16 August 2010

Liburan 2010 Bagian Pertama

Awal tahun ini, saya berlibur ke daerah Tasikmalaya, Purworejo, dan Yogyakarta. Oh ya, perlu saya terangkan bahwa sejak akhir 2008, saya telah selesai kuliah di UGM, Yogyakarta dan melanjutkan ke UI, Depok. Liburan kali ini juga menandai kembalinya saya berpiknik, atau mendaki gunung, setelah 5 tahun vakum. Tujuan pertama saya dalam liburan adalah Gunung Galunggung di Tasikmalaya.

Gunung Galunggung

Perjalanan ke Tasikmalaya ditempuh menggunakan bus malam. Saya berangkat dari rumah petang hari 17 Januari 2010 menuju terminal Kampung Rambutan. Dari Kp. Rambutan, saya menggunakan bus Budiman pukul 10.30. Oh ya, harga tiket Rp. 50.000,-. Perjalanan memakan waktu 4 jam saja. Sopir mengemudikan bus dengan sangat cepat, demikian cepatnya saya tidak bisa tidur di dalam bus, karena bus berguncang hebat selama perjalanan.

Sesampainya di terminal bus Tasikmalaya, saya tidak bisa langsung menuju Gunung Galunggung. Dari informasi yang saya peroleh, angkutan umum menuju ke sana baru ada paling cepat pukul 6.00. Masih ada tiga jam. Saya gunakan untuk sarapan bubur Tasik. Pukul 4, saya memutuskan untuk menggunakan ojek karena terus ditawari. Ongkos disepakati Rp. 45.000,-. Sepanjang perjalanan saya terus di-”interogasi”, apa tujuan saya ke Gunung Galunggung sebenarnya. Apakah untuk mencari “ilmu”, istri saya orang Galunggung, atau mengunjungi saudara? Mungkin bapak tukang ojek itu baru kali ini mendapati ada penumpang yang ingin berwisata di pagi buta, hahaha.

Jalan dari terminal Tasikmalaya menuju Gunung Galunggung banyak yang berlubang. Dari informasi yang saya dapat, hal ini disebabkan oleh masih aktifnya aktivitas penambangan pasir hasil letusan Gunung Galunggung tahun 1982. Diperkirakan, pasir yang ada masih mencukupi untuk ditambang hingga 20 tahun ke depan.

Saya sampai di kaki Gunung Galunggung pukul 4.30. Perjalanan menuju kawah masih 3 km lagi, namun portal untuk ke sana belum dibuka oleh pengelola. Saya kembali menunggu di warung di sekitar pemandian air panas Galunggung. Oleh pengelola warung, saya ditawari untuk naik ojek ke kawah, daripada lelah berjalan. Namun, sambil menawari tersebut, saya kembali di-”interogasi” penjaga warung. Sungguh pengalaman yang menggelikan. Pukul 6.30, sebelum naik ke kawah, saya mandi di pemandian air panas Galunggung. Saya melepaskan lelah sejenak di salah satu kolam yang tersedia secara gratis ini.

Perjalanan ke kawah kembali dilanjutkan menggunakan ojek. Ada yang menarik, plat motor bertuliskan Z 1974 AD, Lidya W. 07 14. Entah kebetulan atau bukan, salah satu teman saya bernama Lidya Wikantyasti. Saya kemudian teringat dengan sebuah pepatah “Ketika kita pergi ke suatu tempat, kita sebenarnya membawa serta dunia kita ke tempat tersebut, bukan meninggalkannya.”

Ojek tersebut mengantarkan saya ke bawah anak tangga menuju kawah Gunung Galunggung. Ongkos yang dibayarkan Rp. 30.000,- pp. Titian tangga permanen ini mencapai sekitar 200 anak tangga. Cukup melelahkan, terutama bagi yang jarang berolahraga seperti saya. Sampai di bibir kawah, saya sangat letih dan mengantuk. Saya beristirahat di salah satu warung. Karena masih pagi dan bukan musim liburan, warung-warung tersebut tampak sepi. Dari bibir kawah tampak danau Galunggung, dan di kejauhan sebuah mushola. Untuk menuju ke sana, saya harus turun ke kawah. Dari bawah kawah, mushola tersebut tidak tampak lagi karena tertutup alang-alang dan bebatuan. Namun untungnya, sebuah bendera telah ditancapkan untuk menandai lokasinya. Saya sempat tersesat beberapa kali, sebelum akhirnya berhasil menemukan akses ke sana dengan mengikuti aliran sungai menuju ke danau.

Ternyata mushola ini digunakan untuk menyepi orang-orang (tirakat). Tampak ada bekas lilin, tanda tidak adanya penerangan listrik di daerah terpencil ini. Beberapa meter di belakang mushola, terdapat semacam petilasan. Untuk wudhu, telah dibangun pula bak penampungan air hujan. Yang unik, terdapat pula kotak amal yang biasa kita temui di masjid/mushola lainnya, hehe. Saya menyelipkan beberapa lembar uang dari kantong saya, sekedar mengucapkan rasa terima kasih telah diberi kesempatan untuk berteduh. Karena hari semakin siang, saya memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Jawa Tengah. Namun, perjalanan pulang lebih berat karena saya mengambil rute pendaki untuk mencapai bibir kawah di atas sana. Akibat terik matahari, pasir menjadi mudah berguguran. Saya yang hanya memakai sandal santai, terpaksa melepasnya karena takut putus.

Dari kaki Gunung Galunggung, saya menggunakan angkutan umum menuju terminal Tasikmalaya. Karena saya membawa cukup banyak barang, saya mengambil tempat duduk di samping sopir. Yang membuat saya berkesan adalah karena sepanjang perjalanan saya kembali diajak berbincang oleh sopir. Akan tetapi, karena sang sopir terus berbicara dengan bahasa Sunda, saya menjadi tidak berkutik. Rasanya seperti mengalami sendiri film Lost in Translation. Terbayang oleh saya, kehidupan yang saya jalani di Jakarta, sangat berbeda sekali dengan saat itu.

No comments: