos, di kantor pos ini juga terdapat wartel, money changer dan toko cinderamata di kedua sisinya. Kami sempat menghabiskan waktu beberapa lama di toko cinderamata hingga kantor pos tutup pukul 18.00.

Saigon Central Post Office

Interior Saigon Central Post Office

Berikutnya kami beranjak ke sebuah supermarket yang direkomendasikan oleh resepsionis Phan Anh Hostel. Makanan dan minuman yang dijual di sini memang cukup lengkap dengan harga yang relatif murah. Kami membeli cukup banyak oleh-oleh di sini dan keluar dengan tentengan barang belanjaan yang tidak sedikit.

Saigon Opera House

Ho Chi Minh City Hall

Supermarket
Dari supermarket, kami kembali ke Cho Bến Thành. Ketika malam, jalan raya di sekitar pasar rupanya digunakan oleh pedagang kaki lima untuk menjajakan barang yang mereka jual. Barang yang dijual kebanyakan pakaian, sama seperti di dalam pasar. Penjual di sini menguasai bahasa Inggris dasar, sehingga tidak menyulitkan ketika menawar harga. Kami kembali berkeliling di tempat ini sambil makan malam di salah satu warung tenda. Awalnya agak takut dicurangi dengan harga makanan yang mahal karena kami turis. Ternyata mereka jujur dan tidak membedakan harga untuk warga lokal dengan turis asing.

Suasana Malam Cho Bến Thành

Pasar Malam Cho Bến Thành



Sekitar pukul 22.00, kami kembali ke hostel untuk beristirahat.

(bersambung)...

Piknik Vietnam Selatan 19 Januari 2013 - Mui Ne dan Phan Thiet

Perjalanan menuju Mui Ne dari Ho Chi Minh City menempuh jarak 214 km yang memakan waktu sekitar 6 jam, kami tiba di kota kecil di tepi Laut Cina Selatan pukul 02.00 dini hari. Kami belum sadar sepenuhnya ketika kondektur, yang ternyata adalah istri dari sopir bus tersebut, memberitahu bahwa kami telah tiba di tujuan kami, atau lebih tepatnya di depan hotel kami akan menginap malam harinya. Setelah kami turun dan barang-barang diturunkan, bus tersebut melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Saya baru sadar bahwa hanya rombongan kami yang turun di sini.




Beberapa tukang ojek berbicara dalam bahasa Inggris menawarkan jasa untuk mengantarkan kami ke tujuan. Kami menolak tawaran tersebut, karena kami sudah tiba di tujuan kami. Masih ada 4 jam sebelum pagi tiba dan 10 jam sebelum kami bisa check-in di hotel tersebut. Richard dan Mbak Tina lalu membangunkan penjaga hotel untuk mencoba negosiasi apakah kami bisa menggunakan kursi di depan lobi hotel untuk menaruh barang dan sejenak beristirahat. Ia mengiyakan, dan beberapa dari kami melanjutkan tidur yang terganggu.

Suasana Mui Ne Dini Hari

Saya, Ferry, Richard, Mbak Tina dan Reza lalu coba berkeliling ke sekitar hotel untuk melihat apakah ada yang bisa kami lakukan untuk menghabiskan malam. Sekitar 200 meter dari hotel ada Mui Mart, sebuah minimarket, yang buka 24 jam. Tadinya kami ingin memesan secangkir kopi hangat, namun pramuniaga yang berjaga tidak bisa mengoperasikan ketel listrik. Kami lalu membeli minuman dingin. Richard membeli minuman ringan yang belum pernah dicobanya, saya membeli Bir Saigon (kemudian saya menyesal tidak membeli merek lainnya). Sedangkan teman-teman lain membeli makanan ringan untuk menemani kami mengobrol di kursi yang disediakan di depan minimarket.

Minimarket Mui Mart

Satu jam kemudian, setelah kehabisan makanan, minuman dan bahan pembicaraan, kami kembali ke hotel. Ferry dan Reza memutuskan untuk tidur, namun Mbak Tina bergabung bersama saya dan Richard untuk berjalan kaki ke arah yang berlawanan dari letak minimarket. Ke arah tersebut adalah deretan hotel dan hostel dalam berbagai ukuran dan bentuk. Kami menghabiskan satu jam untuk berfoto-foto di masing-masing hotel tersebut.

Ketika jalan ini saya juga mengusung misi untuk mencari letak loket penjualan bus Phuong Trang yang akan kami gunakan untuk kembali ke Ho Chi Minh City, namun loket tersebut tidak terlihat (sore harinya saya baru tahu loket tersebut terletak 3 km dari hotel kami). Namun karena tidak juga ketemu, kami putuskan untuk menghabiskan waktu di hotel.

Saya lalu menunggu pagi di bibir pantai. Mulanya hanya sendiri, namun ketika fajar menyingsing, teman-teman mulai menemani. Matahari terbit di Laut Cina Selatan sangat indah. Di tengah laut, tampak beberapa keramba nelayan yang sedang mencari ikan. Bentuknya unik, mirip seperti baskom besar. Saya baru mengerti cara maju dan mundur baskom tersebut kemudian dari sebuah acara tv di stasiun BBC Knowledge.

Sunrise di Mui Ne

Nelayan Menjaring Ikan

Sekitar pukul 7, beberapa tamu hotel mulai bangun. Kami lalu coba untuk merayu resepsionis untuk check in lebih awal jika ada kamar kosong. Sementara resepsionis mengusahakan hal tersebut kami sarapan di Joe's Cafe, sebuah cafe di Mui Ne yang cukup terkenal di kalangan wisatawan mancanegara. Dulunya cafe ini buka 24 jam, namun sejak beberapa bulan lalu hanya buka hingga tengah malam. Namun untungnya, cafe buka cukup pagi sehingga kami bisa sarapan. Makanan cukup mahal, namun tidak ada tempat makan lain yang terlihat selain di sini, kami tidak punya pilihan lain.

Zalora (Paris Mui Ne), hotel tempat kami menginap


Joe's Cafe. Photo Courtesy Richard

Setelah sarapan, kami lalu mencoba untuk mencari informasi tentang tour setengah hari ke padang pasir di Mui Ne. Kami menemukan Victor Cafe, salah satu travel agent. Setelah menawar cukup alot, kami menyewa jip untuk 7 orang dengan harga ₫700.000 atau sekitar Rp350.000.

Victor Cafe. Photo Courtesy Richard

Sekembalinya kami ke hotel, sekitar pukul 10.00, kami mendapat kabar baik. Beberapa tempat tidur sudah tersedia dan kami diizinkan untuk check in lebih awal. Sempat terjadi salah paham karena pihak hotel meminta paspor kami sebagai jaminan selama kami menginap, dengan berat hati kami menyerahkan paspor tersebut, tapi masalah akhirnya selesai.

Karena tour baru dimulai 14.00, kami putuskan untuk pergi ke kota terdekat dari Mui Ne, yaitu Phan Thiet. Kota ini adalah kota kecil yang penduduknya mayoritas adalah nelayan. Kami berangkat menggunakan bus lokal seharga ₫13.000/orang. Jalanan menuju Phan Thiet sungguh indah, bus meliuk-liuk di bibir pantai yang ditumbuhi puluhan pohon palem. Sekilas tempat ini terlihat mirip dengan Pantai California yang beberapa kali saya saksikan melalui film. 30 menit kemudian kami tiba di tujuan.

Mui Ne. Photo Courtesy Richard

Bus Kota Mui Ne - Phan Thiet. Photo Courtesy Richard

Bingung dengan tempat yang akan kami kunjungi, pertama kali kami masuk ke sebuah mall di tengah kota. Niat awal ingin mendinginkan tubuh dari terik matahari siang yang menyengat. Kami sempat berkeliling mengunjungi setiap lantai. Tapi karena ukuran mall yang tidak besar, sebentar saja kami di dalamnya. Setelahnya, kami keluar dan menuju ke tempat lain.

Supermarket di Phan Thiet. Photo Courtesy Richard

Interior Supermarket. Photo Courtesy Richard

Kami sempat terpikir untuk kembali ke Mui Ne karena melihat sudah tidak ada tempat lain lagi yang bisa dikunjungi. Mendadak seseorang memanggil kami, ternyata seorang turis Eropa/Amerika. Ia menyarankan kami untuk mengunjungi 'Skeleton Temple' (Kuil Tengkorak) yang letaknya tidak jauh, sekitar 2-3 km berjalan kaki. Tertarik, kami lalu bergegas ke arah yang ditunjukkan oleh si turis.

Karena letaknya tidak jelas, Mbak Tina sempat beberapa kali bertanya ke penduduk lokal. Kendala bahasa jelas berpengaruh karena umumnya warga tidak mengerti bahasa Inggris. Akhirnya, dipilih bahasa isyarat. Saya salut dengan keberanian Mbak Tina dalam bertanya. Akhirnya setelah beberapa kali bertanya arah, kami tiba di suatu kuil. Namun tidak ada tanda-tanda tengkorak di dalamnya. Menurut kami, kuil tersebut lebih mirip kuil yang diperuntukkan bagi dewa penguasa lautan, tempat nelayan lokal memohon doa keselamatan ketika berlayar di Laut Cina Selatan. Merasa tertipu dan waktu yang terbuang cukup banyak, kami bergegas kembali ke halte tempat kami tadi turun dan menunggu bus untuk kembali Mui Ne.



Kuil Thuy Tu, Phan Thiet.

Bus ternyata belum tiba di dan kami membeli es tebu karena haus. Sialnya, ketika pesanan sedang dibuatkan, bus tiba dan hanya berhenti sebentar untuk menurunkan penumpang lalu berangkat kembali. Kami pun menunggu hingga 30 menit. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 14.00, kami tidak punya pilihan selain menggunakan taksi untuk kembali ke Mui Ne. Untungnya, Mailinh Taxi tersedia di sini. Perjalanan dari Phan Thiet ke Mui Ne menggunakan taksi memakan waktu 20 menit dengan biaya ₫75.000.

Saat kami tiba di depan hotel, jip sudah menunggu dan teman-teman kami sudah bersiap untuk tur. Setelah meminta maaf kepada pengemudi jip dan teman-teman lain, kami lalu bergegas ke tujuan pertama sore itu, Fairy Stream, sebuah tempat di pinggir gurun dan di sisinya terdapat sungai yang kecil yang dapat dilalui dengan berjalan kaki. Mungkin dinamakan Fairy Stream karena sungai dangkal ini seperti keajaiban bisa muncul di samping bukit pasir, dan beberapa mata air sungai berasal dari bukit pasir, seperti negeri dongeng.

Ketika kami sampai di tempat itu, sudah banyak jip lain yang parkir di tepi jalan. Kami diberikan waktu untuk berkeliling tempat ini sekitar 15 menit, waktu yang singkat karena kami memang telat berangkat. Untuk menuju ke Fairy Stream, kami berjalan melewati ladang penduduk, dan ketika kami akan turun ke sungai banyak anak-anak remaja yang menawarkan penitipan alas kaki. Kami sudah menduga ini adalah scam. Dan benar saja, ada sepasang turis muda yang tertipu oleh "kebaikan" mereka. Ketika akan dibayar, anak-anak ini menolak uang "receh" dan meminta nominal yang jauh lebih besar. Mereka tidak segan-segan untuk mengikuti orang yang menitipkan alas kaki ini sepanjang Fairy Stream untuk menunjukkan niat baik mereka. Rupanya mereka bagian dari komplotan yang lebih besar. Hal ini saya ketahui ketika pulang dan menemukan mereka sedang membagi-bagi pendapatan pada hari itu, cukup banyak jumlah mereka, belasan anak. Untuk menghindari aksi mereka, diperlukan ketegasan untuk bilang tidak, dan bawa sendiri alas kaki ketika menyusuri tempat ini.

Berjalan Kaki ke Fairy Stream. Anak yang menghadap kamera adalah pelaku scamPhoto Courtesy Richard

Saya dan Reza berjalan kaki hingga ke hulu, dan menemukan tempat istirahat di pinggir sawah tempat padi baru saja ditanam. Sedangkan teman yang lain belum berjalan sejauh itu. Ketika kembali saya bertemu sepasang turis asing sedang mandi lumpur, yang menurut mereka baik untuk kesehatan. Saya hanya bisa menggelengkan kepala sambil berlalu.

Fairy StreamPhoto Courtesy Richard


Tidak jauh dari Fairy Stream, kami berhenti sejenak di pinggir jalan di atas tebing perkampungan nelayan di pinggir Laut Cina Selatan. Tampak ratusan kapal berbagai ukuran di bawah kami sedang ditambatkan. Kami tidak mengunjungi perkampungan tersebut dan melanjutkan ke tujuan berikutnya yaitu Yellow Sand Dunes.

Perkampungan Nelayan di Mui Ne. Photo Courtesy Richard

Bukit pasir di Mui Ne ini terletak di pinggir pantai. Angin yang berhembus dari laut membawa butiran pasir yang menjadi semakin banyak dan akhirnya membentuk bukit. Fenomena ini mirip dengan bukit pasir di Pantai Parangkusumo, DI Yogyakarta atau Tottori Sand Dunes, Tottori City, Jepang. Tempat ini adalah tujuan utama kami ke Mui Ne, Vietnam, karena tampak seperti berada di padang pasir di Timur Tengah. Namun, kembali dengan dalih tidak ada waktu, kami hanya dibatasi 20 menit di sini dan tidak bisa berjalan jauh ke tengah bukit. Sopir jip menyarankan kami menyewa kendaraan all terrain vehicles untuk berkeliling, yang setelah kami tanyakan harganya tidak masuk akal. Lalu kami putuskan untuk berjalan kaki saja.

Yellow Sand DunesPhoto Courtesy Richard

Danau di Yellow Sand Dunes. Photo Courtesy Richard

Karena tidak harus berjalan jauh seperti di Fairy Stream, kami cukup puas mengambil banyak foto di sini, dan bisa memenuhi batas waktu yang ditetapkan sopir jip. Namun ketika kami kembali ke jip, sang sopir tidak ditemukan. Setelah menunggu beberapa saat, kami putuskan untuk mencarinya. Ternyata ia sedang main kartu remi dengan sesama rekan sopir.

Dalam perjalanan kembali dari Yellow Sand Dunes, sopir sempat berhenti di suatu tempat yang dikenal oleh masyarakat lokal sebagai Mini Grand Canyon. Menurut saya, tempat tersebut lebih mirip aliran sungai yang kering dengan kedalaman sekitar 10 meter. Tidak sedramatis Grand Canyon yang sedalam ratusan meter. Kami tidak turun menelusuri Mini Grand Canyon, hanya mengambil foto dari atas tebing seperti di perkampungan nelayan tadi.

Mini Grand CanyonPhoto Courtesy Richard

Terakhir, kami pergi ke bukit pasir kedua, yaitu Red Sand Dunes. Mirip dengan Yellow Sand Dunes, hanya saja bukit pasir ini berwarna merah, bukan kuning dan terletak di pinggir jalan raya, cukup jauh dari bibir pantai. Kami menikmati matahari terbenam di tempat ini. Sekitar pukul 18.00, kami menyudahi tur dan pulang ke hotel. 30 menit kemudian kami tiba di hotel.

Red Sand DunesPhoto Courtesy Richard

Setelah itu kami makan malam di restoran seafood pinggir pantai di samping hotel. Harganya cukup murah, dan setelah kenyang kami kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat setelah seharian yang melelahkan.

(bersambung)...

Piknik Vietnam Selatan 18 Januari 2013 - Cao Dai dan Củ Chi

Kami bangun pagi hari itu, dan setelah mandi kami sarapan di lantai 4 hostel. Sarapannya sederhana, hanya satu sisir buah pisang dan minuman, (es) teh maupun kopi. Saya mengambil buah pisang dan segelas teh. Richard mengambil hal yang sama, dan Mbak Tina hanya minum teh. Setelah selesai sarapan kami kembali ke kamar dan membereskan barang bawaan dan kemudian check-out. Pukul 07.30, kami telah selesai check-out dan menitipkan tas di sebelah resepsionis untuk kami ambil malam nanti. 

Karena bus yang menjemput kami untuk tour baru datang pukul 08.00, Mbak Tina dan Gege membeli Bánh Mì untuk sarapan, karena tidak semua teman sarapan di hotel, dan membeli air minum untuk di perjalanan nanti. Kebetulan hotel terletak dekat dengan sebuah pasar tradisional, dan di pinggir jalan ada seorang penjual Bánh MìBánh Mì merupakan makanan khas Vietnam yang sudah mendunia, berupa sandwich dengan lembaran daging, dan banyak sayuran di dalamnya. Harganya pun tidak mahal, hanya ₫16.000, atau sekitar Rp8.000 per porsi.

Kami lalu menunggu bus datang di depan hostel. Tepat pukul 08.00, seorang pemandu wisata datang menjemput kami. Tadinya saya membayangkan tour dilakukan dengan minivan, tapi ternyata kendaraan yang digunakan adalah bus besar dengan kapasitas penumpang 44 yang biasa digunakan untuk pariwisata di Indonesia. Kami lalu segera naik ke dalam bus dan menempati kursi yang masih kosong, yaitu di bagian depan. Pemandu wisata kami bernama Mr. Minh. Pria paruh baya berusia 67 tahun. Ia ramah pada peserta tour. Ia memperkenalkan diri dengan menceritakan pengalaman hidupnya. Mr. Minh lahir di Củ Chi, dan tumbuh besar di salah satu dari 28 Distrik yang ada di Saigon (nama Ho Chi Minh City dahulu), Vietnam Selatan. Semasa perang saudara, ia memihak Vietnam Selatan dan bertugas sebagai penerjemah tentara Amerika Serikat dan tentara Vietnam Selatan. Bersama pasukannya, ia bertugas untuk mencari letak Ho Chi Minh Trail yang digunakan pasukan Vietnam Utara sebagai rute pasukan dan logistik untuk menyerang Saigon, yang ujungnya adalah daerah Củ Chi, tempat ia lahir.

Saya pikir kami merupakan peserta tour yang terakhir kali dijemput, namun dugaan saya salah. Bus masih berkeliling di Ho Chi Minh City untuk menjemput beberapa peserta lainnya. Pukul 09.00, bus sempat mengisi bensin di salah satu SPBU. Penasaran, saya sempat melihat berapa biaya yang dikeluarkan oleh pengendara di sini. Ternyata, solar tidak disubsidi dan dijual ₫23.000/liter atau sekitar Rp11.500/liter. 

Setelah mengisi bahan bakar, akhirnya bus bertolak mengunjungi tempat pertama, yaitu Kuil Cao Dai. Kuil Cao Dai adalah agama asli Vietnam yang didirikan pada tahun 1926. Agama ini menggabungkan ajaran Buddha, Konfusius dan Kristiani. Kuil utama Cao Dai terletak di kota Tay Ninh, yang berjarak kurang lebih 100 km dari Ho Chi Minh City ke arah perbatasan Kamboja di sebelah barat. Saat ini, pemeluk Cao Dai di Vietnam berjumlah sekitar 5 juta orang. Walaupun bukan agama mayoritas di Vietnam, namun jumlahnya termasuk signifikan bagi suatu agama yang lahir dan tumbuh di Vietnam.

Perjalanan ke Tay Ninh memakan waktu kurang lebih 2 jam, dan diperkirakan sampai di sana sekitar tengah hari. Hal yang mengejutkan saya adalah cuaca cerah yang mengiringi perjalanan kami, dan tidak tampak kekacauan seperti yang kami alami di Tangerang dan sekitarnya. Rupanya cuaca di Indochina antitesis dari daerah khatulistiwa, karena bulan Januari adalah musim kemarau dengan suhu yang sejuk, berkisar antara 21º C di pagi hari dan 32º C di siang hari. Dalam perjalanan ke sana, kami sempat mampir di sebuah restoran untuk istirahat sejenak. Kami sempat turun dan melihat-lihat ke dalam restoran. Namun tidak ada yang menarik perhatian kami untuk dibeli. Kami beristirahat selama kurang lebih 20 menit.

Bus Pariwisata Yang Kami Gunakan

Pukul 11.50, kami tiba di area Kuil Cao Dai, tepat ketika waktu ibadah siang hari. Kami segera turun dari bus dan menuju kuil. Bagi saya agak aneh memang berkunjung ke suatu tempat peribadatan ketika umat agama tersebut sedang beribadah. Turis yang ingin melihat peribadatan tersebut ditempatkan di belakang dan di lantai dua kuil. Hanya saja jumlah pengunjung yang naik ke lantai dua ini dibatasi karena keterbatasan tempat. Dua penjaga ditempatkan di bawah anak tangga yang membawa pengunjung ke lantai dua untuk mencegah pengunjung terlalu banyak di atas.

Kuil Cao Dai

Pemeluk Cao Dai datang ke kuil dengan memakai baju áo dài, pakaian tradisional Vietnam yang berwarna serba putih. Mereka yang rumahnya dekat kuil datang berjalan kaki, sedangkan yang jauh datang menggunakan sepeda motor. Ketika saya perhatikan, ibadah mereka cukup unik. Umat pria dan wanita tidak dipisahkan satu sama lain dalam beribadah, mereka semua duduk bersila di lantai. Mereka duduk berkelompok membuat 3 atau 4 jajar. Seorang imam yang menggunakan áo dài dengan warna yang berbeda dan semacam topi duduk bersila paling depan untuk memimpin ibadah dengan membaca doa. Di belakangnya tampak beberapa orang dengan pakaian yang berwarna-warni, tapi saya tidak tahu jabatan mereka. Kemudian di belakang imam, umat menembangkan langgam doa mengulangi imam sambil diiringi oleh musik di belakang. Umat lalu membungkuk setelah doa dikumandangkan. Untuk memastikan ibadah berjalan tertib dan khusyuk di tengah banyaknya turis, beberapa petugas ditempatkan di dekat pintu masuk untuk memastikan pengunjung tertib.

Petugas Ketertiban Kuil Cao Dai

Desain interior kuil kental dengan ornamen naga yang melingkar di seluruh pilar-pilar kuil. Kaca-kaca patri dengan simbol segitiga dengan satu mata yang melihat ke dalam bangunan kuil menjadi hal lain yang khas. Penggunaan kaca patri ini mempunyai keuntungan karena cahaya siang dapat leluasa menerangi interior kuil. Atap kuil dilukis bak Kapel Sistina yang termahsyur itu, namun di Cao Dai yang tergambar adalah langit yang cerah dan bintang-bintang dengan sebuah bola yang dikelilingi seekor naga sebagai pusat alam semesta. Lantai kuil dibuat berjenjang dengan lantai tertinggi di bagian depan, lalu semakin menurun ke bagian belakang kuil. Dengan demikian, posisi imam lebih tinggi dari posisi umat di belakangnya. Terakhir posisi pemain musik yang mengiringi ibadah ada di dekat pintu masuk, dekat dengan tempat turis yang menyaksikan proses peribadatan.

Umat Cao Dai Beribadah di Dalam Kuil

Ibadah berlangsung kurang lebih 20 menit, dan setelah itu umat pulang ke rumah masing-masing dan sebagian peserta tour kembali ke bus. Sebagian lainnya mengelilingi kompleks kuil. Karena sedikitnya waktu yang tersedia, saya menyempatkan diri untuk mengambil foto fasad luar kuil dan bangunan di sekitarnya. Banyaknya stager bambu di samping kuil menandakan sedang dilakukan perbaikan yang cukup masif. Di bagian belakang kuil, terdapat semacam lumbung penyimpanan stok pangan dengan arsitektur campuran antara masa kolonial dengan modern. Di tengah-tengah antara kuil utama dengan bangunan di belakangnya, terdapat pagoda kecil di tengah taman kecil yang dipagari.

Ornamen di atas Kuil


Sedangkan di samping kuil utama yang memisahkannya dengan tempat parkir, sebuah taman yang lebih besar dengan tiga buah pagoda. Saya tidak mengerti maknanya, namun dengan langit biru yang menjadi latarnya. Taman tersebut tampak indah. Rerumputan tampak memantulkan sinar matahari yang tidak terasa terik. Bunga-bunga bermekaran beraneka warna. Puas mengambil foto, kami kembali ke bus. Ternyata kami sudah ditunggu Mr. Minh dan peserta lain karena hari semakin sore dan masih ada satu tempat lagi yang harus dikunjungi.

Taman di samping Kuil Cao Dai

Bus lalu berjalan ke destinasi terakhir hari ini, yaitu Terowongan Củ Chi dan menempuh rute kembali ke Ho Chi Minh City. Namun 15 menit kami berjalan, kami mampir di sebuah rumah makan untuk makan siang. Tentu biaya tour tidak termasuk makan siang ini, sehingga kami harus mengeluarkan biaya ekstra. Karena biaya hidup di sini murah, tidak ada yang keberatan dengan hal itu.

Untuk makan siang, saya memesan nasi dengan cumi-cumi asam manis dan minum khas Vietnam cà phê đá (es kopi). Memang bukan pasangan yang sesuai, namun karena belum pernah mencoba minuman tersebut, hal itu tidak menjadi masalah bagi saya. 5 orang dari kami memesan nasi goreng. Tapi jangan bayangkan wujudnya seperti yang jamak ditemui di Indonesia. Di sini, warnanya seperti nasi putih sedikit kekuningan dengan rasa tawar plus sayuran kacang panjang, acar, dan wortel. Mbak Tina memesan pho.

Setelah selesai makan, kami sempat beristirahat sejenak sembari menunggu peserta tour lain menyelesaikan makan siang mereka. Reza menyempatkan diri menukar Dollar AS ke Vietnam Dong di sebuah toko mas di samping restoran. Di Vietnam toko mas berfungsi ganda sebagai money changer. Tidak perlu khawatir, karena nilai tukarnya tidak jauh beda dengan money changer resmi. Setelah seluruh peserta tour kembali ke dalam bus, kami melanjutkan perjalanan ke Terowongan Củ Chi dan tiba sekitar pukul 15.00.

Setelah turun dari bus, Mr. Minh langsung membeli tiket untuk seluruh peserta tour. Kemudian kami segera masuk ke dalam kompleks Củ Chi. Ternyata, Mr. Minh juga berfungsi sebagai pemandu wisata di sini. Terowongan Củ Chi terletak di kawasan hutan karet yang merupakan ujung dari Ho Chi Minh Trail yang bermula dari Hanoi, lalu melintasi hutan di Laos, dan berakhir di desa Củ Chi. Tentara Vietnam Selatan yang dibantu tentara Amerika Serikat mendapati informasi bahwa desa tersebut menjadi pintu keluar tentara Vietkong, mereka lalu membombardir wilayah tersebut dengan bom dan senjata kimia. Untung menghindari serangan bom, warga dan tentara Vietkong lalu menggali jaringan terowongan bawah tanah. Mr. Minh mengatakan, warga tinggal di terowongan yang pengap ini hingga berbulan-bulan lamanya.

Karena lokasi desa yang terletak di tengah hutan karet dan bambu dan tidak terima dengan perlakuan tentara Amerika Serikat, warga desa Củ Chi dan tentara Vietkong membuat banyak jebakan tradisional yang memakan korban tidak sedikit di pihak lawan. Saya sempat bergidik melihat jebakan yang dipertontonkan oleh Mr. Minh dan petugas, membayangkan korban yang anggota tubuhnya tertebus runcing bambu atau besi yang telah dilumuri racun. Warga setempat juga pintar dalam memanfaatkan selongsong bom yang tidak meledak untuk dibuat persenjataan atau untuk dipakai sebagai alat kebutuhan sehari-hari selama bersembunyi di bawah tanah.

Pengunjung Coba Persembunyian Tentara Vietkong

Tour di Củ Chi memakan waktu sekitar hampir 2 jam, diselingi dengan istirahat di lapangan tembak yang digunakan pengelola untuk menawarkan 'sedikit pengalaman perang' kepada turis. Pengunjung dapat mencoba latihan menembak sasaran dengan senapan laras panjang dari era Perang Vietnam yang sudah direstorasi. Peluru dijual satuan. Saya tidak tertarik, sebagaimana saya tidak tertarik dengan konsep perang.

Setelah selesai tour di desa Củ Chi, kami semua naik ke bus, dan kembali ke Ho Chi Minh City. Perjalanan memakan waktu 1 jam, dan kami tiba di kantor Mr. Minh pukul 18.00. Turun dari bus, kami bertujuh makan di Quán Phở Quỳnh. Ferry, Richard dan Mbak Tina belum mencoba Phở di sini, mereka penasaran setelah kami ceritakan kelezatan rasanya semalam.

Selesai makan, kami kembali ke Lofi Inn Saigon untuk mengambil tas lalu menunggu sleeper bus yang akan membawa kami ke Mui Ne, sebuah kota kecil di tepi Laut China Selatan. Bus menjemput kami tepat waktu, kondektur yang datang ke resepsionis menanyakan mana penumpang yang akan ia bawa. Resepsionis lalu memberitahu kami yang lantas mengikuti kondektur tersebut ke bus. Sebelumnya kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya selama masa kami menginap yang sangat singkat.

Sejujurnya, saya sempat pesimis semalam, apakah bus yang dipesan benar sleeper bus? Atau bus biasa yang berisi tempat duduk. Syukurlah kekhawatiran saya tidak terbukti, bus yang datang sleeper bus, walaupun memang tidak sebagus yang saya bayangkan. Bagaimanapun kami puas dengan bus tersebut. Hal menarik yang saya temui ketika akan naik bus ini adalah kami harus melepaskan sepatu. Kondektur selanjutnya memberi kami masing-masing sebuah kantong plastik untuk menyimpan sepatu tersebut. Dengan demikian, bus selalu terjaga kebersihannya.

Setelah naik ke dalam, saya pilih tempat tidur di atas. Untuk mencegah penumpang agar tidak jatuh, di ranjang ini terdapat sabuk pengaman seperti yang terdapat di pesawat. Setelah menaruh tas di antara kedua kaki (tidak ada tempat lain untuk menaruh tas), saya segera memakai sabuk pengaman. Saya lalu mencoba tidur karena besok merupakan hari yang panjang.



(bersambung)...

Piknik Vietnam Selatan 17 Januari 2013 - Jakarta - Ho Chi Minh City

Piknik ini bermula ketika beberapa bulan sebelumnya saya diajak oleh teman lama, Richard, untuk menemani dia pergi ke Vietnam bersama dua orang teman lainnya dari Surabaya. Kebetulan waktu itu maskapai AirAsia Indonesia sedang melakukan promosi untuk penerbangan ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Karena tawarannya menggiurkan saya menyetujui ajakan tersebut. Total saya mengeluarkan biaya Rp960.000,00 pp untuk tiket pesawat. Saya lebih beruntung karena ada penerbangan langsung dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Jika dari Bandar Udara Internasional Juanda, Richard dan teman-teman harus transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur.

Dua bulan sebelum keberangkatan tiga orang teman saya semasa sekolah menengah, Reza, Gege dan Tiwi memutuskan untuk ikut dalam perjalanan kali ini. Teman-teman di Surabaya tidak keberatan ketika saya mengajak teman-teman. Jadilah perjalanan yang tadinya grup kecil menjadi rombongan yang terdiri atas tujuh orang. 

Saya, Reza dan Gege membuat janji untuk bertemu dengan Tiwi di Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pukul 15.00 karena pesawat kami dijadwalkan berangkat pukul 16.35. Beberapa hari terakhir curah hujan sangat tinggi di Jakarta dan sekitarnya sehingga banyak lokasi yang terkena banjir dan genangan air, termasuk akses ke bandara. Kami sempat berpikir untuk membatalkan perjalanan ini jika keadaan semakin memburuk sehingga kami tidak bisa mencapai bandara tepat pada waktunya dan ditambah kekhawatiran jika cuaca di Vietnam sama dengan di Tangerang.

Cuaca masih gerimis ketika saya berangkat dari rumah pukul 12.00. Saya agak pesimis bisa mencapai bandara karena berita yang berkembang akses tol bandara terputus akibat banjir, praktis banjir mengepung Jakarta. Tapi untungnya ada alternatif jalan lain menuju bandara melalui pintu M1. Saya kembali beruntung karena sesaat keluar dari gang rumah, langsung mendapatkan taksi Pusaka (Blue Bird Group) yang sedang mengambil jalan pintas menghindari jalanan utama yang tergenang banjir.

Ketika saya masuk mobil dan mengatakan pada sopir bahwa tujuan saya adalah bandara, dia sempat keberatan karena ia baru saja dari bandara via jalan Tol Wiyoto Wiyono untuk mengantarkan penumpang dan terjebak banjir. Ia memaksa menerobos banjir dan untungnya tidak mogok karena air banjir sempat masuk ke dalam taksi, dan sekarang ia hanya ingin kembali ke pool taksi lalu pulang ke rumahnya. Tapi saya berusaha meyakinkan dia untuk mengantarkan kami sekali lagi dengan alasan kami tidak akan melewati jalan tol.

Sopir taksi setuju dengan tawaran saya tersebut dan saya pun menjemput Gege dan Reza di rumahnya masing-masing. Kami melewati rute Kunciran - Banjar Wijaya - Cipondoh - Tanah Tinggi - Bandara. Namun ketika melewati Kunciran terdapat genangan air yang cukup tinggi di jalan. Tapi sang sopir tidak gentar karena ia sudah berhasil melewati genangan air yang lebih tinggi dan jauh jika dibandingkan yang ini. Syukurlah kami berhasil melewati genangan tersebut tanpa masalah.

Selepas dari Kunciran, perjalanan lancar hingga Terminal 3, hanya hujan yang mengiringi sepanjang perjalanan kami. Pukul 15.00 kami tiba di depan terminal yang ramai sore itu. Setelah turun dari taksi, kami bertemu dengan Tiwi, dan tidak menunda waktu lagi kami segera ke imigrasi dan masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Imigrasi maupun pemeriksaan dokumen AirAsia tidak ramai sore itu karena kami mendengar berita banjir semakin tinggi di Tol Wiyoto Wiyono. Mungkin banyak penumpang yang terpaksa membatalkan kepergiannya.

Pukul 16.05, kami masuk ke pesawat dan tepat pukul 16.30 pesawat lepas landas. Penumpang tidak ramai pada penerbangan sore ini, hanya mengisi sekitar 70% dari kapasitas pesawat. Penerbangan menempuh jarak 1.882 km dengan waktu tempuh 3 jam. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dengan Ho Chi Minh City. Tepat pukul 19.30, kami mendarat di Bandar Udara Internasional Tan Son Nhat yang terletak hanya 6 km dari pusat kota.

Hal pertama yang saya rasakan ketika mendarat di sini adalah cemas, ragu-ragu, namun di saat yang sama juga merasa bersemangat dan ingin tahu petualangan apa yang menanti saya di negara ini. Ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi negara yang saya tidak mengerti sedikit pun bahasa dan budaya masyarakatnya. Saya hanya tahu bahwa dulu Saigon, sebelum diganti namanya menjadi Ho Chi Minh City, merupakan ibukota negara Republik Vietnam ketika perang saudara berkecamuk pada dekade 1960-an. Ketika akhirnya Republik Sosialis Vietnam mengalahkan mereka pada tahun 1975, namanya diubah menjadi Ho Chi Minh City, mengikuti nama salah satu tokoh politik Ho Chi Minh.

Setelah turun dari pesawat, kami segera menuju imigrasi. Bandara Tan Son Nhat ini cukup representatif untuk difungsikan sebagai pintu masuk ke Vietnam. Terlihat modern dan sudah dilengkapi dengan garbarata untuk keluar masuk pesawat. Papan petunjung dibuat dalam dua bahasa, yaitu bahasa Vietnam dan Inggris. Sehingga tidak sulit untuk menemukan arah.

Setelah selesai dari imigrasi, kami segera mencari taksi ke hostel di Distrik 1. Sesuai informasi yang kami dapatkan, jika ingin mendapatkan taksi yang benar (menggunakan argo dan aman dari pemerasan) maka kami harus naik dari terminal domestik. Letaknya tidak jauh, hanya bersebelahan dari terminal internasional tempat kedatangan kami. Setelah keluar dari terminal internasional berjalanlah ke arah kanan, ikuti jalan kira-kira 100 meter, sampailah di terminal kedatangan domestik. Kami lalu menunggu taksi di sini. Ternyata bukan kami saja turis asing yang menggunakan cara ini, beberapa wisatawan asing dari Eropa juga terlihat mengantri taksi di sini. Syukurlah kami melakukan riset sebelumnya.

Tips kedua dalam memilih taksi di sini adalah hanya naik taksi resmi dari dua perusahaan, Vinasun Taxi dan Saigon Taxi (grup Mailinh). Kedua perusahaan ini mirip dengan duopoli perusahaan taksi Blue Bird Group dan Express Group di Indonesia. Hal lain yang menarik adalah armada taksi di Vietnam tidak hanya terdiri atas Toyota Limo seperti di Indonesia, tapi juga Toyota Innova. Jika di Indonesia, Innova dijual sebagai kendaraan keluarga, di sini juga dimanfaatkan sebagai taksi.

Kebetulan kami mendapatkan Mailinh Taxi malam itu. Untuk mengatasi kendala bahasa dalam memberitahu arah sopir di mana kami menginap, saya sudah menyiapkan nama hotel dan alamatnya dalam secarik kertas. Saya menyerahkannya kepada petugas taksi yang berjaga di bandara, yang kemudian ia sampaikan kepada sopir taksi. Sopir langsung mengerti tujuannya setelah membaca alamat di kertas tersebut.

Pukul 20.45 kami tiba di Lofi Inn Saigon tempat kami menginap malam itu. Biaya taksi dari bandara ke Lofi Inn Saigon ₫125.000, namun saya bulatkan dengan tips menjadi ₫150.000 atau sekitar Rp75.000. Cukup mahal untuk jarak 8 km. Setelah check-in kami segera masuk kamar. Oleh resepsionis, kami diberitahu bahwa Richard dan teman-teman sedang keluar makan malam. Kami menaruh tas di kamar lalu keluar juga  untuk makan malam. Saya sempat bertanya ke resepsionis di mana tempat makan yang enak di sini. Resepsionis memberi saran kami harus mencoba Quán Phở Quỳnh seraya memberikan kami peta lokasinya.

Kami lalu keluar ke arah Quán Phở Quỳnh di Phạm Ngũ Lão. Namun belum jauh kami berjalan, Gege dan Tiwi tertarik untuk membeli sushi. Setelah selesai makan, kami lalu berkeliling sekitar taman Phạm Ngũ Lão, akhirnya kami sampai di Quán Phở Quỳnh. Toko ini menjual salah satu makanan khas Vietnam, yaitu Phở, berupa mie yang terbuat dari beras dengan daging dan kuah kaldu yang lezat. Namun saya tidak tahu daging yang mereka gunakan, karena itu saya ragu jika Phở halal.

Setelah makan, kami kembali ke hostel. Menurut resepsionis, Richard dan teman-temannya sudah kembali. Maka kami segera kembali ke kamar. Kamar kami dan Richard terpisah, walaupun Richard sudah memilih satu kamar besar ketika booking. Namun kami tidak terlalu kecewa karena pemilihan hostel ini lebih berat pada pertimbangan harga yang murah dan lokasi yang strategis.

Karena di perjalanan ini hanya saya dan Richard yang kenal satu sama lain, kami mengenalkan teman masing-masing. Teman yang dibawa oleh Richard adalah Mbak Tina dan Ferry. Saya mengenalkan Reza, Tiwi dan Gege kepada mereka. Saya dan Richard lalu membicarakan itinerary untuk besok. Karena saya yang bertugas dalam hal transportasi, saya menyarankan kami untuk segera mencari tour satu hari ke Củ Chi dan Cao Dai serta mencari sleeper bus ke Mui Ne malam harinya.

Alternatif pertama adalah menunggu biro wisata yang banyak tersebar di sepanjang jalan Phạm Ngũ Lão besok pagi, namun risikonya adalah kami baru bisa pergi dua hari lagi. Tapi ketika saya check-in tadi, saya melihat ada penawaran tour ke Củ Chi dan Cao Dai di meja resepsionis. Saya dan Richard sepakat untuk turun ke lantai dasar dan menemui resepsionis tersebut.

Keuntungan terbesar kami menginap di Lofi Inn Saigon adalah resepsionis yang sangat membantu dan tampaknya buka hingga larut malam. Kami mengutarakan niat kami untuk ikut tour ke Củ Chi dan Cao Dai kepada resepsionis dan juga meminta bantuannya untuk booking sleeper bus ke Mui Ne pada malam harinya. Ia bilang karena hari sudah larut ia akan mengusahakan kami bisa ikut tour esok pagi, karena biro wisata yang menyelenggarakan tour tersebut takutnya sudah tutup. Bagaimanapun, ia tetap berusaha dengan menelepon biro wisata tersebut saat itu juga.

Memang jika memesan tour di hostel sedikit lebih mahal ketimbang jika memesannya di biro wisata. Tapi keuntungannya adalah kami tidak perlu repot membandingkan biro wisata satu sama lain dan pemesanan cukup dilakukan melalui resepsionis hostel. Hampir semua hotel dan hostel di Ho Chi Minh City memberikan fasilitas ini kepada tamunya.

Kami diminta menunggu di kamar sembari dia mengusahakan kami untuk bisa ikut tour besok pagi. Saya dan Richard lalu berdiskusi untuk memikirkan rencana B jika kami tidak bisa ikut tour besok pagi. 20 menit kemudian, resepsionis mengetuk kamar kami dan memberitahukan kabar gembira. Ia telah memesan tour ke Củ Chi dan Cao Dai untuk 7 orang dan juga telah memesan sleeper bus ke Mui Ne malam harinya. Kami lalu diminta untuk membayar biaya tour dan bus saat itu juga dan memberitahukan bahwa kami harus siap esok pagi karena akan dijemput pukul 08.00. Setelah membayar, kami semua lalu kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

(bersambung)...