13 August 2011

Purworejo (Tulisan Kedua)


Serdadu klas dua hanya pangkat untuk Indo dan Pribumi--dan umumnya orang-orang Jawa dari Purworejo.
Mengapa pada umumnya Pribumi dari Purworejo? sekali waktu aku pernah bertanya. Mereka itu, jawabnya, orang-orang yang tenang. Kompeni memilih mereka untuk menghadapi bangsa Aceh yang bukan saja pandai menggertak, juga ulet dan keras seperti baja, bangsa perbuatan. Orang-orang berangsangan, terutama dari daerah kapur yang tangguh pada awalnya saja, akan tumpas di Aceh.
Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer
Ketika membaca paragraf di atas, saya menjadi tertegun. Bumi Manusia merupakan roman semi fiksi yang ditulis berdasarkan kisah hidup Tirto Adhi Soerjo, seorang jurnalis Indonesia pada masa kebangkitan nasional. Saya teringat kisah nenek saya ketika ia masih kanak-kanak. Ia bercerita bahwa ayahnya merupakan seorang tentara kompeni, agak-agaknya sedadu klas dua seperti dituturkan oleh Pram di atas. Ayahnya pernah bertugas di Aceh, Singkawang, Malang dan Kebumen sebelum akhirnya hilang di Papua ketika pendudukan Jepang. Dari pihak kakek pun terjadi hal yang sama. Kakek saya, ayah dan paman-pamannya juga menjadi serdadu, di Angkatan Laut dan Angkatan Darat, sayang beliau keburu meninggal sehingga saya tidak sempat mendengar kisahnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sedari dulu hingga kini banyak orang-orang Jawa dari Purworejo yang berprofesi menjadi serdadu. Sebutlah Letnan Jenderal (Purn) Oerip Soemohardjo, Jenderal (Anumerta) Achmad Yani, Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto. Dan rasanya banyak di luar nama ini yang telah dan sedang mengabdikan diri sebagai serdadu.

Apakah itu alasannya banyak penduduk Purworejo yang menjadi tentara? Karena mereka adalah 'orang-orang yang tenang'? Mereka dipilih menjadi tentara Kompeni untuk melawan saudara sebangsanya karena jika dipilih orang-orang dari daerah lain, akan tumpas di Aceh? Mungkin ini memang salah satu kelebihan Belanda dalam memilih tenaga perang. Wallahualam.

Setidaknya tulisan Pram tersebut menjadi salah satu jawaban mengapa kota Purworejo menjadi seperti sekarang ini, kota berstruktur penduduk tua. Karena sebagai tentara, ketika aktif bertugas mereka akan sering berpindah kota dan hanya ketika memasuki usia pensiun mereka baru dapat kembali ke kampung halamannya.

Mengharukan, itulah kesimpulan saya. Mereka adalah petani-petani yang awalnya dipaksa untuk menjadi serdadu Belanda menghadapi perjuangan kemerdekaan di daerah lain. Namun pada seputar perang kemerdekaan mereka aktif membantu Pemerintah Republik yang masih sangat muda dalam mempertahankan kedaulatan dan wilayahnya. Hingga saat ini pun mereka masih berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan dengan semangat sama yang ditunjukkan oleh orang tua-orang tua mereka. Ya, mereka memang 'orang-orang yang tenang.'

No comments: