17 Agustus 2010

Liburan 2010 Bagian Kedua

Setelah turun dari Gunung Galunggung, pukul 12.30, saya langsung bertolak ke Purworejo, Jawa Tengah untuk mengunjungi nenek saya dari pihak Ayah. Perjalanan menggunakan bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) PO Mandala. Waktu tempuh memakan waktu 9 jam. Lamanya perjalanan karena bus ini hanya kelas bisnis AC sehingga sering mengetem di beberapa kota yang dilalui, seperti Banjar, Purwokerto, dan Wangon. Walaupun bukan perjalanan yang nyaman, tapi cukup menyenangkan. Saya bisa melihat jalur selatan Jawa Barat yang sering dilalui oleh para pemudik menjelang Lebaran.

Yang membuat bus terasa sesak adalah karena adanya rombongan orang yang ikut menumpangkan motornya menuju Surabaya. Dengan demikian kapasitas bus menjadi berkurang setengahnya karena praktis yang dapat ditempati hanya bagian depan bus. Sesampainya di daerah Kebumen, hujan turun sangat deras. Keadaan ini terus berlangsung hingga di daerah Purworejo. Akibatnya saya kesulitan mencapai kota karena tidak ada angkutan umum di hari yang telah beranjak larut tersebut.


Saya menggunakan sarana ojek hingga depan Rumah Sakit Umum Daerah Purworejo, dimana saya santap makan malam. Setelah kenyang saya berjalan kaki ke rumah nenek saya yang berjarak kurang lebih 200 meter. Kunjungan ke Purworejo selalu membawa kesan yang mendalam bagi saya. Ada beberapa objek wisata yang menarik untuk dikunjungi di sini. Yang pertama adalah keberadaan Masjid Agung Purworejo, letak bedug terbesar di dunia. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan karena tradisi memukul bedug sebelum mengumandangkan adzan hanya ada di Indonesia. Di jazirah Arab atau negara-negara mayoritas muslim lainnya, tradisi ini tidak dikenal. Bedug ini dibuat dari kulit lembu dan dibuat di daerah Baledono, Purworejo. Akibat dimakan usia, bedug ini hanya ditabuh setiap Jumat, menjelang dilaksanakannya sholat Jumat.

Tidak jauh dari Masjid Agung, terdapat Museum Tosan Aji. Tosan aji adalah bagian tajam yang terbuat dari logam pada senjata tradisional masyarakat Jawa, yang terdiri atas keris dan tombak. Di museum ini dijelaskan teknik pembuatan tosan aji oleh para empu di masa lalu, beserta contoh peralatan untuk membuatnya yang dikumpulkan dari beberapa daerah di sekitar Purworejo. Museum ini sangat sepi, jika bisa dikatakan hampir tidak ada, pengunjung. Oleh karena itu, untuk berkunjung ke museum ini, silakan menghubungi staf museum terlebih dahulu karena pintu museum selalu terkunci.

Di Purworejo masih terdapat makam peninggalan masa penjajahan Belanda. Lahan yang tersisa digunakan untuk pemakaman masyarakat nasrani. Di pintu masuk tertulis “Memento Mori”, atau terjemahan bebasnya adalah ingatlah akan kematian. Mungkin kelihatannya menyeramkan, tapi ketika saya bersepeda ke dalamnya pada suatu sore, suasana di dalam cukup “hangat”. Ada beberapa orang yang sedang berbincang di depan suatu makam. Ada satu fakta yang mengejutkan saya, ternyata jika seorang nasrani meninggal dunia, arah ia dikuburkan membujur dari barat ke timur. Sebelumnya saya pikir bahwa semua agama di dunia menguburkan pemeluknya seperti orang muslim, hehehe.

Dalam salah satu liputan khususnya beberapa tahun lalu, koran Kompas menyebut bahwa Purworejo adalah kota S3, singkatan dari Sangat Sepuh Sekali. Memang tidak bisa dipungkiri, demografi kota ini termasuk penduduk tua. Atau lebih banyak penduduk usia dewasa ketimbang penduduk anak-anak dan remaja. Kota ini terkenal karena banyak penduduknya di masa lalu yang berprofesi sebagai tentara, beberapa diantaranya yang sukses adalah Sarwo Edhie Wibowo (komandan RPKAD) dan Ahmad Yani (Kepala Staf TNI-AD). Setelah pensiun, para tentara ini kembali ke kampung halamannya di Purworejo. Dari sinilah muncul istilah Kota Sepuh.

Tidak ada komentar: