06 November 2011

Cara Membuat TeXmacs Portabel

Masalah ini muncul karena saya membutuhkan GNU TeXmacs, suatu aplikasi TeX yang menggunakan konsep WYSIWYW (What You See Is What You Want) atau terjemahan harfiahnya Apa Yang Kamu Lihat Adalah Apa Yang Kamu Inginkan, untuk mengerjakan tugas kuliah. Kelebihan dari TeX ini saya tidak perlu memikirkan format tulisan pada saat dicetak nanti, saya cukup fokus pada apa yang ingin saya tulis. Sesederhana itu.  


Pada PC di rumah yang berjalan di Arch Linux, GNU TeXmacs telah terinstal dan sering saya gunakan, namun saat ini saya perlu menggunakannya juga di laptop yang berjalan di Microsoft Windows 7. Sayangnya saya tidak mendapatkan hak akses administrator sehingga opsi yang paling memungkinkan adalah mencari versi portabel.


Untungnya GNU TeXmacs telah tersedia dalam format .exe dan bisa diinstal pada sistem operasi Microsoft Windows. Panduan ini saya buat berdasarkan artikel yang telah ada, hanya saja saya menggunakan alat yang berbeda dengan panduan tersebut.


Alat-alat yang dibutuhkan adalah:
  1. Universal Extractor portable, dan
  2. 7-zip portable


Langkah pertama yang dilakukan adalah tentu saja mengunduh aplikasi GNU TeXmacs. Setelah itu dekompres arsip .exe dengan Universal Extractor.


Cari file GNU TeXmacs yang berakhiran exe, lalu kompres semua folder tersebut memakai 7-zip.




Pada kolom 'Options' centang 'Create SFX Archive untuk membuat berkas yang dapat dieksekusi. Tingkat kompresi yang bisa digunakan juga beragam. Dalam contoh ini saya menggunakan kompresi normal. Makin tinggi kompresi yang digunakan maka semakin kecil pula berkas .exe yang dihasilkan.




Selesai. Berkas .exe sekarang dapat diekstrak dan saya jalankan dari salah satu folder yang ada di partisi hardisk, flash disk, atau cloud menggunakan Dropbox misalnya. Dan tidak perlu "menginstal" ulang TeXmacs untuk dapat digunakan pada komputer lainnya.






Selamat mencoba :)

05 September 2011

Lion Air Web Check-in


Lion Air and it's affiliate Wings Air has been offering its passenger web check-in feature since October 2010. While other major airlines have offered the feature for sometimes now, it's a groundbreaking step for Indonesian airlines. Lion Air is the second Indonesian airlines to offer this feature after Garuda Indonesia. The steps to do web check-in are as follows:

1. Visit Lion Air web check-in website:



2. Enter your Booking Reference and First or Last Name:



3. Choose your flight and state the passenger's gender:



4. Select your seat. If there is more than one passenger, pick a seat one of a time:



5. It's all done. Print your Boarding Pass or have it sent to your email to print later:



You will need another "check-in" at airport check-in counter for baggage one hour before departure. But if you only carry a handbag, you need to show up before Boarding Gate no later than 30 minutes before your flight. That's it, easy and convenient.

03 September 2011

Cibereum Waterfall

On 28 August 2011 (two days before 1432 H Eid al-fitr), I visited Gunung Gede Pangrango National Park in Bogor, West Java. My destination was one of tourists attraction in there, Cibeureum waterfall. The waterfall itself lies in the heart of national park at 1,625 meter above sea level, 3 kilometers from the entrance or one hour trip by foot. Actually my original plan was to visit Cibodas Botanical Garden, also in Cibodas, West Java. The garden located just below the national park. But quickly change up my mind because I found the waterfall more interesting.

I began my trip early in the morning by driving to Jurangmangu station, Banten. I took the first commuter train to Tanah Abang station (5.50 a.m.). Luckily the train to Bogor was delayed, so I was able to hopped on train to Bogor (6.24 a.m.). From there I use angkot (local mini bus) 03 to Baranangsiang bus terminal. I arrived at the terminal at 8.00 a.m. and decided to take another angkot 01 to Ciawi. Actually there are mini bus directly heads to Cianjur from Baranangsiang. But I was misled by a blog which told I have to wait longer the mini bus if I wait in terminal. The mini bus have to wait the passengers full (14 people) before its departure. It will depend on how many peole are travelling to Cianjur that day and will cost you time from 5 minutes to hours of uncertainties.

Here is a tip. In Ciawi, we have a number of public transportation to choose. There are buses go to cities in West Java which pass Puncak. I think they're cheaper and faster than the mini bus (in normal trip). The mini bus have pros and cons. The pros are they are driven by local drivers, they know the roads. If the traffic congested, they often use right of way along Jl. Raya Puncak to travel. The main problem is Pasar Cisarua which often make long congestion quite stressful. Especially when you have time to catch.

The cons are it cost you more expensive than bus, Rp15.000 from Ciawi to Cibodas (the tariff hike up to Rp25.000 in high season). The mini bus used is old and have huge risks in traffic accident. The mini bus which I used to Cibodas for instance have slick tires, packed with 13 people inside minus the baggage. While the ones I used to Bogor have burned brake shoes as it trapped in downhill trip just before Pasar Cisarua.

My stop was in Cibodas where I continue to the national park by angkot. The last 5 kilometers brought my memories back. The last time I went there in 2002, when I climbed Mount Gede with my high school friends. It was memorable and fun. 9 years later, the place has major makeover and I barely remembered as place where I visited before.

The entrance to Cibodas Botanical Park is further inside. There is a vast parking lot now, just North the entrance. A lot of stall vendors occupied the side of the road to national park. The national park has new information center just next to Mandalawangi Camping Site. The road to national park and golf course is now divided by two.

Entered the national park, we have to pay for entrance fee, Rp3.000 for local tourists and Rp20.500 for foreigners. We don't need to present ID card or other document, except if you want to hike to Mount Gede or Pangrango. The road to waterfall is a clear stone footpath with milestones every 100 meters. The signs along the path are clear and useful. 700 meters into the forest we're still can hear the motorcycle engine, but as the path goes higher and deeper into the forest the surrounding sound turned into the shrieks of bird, sighting of lutung (ebony leaf monkeys) and the sound of wind. Surprisingly, a lot of people visit the waterfall as I met some of them. Families trekking, bird watching enthusiasts or just friends gathering groups.

One hour later, I arrived at Cibeureum. The views are awesome and the air was fresh, it's worth a visit. But careful, in the regular weekends, this place attract lots of local tourists. After 15 minutes or so, I gained my strength to descent to rangers hut and back to Tangerang. Of course, go down is faster than the ascent. 45 minutes later I'm in angkot heading to Cibodas junction. From there, my trip became easier  because I got mini bus to Bogor in short time. But in the road wasn't that good. The traffic congestion in Pasar Cisarua delayed us 1,5 hours. The result was I missed the 2.50 p.m. train to Tanah Abang. I arrived in Baranangsiang at 3.45. Quickly hop to angkot 03 to station, bought a ticket and wait for the departure of 4.24 p.m. train. Because the train continues to Serpong station, I hurried to buy the next ticket in Tanah Abang. I admit, it was quite tiresome and worrisome because we know the train departure. This time the train departed punctually from Tanah Abang at 5.48 p.m. sharp.

Finally back in Jurangmangu at 6.24 p.m. I quickly paid my parking ticket and bought some drinks before I drive to my friend house to break the fast.

The detailed cost:

DEPARTURE
Ticket (Jurangmangu - Bogor): Rp13.000

Angkot 03 (Station - Baranangsiang): Rp3.000
Angkot 01 (Baranangsiang - Ciawi): Rp3.000
Mini bus (Bogor - Cianjur): Rp25.000
Angkot (Raya Puncak - Cibodas): Rp2.000
-------------------------------------------------------------------------------------------
Total: Rp46.000

RETURN
Angkot (Cibodas - Raya Puncak): Rp3.000
Mini bus (Cibodas Junction (Raya Puncak) - Bogor): Rp15.000
Angkot 03 (Baranangsiang - Station): Rp3.000
Ticket (Bogor - Jurangmangu): Rp13.000
Parking lot: Rp3.000
-------------------------------------------------------------------------------------------
Total: Rp37.000

13 Agustus 2011

Purworejo (Tulisan Kedua)


Serdadu klas dua hanya pangkat untuk Indo dan Pribumi--dan umumnya orang-orang Jawa dari Purworejo.
Mengapa pada umumnya Pribumi dari Purworejo? sekali waktu aku pernah bertanya. Mereka itu, jawabnya, orang-orang yang tenang. Kompeni memilih mereka untuk menghadapi bangsa Aceh yang bukan saja pandai menggertak, juga ulet dan keras seperti baja, bangsa perbuatan. Orang-orang berangsangan, terutama dari daerah kapur yang tangguh pada awalnya saja, akan tumpas di Aceh.
Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer
Ketika membaca paragraf di atas, saya menjadi tertegun. Bumi Manusia merupakan roman semi fiksi yang ditulis berdasarkan kisah hidup Tirto Adhi Soerjo, seorang jurnalis Indonesia pada masa kebangkitan nasional. Saya teringat kisah nenek saya ketika ia masih kanak-kanak. Ia bercerita bahwa ayahnya merupakan seorang tentara kompeni, agak-agaknya sedadu klas dua seperti dituturkan oleh Pram di atas. Ayahnya pernah bertugas di Aceh, Singkawang, Malang dan Kebumen sebelum akhirnya hilang di Papua ketika pendudukan Jepang. Dari pihak kakek pun terjadi hal yang sama. Kakek saya, ayah dan paman-pamannya juga menjadi serdadu, di Angkatan Laut dan Angkatan Darat, sayang beliau keburu meninggal sehingga saya tidak sempat mendengar kisahnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sedari dulu hingga kini banyak orang-orang Jawa dari Purworejo yang berprofesi menjadi serdadu. Sebutlah Letnan Jenderal (Purn) Oerip Soemohardjo, Jenderal (Anumerta) Achmad Yani, Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto. Dan rasanya banyak di luar nama ini yang telah dan sedang mengabdikan diri sebagai serdadu.

Apakah itu alasannya banyak penduduk Purworejo yang menjadi tentara? Karena mereka adalah 'orang-orang yang tenang'? Mereka dipilih menjadi tentara Kompeni untuk melawan saudara sebangsanya karena jika dipilih orang-orang dari daerah lain, akan tumpas di Aceh? Mungkin ini memang salah satu kelebihan Belanda dalam memilih tenaga perang. Wallahualam.

Setidaknya tulisan Pram tersebut menjadi salah satu jawaban mengapa kota Purworejo menjadi seperti sekarang ini, kota berstruktur penduduk tua. Karena sebagai tentara, ketika aktif bertugas mereka akan sering berpindah kota dan hanya ketika memasuki usia pensiun mereka baru dapat kembali ke kampung halamannya.

Mengharukan, itulah kesimpulan saya. Mereka adalah petani-petani yang awalnya dipaksa untuk menjadi serdadu Belanda menghadapi perjuangan kemerdekaan di daerah lain. Namun pada seputar perang kemerdekaan mereka aktif membantu Pemerintah Republik yang masih sangat muda dalam mempertahankan kedaulatan dan wilayahnya. Hingga saat ini pun mereka masih berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan dengan semangat sama yang ditunjukkan oleh orang tua-orang tua mereka. Ya, mereka memang 'orang-orang yang tenang.'

03 Juli 2011

Era IPTV dan Tarifnya

Pada tanggal 4 Juni 2011, layanan IPTV pertama di Indonesia, Groovia TV, diluncurkan oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Kelebihan dari teknologi Internet Protocol Television adalah menggabungkan antara layanan Internet dan tv berbayar menggunakan sambungan telepon rumah. Salah satu kelebihan utama dari IPTV adalah pelanggan dapat menyimpan tayangan tv yang terlewat hingga 48 jam terakhir. Jadi bila saya melewatkan final Liga Champions atau pertandingan antara NY Yankees v. Boston Red Sox, saya dapat memutar ulang pertandingan tersebut setelah merekamnya dalam dekoder.

TARIF

Namun, Groovia TV menyasar kalangan elite karena tarif berlangganan yang ditawarkan cukup mahal. Untuk layanan Triple Play, tiga layanan sekaligus, ditawarkan mulai harga Rp695.000/bulan. Pelanggan akan mendapatkan 40 kanal tv berbayar dan lokal, 1Mbps layanan internet dan gratis abodemen telepon.

Bila ingin mendapatkan pengalaman yang lengkap, seperti kanal premium HBO, ESPN, Star Movies, Disney, dll maka pelanggan perlu merogoh koceknya lebih dalam dan ditawarkan sebagai mini-packs dengan harga Rp80.000 (groovy kiddy) - Rp400.000 (grovvy maxxy).

KOMPETITOR

Bila dibandingkan dengan kompetitor lainnya yang menyediakan layanan all-inFirst Media, dan sama-sama menyasar kalangan menengah atas maka tarif yang ditawarkan Groovia TV memang lebih mahal. Paket tv berbayar Ultimate (92 kanal) ditawarkan seharga Rp300.000 sedangkan layanan internet mulai Rp195.000 untuk 1 Mbps. Sehingga total tarif berlangganan Rp495.000/bulan. First Media saat ini lebih unggul baik dalam hal tarif yang lebih murah maupun cakupan wilayah yang lebih luas dibandingkan dengan Groovia TV.

Sekarang bagaimana dengan pelanggan yang tidak menggunakan layanan all-in, seperti saya? Ada hal menguntungkan dari cara seperti ini, yaitu bila salah satunya mengalami kerusakan maka layanan lain tidak terganggu. Ini pengalaman yang saya alami ketika dahulu berlangganan Telkom Speedy, baik saluran telepon maupun Internet tidak bisa digunakan. Saya sekarang menggunakan Indovision sebagai layanan tv berbayar danSmartfren (dahulu Smart Telecom) sebagai layanan Internet.

Biaya yang saya keluarkan untuk menikmati tv berbayar adalah Rp330.000 (82 kanal) dan Rp99.000 untuk Internet dengan kecepatan hingga 3,1Mbps. Namun karena jarak rumah saya cukup jauh dari Base Transmission Stationcukup jauh, maka saya hanya mendapatkan 1Mbps. Sehingga total biaya bulanan yang harus saya keluarkan menjadi Rp429.000.

PENUTUP

Groovia TV mempunyai peluang cukup besar untuk meningkatkan pelanggannya di masa depan. Yang perlu dilakukan oleh Telkom adalah untuk menjaga agar kualitas layanan tv dan Internet tetap prima karena hal ini paling penting dalam menjaga pengalaman menikmati hiburan yang dirasakan pelanggan. Dengan tarif yang cukup tinggi, semoga stigma bahwa akibat tarif terlalu murah berbanding lurus dengan kualitas yang didapatkan pelanggan akan hilang.