22 Agustus 2010

Into the FOSS World

My first contact with FOSS world was happened in 2002, when I was at 11th grade, right after I bought my first PC. The situation back then was although the Indonesian Copyright Act No. 19/2002 has been established, software piracy was at peak. Almost everyone, including friends in my high school use proprietary software, but not the original one. I remembered I'm quite good at cracking activation code as well.

Then, it all change when I found Info Linux magazine at local bookstore. It included an installer disc of a popular distro, Mandrake Linux 8.2. It was worth buying, and one of my best decision over the years. I try to install it in my PC without success, only in my 2nd attempt I successful. I found the OS is very challenging, intriguing and, the best of all, very entertaining. However, I still have my PC dual boot for some years since I dealt with a big obstacle, no Internet connection.

No internet connection means no update, news, forum, mailing lists or IRC. If my system crashed, I only had two options. First to lookup the answer in the magazines, or to reinstall it. Only after I bought a laptop, I had enough courage to fully migrate. I have OpenSUSEUbuntuDebianMepisBlankOnMandrivaSlackwarePC-BSD,FreeBSDPuppy LinuxArch Linux installed in my system past the years.

My first contribution to FOSS world was when I joined the Indonesian translator team in Ubuntu. Later on the same team also developed BlankOn, a Ubuntu derivative for Indonesian. However, I left the team because of lacks of time. Since then I only focus on upstream translation projects because of its flexibility of time.

17 Agustus 2010

Liburan 2010 Bagian Ketiga

Setelah beberapa hari di kota Purworejo untuk memulihkan diri dari perjalanan ke Gunung Galunggung, saya menuju kota terakhir, Yogyakarta. Di kota ini saya bermukim selama kurang lebih 5 tahun untuk menyelesaikan studi D3 saya.


Ini adalah kunjungan pertama saya dalam kurun waktu 1,5 tahun semenjak saya kembali ke Tangerang. Tidak banyak yang berubah di kota ini ketika saya mengunjunginya akhir Januari lalu, waktu serasa berhenti di sini. Perubahan yang saya rasakan di sana adalah adanya jaringan bioskop XXI baru di Jl. Adi Sucipto. Di seberang jalan, terdapat cabang baru toko buku Togamas.

Di kota ini saya mengadakan reuni dengan teman-teman semasa kuliah D3 dahulu, Mega dan Ronny. Mega saat ini kuliah S2 Hubungan Internasional pada universitas yang sama tempat kami kuliah dahulu. Sedangkan Ronny melanjutkan ke Universitas Sebelas Maret, Solo. Tidak muluk-muluk dan melanjutkan tradisi kami dahulu, kami mengadakan reuni dengan mengobrol sambil bersantap di warung makan di sebuah mall. Cukup banyak yang kami perbincangkan, saya kembali teringat dengan masa-masa kuliah dahulu. Tidak terasa, waktu telah berlalu dengan cepat. Kami saat ini melanjutkan hidup masing-masing, di kota yang berbeda.

Pengalaman lain yang saya dapatkan kemarin adalah makan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Pantai Krakal, Bantul. Beruntung saya makan di sana dengan keluarga sepupu, karena Pakde dan Bude sangat pintar memilih jenis ikan dan cara memasak yang enak. Perlu saya jelaskan, cara membeli ikan di sini sama dengan Muara Karang, Jakarta. Pengunjung memilih ikan yang akan dimasak di warung yang cukup banyak jumlahnya, kemudian pembeli memilih salah satu warung yang akan mengolah makanan. Sembari menunggu masakan matang, pengunjung dapat menikmati matahari terbenam di pantai yang hanya berjarak 50 meter dari TPI.

Tips: Para nelayan di sini kembali dari laut hari Rabu dan Jumat, pada kedua hari ini pasokan ikan di TPI berlimpah dan masih segar. Jadi, jika ingin menikmati sajian kuliner laut lengkap di sini, pastikan anda datang keesokan harinya.

Liburan 2010 Bagian Kedua

Setelah turun dari Gunung Galunggung, pukul 12.30, saya langsung bertolak ke Purworejo, Jawa Tengah untuk mengunjungi nenek saya dari pihak Ayah. Perjalanan menggunakan bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) PO Mandala. Waktu tempuh memakan waktu 9 jam. Lamanya perjalanan karena bus ini hanya kelas bisnis AC sehingga sering mengetem di beberapa kota yang dilalui, seperti Banjar, Purwokerto, dan Wangon. Walaupun bukan perjalanan yang nyaman, tapi cukup menyenangkan. Saya bisa melihat jalur selatan Jawa Barat yang sering dilalui oleh para pemudik menjelang Lebaran.

Yang membuat bus terasa sesak adalah karena adanya rombongan orang yang ikut menumpangkan motornya menuju Surabaya. Dengan demikian kapasitas bus menjadi berkurang setengahnya karena praktis yang dapat ditempati hanya bagian depan bus. Sesampainya di daerah Kebumen, hujan turun sangat deras. Keadaan ini terus berlangsung hingga di daerah Purworejo. Akibatnya saya kesulitan mencapai kota karena tidak ada angkutan umum di hari yang telah beranjak larut tersebut.


Saya menggunakan sarana ojek hingga depan Rumah Sakit Umum Daerah Purworejo, dimana saya santap makan malam. Setelah kenyang saya berjalan kaki ke rumah nenek saya yang berjarak kurang lebih 200 meter. Kunjungan ke Purworejo selalu membawa kesan yang mendalam bagi saya. Ada beberapa objek wisata yang menarik untuk dikunjungi di sini. Yang pertama adalah keberadaan Masjid Agung Purworejo, letak bedug terbesar di dunia. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan karena tradisi memukul bedug sebelum mengumandangkan adzan hanya ada di Indonesia. Di jazirah Arab atau negara-negara mayoritas muslim lainnya, tradisi ini tidak dikenal. Bedug ini dibuat dari kulit lembu dan dibuat di daerah Baledono, Purworejo. Akibat dimakan usia, bedug ini hanya ditabuh setiap Jumat, menjelang dilaksanakannya sholat Jumat.

Tidak jauh dari Masjid Agung, terdapat Museum Tosan Aji. Tosan aji adalah bagian tajam yang terbuat dari logam pada senjata tradisional masyarakat Jawa, yang terdiri atas keris dan tombak. Di museum ini dijelaskan teknik pembuatan tosan aji oleh para empu di masa lalu, beserta contoh peralatan untuk membuatnya yang dikumpulkan dari beberapa daerah di sekitar Purworejo. Museum ini sangat sepi, jika bisa dikatakan hampir tidak ada, pengunjung. Oleh karena itu, untuk berkunjung ke museum ini, silakan menghubungi staf museum terlebih dahulu karena pintu museum selalu terkunci.

Di Purworejo masih terdapat makam peninggalan masa penjajahan Belanda. Lahan yang tersisa digunakan untuk pemakaman masyarakat nasrani. Di pintu masuk tertulis “Memento Mori”, atau terjemahan bebasnya adalah ingatlah akan kematian. Mungkin kelihatannya menyeramkan, tapi ketika saya bersepeda ke dalamnya pada suatu sore, suasana di dalam cukup “hangat”. Ada beberapa orang yang sedang berbincang di depan suatu makam. Ada satu fakta yang mengejutkan saya, ternyata jika seorang nasrani meninggal dunia, arah ia dikuburkan membujur dari barat ke timur. Sebelumnya saya pikir bahwa semua agama di dunia menguburkan pemeluknya seperti orang muslim, hehehe.

Dalam salah satu liputan khususnya beberapa tahun lalu, koran Kompas menyebut bahwa Purworejo adalah kota S3, singkatan dari Sangat Sepuh Sekali. Memang tidak bisa dipungkiri, demografi kota ini termasuk penduduk tua. Atau lebih banyak penduduk usia dewasa ketimbang penduduk anak-anak dan remaja. Kota ini terkenal karena banyak penduduknya di masa lalu yang berprofesi sebagai tentara, beberapa diantaranya yang sukses adalah Sarwo Edhie Wibowo (komandan RPKAD) dan Ahmad Yani (Kepala Staf TNI-AD). Setelah pensiun, para tentara ini kembali ke kampung halamannya di Purworejo. Dari sinilah muncul istilah Kota Sepuh.

16 Agustus 2010

Liburan 2010 Bagian Pertama

Awal tahun ini, saya berlibur ke daerah Tasikmalaya, Purworejo, dan Yogyakarta. Oh ya, perlu saya terangkan bahwa sejak akhir 2008, saya telah selesai kuliah di UGM, Yogyakarta dan melanjutkan ke UI, Depok. Liburan kali ini juga menandai kembalinya saya berpiknik, atau mendaki gunung, setelah 5 tahun vakum. Tujuan pertama saya dalam liburan adalah Gunung Galunggung di Tasikmalaya.

Gunung Galunggung

Perjalanan ke Tasikmalaya ditempuh menggunakan bus malam. Saya berangkat dari rumah petang hari 17 Januari 2010 menuju terminal Kampung Rambutan. Dari Kp. Rambutan, saya menggunakan bus Budiman pukul 10.30. Oh ya, harga tiket Rp. 50.000,-. Perjalanan memakan waktu 4 jam saja. Sopir mengemudikan bus dengan sangat cepat, demikian cepatnya saya tidak bisa tidur di dalam bus, karena bus berguncang hebat selama perjalanan.

Sesampainya di terminal bus Tasikmalaya, saya tidak bisa langsung menuju Gunung Galunggung. Dari informasi yang saya peroleh, angkutan umum menuju ke sana baru ada paling cepat pukul 6.00. Masih ada tiga jam. Saya gunakan untuk sarapan bubur Tasik. Pukul 4, saya memutuskan untuk menggunakan ojek karena terus ditawari. Ongkos disepakati Rp. 45.000,-. Sepanjang perjalanan saya terus di-”interogasi”, apa tujuan saya ke Gunung Galunggung sebenarnya. Apakah untuk mencari “ilmu”, istri saya orang Galunggung, atau mengunjungi saudara? Mungkin bapak tukang ojek itu baru kali ini mendapati ada penumpang yang ingin berwisata di pagi buta, hahaha.

Jalan dari terminal Tasikmalaya menuju Gunung Galunggung banyak yang berlubang. Dari informasi yang saya dapat, hal ini disebabkan oleh masih aktifnya aktivitas penambangan pasir hasil letusan Gunung Galunggung tahun 1982. Diperkirakan, pasir yang ada masih mencukupi untuk ditambang hingga 20 tahun ke depan.

Saya sampai di kaki Gunung Galunggung pukul 4.30. Perjalanan menuju kawah masih 3 km lagi, namun portal untuk ke sana belum dibuka oleh pengelola. Saya kembali menunggu di warung di sekitar pemandian air panas Galunggung. Oleh pengelola warung, saya ditawari untuk naik ojek ke kawah, daripada lelah berjalan. Namun, sambil menawari tersebut, saya kembali di-”interogasi” penjaga warung. Sungguh pengalaman yang menggelikan. Pukul 6.30, sebelum naik ke kawah, saya mandi di pemandian air panas Galunggung. Saya melepaskan lelah sejenak di salah satu kolam yang tersedia secara gratis ini.

Perjalanan ke kawah kembali dilanjutkan menggunakan ojek. Ada yang menarik, plat motor bertuliskan Z 1974 AD, Lidya W. 07 14. Entah kebetulan atau bukan, salah satu teman saya bernama Lidya Wikantyasti. Saya kemudian teringat dengan sebuah pepatah “Ketika kita pergi ke suatu tempat, kita sebenarnya membawa serta dunia kita ke tempat tersebut, bukan meninggalkannya.”

Ojek tersebut mengantarkan saya ke bawah anak tangga menuju kawah Gunung Galunggung. Ongkos yang dibayarkan Rp. 30.000,- pp. Titian tangga permanen ini mencapai sekitar 200 anak tangga. Cukup melelahkan, terutama bagi yang jarang berolahraga seperti saya. Sampai di bibir kawah, saya sangat letih dan mengantuk. Saya beristirahat di salah satu warung. Karena masih pagi dan bukan musim liburan, warung-warung tersebut tampak sepi. Dari bibir kawah tampak danau Galunggung, dan di kejauhan sebuah mushola. Untuk menuju ke sana, saya harus turun ke kawah. Dari bawah kawah, mushola tersebut tidak tampak lagi karena tertutup alang-alang dan bebatuan. Namun untungnya, sebuah bendera telah ditancapkan untuk menandai lokasinya. Saya sempat tersesat beberapa kali, sebelum akhirnya berhasil menemukan akses ke sana dengan mengikuti aliran sungai menuju ke danau.

Ternyata mushola ini digunakan untuk menyepi orang-orang (tirakat). Tampak ada bekas lilin, tanda tidak adanya penerangan listrik di daerah terpencil ini. Beberapa meter di belakang mushola, terdapat semacam petilasan. Untuk wudhu, telah dibangun pula bak penampungan air hujan. Yang unik, terdapat pula kotak amal yang biasa kita temui di masjid/mushola lainnya, hehe. Saya menyelipkan beberapa lembar uang dari kantong saya, sekedar mengucapkan rasa terima kasih telah diberi kesempatan untuk berteduh. Karena hari semakin siang, saya memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Jawa Tengah. Namun, perjalanan pulang lebih berat karena saya mengambil rute pendaki untuk mencapai bibir kawah di atas sana. Akibat terik matahari, pasir menjadi mudah berguguran. Saya yang hanya memakai sandal santai, terpaksa melepasnya karena takut putus.

Dari kaki Gunung Galunggung, saya menggunakan angkutan umum menuju terminal Tasikmalaya. Karena saya membawa cukup banyak barang, saya mengambil tempat duduk di samping sopir. Yang membuat saya berkesan adalah karena sepanjang perjalanan saya kembali diajak berbincang oleh sopir. Akan tetapi, karena sang sopir terus berbicara dengan bahasa Sunda, saya menjadi tidak berkutik. Rasanya seperti mengalami sendiri film Lost in Translation. Terbayang oleh saya, kehidupan yang saya jalani di Jakarta, sangat berbeda sekali dengan saat itu.